Mengenang 100 hari Murtdjono

UNDANGAN

Kepada
Yth. Teman- teman Penyair
Di Tempat.

Dalam rangka mengenang 100 hari meninggalnya Murtdjono, kami Forum Sastra Surakarta bekerjasama dengan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Surakarta, berniat menerbitkan kumpulan puisi yang merupakan karya para penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Buku kumpulan puisi tersebut bakal didekasikan untuk almarhum yang selama hayatnya telah gigih memperjuangkan kemerdekaan berekspresi, proses kreatif yang otonom serta pembangunan ruang publik kebudayaan (termasuk di wilayah kesusastraan).

Kita harapkan buku kumpulan puisi tu juga mampu menangkap dan meneruskan berbagai esensi gagasan Murtidjono yang kemungkinan besar sejalan dengan gagasan kita semua menyoal kehidupan, nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Selanjutnya buku tersebut akan diprogramkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta untuk diluncurkan pada akhir April 2012 mendatang, bertepatan dengan 100 hari meninggalnya Murtidjono sekaligus mengenang kepenyairan Chairil Anwar (salah satu tonggak kebebasan berekspresi dalam perpuisian Indonesia).

Untuk itu bersama ini kami mengharapkan kepada Anda, agar sudilah kiranya mengirimkan karya puisi (maksimal 3 judul) yang sejalan dengan gagasan di atas. Naskah puisi (berikut biodata singkat dan photo diri) dapat dikirim via email ke sosiawan.leak@yahoo.com atau via inbox Fb: Leak Sosiawan atau via pos ke alamat Sosiawan Leak, Jl. Pelangi Utara III/ No. 1, Perumnas Mojosongo, Solo 57127, Jawa Tengah. Kami tunggu kiriman Anda selambat-lambatnya hingga akhir Maret 2012.

Perlu kami informasikan bahwa karena keterbatasan anggaran TBJT, buku itu akan kami cetak dalam jumlah terbatas dan kami distribusikan secara cuma-cuma kepada para penulisnya, komunitas penyair lain serta lembaga-lembaga yang berkompeten. Dengan rendah hati juga perlu kami sampaikan bahwa untuk pemuatan puisi Anda kami tidak mampu menyediakan honorarium. Namun, pada saat pelaksanaan acara peluncuran buku puisi itu di TBJT besok akhir April 2012, kami akan menyediakan penginapan dan konsumsi selama acara.

Besar harapan kami agar Anda berkenan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Terima kasih.

Solo, 15 Pebruari 2012

Salam hangat, doa kuat!

Sosiawan Leak
(koordinator forum sastra surakarta)

SEKEDAR PENGANTAR

Murtidjono memang bukan seniman murni yang mempunyai karya fenomenal dan “ngedhab-edhabi”. Namun dalam dinamika kesenian dan kebudayaan di Jawa Tengah (bahkan untuk skala nasional) secara langsung mau pun tidak, perannya sangatlah penting. Utamanya yang terkait dengan otonomi lembaga kesenian, kebebasan berekspresi dan pembangunan ruang publik kebudayaan.
Hal-hal semacam itulah yang jauh-jauh waktu ia pelajari, pahami dan rasakan saat bergaul dengan berbagai komunitas seni baik kala kuliah di Yogjakarta maupun ketika menjadi pengajar di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) Surakarta. Hal-hal yang hingga akhir hayatnya tak pernah benar-benar mampu mengantarkannya menjadi seorang seniman. Satu profesi yang belakangan ia coba kembarai dan lakoni mulai dari belajar nggerong, melukis, menulis puisi dan biografi, menjadi rocker hingga menerjemahkan buku. Ia tetap lebih dikenal sebagai pengelola pusat kesenan yang handal.

Terbukti konsentrasi gagasan dan semua kegelisahannya tak mampu menjauh dari segala yang terkait dengan masalah kesenian dan kebudayaan. Perhatiannya terhadap permasalahan tersebut mulai menemu ranahnya saat ia menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta. Satu posisi yang memungkinkan ia mengurai visinya secara konkret dan berdaya lewat kebijakan formal, dikuati dengan pembangunan opini berkesinambungan.

Murtidjono, dalam satu masa (yang panjang) pernah mempunyai pengaruh yang kuat baik secara formal maupun informal dalam peta pengelolaan kesenian dan kebudayaan Indonesia. Capaian ketokohannya yang lengkap semacam itu membuat gagasan yang ia implementasikan secara nyata menjadi semacam pola dari suatu gerakan kebudayaan. Gerakan kebudayaan yang berangkat dari satu kantong kecil bernama Taman Budaya Jawa Tengah hingga menjalar ke kantong-kantong formal lainnya. Bahkan sempat mengimbas dan menginspirasi gerakan kebudayaan yang merambat pelan namun pasti di luar instansi pemerintah di berbagai wilayah.

Pemikiran dan keberadaan Murtijdono itu juga mengimbas pada dinamika kehidupan kesusastraan dan perpuisian di Jawa Tengah khususnya dan Indonesa pada umumnya. Sejak tahun 80-an, pada masa-masa awal kepemimpinannya (Taman Budaya Jawa Tengah masih berkedudukan di Sasono Mulya, Kompleks Kraton Kasunanan Surakarta) aktivitas sastra telah dimulai dengan menampilkan sejumlah sastrawan yang secara kreativitas juga baru dikenal saat tu. Hingga periode-periode selanjutnya (ketika Taman Budaya Jawa Tengah berkedudukan di Kentingan, tahun 90-an) program-program apresiasi sastra (utamanya puisi) tak pernah henti. Baik yang dilakukan secara berkala, maupun secara temporer. Baik yang bersifat pertemuan sastrawan, pementasan karya sastra maupun penerbitan buku berisi karya para sastrawan.

Indikasi dari proses akomodasi yang panjang dan transparan terhadap kehidupan sastra dan puisi itu nampak nyata saat Taman Budaya Jawa Tengah menggelar ”Refleksi Setengah Abad Kemerdekaan Indonesia” tahun 1995. Pada event yang melibatkan sejumlah budayawan dan seniman dari berbagai cabang kesenian di seluruh Indonesia itu tercatat juga dilibati oleh hampir 150 penyair yang datang dari berbagai pelosok tanah air.

Beranjak dari kenyataan semacam itulah kami berniat menerbitkan buku kumpulan puisi yang bakal didedikasikan untuk almarhum Murtidjono. Kumpulan puisi yang sedikit banyak akan menjadi refleksi bagi kita semua atas upaya seorang anak manusia yang terus menerus memperjuangkan kemerdekaan berekspresi, proses kreatif yang otonom serta pembangunan ruang publik kebudayaan (termasuk di wilayah kesusastraan). Kumpulan puisi yang sekaligus kita harapkan mampu menangkap dan meneruskan berbagai esensi gagasan Murtidjono yang kemungkinan besar sejalan dengan gagasan kita semua menyoal kehidupan, nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

 

RIWAYAT HIDUP MURTIDJONO

Lahir di Salatiga 10 Juli 1951, tetapi sejak usia setengah tahun dibesarkan di Kota Solo. Anak pertama dari tujuh saudara ini lahir dari pasangan Sri Hunon dengan Murdiyo Djungkung (tokoh Tentara Pelajar yang cukup disegani pada masanya).

Riwayat pendidikannya berawal dari Sekolah Rakyat “Siswo” Sala. (lulus tahun 1962), SMP Negeri 1 Surakarta (lulus tahun 1966), SMA Negeri 3 Surakarta (lulus tahun 1969) hingga Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada Yogyakarta (lulus tahun 1978).
14 Agustus 1982 menikahi Ningsri Sadiarti (putri pengusaha terkenal di Kota Sola), hingga dikaruniai tiga anak yakni, Gernasatiti, Bramwasdanto dan Oki Nandhi Wardhana.

Riwayat pekerjaannya dimulai dari Calon Pegawai Negeri Sipil (pangkat Penata Muda, golongan IIIa) tahun 1979 di Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta sebagai dosen Filsafat Seni, serta mengakhirinya dengan pangkat Pembina, golongan IVa sebagai Kepala Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Surakarta tahun 2007.

Lantaran kepeduliannya di bidang seni budaya, pada tahun 1994 ia memperoleh anugerah nama dan gelar “Kanjeng Raden Tumenggung Sujonopuro” dari Sri Susuhunan Paku Buwono XII (Raja Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat).

Menyebut diri sebagai “seniman tiban” ia sempat mempublikasikan Buku Antologi Puisi UMPATAN-THUYUL (bersama Sosiawan Leak) yang diterbitkan oleh Yayasan Satyamitra tahun 1995 dan Buku Antologi Puisi CERMIN BURAM (bersama Sosiawan Leak dan Gojek Joko Santosa) yang diterbitkan oleh Yayasan Satyamitra tahun 1996. Di samping itu ia sempat pula aktif sebagai penulis lirik dan vokalis dalam Grup Band “Rock Gaek”.

Anak didik Gendhon Humardhani (budayawan Solo yang legendaris) ini memiliki riwayat jabatan sebagai Sekretaris Jurusan Tari di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta (1979 – 1981), Pejabat Sementara TBJT di Surakarta (1981 – 1982) dan sebagai Kepala TBJT di Surakarta (1982 – 2007).

Pada masa kepemimpinannya, Taman Budaya Jawa Tengah mampu mengakomodir dan menggelar berbagai event fenomenal yang membuka cakrawala kesenian dan kebudayaan bervisi ke depan dan berskala nasional bahkan internasional. Antara lain lewat NUR GORA RUPA (1994), REFLEKSI SETENGAH ABAD INDONESIA MERDEKA (1995) dan lain-lain. Pada era kepemimpinannya itulah Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta mampu berfungsi sebagai “rumah” bagi seniman, “rumah” bagi rakyat dan “rumah” bagi seniman untuk rakyat!
Belakangan, meski telah pensiun dari PNS ia masih dipercaya oleh para seniman dan budayawan sebagai Ketua Dewan Kesenian Surakarta (periode 2008-2014) lewat pemilihan yang demokratis.

Tepat pada Selasa, 3 Januari 2012, pukul 12.30 WIB ia wafat di R.S. Dr. Sardjito Yogyakarta (dalam usia 61 tahun) karena menderita sakit beberapa waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *