Dari Tanah Yang Basah

Puisi: Nanang Suryadi

 

aku pungut tanah basah, selepas hujan, lumpur pengetahuan,

bebauan yang diperam dieram waktu, ingatan terulang

berulang

 

dari tanah yang basah, mungkin akan kau bayangkan likat

liat, atau gembur subur, dari tanah merah menggeliat cacing

memanggilmu guru

 

di undak-undakan waktu, di usia yang telah sampai pada

maqamnya, siapa yang bertanya pada dirinya sendiri: siapa

aku?

 

apa yang dipikir dirasa ditimbang timang, ditimang-timang:

mungkin ragu mungkin sesuatu yang tak niscaya,

mengembara dari mata

 

ada yang berteriak di saat hujan: jangan bermain kran, nanti

mengucur kata menderas membanjir meluap kemana-mana,

menghanyutkan mimpimu!

 

aku pungut kata, dari tanah basah, hujan yang menderas, di

dalam pikiranku kata menderas, menghanyutkan

pikiran-pikiran banal binal

 

dari tanah yang basah, selepas hujan, masihkah ada kata?

meluncur ingatan pada lumpur yang merendam mimpi-mimpi.

 

sebagai sebuah tanya: berapa harga yang harus dibayar, untuk sebuah kuasa,

kekuasaan yang fana, teramat fana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *