Puisi-Puisi Cunong Nunuk Suraja

RUANG TEBUKA RUANG BEBAS BERTANYA KABAR dari jendela televisi hujan menyusup keluar bermain bola bersama kanak-kanak telanjang menyepak menendang ke udara menuju tiang gawang menusukkan tembakan bola kiper tunggang langgang hujan tertawa menyemburkan air anak-anak bersorak menyanyikan: “waka waka e e ”this time for us to play” JEJAK HUJAN DI PASIR PANTAI moment-moment hujan berbaris di layar televisi bergaris liris miring dari sudut bumi ke sudut bumi menyirami duka nestapa petani dihajar kemarau monyet-monyet di hutan saling berpelukan menatap air tumpah dari langit tak tertahan mengharap buah ranum usai hujan…

Memberi Ruang Untuk Sejarah* (Esai: Ni Made Wawi Adini**)

Jasmerah milik Soekarno, Presiden RI pertama, tiba-tiba memenuhi wacana publik. Manakala bangsa gerah oleh teori dan rongrongan orde baru, ideologi-ideologi yang pernah digeluti Soekarno tiba-tiba mendapati pintu terbuka. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kalimat ini sangat menuding, seperti bagaimana kerasnya tudingan bersalah pada pemerintah orde baru yang identik dengan Soeharto. Pertanyaannya kemudian, Untuk apa memberlakukan sejarah? Tidakkah lebih baik meletakkan sejarah pada peti mati; sebagai sebuah memori saja? Pergulatan mengenai perlu tidaknya sejarah atau dimana harus meletakkan sejarah barangkali tidak terangkat pada diskusi-diskusi biasa. Perhelatan ini lebih pada insan yang berbekal…

PEREMPUAN YANG TAK PERNAH BISA KUMENGERTI (Cerpen Niniek)

Perempuan itu tak bergeming dari lelapnya, bahkan ketika kubenahi selimutnya. Wajah yang begitu damai ditidurkan di dadaku. Nafasnya menghangati keseluruhanku. Sungguh, aku tak sanggup membangunkannya walau begitu banyak yang ingin kutanyakan. * “Kamu tak sungguh-sungguh mencintaiku. Kamu hanya kasihan padaku,” ujar perempuan itu. Aku tertegun. Sangat terkejut mendengar pernyataan yang cenderung menuduh itu. “Tidak lebih,” sakali lagi ia menandaskan sebelum sempat aku menjawabnya. “Kamu hanya kasihan padaku, tidak lebih.” Aku masih saja terkejut, meski ini pernyataannya yang ketiga. Aku tetap diam. Tak hendak menjawab. Aku begitu bingung dengan pernyataannya. Namun…