Puisi puisi Rukmi Wisnu Wardani

Teringat Samboja satu persatu almanak bertanggalan di awal senja seusai hujan reda sehelai daun mangga jatuh di beranda teringat samboja larut di sihir mata. lagi, aku luruh disentuh jemari segera selepas pertama bertemu Ames, rindukah kau pada ibu sebagaimana aku? ada bahasa waktu kau gelayuti pundakku tanganmu menjelma kalimat ketika itu larunglah larunglah rindu sebebas kau bermain di gerai rambutku yang tak begitu legam warnanya itu lelaplah lelaplah tidurmu terbanglah terbanglah tinggi ke mimpi terindah itu satu persatu almanak bertanggalan di penghujung senja kukenang samboja hangat tubuhmu menyisa dalam dekapan…

PEREMPUAN YANG TAK PERNAH BISA KUMENGERTI (Cerpen Niniek)

Perempuan itu tak bergeming dari lelapnya, bahkan ketika kubenahi selimutnya. Wajah yang begitu damai ditidurkan di dadaku. Nafasnya menghangati keseluruhanku. Sungguh, aku tak sanggup membangunkannya walau begitu banyak yang ingin kutanyakan. * “Kamu tak sungguh-sungguh mencintaiku. Kamu hanya kasihan padaku,” ujar perempuan itu. Aku tertegun. Sangat terkejut mendengar pernyataan yang cenderung menuduh itu. “Tidak lebih,” sakali lagi ia menandaskan sebelum sempat aku menjawabnya. “Kamu hanya kasihan padaku, tidak lebih.” Aku masih saja terkejut, meski ini pernyataannya yang ketiga. Aku tetap diam. Tak hendak menjawab. Aku begitu bingung dengan pernyataannya. Namun…

MUSIM GUGUR (Friedrich Nietzsche)

Ini musim gugur: merontokkan mu juga hati mu ! Terbang jauh ! Terbang jauh ! Matahari mendaki gunung dengan perlahan Dan naik dan naik Setiap langkah dengan sepi Apakah bunga-bunga dunia sudah layu Pada benang yang bergerak tanpa nafsu Angin sebagai lagunya Harapan telah sirna Dia yang murka padanya Ini musim gugur: merontokkan mu juga hatimu ! Terbang jauh ! Terbang jauh ! Oh buah pepohonan Kau gemetar, jatuh ? Rahasia apa yang kau ajarkan Malam hari Es dingin menghujani pipi Menutupi kemerahan Kau diam, tak menjawab ? Siapa yang…