LOUVRE (Sajak Acep Zamzam Noor)

Cahaya remang yang melumuri trotoar berbatu
Menyentuh juga tiang-tiang lampu yang berukir indah
Sepanjang jembatan itu.

Seperti jemari senja yang lentik
Cahaya merayapi tubuh jalanan, memanjati dinding-dinding pualam
Lalu mengaburkan diri pada pusaran kabut yang berwarna:
Paris berkilauan dalam sebuah piramida kaca

1997

Sajak Doel Muafi

Sebuah Batu Berkapur

Sebuah batu berkapur pucatnya melumut

di bawah tangga makam jantung penghuni tanah ini.

Dari peristirahatan dalam pengap gua membentuk pintu petapa.

Udaranya melahirkan keringat mereka, yang lelah mereguk kecut silam.

Hingga pudar sepenggal ingat akan kekosongan.

 

2012

 

Nyala Mata

Kuletakkan keberadaan setiap jengkal pijar yang telah memenggal legam terik siang, sebagai lapuk tali merah pada kaki.

Hanya pergantian pagi sukmaku menyala matamu. Telah terikat tubuhku pada diam kalimat. Menggurati suku kata dibalik nyala mata itu. Menanti sesabar genang hujan. Menduga isyarat teratai hitam dalam sungai arus ringan.

Merebut kenang dari kening atau membaca detak jantung, membentuk nama-nama dalam hempas lukisan sepia.

 

2012

 

Tajin Merah

Sejengkal bayang terbata-bata membaca merahmu, sampai pada hari ketigapuluh aroma dupa mengepul dari dahaga diam sedingin bawah hujan. Riaknya melahap basah menjenguk bahagia sebintal bintang terjauh.

Rekah pada khusyuk doa, kembang moyang hinggap lekat pada punggung ibu. Dengan lamur sekumpul tulang lebih indah dalam lahat.

Memunguti jejak arak-arakan pasung silam, hilang dalam kabut bibir kemarau Karena nyala sukma lebih dulu terbakar semalaman. Mengarah pada rongga penghabisan, terjerat di tiang gantungan. Menuju tangga meru dengan sesaji wujudmu.

 

2012

 

Lingkar Cincin

Dari jemarimu, pernah memetakan garis isyarat darah mengalir, berkabut seringsek dada dalam dekap kekasih. Dimana paras bengismu menyambut senyap jantungku melewati ringan angin.

Agar luka ini lebih pantas terasingkan dalam muara sungaimu.

Engkaulah penikam. Silam kekasih terkoyak di atas cadik, karena perahuku tak berdayung. Menuju hilir, kesedihan senantiasa meminta kebahagianku.

Sebatas pembebasan sekejap, untuk menikmati kesangsian pada keyakinan lingkar cincin. Namun segulung gelombang merayu igau arusku.

 

2012

 

 

Doel Muafi. Lahir di Gresik 28 Mei. kini tinggal di Bangkalan-Madura dan salah satu “Para Penumpang” di Bis Kota (Bingkai Seni Komunitas). sekaligus bergiat aktif di Rumah Tulis: Kita Bangkalan.

Puisi Nanang Suryadi – Memandang Lukisan Maruto Septriono

NAMA YANG TAK HENDAK DIHAPUS

dari ingatan: ancaman bola-bola api, roda-roda waktu
nama yang tetap kekal dalam ingatan

nama yang tak hendak dihapus
bahkan oleh jemarimu

inspirasi: Killing The Name.2005 : Conte on paper : 50 cm X 50 cm

 

DI DALAM MATA YANG MENYIMPAN RAHASIA

mata yang selapang sunyi, mata yang menyimpan rahasia-rahasia
terpejamlah: kanak-kanak menggeliat, kanak-kanak tertidur,
kanak-kanak meronta, kanak-kanak menangis

mata yang seluas sunyi, mata yang menyimpan rahasia-rahasia
terpejamlah: setitik api menyala, menerang di kehidupanmu

inspirasi: In My Eyes 2004 – 32 x 36 cm – conte di kertas

 

BELENGGU

harap dan keinginan malah membelenggumu
belenggu tak habis-habis melilit

hingga hidup menjadi kian sulit

inspirasi: TERIKAT KERAGUAN – 2005 – 79 x 109 cm – conte di kertas

 

TANGAN SIAPA MENABUR

tangan siapa menabur
benih kebaikan atau benih kejahatan

serupa ikan, berbiak

tangan siapa menabur
benih kematian atau benih kehidupan

serupa ikan, beranakpinak

tangan siapa menabur,
benih yang kelak tumbuh

di laut kehidupan

inspirasi: Sang Penabur.2010 – 131 cm x 215 cm – cont diatas kanvas.

 

DI KEDALAMAN LAUT RAHASIA

siapa sanggup membaca,
tanda-tanda di kedalaman laut rahasia

ikan-ikan yang buta matanya,
tapi tidak mata hatinya

tanyakan, pada dirimu sendiri
yang menyimpan kedalaman laut rahasia

di dalam bintik hitam mata

inspirasi: Saat luka bencana datang.2005 – 79 cm x 109 cm – conte diatas kertas.

 

GEDUNG-GEDUNG YANG MENJALAR DI KOTAMU

gedung-gedung yang menjalar menjulang di kotamu
menyimpan rahasia kanak-kanak yang tak usai menghisap puting waktu

kanak-kanak bermimpi menjadi pahlawan menaklukkan para zombie
mereka mengenakan baju kura-kura ninja, ultraman dan power ranger

gedung-gedungmu menyimpan keluh juga lenguh
yang disembunyikan dari mata kanak,

kanak yang terasing di rongga gelap
kanak-kanak belajar membaca lumut, membaca batu-batu,
membaca bau comberan sambil menari sambil menyanyi:
kotaku yang kucinta, pujaan hatiku….

gedung-gedung menjalar,
gedung-gedung yang menyimpan kisah airmata dan darah

kotamu

inspirasi: produk urban.2007 – 50 cm x 70 cm – conte di kertas

 

LINGGA MENYALA API

api menyala di ujung lingga,
menerang di rahim waktu

engkau ingin berdiam di situ,
di urat gurat sejarah aliran darah

lingga menyala api, menyala seluas rahim waktu
engkau ingin berdiang di situ, meniti alir darah

sebiji sel tumbuh,
menjelma meminta kehidupan

inspirasi: Persembahan.2012 – conte di kertas – 34 cm x 39 cm

 

LELAKI LELAH TENGADAH KE LANGIT

lelaki lelah tengadah ke langit, matanya terpejam,
dadanya mempuing bara api

lelaki lelah bersayap patah menengadah,
menadah pasrah

ujarnya:
“inilah hidupku
inilah takdirku

jadilah, apa yang hendak terjadi”

inspirasi: Beban Kebaikan.2012 – conte di kertas – 29 cm X 41 cm

 

IKAN YANG KAU PANCING ITU SUATU KETIKA MEMANCINGMU

ikan yang kau pancing itu, suatu ketika memancingmu kembali
satu ekor ikan, dua ekor ikan, tiga ekor ikan

mereka berlomba memancingmu, memancing ingatan nama-nama
lihatlah, di ujung runcing kait pancing ada nasib siapa terpancing?

inspirasi: 3 ikan. 2006 – 42 cm x 50 cm – conte di kertas

 

SUARAKAN SEBENAR-BENAR SUARA

lengking dari jiwa
hati yang mungkin telah mengeras batu

suarakan sebenar-benar suara

dari gua-gua gelap
lengking suara bergema-gema

di dalam ruang dada

inspirasi: Akal Yang Tanpa Hati 2012 – pen diatas kertas – 33.5 cm X 21.5 cm

 

DOA ILALANG API

terimalah doaku,

doa yang dihantarkan angin,
doa yang menjilat-jilat langit

aku fana, engkau abadi

inspirasi: Lirih Api Berdoa 2012 – pen diatas kertas – 39.5 cm x 54.5 cm

 

DAUN-DAUN LURUH

jatuh,
di tanah yang menerima segala lelah

jatuh,
di bumi yang selalu tabah

jatuh,
di hariba cinta yang tak mengenal lelah

inspirasi: Rindu Wajah Gelap.2013 – conte di kertas – 29 cm X 41 cm

DIALOG TANPA KATA

mata kita saling menatap

riwayat yang telah saling dimengerti

luka-luka sejarah manusia

inspirasi: Dialog.2003 – conte di atas kertas – 34 cm X 39 cm

 

DARI DADA YANG DIDUGA KOSONG

dari dada yang diduga kosong
berhamburan burung-burung jiwa
memburumu dengan tanya

tanya berjawab tanya
burung-burung jiwa memekik di langit suwung

dari dada yang disangka kosong
berlesatan burung-burung kata
memburumu dengan tanya

segala tanya menemu
kesunyian kembali

inspirasi: Tercekik kekosongan.2013 – conte di kertas – 29 cm X 41 cm

Sajak-sajak Lukman A Sya Berbicara Dengan Diri Sendiri

Lukman A Sya
Hukum Hidup

Ingin kuhancurkan langit
dikala awan-awan tebal menyentuh kecemasan bukit
“Apakah kau sang pengecut bagi gerak-hidupku?” tanya awan
kepada bukit. Dan ia berlalu mengikuti angin membiarkanku
duduk membusuk menemu sejarah kematian

Ingin kuhancurkan langit
dikala hujan menjadi keinginan di laut resah
Lalu aku akan menari-nari bersama pucuk kelapa itu
sambil menembang seperti si pangeran sunyi
menyaksikan sungai yang bertasbih
tatkala seluruh arti terbakar di hutan dalam hati;
Pohon-pohon menjadi abu
seperti nasib sajak awan tanpa jejak
-Hukum hidup kali ini adalah matahari
yang mengangkat sebelah kakinya. Mengencingi
kepengecutan yang telah tiba di ubun-ubunku

Indonesia, 2001

Lukman A Sya

Jarum-Jarum Hujan Menyerbu Ubun-Ubunku

Guru, ada seseorang yang mengirimkan bangkai-bangkai semut
lewat darahku
bekas sarangnya dirusak kalajengking yang mabuk
Dan aku sendiri tuhan kecil yang suka mengutuk
rayuan kematian
Kematian yang menari-nari di jasad semut-semut itu.
Tiba-tiba kepalaku berputar seperti bola dunia
yang kehilangan kenangan
Guru, kata-kata yang kaucucukkan di keningku
merestui rasa nikmat cinta yang tak acuh pada darah
kepedihan.
Tiba-tiba jarum-jarum hujan datang menyerbu ubun-ubun
mengutuk si tuhan kecil ini
yang suka membiarkan kebohongan berkuasa

Indonesia, 2001

Lukman A Sya

Panorama Sunyi

Aku menatap ke luar jendela
mengekalkan sunyi; melayangkan harap seperti pucuk
yang melambai lirih memanggil angin.
Ternyata cuma ada kelengangan di jalan-jalan
kesepian bergemericik di selokan-selokan
menuju hatimu. Sawah dan embun rindu memadukan hasratnya
ingin menghijaukan cinta dalam rasa damai
di bawah langit mencumbu awan-awan berarak
bercanda dengan matahari. Rumput-rumput liar menyimpan kenangan
di pekarangan dadamu, melupakan bunga yang gugur.
Tetapi hanya tanah yang menyatukan kita
untuk membangun doa hidup yang jujur
Sementara sungai itu biar menghanyutkan
dosa-dosa, bersama gemuruh kata
yang mengendap di perahu jiwaku.

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Burung-burung dan Angin Bertasbih seperti Kata-kata

Burung-burung dan angin bertasbih seperti kata-kata
yang hidup dalam dadaku merindukan kelezatan makna
Mimpi dan cita-cita bersedekap di pembaringan istirah.
Daya khayal rumput-rumput tak menolak cumbu semut-semut
yang membangun rumah sunyi di bawah tanah gembur
kasih-sayang. Suara dan gema sajak telah menebus
luka-derita langit dan bumi. Kembali ke asal
keheningan yang abadi.

Burung-burung dan angin bertasbih di jiwaku
Jiwaku yang penuh rindu menolak bangkai kecemasan
yang diseret masa lalu itu
Tuhan cahaya, tariklah hasratku! Sebab sungguh
aku berharap mampu kilat menaklukkan ular di nadiku

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Pecahan Gelas

Pecahan gelas itu sungguh mengerikan
di sudut dapur merindukan darah. Sementara laki dan perempuan
yang kawin atas nama angin telah saling membelakangi.
Pecahan gelas itu mengutuk kenyataan hidup
cinta yang cuma dipajang di lemari kaca. Telah berdebu
Lantai pun tak lagi sudi meditasi, mendoakan ranjang
agar tetap sabar tak mengamuk

Tuhan, pecahan gelas itu menyerang mata kehidupan
seperti kemiskinan yang tiba-tiba liar di jalan-jalan
Sedangkan laki dan perempuan itu menjelma ular
yang melingkarkan rasa kecut.
Anak-anak pun harus rela menjadi tiang-tiang kurus
menatap masa depannya yang cemas

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Siapakah

Siapakah yang datang ke mari
dengan langkah diikuti gerak angin
menyapa pintu
Siapakah yang tak ke mari
diamnya begitu linu
mengurung hati pilu

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Ketika Langit Menumpahkan Rasa Sunyi

Langit menumpahkan rasa sunyi
Bumi masih mencemooh puisi yang kutulis
di kening. Bayang-bayang keikhlasan
menggambar kehidupanku
-Aku adalah si gelandangan yang mencoba tasawuf
dikurung doa langit untuk terus memahat puisi

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Akan Kulintasi Peradaban Senja

Akan kulintasi peradaban senja
menerobos gelap malam neraka tanpa tangis.
Kupahami sungai dan udara tanpa rasa kalah
ketika tubuh-tubuh itu dikurung rasa cemas
Dan senja memang merestui segala kiblat puisi
bagi mataku

Akan kulintasi peradaban senja
membawa kisah pagi yang dibunuh sunyi; prosa siang
yang terbakar di ranjang kudus
ketika kata-kata menyetubuhi sang waktu
Dan anak-anak cahaya pun bermain dalam puisi

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Kekasih

Segala puja-puji aku haturkan kepada kelopak matamu
yang menciptakan embun
begitu suci dan bening. Kenangan dan cinta bersujud
O. Lihatlah! Kupu-kupu telah kedinginan di hatiku
Ke manakah mencari matahari

Di atas sajadah ini aku menjelma keterasingan batu dan merasa sepi
Maka. Kepada laut aku merindukan cahaya mutiara
kepada gelap aku minta selimut bulan sabit
kepadamu, biarkan aku menjamah dadamu
dan mencecap rasa anggur di bibirmu yang mungil dan tabah

Indonesia, 2000

Lukman A Sya
Nasib Langit

Memang langit selalu kanak-kanak
melempar-lemparkan hujan; bertukar rupa dengan laut
mentertawakan dingin yang kupeluk

Memang langit selalu kanak-kanak
hujan dibuatnya gusar. Cuma mengecup tanah?
ketika pohon menggigil terlalu rindu
sungai-sungai yang mengenang masa remaja
menyimpan ikan-ikan bercumbu
dengan kangen batu-batu yang menunggu
di riak nasibmu

Memang langit selalu kanak-kanak
ditatapnya genangan hujan
yang mengandung rasa manis puisi
menafasi doa bumi untuk akar-akar
yang tak mengeluh, tak kehilangan siasat

Memang langit selalu kanak-kanak
setelah ditinggal hujan ia membisu
menatap sunyi di dua sulbimu

Indonesia, 2001

Lukman A sya
Reportoir Senja Hari

1.
Ada ingin melintasi benua
bagai burung mengunyah angkasa
bagai sajak cintaku padamu
O! Daratan dan lautan yang telentang
ajaklah nafasku di anginmu
meresapi panas dan hujan
memburu rindu pada tiap detak jantung
menolak debu-debu. Keheningan,
O! Keheningan, datanglah!
sang abdi telah memanggilmu
sebagai kekasih sekaligus budak belian
yang tertikam waktu

Ada matahari surup di dadaku
merindu bulan sabit
tertanduk kekuasaan
Bulan sabitmu tersaruk-saruk
di angkasa batinku.
O! Sang kala yang maha hebat
kembalikan aku pada kehidupan!
mengambil daster-daster rinduku
yang tersangkut di pohonan
segera kukancingkan cinta. Meski
belum usai bermandikan puisi

Ada sujud mengikuti pusaran doa
shahadat-shahadatku bangkit dan menyala
inginku menjadi pengantin
matahari menjadi wali
bulan sabit menjadi saksi
mas kawin adalah nafasku

2.
Ada anak-anak cahaya berkejaran
di pantai kita yang lelah tengadah
langit menjadi kapas bagi tatapmu yang kabut
tanah berlinang embun bagi gairahku
Kita mengejar anak-anak cahaya
melompati rintihan-rintihan pasir
sambil mengusir bianglala

Ada kecemasan yang menguap dari tanah-langit
dipanggil matahari
“Kita tidak sempat melahirkan sang anak yang baik,” katamu
“namun cahaya yang berjejak itu menjadi mimpi kita
barangkali sia-sia.” tegasmu

Ada maut mengintip ubun-ubun
saat tahta, darah dan turunan lenyap digulung
gelombang yang mengancam

3.
Ada dua makhluk yang kukuh di kubur kita
matanya bercahaya. Dan bibirnya bertanya:
Bangsa apa asal kalian? Bar-bar, jawabku
Siapakah nabi kalian? Nabi kesunyian, jawabmu
Apa yang menyatukan kalian di kubur ini? Cinta, jawab kami

Ada mimpi yang menyeretku
Ada harap memaksamu
terasa sakit. Dihimpit. bahkan menyilet
pedih sungguh hidup kita
dalam udara

