sajak-sajak anggoro

Puisi

Ingat Aku

Sebuah kartu yang tidak kubeli, tuliskan perasaan
padamu. Rasa kehilangan merupakan nyanyian pagi
yang dicuri, karena burung-burung ditembak mati

Koran menyimpan berita kehilangan, radio memasang
lagu usang -…i miss you like crazy-. Segila aku
yang merindu

Aku merindumu di koran teremas tuntas. Buang keteduhan
menjenguk buruk rupaku

Mamahlah aku dalam ejaan itu. Jangan halangi
huruf-huruf membentuk namaku
Ingat aku

yang mengejamu di lembar diktat tebal itu

Depok, Agustus 2000

Benalu

Benalu melekati pohon penuh ragu
Sebuah pohon rapuh
sehabis hujan menyepuh mahoni

Mengendap
berderak derap sekujur tubuh pohonku

Hisap aku
laksana candu bagi ranum bibir itu
Mengungu
-ini kali pertama aku bercumbu-

Tuhan telah mati
ucap Nietszhe tereja tanpa jeda
Olehmu
Benalu muda

Seperti batinku di kepala

Tuhan telah mati
-siapa yang mencatat dosa kita ?-

Depok, Juli 2000

Tik Tak Tik Tak

Sebuah skenario percintaan
tersusun

Lewat kertas-kertas mungil
pengirim pesan

Kujepret
di sampul buku panduan bercinta

Aku perlu lilin lelehkan kebekuan hati
tali pengekang keengganan
dan madu pelumas ragu

Anggur-anggur
buah persetubuhan paling sensual

Kudapat dari swalayan

Masih dingin
kurasa embun freezer-nya

Ruang sempit
menjaga gerak hingga kita
selalu berimpitan

-kapan saat itu :
kujelajahi perut ranum

 sebelum jam biologisku
berhenti berdetak?-

Jakarta, Agustus 2000

Kau Tidak Dapat Membayangkan
Betapa Aku Menginginkan Dirimu

………………….
Karena sepotong kata ;
cinta

Jakarta, Agustus 2000

Mendaur Senja

Pada punggungmu tergambar daun-daun rontok,
sungai musim semi yang menangis
Begitu dekat, namun tidak tersentuh
Seperti kemarauku di sini, yang tidak terlewati
semimu

Mengalirlah lewat sungai-sungai mungil duniamu
Sentuhlah aku, seorang asing bagimu. Asin terkunyah
garam pada pantai yang pasirnya membakar telapak

Burung hantu akan mati, pilumu. Ketika kupinta
kau potong pohon elm dan berlayar

Telah ribuan kerlip perasaan kutiup setiap senja
Dan senja memungutinya di langit
penuh kehati-hatian ke dalam kantong untukmu
Namun kau malah berlari menangkap kupu-kupu

Kau mengikatku pada senja, yang diputar seperti film,
ketika punggungmu tersenyum

Depok, Juni 2000

Melukisi Boneka

Ingin kulukis boneka wajahmu
sesuka kanak-kanak
mencoret pada dinding-dinding
menantang
naturalistik berbingkai keemasan
pada bidang yang kesepian

Ibakan aku !
Lewat senyummu yang terhimpit
daun putri malu
berteman bunga matahari
Mendongak arogan pada pintu-pintu
yang tidak kau kunci sempurna

Telanjanglah,
pada anak tangga terakota dan gumamkan
kata kebebasan

Ataukah kukupas kau
penuh ragu dalam tidurku

Depok,  Mei 2000 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *