Kenapa Orang-orang Harus Hidup Berpasang-pasangan? – Muhammad Damhuri

Oleh: Muhammad Damhuri

Judul : Sarapan Pagi Penuh Dusta (Sebuah Kumpulan Cerpen)
Penulis : Puthut EA
Penerbit : Jendela, Yogyakarta, 2004
Tebal : xvi + 157 ; 12 x 18 cm

Kenapa Adam masih dikepung sepi di taman surga yang bermandikan cahaya sehingga ia terstimulasi untuk memanjatkan doa agar Tuhan menghadirkan Hawa di sisinya? Lalu, seketika Hawa pun meng-ada atas dasar cinta Tuhan pada Adam.

Persis mulai dari titik inilah sejarah bermula, bahwa kelak di kemudian hari semua manusia hidup berpasang-pasangan, bersekutu, bersetia dalam membina rumah tangga. Di sini pulalah titik awal sejarah pernikahan yang konon katanya harus dilakukan atas dasar cinta, kesetiaan, dan pengorbanan.

Seorang pencerita pernah menuturkan bahwa datang ke sebuah pesta pernikahan jauh lebih menyedihkan daripada menghadiri prosesi kematian. Bukankah kita bisa menerima kematian dengan tulus, lapang dada, karena kematian adalah sebuah keniscayaan? Tak ada alasan untuk menghindari kematian. Tapi pernikahan? Bukankah kita bisa menghindarinya? Kita punya pilihan bebas untuk tidak menikah. Kalau kita bisa bahagia tanpa pernikahan, kenapa harus menikah? Menyedihkan sekali seseorang yang memilih pernikahan, padahal tak ada jaminan kalau ia akan meraih kebahagiaan. Bukankah Tuhan dan Yesus tidak pernah menikah, dan mereka bahagia. Pernikahan adalah produk kebudayaan paling dungu yang pernah diciptakan manusia. (Agus Noor, “L’abitudine”, Kompas, 18/01/04).

Idealnya, cinta memang harus dilandasi dengan kesetiaan dan pengorbanan. Kesetiaan? Tapi, apakah kesetiaan itu sungguh-sungguh ada? Seperti kata pencerita yang lain, kesetiaan hanya ada ketika tidak ada saksi dan bukti-bukti (Indra Tranggono, “Menanam Bunga dalam Dada”, Jawa Pos, 31/08/03). Bagaimana dengan pengorbanan? Maka pencerita yang lain (lagi) menjawab: bukankah pengorbanan yang sesungguhnya hanya ada sekali dalam setahun pada setiap bulan Zulhijjah setelah shalat Idul Adha? Cinta? Bukankah cinta hanya tumbuh se-jeda (saja) sebelum ritual seremonial upacara pernikahan digelar? Sesaat sebelum pengantin wanita membuka gaun pengantin bermotif renda-renda di malam pertama, sebelum bercinta. Setelah petualangan malam pertama yang melelahkan usai, cinta pun musnah bersama musnahnya gincu merah merona pada bibir sang pengantin wanita. Tidak ada kesetiaan dalam cinta, tidak ada pengerbanan dalam cinta, karena cinta, kesetiaan dan pengorbanan tidak pernah ada, kecuali dalam bait-bait puisi para penyair yang tidak pernah bisa dipercaya. Cinta, kesetiaan dan pengorbanan yang mereka perbincangkan ter-kerangkeng dalam kata-kata yang tak pernah membumi, utopia, bahkan absurd. Begitu kata pencerita yang lain lagi.

Skeptisisme yang berkelit kelindan dalam merumuskan interpretasi makna kata pernikahan inilah yang diusung oleh Puthut EA di dalam cerpen “Sarapan Pagi Penuh Dusta” (sekaligus menjadi judul antologi cerpennya). Dengan langgam dan gaya sentimentil, Puthut EA mempertanyakan: kenapa orang-orang harus saling bersama, berpasang-pasangan dalam membina rumah tangga. Tak pernah ada jawaban bagi pertanyaan, kenapa banyak orang bisa bertahan berpuluh tahun bersama dalam satu atap dan menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi. “Benar-benar tidak bisa kumengerti mengapa ada sesuatu bernama kesetiaan,” katanya (hlm.71). Sentimentalisme Puthut EA dalam konteks ini dapat dimengerti, sebab idealnya sebuah lembaga pernikahan yang bermuara pada kebahagiaan ternyata tidak mengejawantah dalam lika-liku perjalanan sejarah hidup ber-rumah tangga dari masa ke masa. Secara kesat mata, pernikahan seringkali dilakukan hanya untuk melegitimasi sebuah pemerkosaan. Para penganut feminisme sering menyebutnya sebagai pemerkosaan atas dalih cinta. Pernikahan juga tidak jarang menyulut kecemburuan yang menimbulkan kebencian dan seringkali dengan mudah menstimulasi sebuah rencana pembunuhan. Seorang istri yang terluka akibat perselingkuhan yang dilakukan suaminya, seketika bisa saja berperilaku sadistik yang tidak sungkan-sungkan menggorok leher suaminya hingga berlumuran darah dan mati. Pembantaian atas nama cinta, agaknya.

