Album Perdana Solo Religi Candra Malik Kidung Sufi “Samudera Cinta”

Saya gagal sebagai manusia jika tidak bersyukur atas karunia Allah dan berterimakasih atas kebaikan sesama manusia, serta dukungan kekuatan dari alam semesta. Siapalah saya ini? 

Saya hanya seorang Sufi tanpa daya tanpa upaya. Hanya kawan yang saya miliki, dan sepanjang hidup saya hingga detik ini merekalah yang telah banyak membantu saya menyambung hidup. Merekalah sesungguhnya Kekasih Allah, dan saya hanya umpan kecil bagi kebaikan.

Saya bukan musisi, dan lebih baik saya mengaku demikian daripada mulai berbohong bahwa saya tahu banyak tentang musik. Not balok tanpa saya akan baik-baik saja. Susunan tangga nada tidak akan kekurangan sesuatu apa pun untuk mencapai harmoni tanpa kehadiran seorang Candra Malik.

Hari-hari ini, tengah Juni 2012, genap sembilan bulan saya membawa-bawa Kidung Sufi ke mana-mana, sejak dari ide yang saya sebut datang dari Tuhan, lalu lahir sebagai notasi-notasi sederhana, diikuti bermunculan lirik-lirik yang ringkih namun kuat, akhirnya album perdana solo religi saya ini diluncurkan. 

Saya semakin tidak tahu harus berterimakasih kepada siapa. Terlalu banyak balabantuan dari langit dan bumi yang dikerahkan oleh Tuhan sehingga saya sampai di titik ini. Yang pertama dan paling utama, adalah ibuku, ibuku, ibuku, yang dalam diam pun ia masih menyebut namaku, dalam doa-doanya yang diiringi airmata. Anak-istriku, tiada kata yang tepat untuk Cinta mereka kepadaku, dan Rindu selama tak terhitung hari kutinggal pergi. Dan tanpa keluarga besar, bagaimana saya sanggup tegar?

Wakil Syuri’ah PBNU KH Ahmad Mustafa Bisri [Gus Mus], Idris Sardi, Emha Ainun Nadjib [Cak Nun], Addie MS dan Twilite Orchestra, Sujiwo Tejo, Dewa Budjana, Trie Utami, Tohpati, John Paul Ivan ex Boomerang, Marzuki Mohamad [Jogjakarta Hip Hop Foundation], Heru Shaggydog, Hendri Lamiri, Dik Doank dan Komunitas Kandank Jurank Doank. Nama-nama ini mustahil tak saya sebutkan dengan penghormatan setinggi-tingginya. Album solo ini takkan pernah jadi tanpa saya berkolaborasi dengan tiga belas maestro seni dan budaya ini. 

Dan karya ini takkan pernah satu langkah pun berjalan ke arah kebaikan jika tanpa dukungan para sahabat saya: Uki Rebek, Andri Ardiyanto, Indah Wulandari, Emmy Play, Irfan Chasmala, Feby Numero, Ivan Marryjane, Adi Prasada, Ozee Axelle, Rizky SEIYA, Paduan Suara Gereja Vocalista Bandung, para santri Pesantren Asy-Syahadah Segoro Gunung yang saya asuh, Micky dan para Sufi dari Whirling Dervish Zawiyah Rabbani Sufi Heart Indonesia, dan pembaca indah Al Qur’an dari Bandung, Hajjah Tuti Suhandi. 

Para senior yang menyokong dari belakang, yang lebih memilih di belakang layar, saya harus mohon maaf karena lancang menyebut nama mereka: Habib Syekh Abu Bakar bin Muhammad Aidid, Bondan Winarno, Arief Surowidjojo, KH Yusuf Chudlori, Didi Nugrahadi, Mantri Suwarno, Nukman Luthfie, Heru Hendratmoko, Alissa Qatrunnada Abdurrahman Wahid, Keluarga Ciganjur, Farida S. Tokan, KH Ujer Zaelani, Asep Muslim, Vista Handini, Aria Prass, Revaldi Mohamad, Irfan Ghandi, Mohamad Rezki, Danny Setiawan, Muhammad Yusuf, dan nama-nama lain yang akan tetap hidup dalam ingatan saya. Juga terimakasihku untuk Laskar Rindu, merekalah para pecinta #FatwaRindu, tagar saya di Twitter. 

