Memberi Ruang Untuk Sejarah* (Esai: Ni Made Wawi Adini**)

Jasmerah milik Soekarno, Presiden RI pertama, tiba-tiba memenuhi wacana publik. Manakala bangsa gerah oleh teori dan rongrongan orde baru, ideologi-ideologi yang pernah digeluti Soekarno tiba-tiba mendapati pintu terbuka. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kalimat ini sangat menuding, seperti bagaimana kerasnya tudingan bersalah pada pemerintah orde baru yang identik dengan Soeharto. Pertanyaannya kemudian, Untuk apa memberlakukan sejarah? Tidakkah lebih baik meletakkan sejarah pada peti mati; sebagai sebuah memori saja?
Pergulatan mengenai perlu tidaknya sejarah atau dimana harus meletakkan sejarah barangkali tidak terangkat pada diskusi-diskusi biasa. Perhelatan ini lebih pada insan yang berbekal gelisah dan resah. Banyak ditemui pada tulisan-tulisan filosofis, yang tak terima begitu saja akan layar sejarah berkoar-koar sombong. Peletakan dasar terhadap realitas atau kekinian sangat berpengaruh. Sederhananya –lagi-lagi harus mencomot contoh rusaknya prilaku negara Indonesia– selama 32 tahun anak-anak yang sempat mengenyam bangku sekolah disuguhkan hafalan yang tak sepenuhnya tepat. Atau justru salah. Apa sesungguhnya Partai Komunis Indonesia (PKI)? Kenapa ada pelarangan terhadap perkembangan hidupnya dulu? Tiba-tiba saat sekarang disodorkan pada penghapusan ketetapan MPRS No. XXV tahun 1967 oleh Gus Dur, presiden RI IV. Ada yang setengah-setengah telah ditanamkan pada sistem pendidikan –yang didalamnya terbentang ilmu sejarah- Indonesia.
Abstraksi ini belum bisa menjawab pertanyaan sederhana tadi. Untuk apa memberlakukan sejarah? Tidakkah lebih baik meletakkan sejarah pada peti mati; sebagai sebuah memori saja?
Apa yang terjadi kemarin atau lusa, apa yang terjadi pada kondisi past (lampau) secara otomatis tersimpan pada kotak sejarah. Sejarah memberikan jalan untuk mengusut kejadian yang berlangsung pada lampau. Sejarah berguna sangat kontekstual, pada mana celah-celah tertutup memerlu sebuah cahya informasi, baik sebagai pelengkap atau menu utama.
Sejarah, demikian Friedrich Nietzcshe pernah mengemukakan dalam Unzertgemasse Betrachtungen (Untimely Meditations; Permenungan yang Terlalu Awal) pada bagian kedua tentang Kegunaan dan Kerugian Sejarah bagi Hidup, berguna sejauh memasukkan orang ke dalam keputusan yang mendalam. Sehingga orang kuat dan sehat melawan penderitaan dengan menciptakan keindahan. Dibahasakan secara singkat, sejarah bisa mengantarkan pada keselamatan bisa juga bibir jurang. Ketika sejarah berjalan melengkapkan cerita-cerita bahagia, sejarah akan sangat diidolakan akhirnya menjadi romantisme. Romantisme sejarah akan menjebak pada penglihatan melulu pada silsilah lampau. Tak urung, kesungguhan menjalani hidup menjadi rumus-rumus baku yang mencantumkan variabel sejarah didalamnya.
Kondisi satunya, sejarah menyisakan ketakutan dan kengerian. Pada tataran ini orang akan buru-buru menutup buku untuk segera melupakan sejarah. Penolakan-penolakan terhadap realitas menjadi kuat oleh unsur lampau (sejarah). “Kalau saja manusia mau jernih, pengidap Aids tak kan dikucilkan.” Kalimat ini mengingatkan pada sejarah prilaku manusia yang mengisolir pengidap virus HIV hingga sekarang, penyesalan seorang positif HIV karena sampai terjangkit. Nilai-nilai historis disini ditolak dan mendapati kebuntuan hidup. Dan akhirnya pada muara keputusasaan menjadi bingkai hidup.
Masih dalam buku Permenungan Terlalu Awal, Nietzcshe menggambarkan sebuah kebahagian menerima sejarah pada fase supra historis. Bukan pada historis dan ahistoris. Fase mau mengingat sejarah secara proporsional yang layak diunggulkan. Bukan menjadikan kejadian lampau sebagai lembaran tak terhapus. Bukan pula tak memiliki kesadaran akan masa lampau. Tidak normal, Nietzsche menyebut kondisi yang historis dan ahistoris ini.
Dengan argumen tadi secara langsung menjawab pertanyaan kedua: Tidakkah lebih baik meletakkan sejarah pada peti mati; sebagai sebuah memori saja? Kalau Nietzcshe lebih memilih kriterium seni sebagai jalan keluar masalah sejarah, bahwa seni tak berada di bawah perubahan melainkan melampaui sejarah. Penjabaran idea dalam roh perjalanan Ziarah (puisi milik Sapardi Djoko Damono) memberi jalur lain tentang kenangan yang nota bena sebagai unsur sejarah meski kecil dalam prosentase. Meski titik inspirasinya jauh dari yang berkaitan tentang ruang sejarah, ada bagian yang menari dalam kalimat pada puisi Ziarah ini sebagai penunjuk jalan.
Kita berjingkat lewat
jalan kecil ini
dengan kaki telanjang; kita berziarah
ke kubur orang-orang yang telah melahirkan kita.
Jangan sampai terjaga mereka!
Kita tak membawa apa-apa. Kita
tak membawa kemenyan ataupun bunga
kecuali seberkas rencana-rencana kecil
(yang senantiasa tertunda-tunda) untuk
kita sombongkan kepada mereka.
Apakah akan kita jumpai wajah-wajah bengis,
atau tulang belulang, atau sisa-sisa jasad mereka
di sana? Tidak, mereka hanya kenangan.
……..
Lantunan ini mengantarkan pada sebuah peristiwa pelabelan tentang nenek moyang, siapakah mereka? Barangkali teori Darwin –sangkal terhadap perbedaan binatang dan manusia- yang lebih tepat membahasakan dan membuktikannya.
…….
Sebenarnya kita belum pernah mengenal mereka;
ibu bapa kita yang mendongeng
tentang tokoh-tokoh itu, nenek moyang kita itu,
tanpa menyebut-nyebut nama.
Mereka hanyalah mimpi-mimpi kita,
kenangan yang membuat kita merasa
pernah ada.
……
Untaian makna jangan berisik tentang kenangan serasa menggema padanya. Meski telah terlena pada memoar masa lalu; laku Ziarah, laku mengunjungi kubur masa lalu tetap saja harus dijalarkan. Mungkin sebagaimana halnya ritual.

* esai ini pernah dimuat dalam Bali Post, Minggu 18 februari 2001
**pegiat pers mahasiswa dan penyuka sajak

Related posts

Leave a Comment