sajak-sajak adham ami nugraha

Taman Keikhlasan

Senja menggantung di bibir lembah 

Halimun menyelubungi kawah gunung 
Rona merah berpadu jingga samar menembus
 
Runduk sujudkan alam penuh hikmad
 
Sentuhkan jiwa pada pelataran suci, menengadahkan As-Syiir
 
Linangan air mata beringsut menyisakan bekas
 
Pada wajah ranum kemerah-merahan
 
Membumikan kungkungan birahi, menghempas keangkuhan
 
Di altar cintaMu yang terselubungi Nur diatas Nur

Pusaran waktu berputar tak terbendung 
Menggiring  manusia khilaf kilau intan
 
Tak membeda syahwat dan kewajiban
 
Keikhlasan dan kemunafikan

Lintasan cakrawala tertapaki mengusung mimpi 
Meraih asa beriring Nur tiada banding
 
Menjadi puspita dalam taman keikhlasan.
 

(Sebuah kerinduan di taman keikhlasan) 
Arungkeke, medio 02 Juni 2000
 

             Firdaus . . . . . . . 
(Adindaku Sayang Adindaku Malang)

F i r d a u s . . . . . . . 
Rangkaian kata rapi tersusun
 
Impian setiap insan yang mabuk cinta denganNya
 
Menjadi akhir dari pergumulan

Adindaku Sayang . . . . 
Buluh rambut halusmu kian menebal
 
Raut wajah menyisakan getir hidup penuh duka
 
Liku cinta kepalsuan menghiasi hari-harimu

Adindaku malang . . . . . 
Air matamu belum kering adinda
 
Tatkala hatimu bersimpuh dibibir cintaNya
 
Saat cinta semumu bertepuk sebelah

Firdaus . . . . . Adindaku 
Cinta semu hanyalah buaian malam
 
Sandiwara klasik yang berseri
 
Yang tidak tak berujung Adinda
 
Bangunkan jiwamu Adinda mengusung hari-hari
 
Menyusun pilar keimanan
 
Yang kau robohkan dengan jari-jari cinta semu

Firdaus . . . . 
Engkau puspa dijiwa ibunda adindaku sayang
 
Bawalah sukma ibunda dihari-harimu
 
Jagalah Air susu mulia ibunda adindaku
 
Yang dipersembahkan tanpa mengharap balas

Firdaus . . .Adindaku malang 
Peluh ibunda meregang nyawa menantimu
 
Nyanyian ikhlas cinta ibunda membelai lembut
 
Tak lekang oleh masa adinda

Firdaus . . . . .Adindaku 
Pulanglah kepelukan sukma ibunda
 
Petiklah puspa ditaman cintaNya
 
Bawalah sekumpul bunga cinta sejati
 
Kehadapan Air susu suci Ibunda,  Adinda sayang

Puisi Cinta Untuk Adindaku,  Firdaus

 
BATAS

basuhkanlah jemari kearifan, antar aku kepada batas, membukakan mata

batas silau kemilau 
rebahkan As Syiir pada altar, telanjang badan, tidak pada lingkar suci

rayu sukmaku menciummu, ingkar pada batas 
kuatkan dekapanmu, ajak juga aku mencumbuinya di tapal batas

bukan engkau yang memaksaku, aku yang lupa 
aku tidak membeda batas, silauan atau kilauan
 
sayup senandung membimbing, basuhkan hati pada batas, namun bukan

batas akhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *