Memberi Ruang Untuk Sejarah* (Esai: Ni Made Wawi Adini**)

Jasmerah milik Soekarno, Presiden RI pertama, tiba-tiba memenuhi wacana publik. Manakala bangsa gerah oleh teori dan rongrongan orde baru, ideologi-ideologi yang pernah digeluti Soekarno tiba-tiba mendapati pintu terbuka. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kalimat ini sangat menuding, seperti bagaimana kerasnya tudingan bersalah pada pemerintah orde baru yang identik dengan Soeharto. Pertanyaannya kemudian, Untuk apa memberlakukan sejarah? Tidakkah lebih baik meletakkan sejarah pada peti mati; sebagai sebuah memori saja? Pergulatan mengenai perlu tidaknya sejarah atau dimana harus meletakkan sejarah barangkali tidak terangkat pada diskusi-diskusi biasa. Perhelatan ini lebih pada insan yang berbekal…

PEREMPUAN YANG TAK PERNAH BISA KUMENGERTI (Cerpen Niniek)

Perempuan itu tak bergeming dari lelapnya, bahkan ketika kubenahi selimutnya. Wajah yang begitu damai ditidurkan di dadaku. Nafasnya menghangati keseluruhanku. Sungguh, aku tak sanggup membangunkannya walau begitu banyak yang ingin kutanyakan. * “Kamu tak sungguh-sungguh mencintaiku. Kamu hanya kasihan padaku,” ujar perempuan itu. Aku tertegun. Sangat terkejut mendengar pernyataan yang cenderung menuduh itu. “Tidak lebih,” sakali lagi ia menandaskan sebelum sempat aku menjawabnya. “Kamu hanya kasihan padaku, tidak lebih.” Aku masih saja terkejut, meski ini pernyataannya yang ketiga. Aku tetap diam. Tak hendak menjawab. Aku begitu bingung dengan pernyataannya. Namun…

Sebuah Kecelakaan Yang Terjadi Pagi Ini Mungkin Merupakan Awal Puisinya (Puisi: Maya Barmazi)

Menjelang awan di atas sahara Sebuah kota tua Rusa-rusaku berlarian Dari amuk serigala Pagi tadi seorang pejalan kaki Bertemu dengan janjinya Di bawah roda-roda truk gila Surat untuk kekasihnya Masih ada di gengaman jemarinya Arak awan bertambah dua Angin desember membawa Sebutir debu mengusik lamunan Di atas ranjang itu jua Wahai arak awan yang dua Lupakah engkau ikrar tersumpah Sebelum benih tertumpah Bahwa aku adalah mimpimu Bahwa aku adalah bayanganmu Kenapa engkau mengarak ke lain arah Dengan wajah masam di lidah kelu Dan jejak-jejak langkah di pasirku engkau biarkan telanjang…