Puisi-Puisi Cunong Nunuk Suraja

RUANG TEBUKA RUANG BEBAS BERTANYA KABAR dari jendela televisi hujan menyusup keluar bermain bola bersama kanak-kanak telanjang menyepak menendang ke udara menuju tiang gawang menusukkan tembakan bola kiper tunggang langgang hujan tertawa menyemburkan air anak-anak bersorak menyanyikan: “waka waka e e ”this time for us to play” JEJAK HUJAN DI PASIR PANTAI moment-moment hujan berbaris di layar televisi bergaris liris miring dari sudut bumi ke sudut bumi menyirami duka nestapa petani dihajar kemarau monyet-monyet di hutan saling berpelukan menatap air tumpah dari langit tak tertahan mengharap buah ranum usai hujan…

KEJUTAN

Anisa sangat risau. Berkali-kali gadis kecil berpipi tebal itu menyelinapkan kepalanya di jendela kamar. Melabukan pandang menuju jalan setapak desa. Mengamati burung pipit berkicau. Sejak pagi matanya berbinar, namun sekarang berubah layu. Ia tak sabar ingin memberi kejutan. Matahari mulai redup. Masyarakat yang melintas di jalan setapak tak lagi ramai seperti tadi. Hatinya gamang sendiri kalau-kalau harapan berbanding terbalik dengan kenyataan. Kian risau, ia menuju ambang pintu. Mengamati orang-orang berlalu. Berharap di antara beberapa laki-laki tua bertubuh tegap yang hendak ke masjid itu, ada sosok ayah melambaikan tangan membawa hadiah…

puisipuisi en kurliadi nf

DI SUDUT REMANG menancaplah sunyi di reranting bunga bakung dibawa oleh angin musim semi hingga telapak daun-daunnya menukar birunya dengan cinta di langit jauh di sudut remang, kunang pasrah dihempas kecemasan tiadanya kembalinya hujan inilah yang kuhafal dari tahun yang sedang berkabut putih kita sedang mananti jalan, di mana khat dari rencana adalah kasih sayang yang terlepas dari tali temalinya ciumlah bau malam yang terletak di bantal tidurmu sejauh ini aku belum menemukan nafas sunyi menjadi teman sebab ketiadaannya telah menulis suara-suara liku tentang di mana dulu lahir sebuah nama…