IJEN SUATU KETIKA

Pada putaran yang kesekian Gelisah sekujur bukit tumpah Riak-ricik cemas dan ketakutan Membayangi isyarat bencana : Darah dan kematian Tapi kami yang lahir dari kawah-kawah Lebih mencintai kepundan, asap,dan segala muruwah Hingga putaran yang kesekian Nasib dan ajal mulai berkelindan Debu-debu meminang langit Jantung berlari dalam detak Menimpali tanah yang enggan retak Dibayangi mendung membubung…

GELOMBANG CYBERSASTRA RUJAK KATA PUISI GRAFITI CHAIRIL ANWAR[1]

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Bulan April memang identik dengan bulan sastra dengan titik tolak pemikiran Chairil Anwar yang ditengarai sajak-sajaknya oleh Sutan Takdir Alisjahbana(STA) sebagai rujak: “Makanan ini asam, pedas, asin, dan banyak terasinya, berguna untuk mengeluarkan keringat, tapi tak dapat dijadikan sari kehidupan manusia.” (Dalam Goenawan Mohamad. 2011.“Takdir: Puisi dan Antipuisi” Puisi dan Antipuisi. Jakarta: Tempo dan PT Grafiti…

Di Bawah Cahaya Bulan

Puisi: Nanang Suryadi   betapa sepi bulan itu, sendiri, menatapmu demikian pasi, cahayanya benderang, tak lagi kau nikmati   di balik jendela, siapa menyimpan cahaya bulan? bayang-bayang terbawa awan, melintas di langit sepi, sepimu yang puisi   matanya mata rembulan, cahayanya jauh sampai, ke bilik-bilik rindu, anganmu menggapai, gapai   di bawah cahaya bulan, siapa…

Dari Tanah Yang Basah

Puisi: Nanang Suryadi   aku pungut tanah basah, selepas hujan, lumpur pengetahuan, bebauan yang diperam dieram waktu, ingatan terulang berulang   dari tanah yang basah, mungkin akan kau bayangkan likat liat, atau gembur subur, dari tanah merah menggeliat cacing memanggilmu guru   di undak-undakan waktu, di usia yang telah sampai pada maqamnya, siapa yang bertanya…

Aku Sang Angin

Aku Sang Angin terbang untuk menjelajahi padang luas bergayut di daun-daun perdu membisiki barisan pohon bambu di lembah menggelorakan lautan mendaki lurus ke angkasa meresapi senja dari ketinggian mencumbui awan-awan yang malu-malu dengan semilir nya lalu… menukik ke punggung bumi telah lelah sang angin sebagai badai telah jenuh menunggu waktu yang tersisa akulah sang angin…