Puisi-Puisi Cunong Nunuk Suraja

RUANG TEBUKA RUANG BEBAS BERTANYA KABAR

dari jendela televisi hujan menyusup keluar bermain bola bersama kanak-kanak telanjang menyepak menendang ke udara menuju tiang gawang menusukkan tembakan bola kiper tunggang langgang hujan tertawa menyemburkan air anak-anak bersorak menyanyikan: “waka waka e e ”this time for us to play”

JEJAK HUJAN DI PASIR PANTAI

moment-moment hujan berbaris di layar televisi bergaris liris miring dari sudut bumi ke sudut bumi menyirami duka nestapa petani dihajar kemarau

monyet-monyet di hutan saling berpelukan menatap air tumpah dari langit tak tertahan mengharap buah ranum usai hujan tinggal mimpi

monumen di kota basah terguyur hujan juga patung Obama kecil di sekolah dasar menunjuk kukupu terbang lintas buana memburu cahaya memburu luka

HUJAN MEMBAJIRI KOTA MENJADIKAN TANGIS PETAKA

hujan membajiri kota menjadikan tangis petaka hujan yang kemarin ditunggu menuai berkah ternyata melimpah sampai rumah-rumah basah

hujan membajir kota merubah asa penduduk menjadi duka melimpah memenuhi cekungan bumi menumpuk pengungsi tahunan menyurut meninggalkan jejak lumpur bau anyir

dilayar televisi kapal karet apung menuju pengungsi menyebar mimpi instant menaikkan posisi tawar politisi pada pilihan raya tahunan berbau polutant

HUJAN BERSEMBUNYI DI BALIK BERITA TELEVISI

hujan boleh bertukar kata hujan berkata tertukar bencana makin jauh berbicara hujan makin besar bencana usai musim pancaroba

SKETSA KOTA DIJEJAKI PENYAIR

kota gemerincing pedang pengkianat menusuk punggung kerajaan membangun istana

kota lindap dalam cahaya suram senja keemasan memburamkan pandang pada telisik jejak sajak penyair terbaring dalam luka arang-kranjang

kota terluka penuh panah dipunggung perkasa layaknya satria Pandawa Abimanyu putra Arjuna penyair mencabuti setiap mata panah melesak di kulit hingga darah beku membirukan rerumputan

KUDA BEBAN MENYERET LOGAM

kuda berlari tengah malam

penduduk terbangun menyiapkan senjata apa saja berbaris di balik gapura desa bisu

anak-anak di dekapan ibu perempuan tua siap sedia di pintu butulan senantiasa awas atas risik di bibir desa

kuda terus berderap membuncahkan bencana was-was serangga binatang melata menguir-desiskan tanda bencana terseret dalam bejana logam bertanda kaki kuda

DALAM HUJAN JEJAK ITU TEMPIAS JADI PASIR PUISI

dalam hujan sore itu kutemui jejakmu menuju bibir pantai gelombang menyapu menyelipkan dalam butirnya dalam tempias hujan pasir berbisik sia-sia kau balik-balik lipitan mengaisi puisi

MENGGALANG KATA BENCANA

getaran merembeskan risik bencana membalikkan puisi telapak tangan tersentuh jari nasib terserak pada kata huruf demi huruf berlarian menuju tepi pantai

HASRAT MENULIS PUISI MEMENUHI JANJI KE 1000

sudah habis purnama dan fajar memanasi meditasi tak sebiji bernaspun mimpi jadi puisi

sudah habis kopi dan segala pemacu jantung tertelikung badan terkungkung bingung menampung tetesan-tetesan raung

sudah tertelan waktu dalm bulan usai hari tertikam masa pada jeda nafas yang terhempas masih juga tangan meregang tak teraih hasrat melengkapi janji seribu puisi

WAKTU SELALU MENCURI MENEMPELKAN KEMALASAN

kianat kau waktu menelikung memakukan perih telah berbusa teriakan pekikan jiwa terabai menyusut pada bibir kering mengucap nama ilahi

kianat kau semangat menyalipkan kata putus saat tangan merayap menjejajki jejak sajak tubir waktu terguling dalam dekap yang terengah mengharap kekuatan menjabat salam syair

kianat kau rasa menyembunyikan rintihan pada larik puisi sepi penyair tertikam nadi nafasnya satu-satu mengeja tanda langit menyelimuti diri yang beku tertimpa salju tiba-tiba saja sajak itu mengalir menetesi mata penyair

PADA OTOT LOYO RAPUH

pasrahkan segalanya pada obat terkuat mendera hasrat membirukan rapuh otot intusimu lama tenggelam berkarat

CATATAN TAK TERSAPA

dalam peti kayu tua meringkuk diam pasrah menunggu saat fajar senja malam pagi agar tersentuh intuisi puisi sudah seribu purnama nafas penyair tak sampai dititi

CATATAN HILANG DALAM LARIK PUISI

pagi tanpa kokok ayam jago menyelinap dalam lipatan selimut mendinginkan ranjang yang sudah lama tak tergoyang

CATATAN SANGAT-SANGAT PRIBADI

tutup rapat pintu jendela sebelum kubisikkan setiap kata lirih karena aku tak mau angin membawa bisik lirihku pada rembulan agar bumi serta matahari senantiasa mengisiki irama cinta terselip di bisik itu

HASRAT PUISI

hasrat menulis puisi memenuhi janji ke 1000 tapi waktu selalu mencuri dan menempelkan kemalasan pada otot yang kian loyo dan rapuh. catatan yang tak tersapa. catatan yang sangat-sangat pribadi. catatan yang hilang dalam larik puisi. HARGA HARI Senin mematok 100 Selasa bernilai 110 Rabu ditaksir 90 Kamis diobral 70 Jumat ditawar 95 Sabtu menawarkan diri 1000 Ahad (Minggu) mencapai kulminasi harga tak tetuliskan dalam angka

PENYAIR SKETSA

sketsa kota dijejaki penyair bagai kuda beban menyeret logam dalam hujan jejak itu tempias jadi pasir puisi apalagi menggalang kata tentang bencana baik sastra, berita rakyat maupun binatang teraniaya.

SYAIR ICE JUICE

juice penyair terdiri dari tiga huruf hidup dan empat huruf mati juice puisi hasil kerja penyair lebih lama hidup karena hanya dua huruf mati apalagi tanpa es tinggal satu huruf mati tanpa makna puisi jika jadi juice sajak dan juice syair akan galak dan bau aneh kalau tanpa es sebagai huruf mati yang berdesis

Related posts

Leave a Comment