Buku ini merupakan antologi cerpen Puthut EA yang ketiga setelah Sebuah Kitab yang Tak Suci (Bumimanusia, 2001) dan Dua Tangisan pada Satu Malam(Kompas, 2003). Terdiri dari 15 judul cerpen yang, menurut hemat saya, mainstream (arus utama)-nya terletak pada “Sarapan Pagi Penuh Dusta”. Sehingga, dengan sangat cerdas penerbit pun memasang judul tersebut sebagai judul buku ini. Mengikuti lekuk-lekuk alur dan gaya bercerita khas Puthut EA sama artinya dengan bertamasya pada detail-detail peristiwa demi peristiwa dalam petualangan sunyi yang dingin, tapi tanpa diduga-duga akan sampai pada sebuah fase perjalanan yang mengejutkan, sekaligus mendebarkan, menegangkan, membuat buluk kuduk berdiri. Tamasya dalam pengembaraan yang pada awalnya terasa begitu menyejukkan, tapi tiba-tiba saja menimbulkan rasa ngilu karena liar-nya imajinasi Puthut EA dalam menggapai metafora-metafora yang ketat, padat, anggun, memukau, dan sekaligus meng-hipnotis, bahkan tidak jarang juga menimbulkan histeria. Pada antologi yang ketiga ini, Puthut EA tidak terlalu latahmenggunakan dialog, tapi pasti akan menciptakan berpuluh-puluh pertanyaan (mungkin seperti berdialog dengan batin masing-masing) jika pembaca sudahterhanyut dalam aliran sungai kembara sunyinya, bisa juga tenggelam, saya kira.

Potret pembangkangan pada iklim keberpasangan laki-laki dan perempuan dalam sebuah lembaga pernikahan yang meresahkan, (bahkan tidak jarang menimbulkan malapetaka, musibah, dan bencana) terlihat lagi pada cerpen yang berjudul “Bapa”. Pada awalnya, Puthut EA hanya menceritakan kerapian sistem keamanan sebuah imperium Mafia (jujur saja, saya merasa seperti menonton film God Father ketika membaca judul ini). Tapi, setelah melanglang buana dalam pengembaraan yang jauh tentang bisnis merah dan bisnis putih, lingkar tujuh, lingkar delapan belas, Paman Kambing, Paman Gajah, Paman Hitam, Paman sulit bicara, tiba-tiba Puthut EA kembali pada sentimentalisme semula, sentimentalisme pada etos pernikahan yang telah menjadi faktor pemicu semakin banyaknya kematian. Waktu Goze (salah satu putra angkat Bapa dari wilayah lingkar tujuh) menanyakan kapan (tokoh aku) akan menikah, (tokoh aku) hanya menjawab:setelah memisahkan dua orang yang saling jatuh hati, apalagi setelah kematian-kematian itu terjadi. Aku tidak memiliki satu alasan pun, kenapa orang-orang harus berpasang-pasangan, menikah dan bersetia? (hlm. 82)

Sekali lagi, membaca sederetan cerita yang di-usung Puthut EA dalam buku ini adalah juga membaca skeptisisme terhadap kultur keberpasangan yang absurd, sentimentalisme yang ketat terhadap lembaga pernikahan yang telah melahirkan iklim kecemburuan, kebencian, pembunuhan, dan kematian sehingga Puthut EA selalu pandai merangkai dusta-dusta kecil untuk menjawab pertanyaan latah ibunya tentang: “Kapan kau menikah?” Dengan dusta-dusta kecil tersebut, sarapan pagi pun tetap terasa nyaman, tak terusik.

Setelah membaca buku ini, boleh jadi akan lahir seorang pencerita yang baru, pencerita yang hendak mengatakan: Aku tidak pernah bisa memahami makna kata kesetiaan, aku tidak ingin menikah, aku tidak ingin bahagia, tapi aku ingin tetap hidup, saya kira.

Simpang Bingung, Pekanbaru, Februari 2004

———————
*) Muhammad Damhuri, kolektor dan pekerja cerpen. Menulis artikel, esai filsafat, resensi buku, dan cerpen di Republika, Suara Karya, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, Bernas, dll. Alumnus Program Studi Ilmu Filsafat Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, koordinator kelompok kajian filsafat “Rumah Kreatif” Yogyakarta. E-mail: siblil_hazin@yahoo.com. HP: 0813 6540 2329

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *