KEJUTAN

Anisa sangat risau. Berkali-kali gadis kecil berpipi tebal itu menyelinapkan kepalanya di jendela kamar. Melabukan pandang menuju jalan setapak desa. Mengamati burung pipit berkicau. Sejak pagi matanya berbinar, namun sekarang berubah layu. Ia tak sabar ingin memberi kejutan.

Matahari mulai redup. Masyarakat yang melintas di jalan setapak tak lagi ramai seperti tadi. Hatinya gamang sendiri kalau-kalau harapan berbanding terbalik dengan kenyataan.

Kian risau, ia menuju ambang pintu. Mengamati orang-orang berlalu. Berharap di antara beberapa laki-laki tua bertubuh tegap yang hendak ke masjid itu, ada sosok ayah melambaikan tangan membawa hadiah dari rantau. Katanya, setelah azan asar tulang punggung keluarga itu akan sampai di rumah. Meskipun kabar itu salah, Anisa masih menanti.

Sementara sang ibunda hanya melamun menyaksikan kegusaran gadis kecilnya. Barangkali Anisa terlalu berharap pada suatu kenyataan yang pahit.

“Tak usah menunggu ayah seperti itu,” ujar ibunya menenangkan.

Anisa tak begitu hiraukan. Ia masih berdiri tegap di ambang pintu itu. Tak berkedip, bola matanya berkaca-kaca. Aih, tak sabar lagi.

“Kalau ayah sudah pulang, pasti dia akan bangga padaku, Bu” ucapnya lirih.

Terkenang ucapan ayahnya kemarin. Jika berhasil mendapat juara kelas. Sepeda baru, itu kado yang akan diterima. Berbunga-bunga wajahnya mendengar berita itu. Kadang tergelak-gelak sendiri bila membayangkan betapa menyenangkan sebuah penghargaan.

Telah lama tak mampu menjadi juara. Tapi dengan kegigihan, akhirnya bisa membuktikan sebuah prestasi mencengangkan orangtua. Sekaligus mengabarkan bahwa dia bukan gadis kecil pemalas seperti yang pernah diucapkan oleh ayahnya dulu.

Di kelas 5 SD ini. Untuk yang pertama kali Anisa mengecap juara pertama. Sebelumnya, dari kelas 1 sampai 4. Si pipi tebal itu hanya mampu meraih rangking 2 itu pun dari hitungan akhir 43 siswa. Dengan prestasi yang buruk, ia bergelar gadis kecil pemalas tingkat ular sawa.

Tapi sekarang Gadis kecil yang tengah gamang sudah membuktikan kesungguhan. Bahwa tiada yang mustahil bila berlandasan usaha dan giat belajar. Buah hasil kerja keras sudah bisa dipetik dan membanggakan keluarga.

Azan magrib sudah berkumandang. Ayahnya tak juga pulang.

“Di mana ayah, Bu?” katanya dengan wajah kusut. Dari siang rela tak mandi demi satu penantian.

“Mungkin sedang di jalan. Lebih baik Anisa mandi dulu! Nanti kalau ayah datang, ibu akan kabarkan.”

Lagi- lagi anak semata wayang itu keras kepala. Ia tak pedulikan perintah ibundanya.

“Anisa akan tunggu sampai ayah datang,” ucapnya sambil menahan air mata.

Tiga ribu enam ratus detik setelah itu. Pukul delapan malam. Ayahnya belum juga tampak batang hidungnya. Anisa semakin dilema dengan keadaan seperti ini.

Sang ayah sedang mengadu nasib di negeri seberang, Malaysia. Hari itu, bertepatan dengan penerimaan rapor. Ia sudah berjanji akan pulang untuk mendengar sebuah kabar gembira.

Agaknya harapan hampir sia-sia. Pukul sepuluh malam, orang yang dinanti tak kunjung datang. Padahal dalam janji sudah berangkat ke tanah air sejak empat hari yang lalu.

Dalam keadaan yang sama. Anisa masih merenung di ambang pintu. Ia enggan mandi, makan, minum, ganti seragam, dan tak mau beranjak dari keberadaan semula. Matanya kosong tiap pandang. Ke mana pun dia melihat, wajah ayah terbayang-bayang. Senang tak terbilang berkecamuk dalam dada.