Sejak September 2011, saya terus berproses menapaki jalan sunyi kesenian setelah sejak 1999 saya menyusuri setapak demi setapak jalan senyap kewartawanan. Saya sowani satu per satu dari tiga belas maestro tersebut di atas demi memohon kepada mereka untuk terlibat dalam penggarapan Kidung Sufi. Saya ke Pesantren Raudlatuth-Thalibin, di Leteh, Rembang, Jawa Tengah, meminta Gus Mus membacakan sajak untuk sebuah lagu, yang kemudian aransemen string dan sayatan biolanya diciptakan dan dimainkan oleh Idris Sardi. 

Gus Mus, masih saya ingat, turun dari kamar membawa buku tebal sajak-sajaknya sebelum akhirnya memilih sajak berjudul Pesona untuk lagu yang saya beri judul Kidung Sufi, ode tentang 20 Sifat Allah. Saya sowan kepada Cak Nun di Jogjakarta di sela-sela kesibukannya mempersiapkan lakon teater bertajuk Nabi Darurat, Rasul Adhoc [NDRA]. Memerdengarkan lagu-lagu saya kepada Cak Nun yang kemudian secara spontan menuliskan satu sajak, khusus untuk album ini, bertitel Mukaddimah Cinta. Dua tokoh bangsa ini saya rekam pembacaan sajaknya di rumah mereka masing-masing.

Konsep dasar album ini memang adalah sebuah pergelaran. Cak Nun membuka dan Gus Mus menutupnya dengan sajak yang saya lantuni kidung. Inspirasi yang tak pernah kering, tak jua lekang oleh zaman, itu adalah Al Qur’an, dibumikan oleh kitab dan suluk Tasawuf. Dari sanalah lirik-lirik Kidung Sufi saya saripatikan. Berbeda dengan album religi yang lebih dulu ada, saya tidak banyak memaparkan ayat-ayat dan shalawat dalam wujud aslinya.

Ayat-ayat suci dan pujian-pujian pada Allah dan Rasul itu telah saya balut dengan kesahayaan ucapan Cinta dan kesederhanaan kalimat Rindu. Telah saya alihbahasakan menjadi lirik-lirik dalam bahasa ibu. Jika pun tetap ada ayat dalam keadaannya yang utuh, saya memilih ayat pendek yang telah populer, yang tak perlu berlatarbelakang pendidikan agama yang ketat untuk tahu cara membacanya, apalagi paham maknanya. Dan, ayat-ayat itu saya tempatkan hanya di reffrain.

Mengapa saya menamai album religi ini sebagai Kidung Sufi? Mengapa pula judul besarnya adalah Samudera Cinta? Disebut kidung karena karya ini endapan renungan dan jejak perjalanan saya sebagai seorang Sufi selama 20 tahun terakhir, yang saya komposisikan menjadi dendang yang mudah ditembangkan oleh siapa pun. Saya telah belajar secara privat pada tujuh mursyid Tasawuf: Kiai Abdullah Ali, Habib Ja’far bin Badar bin Thalib bin Umar bin Ja’far, Kiai Muna’am, Syekh Ahmad Sirrullah Zainuddin, KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin [Abah Anom Suryalaya], Mawlana Syekh Hisyam al Kabbani, dan KH Kholilurrahman [Ra Lilur].

