melukis kesedihan

kesedihan. ya, itu yang tak juga dijumpainya. sekilas lukisan tentang perempuan yang ditinggal pergi kekasihnya itu begitu nyata. namun pelukis itu tak puas. kemana kesedihan dalam sapuan-sapuan kuas itu? ia memang suka realisme. tetapi itu tak cukup baginya. ia merasa harus menyisipkan kesedihan yang mendalam dibalik setiap sapuannya dikanvas itu. agar setiap mata yang memandang lukisan itu akan terserap dalam suasana hati perempuan dalam lukisan.

dua angka telah dilalui oleh jarum pendek jam dinding itu. perempuan pelukis itu membisu, menatap lukisan sambil mengingatingat halhal yang menyedihkan. tetapi ingatannya justru melayang pada sebuah cerita pendek Ryonosuke Akutagawa, tentang seseorang yang melukis neraka. pelukis itu berhasil menggambar neraka dengan hidup. tetapi ia tak puas. sebab aroma kengerian dan rasa sakit tak memancar dari lukisan yang begitu menakutkan itu. Lalu ia mengirim pesan kepada tuan pemesan lukisan: bakarlah seorang gadis dihadapanku! iapun lalu menambahkan gambar wanita yang mengerang kesakitan karena terbakar api neraka sembari melihat pemandangan sosok gadis dibakar hiduphidup di depannya. ya, ia puas. lukisannya selesai. ia pun gantung diri – gadis yang dibakar itu adalah putri satusatunya. demikianlah mengapa lukisan itu menjadi hidup, dan memancarkan aroma kengerian, kesakitan dan kepedihan siksa neraka.

dan pada pukul dua dinihari. lampu kamar perempuan itu menyala. ia begitu menghayati setiap sapuan kuasnya. entah berapa lama ia terus melukis sambil menangis. dengan penuh perasaan ia membuat sapuansapuan lembut, terkadang tegas, terkadang dengan sedikit gemetar. Demikianlah. perempuan itu terus melukis, dengan air mata mengalir, sembari menatap suaminya yang sangat dicintainya, dengan pisau tertancap didadanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *