Puisi puisi Rukmi Wisnu Wardani

Teringat Samboja satu persatu almanak bertanggalan di awal senja seusai hujan reda sehelai daun mangga jatuh di beranda teringat samboja larut di sihir mata. lagi, aku luruh disentuh jemari segera selepas pertama bertemu Ames, rindukah kau pada ibu sebagaimana aku? ada bahasa waktu kau gelayuti pundakku tanganmu menjelma kalimat ketika itu larunglah larunglah rindu sebebas kau bermain di gerai rambutku yang tak begitu legam warnanya itu lelaplah lelaplah tidurmu terbanglah terbanglah tinggi ke mimpi terindah itu satu persatu almanak bertanggalan di penghujung senja kukenang samboja hangat tubuhmu menyisa dalam dekapan…

Dia Terbang, Aku Terpaku *

: A Tribute to Oktarano Sazano Minggu, 05 Februari 2012, pukul 20.00 WITA saya membuka internet. Niat awalnya adalah mengirim beberapa puisi grafiti untuk grup Puisi Grafiti di jejaring sosial Facebook (FB), dan mengirim cerpen ke sebuah koran melalui surat elektronik (surel). Naskah sudah saya siapkan sebelumnya namun belum juga terkirim karena keasyikan berpuisi grafiti sekaligus ngobrol dengan rekan pantun. Udara dingin di luar tertahan oleh daun pintu. Sedangkan waktu melaju tanpa mampu saya tahan. Minggu malam pun berganti Senin dini hari. 05 telah menjadi 06 Februari. Sekitar pukul 02.30…