“Berapa lama lagi ayah akan sampai, Bu?”

Pertanyaan itu sudah untuk yang kesekian kali. Mata ibundanya bergeming. Ia tak kuasa melihat Anisa terbuai harapan. Ia bolak-balik menuju kamar,dapur, ruang tamu, dan tak kuat dia menahan air putih yang sudah naik. Tak tahan melihat anak yang hampir beku di ambang pintu itu.

Akhirnya, sang ibunda semakin iba. Dengan berat hati memberitahu sebuah keadaan pilu yang harus diterima oleh gadis kecilnya itu. Sebuah tragedi pilu sudah terjadi.

“Ini baca surat dari ayahmu, Nak.”

Wajah ibu yang mulai pucat memberikan sepucuk surat untuk anaknya. Agaknya, ketika untaikan kata sudah dibaca. Pastinya—Anisa akan marah besar. Mungkin juga akan membenci ibunya seumur hidup.

Dengan perasaan kian bimbang. Dengan tenang Anisa mengambil secarik surat yang diberikan oleh ibundanya tadi. Lalu membaca sepatah kata di dalam kertas putih bertinta hitam itu. Harapan sebuah kabar gembira. Jangan-jangan ayahnya sedang mengatur sebuah rencana. Atau barangkali ucapan selamat. Ia tersenyum sendiri.

Untuk anakku, Anisa

Ayah sudah dengar kabar dari ibumu. Bahwa anak ayah yang dulunya pemalas sudah berjuang membuktikan dirinya mampu.
Tapi maaf! Ayah tak bisa tepati janji. Pekerjaan masih menyita di negeri seberang.
Ayah bangga padamu.

Ttd
Ayah

Setelah membaca ungkapan dari ayahnya. Tampa terasa air bening itu menitik pelan membasahi pipinya. Mengalir lebih deras. Nafas gadis kecil itu tersengal. Anisa menaruh secarik kertas tadi di dada. Menadahkan kepala tinggi-tinggi. Anak yang dianggap pemalas dan telah berjuang keras menjadi juara kelas itu menahan persaan. Tersedu-sedan dalam tiap ratapan.

“Setidaknya, Anisa sudah membuktikan diri pada ayah. Anisa tidaklah anak yang pemalas,” ujarnya pelan pada kertas putih itu. Ia kembali menangis untuk sebuah alasan yang tak bisa diterima dengan lapang dada.

Anisa mencium sepucuk surat yang indah itu. Berharap suatu hari nanti bisa memperlihatkan hasil kerja keras pada ayahnya. Air bening yang sudah naik semakin tak tertahan bila terkenang janji manis. Ingat sepeda baru, sudah lama dia inginkan itu. Sampai-sampai rela menghabiskan waktunya untuk belajar demi mendapat kejutan. Air matanya semakin tertahan.

Selintas Anisa mengarah pandang menuju tempat semula bermenung. Di sana telah berdiri laki-laki gagah. Tubuhnya kekar tak goyah. Matanya tajam menatap anak yang tengah bersedih hati.

“Ini sepeda baru yang ayah janjikan sayang….”

Tubuh Anisa bergetar melihat ayahnya sudah berdiri di ambang pintu bersama sepeda baru yang dijanjikan sejak satu tahun lalu. Gadis kecil itu pun menutup mulutnya. Matanya yang rindang berputar-putar. Wajahnya merah merona tak alang kepalang. Sumringah macam anak yang mendapat kabar akan diajak liburan ke luar negeri. Ia menyeka air mata dan berlari menemui ayahnya.

Namun setelah sampai di jarak pandang melihat ayah dan sepeda baru tadi. Ia kembali bermenung menyandarkan tubuhnya di ambang pintu. Pandangan berbahagia hanyalah halusinasi saja. Anisa kembali menitikkan air mata, sudah hancur sebuah harapan. Ia melihat bulan perasaannya terbawa ngambang ke negeri seberang. Ia tak kuat menahan diri dalam penantian yang kian menjadi hampa.

Related posts

Leave a Comment