Indonesia, 2000

Lukman A Sya
Aku dan Bunga-Bunga Itu

Kusampaikan hasrat dan gelagat pada bunga-bunga yang tumbuh sunyi
merindukan musim damai; cakrawala damai; tanah bumi dalam mimpi damai
Tetapi angin sungguh tak bersahabat; bosan pada kata cinta
yang diucapkan dalam pengap. Sebab yang hidup di taman-taman
kejengkelan rumput pada jiwa kemanusiaan yang sengsara
ketika gemuruh dan ledakan-ledakan rasa benci menggetarkan
sungai yang mengalir tenang membagi-bagikan cintanya ke sawah-sawah
yang tak pernah mengeluh.
Hasrat dan gelagatku pada akhirnya sunyi seperti nabi
melihat bunga-bunga kini menangis dalam gigil hidup yang terasa sia-sia
Masih belum juga harum sukma-sukma itu dan dapat menjelaskan
keberadaan yang tentram, orang-orang tak berebut nafkah dalam tengkar
Tapi apakah seutuhnya kehidupan harus dalam tentram?
Pertanyaan yang sungguh membuat penghuni taman doa memekikkan tangisnya
sebab merekalah yang menginginkan siapa pun menuju tentram laut
meski ada gelisah ombak, cemas batu karang serta pantainya
yang merintih
Adalah laut tempat untuk berbagi rasa dan bertukar cerita. O!
Apakah inti kehidupan ada di dalam bunga-bunga yang tumbuh di hatiku
ketika langit telah sembab oleh duka. Jalan-jalan menyimpangkan hasrat
karena tahu di depan ada dewa-dewa kecil yang lebih ganas dari sekedar
fira’un
membuat kerusuhan sebagai ungkapan dari kekuasaan yang pengecut.
Bunga-bunga dan syarafku tegang setelah seharian
mengkhayalkan taman-taman bebas dari sulutan-sulutan dendam
justru menginginkan doa-doa menuju keikhlasan dan kepasrahan
menolak bencana
Maka aku dan bunga-bunga mengharap pada musim mengajariku kesetiaan
langit dan bumi sebagai hasrat yang tak pernah berdusta
Bahwa ia, musim itu, ingin dalam damai. Tak ada murka lagi
yang dilepaskan jiwa-jiwa kemanusiaan yang pecah
karena hasrat dan gelagatku menjadi doa, tatkala hidup yang penuh riuh
menggolakkan kata-kata. Sebagaimana malam masih tetap menyimpan
cahaya bulan. Aku pun ingin terus bermain di bawah cahaya bulan
menyaksikan bunga-bunga yang mulai tersenyum
Masih ada harap yang setia bermimpi dan mencintai segala kemekaran
sebagai isyarat rasa damai telah tiba dalam ayat-ayat yang tertera di
istana cinta. Bunga-bunga itu pun menyapa hatiku yang sendiri saja
mengolah kata-kata, jadi huruf yang baik pada segala kata
Bunga-bunga pun karib dengan perasaanku yang hampir membeku
mencangkungi nasib kemanusiaan menolak kebengisan dan kerakusan.
Taman-taman di muka bumi harapku tak akan bisa ditaklukkan
oleh dendam dan ancaman. Mereka serempak menghimpun diri
dalam doa: Pangeran sunyi-lah yang kuat dan perkasa
menciptakan kemanusiaan jadi hidup; mengembalikan
setiap hasrat dan gelagat ke asal bayangan
Amsal maut yang menjembatani hidup resah ke hidup damai
Maka aku dan bunga-bunga itu sepakat bertegur sapa
dalam duka dan cinta menolak amukan dan dendam. Memahami hidup
sebagaimana nafas hidup memahami jiwa pengembara.
Maka aku dan bunga-bunga itu cukup mengeluh dalam dzikir
untuk kemudian tumbuh di diam semesta menghayati keberadaan
Aku belajar teguh pada kemanusiaan yang diisyaratkan bunga
pasrah pada kehendak langit. Sambil mengukur jalan dengan nafas sendiri
membagi-bagikan cinta sebagaimana sungai yang mengalir tak letih-letih

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Victims Still Must Smile*

Pada pagi yang mencengkram sunyi; sunyi mencakar pagi
langit mengakhiri cerita hujan yang sedih: tinggal
genangan itu seolah abadi mentafakuri kata-kata yang dikorbankan
dan masih harus tersenyum pada tubuh dan jiwa yang mengkhotbahkannya
begitu setia. Mereka menggeliat dalam nikmat yang terpaksa
mencari jawab dari tanya; melepaskan tanya untuk sebuah jawab
seperti paru-paru yang jadi huruf
bagi para serdadu penyair di tengah kancah amuk rasa cemas. Berpeluh
menemukan siapa yang paling ingin menjadi korban kata dan dikorbankan
untuk membusuk menjadi tanah yang masih ikhlas pada genangan itu.
Maka pada kekuasaan sebagai tuhan, segalanya sungguh nyata
Tangan-tangan harus menari; bibir-bibir harus bernyanyi
menafasi bahasa-bahasa yang didamaikan angin
memahami cinta di daun-daun
yang akan sempat gugur sebagai pahlawan sunyi
menyampaikan keriangan yang dimerdekakan burung-burung
di tanah airku yang masih harus tersenyum seperti kalian
yang sengsara kehilangan nyawa; jiwa-jiwa
kembali menguap bersama rasa sedih ke langit seperti kata-kata.
Pada akhirnya,
kata-kata meninggalkan rambut-rambut yang dikusutkan darah kering
meningkahi persoalan yang gentayangan sebagai setan
yang berpaling dari taubat pagi

Indonesia, 2001

*) judul puisi ini dicuri dari judul lukisan Toto Sugiarto

Lukman A Sya
Kalau Langit Sudah Marah Begini

Kalau langit sudah marah begini
hujan terus-menerus bersedih
mengguyur kelahiranku. Angin
mengajak pohon-pohon
ikut menari dalam doa. Sampai tegas
siapa yang terjungkal hari ini
menemu sang nasib di kehendak
darah dan air mata

Kalau bumi sudah muram begini
lampu-lampu pada mati; tanah-tanah
mengenang rasa cemas sepanjang was-was;
jalan-jalan memanjang dalam kekeruhan
tabiat. Apakah matahari
masih mau menyalakan sunyi di hatiku?

Kalau bumi sudah parah begini
apakah angin dan hujan masih ingin
memperbaiki musim kuasa? Langit dan bumi
bersepakat dalam khusuk menciptakan istana
cinta. Dan aku melihat diriku dalam
bayangan cahaya lilin, menjadi nyinyir
pada yang masih bergerak sebagai ancaman

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Ketika Sunyi Menciptakan Tuhan

Ketika sunyi menciptakan tuhan
dan tuhan menciptakan sunyi
aku merajut kain hidup untuk menerima
kebangkitanku sebagai jarum yang menolak dukalara;
sebagai yang hidup dalam puisi;
sebagai yang menghasilkan mantra-mantra
memaksa mimpiku harus nyata

Ketika sunyi mengkhianati nabi
tuhan mewartakan kabar buruk
bagi rasa liar dan ular kata-kata
karena nabi telah membakar semak-belukar yang jahat
O! Kadal sunyi. Jangan kau tatap lagi aku
sebagai katak kecil yang mencintai rasa laparmu!

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Berjalanlah

Berjalanlah seekor harimau dengan rasa lapar
dalam pikiranku. Ia mencari. Tapi kepincangan kaki
menjadi yang maha agung untuk tidak berangkat
ke mana pun. Diam sesaat sambil merasakan nyeri.
“Padahal aku butuh kekuatan untuk menaklukkan rimba,” katanya
Air mata seperti tak bosan-bosan keluar dari sumber kesengsaraannya.
Apakah arti sengsara ketika justru kehidupan ini sesungguhnya
sengsara?
Seekor harimau tidak menjawab duka lara dengan doa
Doa hanyalah ruang untuk semakin melacurkan diri dan menunjukkan
kedunguan diri yang sebenarnya di hadapan tuan Tuhan
Kepada siapakah ia harus mengembalikan seluruh keyakinan
bahwa dirinya pasti ada yang membimbing ke arah cahaya?
Seekor harimau cuma dapat mengenang masa lalunya yang manusia.
Sedangkan perasaanku berkaca-kaca
merasakan yang tak pasti

Indonesia, 2000

LUKMAN A SYA

Keajaiban yang Maha Ajaib
Dan Langit Merunduk pada Cahaya
Kita Berdzikir di dalam Kata

Kalimat-kalimat cinta menyebar
di langit Allah. Matahari mencecap
bumi yang bergetar kasmaran
Huruf-huruf tauhid memancar
dari dadaku menyerap tatapan Allah
dan mataku mengisahkan dzikir

Langit merunduk pada cahaya
sedangkan kalimat cinta yang terbayang
terhuyung-huyung. Menjadi awan diseret angin
dan gaib dalam kenyataan yang biru

Di puncak keagungan Allah
tak siapapun mengelak
dari restu maupun kutukan:
Seekor kucing telah menjadi manusia
di gendongan ibunya
dan manusia berubah kucing garang
di panggung peradaban

Indonesia, 1999

LUKMAN A SYA
Tiga Bait Sajak

Angin dan rintik hujan
mengirim bencana di suatu hari
yang redup
“Kami sadar betul, Tuan
tak ada yang pantas kutangisi
misalkan anak sendiri menjadi maling
dan memperkosa.”

Bukit-bukit yang nungging ke langit
dan matahari yang memar
berkemeja awan mendung
menanti kiamat sambil berkawih
“Kami sadar betul, Tuan
keindahan cuma fatamorgana
yang bimbang dan ragu.
Lambat laun ia bunuh diri
Adapun comberan tempat kencing nyonya dan tuan
sorga bagus yang terlupakan.”

Mesjid dan gereja yang menyatukan hasrat
mencapai Allah. menggugurkan air mata:
Ada yang layak dihancurkan
Ada yang kekal dikhotbahkan
“Kami sadar betul, Tuan
gelap tetap cemas, siang tetap gamang.
Yang telanjang itu perawan
yang merana. Seperti negara.”

Indonesia, 2000

Lukman A Sya
Berbicara Dengan Diri Sendiri

Berbicara dengan diri sendiri berarti aku mengeraskan kata-kata pada
kekasihku
disaksikan ibu. Dan adikku mencibir karena takut kehilanganku sebagai
diri sendiri. Mata yang cekung karena semalaman gelisah menunggu langit
yang belum juga sujud
Aku terus-menerus membaca keresahan mimpi di antara alis mega-mega dan
angin yang telah lama menciptakan ruang penciuman untuk merasakan
bau siapakah ini yang bertukar nafas dengan pohon-pohon
Rambutku yang berminyak yang dijaga telinga-telinga labil
masih mendengarkan doa cakrawala. Tempatku mengibaskan rindu sebebas mungkin
Aku masih berjaket sunyi menaklukkan kekasih yang sedikit keras kepala
karena tak paham kandungan prosa jantungku yang terus berdenyut
mengikrarkan puisi-puisi. Leherku dengan buah jaqun yang kurus menyimpan
jalan bagi kenangan dan kepahitan nasib. Sementara kulitku yang
membungkus kesetiaan, berdagingkan yang paling sejati. Setia pada urat
dan syaraf yang mengantarkanku pada khayalan matahari
Bibirku yang tebal tak takut pada cuaca: apakah musim yang demam
pada kemarau atau hujan yang demam pada musim?
Aku akan terus melafalkan nyanyian-nyanyian perih dalam kegembiraan
huruf-huruf
Sampai pagi kembali aku tidak akan menggantikan langkah-langkahku
tetap sebagai ombak yang berguru pada pantai hatimu
Aku akan terus menumpahkan hasrat sukma yang menjadi perahu
Aku tidak takut pada benturan atau karang yang diledakkan!

Indonesia, 2001

Sajak-sajak JR Laety

Betina, Matilah Tanpa Rangka

Ayo, betina. Merentang sayap di malam buta
mata berkaca-kaca, tangis mengada-ada
diam menikmati neraca jiwa

Engkau betina, mana taman yang kau sapa?

Wahai, betina. Tabir malam hotel berbintang
lengang terlena-lena, lunta berkata-kata
tapi jatuh bangun di kaki lima

Engkau betina, matilah tanpa rangka!

Ayo betina. Naikkan kuda-kuda jaga
bercinta meliuk-liuk daun luruh
angin jatuh, pagi bangun kesiangan

Engkau betina, mati benar tanpa rangka

Juli 2001

Danau, Telaga dan Pagar Menyemak

Danaumu yang ranum, kemana air mengalir?
aku rindu mengisapnya seperti musim panas
mencucut-cucut rumput, ilalang, dan bunga siang
haus bangun tinggi hari. Takdir apa?

Ada pagar tumbuh di tengah semak taman
anggur meracuni rusuk rasa, tanpa tidur
tanpa mimpi rama-rama dan musim bercinta
tahu apa ia tentang embun dan kedinginan?

Telagamu yang harum, kemana jernih mengabur?
aku rindu menggiringnya dengan jaring angin
memilah-milah lumut, belalang, dan capung angin
airmata riak bergolak. Sesak apa?

Pagar itu tumbuh kasar dan menyemak
Merasuki tidur, menggerayangi angin dan mimpi
menjadi hujan dan berduri. Tahu apa ia tentang
danau dan telagamu yang tak lagi membiru?

Juli 2001

Doa dan si Tua Kafir

Mencium sisa sujudmu, ada doa berdusta
ia bercerita tentang luka dari sorga
angin panas dan kerontang suatu siang
Tuhan, katanya, tak pandai lagi meramal

Ia hanya menunggang kuda dan melempar laso
liar seperti Zorro atau koboi Marlboro

Hei! Aku punya cerita dari kitab lama
seorang tua berkaca pada sajadahmu
berlutut dan menemukan matanya penuh nanah
ia saksi kekaburan; Ia bangkit dari kubur

Lalu ia menunggangi anaknya dengan sihir
berlindung pada takdir, tapi ia si tua kafir!

Juli 2001

Tepian, Air Mata Pusara

Tepian ini, jernih airnya
memantul sinar di wajahmu
saat memungut daun hanyut
lentera jatuh ke kali
: aku melihat raut bulan kusut

Menerawang geram ke hilir
gelap menyapu sudut mata
menyisir liar ke hulu
riak memercik di dahi
: aku melihat raut bintang remang

”Saputlah air mata,
kita kembali ke huma
pondok kecil dan bara menyala
menyalai seiris daging”

Suaramu seperti malam jenuh
seperti arang aku rapuh
menggiringmu tinggalkan tepian
tak ingat daging panggangmu
menyusup ke huma dan pulas
: aku melihat ilalang bergoyang

Airmata, oh, airmata
ia menjelma igauan senja
sepanjang malam, seluruh tidur
lebur dalam gambar-gambar liar
seseorang menegur dengan kasar
: aku melihat ranjang berdarah

”Urungkan duri dan sangsi
kita berjalan malam ke hulu
menunggui mata air airmata
hingga tumbuh kamboja
lalu kita kembali ke tepian”

Isakmu seperti giris di pusara
tapi entah kapan mulut berkata
aku bersandar di batu dan berdusta
: aku melihat bintang di kakimu
masih dengan remang semula

Juli 2001

BIODATA

JR LAETY, penyair dari komunitas sastra Jambi ini lahir dengan nama Joni Rizal,
1973. Menulis sejak SMP. Tulisannya berupa laporan perjalanan, cerpen, puisi,
dan esei diterbitkan di beberapa media massa pusat dan daerah. Tercatat sebagai
pemenang lomba cipta puisi pada Festival Seni dan Budaya Jambi 1999. Sebagian
puisinya termuat dalam antologi Tirawang (bersama lima penyair Kerinci) dan
antologi puisi cyber Graffiti Gratitude (Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit
Angkasa Bandung). Kini bekerja sebagai wartawan Jambi Independent (Grup Jawa
Pos).

TAUTOLOGI DAN CELAH-CELAH DI SEKITAR “KATA,WAKTU”

Oleh: Tulus Wijanarko

Hidup ini singkat, sedangkan begitu banyak kesaksian harus disampaikan.
Begitu seorang penulis pernah mengungkapkan alasannya menjadi pengarang.
Itu sebabnya, lebih dari sekedar bukti keterampilan mengolah kata-kata,
karya yang lahir dengan alibi macam itu berpretensi menjadi saksi bagi
zamannya. Dan, dengan demikian selalu pantas untuk disimak.

Kita tak pernah tahu mengapa Goenawan Mohamad (GM) memilih menjadi penulis
untuk mengisi –mungkin sebagian terbesar— dari hidupnya.
Konon, ia mulai menulis sejak berusia 11 tahun. Tetapi, apapun alasan itu,
sepertinya seluruh tulisan GM tak akan pernah menjadi sia-sia. Setidaknya
itu terasakan ketika melihat buku terakhirnya berjudul, “Kata,
Waktu” dengan judul kecil <I>Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001<I>,
diluncurkan beberapa waktu lalu. Tiga cendekiawan utama Indonesia, yakni
Nurcholis Madjid, Ignas Kleden, dan Ariel Haryanto, yang berbicara dalam
acara peluncuran, adalah semacam paraf dari pernyataan di atas.

Buku “Kata, Waktu” menghimpun sekitar 650 esai pendek GM selama
rentang waktu 40 tahun terakhir. Tentu saja, banyak hal dibicarakan GM
tentang hal-hal (pikiran dan peristiwa) besar ataupun sebaliknya. Tetapi
seperti disepakati banyak kalangan, salah satu perhatian utama GM yang
berpeluang menjadikan buku ini memiliki benang merah, adalah pembelaannya
terhadap keunikan individu atau suatu kaum.

GM tak pernah terkekang oleh bingkai tulisan untuk membisikkan, bergumam,
maupun ketika harus berteriak melawan arus-arus penyeragaman yang datang
dari mana saja (tak hanya dari kekuasaan, tapi juga pikiran-pikiran
kearahnya). “Perlawanan-nya” itu bisa dipungut dari tulisan-
tulisannya yang dibingkai dalam masalah kesastraan, sosial, politik, agama,
atau apapun. Dan, itu sudah dilakukannya sejak lama.

“…<I>Salah satu kebebasan pertama seorang pencipta adalah
kebebasannya dari sikap kolektif yang mengikat diri, dan bahaya orang yang
terlalu memperhatikan “rumus-rumus” umum yang dikenakan di atas
kesadaran keseorangannya ialah terbentuknya diri dalam lindungan
kolektivisme<I>…” (Puisi Yang Berpijak Di Bumi Sendiri, halaman
2). Esai ini ditulisnya pada 27 April 1960.

Pada esai berjudul “O, Absyalom” (tertanggal 11 Oktober 1986)
secara empatik GM menulis pembangkangan diam-diam Putra Mahkota Alexis yang
menolak menjadi seperti apa yang diinginkan Tsar Rusia, Peter yang Agung,
ayahnya sendiri. GM mengulangi kutipan Robert Massie (penulis tentang
Peter) mengenai Alexis: “Sungguh sia-sia ayahnya menyuruhnya mengurus
soal-soal militer, karena lebih enak baginya memegang sebuah tasbih
ketimbang sebuah pistol ditangan”. (halaman 657)

Esai terakhir yang dimuat dalam buku ini (tertanggal 24 Juni 2001) adalah
gumaman GM soal buruh yang tak mungkin dipandang –bahkan—
sebatas sebagai “proletareat” belaka. Buruh, tulisnya, bukanlah
hantu yang membayang-bayangi zaman. Bukan pula dewa yang melintasi waktu.
Untuk memberi garis bawah, GM mengutip Max Weber yang berbicara soal
“etika tanggung jawab”: <I>Dalam masyarakat seperti itu manusia
diperlakukan sebagai sesuatu yang lebih majemuk ketimbang sekadar hasil
sebuah rumusan. Dalam masyarakat seperti itu manusia diakui justru sebagai
sesuatu yang tak terumuskan…<I> (halaman 1493).

Jika mau, kutipan-kutipan masih bisa dicari dan ditemukan dengan berbagai
varian dalam buku yang memang enak dipegang (untuk dibaca) itu. Tetapi
dari tiga kutipan diatas, sekurangnya dapat diambil kesan
“perjuangan” GM membela keunikan itu sudah dimulai sejak lama.
Orang juga bisa memberikan apresiasi tinggi atas sikap itu, utamanya
melihat apa yang dialami bangsa ini dalam 30 tahun terakhir—rentang
seluruh tulisan dalam buku ini dibuat. Menarik untuk menunggu, apakah dalam
era yang kian berubah ke depan nanti, tulisan GM masih
“memperjuangkan” hal yang sama.

Barangkali, penegasan akan perjuangan GM di atas memang salah satu target
yang secara tak sengaja, –dan mungkin sebenarnya tidak dimaksudkan
sebelumnya– berhasil dicapai buku ini. Dengan demikian, sebenarnya
menjadi menarik untuk mengira-ira: demi memperjuangkan hal macam itukah GM
memilih menjadi penulis? Jelas, ini bukan pertanyaan mengada-ada. Toh,
buku itu sendiri konon diikhtiarkan untuk menyambut 60 tahun usia GM. Dan,
diskusi yang diadakan saat peluncuran bukunya sendiri pun dimaksudkan
untuk, seperti tertulis dalam tema, “Menimbang Pikiran Goenawan
Mohamad Selama 40 Tahun sebagai Penulis”.

Ada tanda-tanda yang bisa dipakai untuk menjawab rasa penasaran itu dengan
menyimak esainya berjudul “Setelah Tempo Tidak Ada Lagi”
(halaman 1123). Dinyatakannya, <I>…Menulis memang bisa menyenangkan.
Tetapi seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tidak sekedar praktis
untuk dipakai, menulis pada dasarnya sebuah pekerjaaan yang resah<I> .

Dalam tertanggal 5 Juni 1995 ini, terungkap, paska pembreidelan Majalah
Tempo, sebenarnya GM ingin menulis “yang lain”, yakni tulisan
yang tak berkaitan dengan hal-hal yang hangat dan menjengkelkan. Tetapi
ternyata ia tidak mampu melakukannya, justru, karena, menurutnya, Tempo
telah menjadi “ikon” yang menandai sebuah pergulatan untuk
hidup dan bersuara (halaman1124). Alias, ada “sesuatu” di masa
lalu yang membuatnya untuk terus menulis esai-esai pendek itu tanpa henti.

Kita tak pernah tahu, memang demikiankah alasan sejati dari GM, karena
memang belum pernah diungkapkannya dihadapan publik. Boris Pasternak, konon
memilih menjadi penulis untuk memenuhi rasa berhutang terhadap sesama
pengarang sezamannya. Dan, ketika Dr. Zhivago berhasil diselesaikannya,
diperoleh kesan, penulis besar Rusia yang terampil bermain musik, ahli
dibidang hukum dan filsafat , tetapi kemudian memilih menjadi pekerja
pabrik itu, seperti terpanggil untuk menulis semacam pernyataan tentang
nilai-nilai masa lampau bangsanya yang ia bayangkan bakal berkembang
kembali. (“Writers at Work”, <I>The Paris Review<I>,
terjemahan Vita Brevis).

GM tentu bukan Boris Pasternak. Tetapi membaca “Kata, Waktu”,
adalah seperti menyimak pernyataan GM tentang banyak hal di lintasan
sejarah. Judul “Kata,Waktu” sendiri, meskipun tak pernah
dijelaskan alasan pemilihannya oleh penerbit, editor, maupun GM, seperti
menyarankan ke arah pengertian tersebut. Sesunguhnyalah, dengan bekal cara
pandang ini, saat menyimak “Kata,Waktu”, kita justru bisa
bersetuju, menolak, bahkan melakukan penjelajahan lebih jauh atas
gagasan/pendapat GM yang tersimpan dalam esai-esai-nya.

Ruang itu rasanya terbuka lebar. Sebab, seperti dikatakan banyak kalangan,
terhadap berbagai peristiwa atau pikiran yang tengah ditulisnya, GM seperti
bergumam saja. Dan, salah satu cara yang digemarinya adalah dengan
memandangnya dari sudut para pemikir-pemikir atau tokoh-tokoh lain (riil
maupun karangan). Tak heran, dalam sebuah esai pendek, bisa muncul nama-
nama macam Haji Misbach, Maxim Gorki, Sam Pek Eng Tay, Marx, dan Weber.
Atau juga Dhamarwulan, Mozart, Pamina, dan Remmy Silado, dalam esainya yang
lain

Dengan cara pandang seperti itu pulalah, editor buku setebal 1513 halaman
plus XXV halaman pengantar ini, Nirwan Ahmad Arsuka, menyampaikan
kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan pembaca atas tulisan GM.
Tulisnya, …<I>Ia memberi kita pintu untuk masuk mengenal sendiri
pemikiran itu lebih intim, sekaligus untuk kelak menyadari dengan nikmat
betapa terbatas dan bisanya menyesatkannya sebuah catatan yang dibuat dari
pinggir.<I>. (halaman XXIV).

Juga, <I>…Bagi para pencari yang tak gampang puas, keterbatasan
catatan dari pinggir itu akan menyedot dan menghadiahkan suatu sensasi
intelektual yang rekah ketika kita masuk ke tengah menemukan sendiri yang
tak ditemukan Catatan Pinggir<I>.

GM memang dikenal cukup dermawan memaparkan kilasan-kilasan peristiwa besar
atau kecil, dan dermawan pula mengutipkan gagasan para pemikir/tokoh
berwibawa, macam Jacques Derrida, Umberto Eco, Michael Foucoult, Walter
Benjamin, Albert Camus, dan lain-lain. Tak hanya memaparkan, GM sekaligus
berdialog dengan gagasan itu sendiri. Tentu saja, pembaca selalu memiliki
peluang untuk masuk dalam diskusi itu atau sekadar menjadi penonton saja.

Akhirnya, dalam kerangka seperti itukah maka PDAT Tempo yang menerbitkan
kumpulan esai tersebut mengklaim bahwa buku ini memberi peluang pembaca
untuk melihat tulisan GM dalam sudut pandang yang lain? Tetapi, kita layak
khawatir, ada pembaca yang ingin mengetahui pikiran-pikiran besar secara
ringkas, namun tak pernah punya waktu membaca tulisan-tulisan
“babon” soal tersebut. Lalu diraihlah buku ini….

Bila Kuturunkan Biduk

Sajak Vita Brevis

bila kuturunkan biduk
biarkan aku melambai tangan
padamu o, masa lampau
padamu o, nilai nilai
selamat tinggal
biarkan aku terbuang
menuju
yang tak terbayang
yang tak terdengar
kutahu
perjalanan ini perjalanan panjang
menuju hulu
menuju awal

dari buih di lidah ombak
ingin kulihat jarak
dari awan sedang berarak
kutahu kutelah bergerak
dari pantai yang menjorok
ingin kulihat sebuah sosok
kayuh demi kayuh
aku berlayar

terayun dan terguncang
aku tetap mendayung
mencari terang
menjangkau ujung

vita brevis 160101

tanpa judul

Sajak Herry Nurdi

tibatiba, malam ini
kau ingin berganti nama
“nama ini tak punya nyawa,” teriakmu
“aku tak bisa melakukan apa-apa
dengan nama ini.”

lalu kau membuka satu album foto
dan memilih
setiap potret gambarmu
sejak bayi sampai kemarin pagi
kau siram dengan minyak tanah
dan membakarnya
“andaiku bisa
tak ingin kupakai wajah yang sama.”

lalu mulai kau cabut hidung
dan telinga, rambut dan bibir
mata dan akhirnya seluruh kepala
tapi dengan cepat ia
tumbuh kembali
sama persis seperti semula

lalu kau berlari ke dapur
mencabut bilah pisau dan
menanamkan tepat di jantung
namun tak mati juga

“karena nama ini,
mati pun bukan milikku lagi.”

Kusebut Kenanganmu

Sajak Muhary Wahyu Nurba

kusebut kenanganmu daun-daun merah
yang menjenguk letih pada tubuh penatku
seusai mencarimu suatu siang
kusebut tiap lembar kenanganmu adalah nyanyian
ketika merambah dan mengelus mimpi pada tidur pulasku
hingga pada suatu sentakan aku pun terjaga:
hei, engkaukah itu yang membetulkan letak kecemasan
yang menutup sebab kesedihan
yang membiarkan sibuk degupan
yang bersiap-siap menerima sujud terbakar

1997

PADA RINDANG KAMBOJA

Sajak JR LAETY

“Pergi, dan jemputlah cahayamu!”
pada tiap pintu ia bertemu para penjaga yang selalu bertanya
tentang sejarah, lalu memberinya selembar tiket untuk
pulang dan istirah

Saat kembali, ia menyaksi orang-orang telah menulis
berbaris-baris puisi di sepanjang jalan
tangan-tangan rindu melambai menggamitnya

“Selamat siang bidadari. Hari ini gaun putihmu terlalu indah!”

Di sebuah taman ia pun berhenti
menyalami cericit jahil gelatik kecil yang riang bernyanyi
“Bulan kembali, pasang kembali
Lihat, daun-daun merendah hati!”
sejenak ia menjamah setangkai mawar
dan membawa wanginya ke bawah rindang kamboja

“Pergilah, lalu kembalikan cahayamu!”
ia mendengar suara itu kembali dari sebuah ruang
entah dimana
tapi berjuta cerita di bening bola matanya
untuk siapa ia bawa pulang?

Juli 1999-Januari 2001