Siapa dan apakah sesungguhnya Sufi? Ia bisa siapa saja, selama ia adalah representasi dari kehadiran Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia bisa siapa saja, dalam satu kondisi bahwa ia mengatasnamakan Tuhan dalam perilakunya jika dan hanya jika untuk menebarkan Cinta dan Kasih Sayang. Dari sinilah muncul judul album Samudera Cinta. Samudera menerima air dari sungai mana pun dalam keadaan yang bagaimana pun. Buih, ombak, gelombang, poros, dan pusaran memiliki hak yang sama untuk diangkat ke langit, diolah oleh Allah dan alam semesta untuk kemudian diturunkan sebagai rahmat bagi semesta alam.

Spirit ini yang membuat saya tak patah arang setiap hari selama dua bulan mengirim blackberry message kepada Addie MS demi menyelinap di antara daftar panjang kesibukannya, sejak saya dipertemukan dengannya oleh Bondan Winarno. Hingga akhirnya, jadilah lagu Shirathal Mustaqim dengan aransemen string dari Addie MS, sayatan biola dari Twilite Orchestra, dan petikan gitar Tohpati. 

Keakraban saya dengan Dewa Budjana membawa kami ke dalam suasana intim spiritualitas yang dari dawainya kemudian sempurnalah lagu Jiwa yang Tenang. Saya mendatangi Trie Utami ke rumahnya demi meminta warna vokalnya yang mistis menggelayut di antara kepedihan lagu Fatwa Rindu dan Fana Selamanya. John Paul Ivan dan Hendri Lamiri, besutan rock dan gesekan klasik, saya perjumpakan dalam lagu Syahadat Cinta yang dipenuhi koor Paduan Suara Gereja Vocalista Bandung, Komunitas Kandank Jurank Doank, dan santri Pesantren Asy-Syahadah.

Tak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya, bisa pula lahir lagu Samudera Debu yang nyaris luput dari persalinan album ini. Di antara dua belas tracks, lagu ini yang terakhir muncul. Namun, ia justru yang paling gembira di antara pedih-pilu warna rindu di situ. Berkolaborasi dengan Marzuki Mohamad Kill The DJ [Jogjakarta Hip Hop Foundation] yang kental syair Jawa, Heru Shaggydog yang sangat reggae, dan Sujiwo Tejo yang wingit dengan suluk wayang kulit, saya kini telah ma’rifat bahwa musik memang universal.

Saya telah mengalami dan merasakan sendiri betapa musik religi Islam tidak harus selalu berirama padang pasir. Religi dan kultur adalah satu dan lain hal. Islam tidak selalu sama dengan Arab dan Arab tidak selalu sama dengan Islam. Dalam Kidung Sufi “Samudera Cinta”, siapa saja bisa mendengarkan bagaimana genre musik klasik, jazz, pop, rock, rap, reggae, dan suluk wayang kulit, berjumpa dalam kerukunan yang bernama harmoni, yang masing-masing menonjol sesuai jatidiri. 

Selamat menikmati.

Jakarta, 13 Juni 2012

Candra Malik

===

Kidung Sufi “Samudera Cinta”. Album solo religi Candra Malik featuring 13 maestro.

01. Mukadimah Cinta
featuring Cak Nun

02. Seluruh Nafas (Bismillah)

03. Hasbunallah

04. Fatwa Rindu
featuring Trie Utami

05. Jiwa Yang Tenang
featuring Dewa Budjana

06. Allahu Ahad
featuring Indah Wulandari

07. Fana Selamanya
featuring Trie Utami

08. Samudera Debu
featuring Marzuki Mohamad Kill The DJ, Heru Shaggydog, Sujiwo Tejo

09. Shiratal Mustaqim
featuring Addie MS & Twilite Orchestra, Tohpati

10. Pulang Bahagia

11. Syahadat Cinta
featuring Hendri Lamiri, John Paul Ivan ex Boomerang, Dik Doank & Komunitas Kandank Jurank Doank

12. Kidung Sufi (Sifat 20)
featuring Idris Sardi & Gus Mus

==

Kontak:
Yudi Syarif
@yudi_power, pin BB: 32D1CFDD, hp: 08811339555.

Website:
http://www.candramalik.com

Twitter:
@candramalik

Enhanced by Zemanta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *