Sajak-sajak Tulus Wijanarko

ADZAN PUN LALU mihrab membisu diremas waktu menunggu sang imam tak kunjung berwudhlu. oktober, 2000 tuluswidjanarko LELAKI DI GERBANG KOTA Kemanakah gema suara lelaki, yang pernah menyeru di gerbang kota, zaman demi zaman, jazirah-jazirah, tepi-tepi benua ingin kujaring satu patah saja diantara desau angin, membentur-bentur dingin pencakar langit, lelaki di gerbang kota muara rindu kegelisahan, kukembarai stasiun demi stasiun pada setiap kereta yang berangkat jubelan penumpang disergap sepi wajah-wajah dingin dan kosong. masihkah engkau menunggu di sana setelah terompet itu dibunyikan? oktober, 2000 tuluswidjanarko KEBERANGKATAN : laila 1 sekali lagi…

Sajak-Sajak Viddy Almahfoud Daery

SEPANJANG PACIFIK HIGHWAY¬† pro: Sally Blackfellow lihatlah jalan panjang Pacifik Highway membawaku dari Brisbane ke rumahmu melewati hutan-hutan yang luas dan sungai-sungai yang sunyi kenapa kau matikan televisimu? padahal dari negeriku yang riuh telah lama kukirim gambar kupu-kupu yang kau minta untuk Taman Koolangata janganlah mengurung diri di rumahmu yang indah karena dari Toowomba sampai Woolongabba sejarah tumbuh dari rerumputan dan di putik-putik bunga biru Jacaranda Brisbane, November 1994 BUNGA WATTLE DI RUMAH ALLISON bunga Wattle di rumahmu, Allison dijaga oleh cinta dan senjata dari sejarah yang muram lalu dibersihkan…

Sajak-Sajak Wahyu Prasetya

ANAKKU MENULIS MERDEKA ATAU MATI Dengan cat semprot anakku menulis di dinding-dinding rumah kalimat yang ia pilih dari buku tulis sejarah sekolah dasarnya warna merah yang melukiskan masa lampau pekikan ada luka parah, da khianat, ada timbunan tentara, petani… peperangan akan selalu direncanakan dari pikiran sebuah rumah maka ia mengecatnya, “merdeka atau mati” lalu teman-temannya pun menambahkan beberapa kata-kata, “viva iwan fals!” dari sebuah dinding rumah, sejuta senjata dan calon korban dicatat bahkan ada pula yang berani menyemprotnya dengan cat merah, jari-jari anak-anakku apakah beda kemerdekaan ini dengan ketulusan tentang…