KEJUTAN

Anisa sangat risau. Berkali-kali gadis kecil berpipi tebal itu menyelinapkan kepalanya di jendela kamar. Melabukan pandang menuju jalan setapak desa. Mengamati burung pipit berkicau. Sejak pagi matanya berbinar, namun sekarang berubah layu. Ia tak sabar ingin memberi kejutan. Matahari mulai redup. Masyarakat yang melintas di jalan setapak tak lagi ramai seperti tadi. Hatinya gamang sendiri kalau-kalau harapan berbanding terbalik dengan kenyataan. Kian risau, ia menuju ambang pintu. Mengamati orang-orang berlalu. Berharap di antara beberapa laki-laki tua bertubuh tegap yang hendak ke masjid itu, ada sosok ayah melambaikan tangan membawa hadiah…

PEREMPUAN YANG TAK PERNAH BISA KUMENGERTI (Cerpen Niniek)

Perempuan itu tak bergeming dari lelapnya, bahkan ketika kubenahi selimutnya. Wajah yang begitu damai ditidurkan di dadaku. Nafasnya menghangati keseluruhanku. Sungguh, aku tak sanggup membangunkannya walau begitu banyak yang ingin kutanyakan. * “Kamu tak sungguh-sungguh mencintaiku. Kamu hanya kasihan padaku,” ujar perempuan itu. Aku tertegun. Sangat terkejut mendengar pernyataan yang cenderung menuduh itu. “Tidak lebih,” sakali lagi ia menandaskan sebelum sempat aku menjawabnya. “Kamu hanya kasihan padaku, tidak lebih.” Aku masih saja terkejut, meski ini pernyataannya yang ketiga. Aku tetap diam. Tak hendak menjawab. Aku begitu bingung dengan pernyataannya. Namun…

melukis kesedihan

kesedihan. ya, itu yang tak juga dijumpainya. sekilas lukisan tentang perempuan yang ditinggal pergi kekasihnya itu begitu nyata. namun pelukis itu tak puas. kemana kesedihan dalam sapuan-sapuan kuas itu? ia memang suka realisme. tetapi itu tak cukup baginya. ia merasa harus menyisipkan kesedihan yang mendalam dibalik setiap sapuannya dikanvas itu. agar setiap mata yang memandang lukisan itu akan terserap dalam suasana hati perempuan dalam lukisan. Link to this post!