Memberi Ruang Untuk Sejarah* (Esai: Ni Made Wawi Adini**)

Jasmerah milik Soekarno, Presiden RI pertama, tiba-tiba memenuhi wacana publik. Manakala bangsa gerah oleh teori dan rongrongan orde baru, ideologi-ideologi yang pernah digeluti Soekarno tiba-tiba mendapati pintu terbuka. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kalimat ini sangat menuding, seperti bagaimana kerasnya tudingan bersalah pada pemerintah orde baru yang identik dengan Soeharto. Pertanyaannya kemudian, Untuk apa memberlakukan sejarah? Tidakkah lebih baik meletakkan sejarah pada peti mati; sebagai sebuah memori saja? Pergulatan mengenai perlu tidaknya sejarah atau dimana harus meletakkan sejarah barangkali tidak terangkat pada diskusi-diskusi biasa. Perhelatan ini lebih pada insan yang berbekal…

GELOMBANG CYBERSASTRA RUJAK KATA PUISI GRAFITI CHAIRIL ANWAR

oleh: Cunong Nunuk Suraja Bulan April memang identik dengan bulan sastra dengan titik tolak pemikiran Chairil Anwar yang ditengarai sajak-sajaknya oleh Sutan Takdir Alisjahbana(STA) sebagai rujak: “Makanan ini asam, pedas, asin, dan banyak terasinya, berguna untuk mengeluarkan keringat, tapi tak dapat dijadikan sari kehidupan manusia.” (Dalam Goenawan Mohamad. 2011.“Takdir: Puisi dan Antipuisi” Puisi dan Antipuisi. Jakarta: Tempo dan PT Grafiti Pers. pada halaman 74 dan 171). Sajak-sajak semangat Chairil Anwar walaupun juga diketahui sebagai karya saduran memang menyodorkan pemilihan kata baru yang meruyak dan memporak-porandakan kosa kata Bahasa Indonesia yang saat…

TAUTOLOGI DAN CELAH-CELAH DI SEKITAR “KATA,WAKTU”

Oleh: Tulus Wijanarko Hidup ini singkat, sedangkan begitu banyak kesaksian harus disampaikan. Begitu seorang penulis pernah mengungkapkan alasannya menjadi pengarang. Itu sebabnya, lebih dari sekedar bukti keterampilan mengolah kata-kata, karya yang lahir dengan alibi macam itu berpretensi menjadi saksi bagi zamannya. Dan, dengan demikian selalu pantas untuk disimak. Kita tak pernah tahu mengapa Goenawan Mohamad (GM) memilih menjadi penulis untuk mengisi –mungkin sebagian terbesar— dari hidupnya. Konon, ia mulai menulis sejak berusia 11 tahun. Tetapi, apapun alasan itu, sepertinya seluruh tulisan GM tak akan pernah menjadi sia-sia. Setidaknya itu terasakan…