Puisi puisi Rukmi Wisnu Wardani

Teringat Samboja satu persatu almanak bertanggalan di awal senja seusai hujan reda sehelai daun mangga jatuh di beranda teringat samboja larut di sihir mata. lagi, aku luruh disentuh jemari segera selepas pertama bertemu Ames, rindukah kau pada ibu sebagaimana aku? ada bahasa waktu kau gelayuti pundakku tanganmu menjelma kalimat ketika itu larunglah larunglah rindu sebebas kau bermain di gerai rambutku yang tak begitu legam warnanya itu lelaplah lelaplah tidurmu terbanglah terbanglah tinggi ke mimpi terindah itu satu persatu almanak bertanggalan di penghujung senja kukenang samboja hangat tubuhmu menyisa dalam dekapan…