Sajak-sajak arif djauhar

Puisi

JAM

sekian abad kau bergerak
mengapa kau masih enggan berbicara?

oleh: Bung Djohar

JAM (2)

tik.. tik… tik…
apa yang mau kau isyaratkan?
mungkin pada Sang Israfel
yang maha tahu

oleh: Bung Djohar

SEORANG PENJUAL AKAR KAYU
DI SEBUAH KOTA RAYA 

di bawah lampu suram kota raya itu dia menambat tubuh
tergigil dalam hujan. dia terjaga oleh gemuruh langit, oleh
ribut & kabut, oleh derap ribuan kasut melintas hitam jalan
aspal. dia seperti melontarkan sesuatu ke hari jauh dan
mengenang entah apa.

di tengah pacuan kota raya itu segalanya simpang-siur, bagai
kenderaan mabuk gelisah, terperangkap di lorong-lorong
pengap. tak ada purbani di ufuk batu-batu bangunan itu,
terapung hanya duka & sengsara maghrib, hanya kabut
memutarkan jam kehidupan dan turunnya hujan
menghukum anak pribumi yang pesona oleh kemanisan,
bagai pemakan buah khuldi gugur dari taman silam
dengan tubuh tercemar, menggonggong sisa-sisa korban!

dia pun mengemaskan bungkusan; sekadar tersimpan
akar-akar kayu kini nilainya telah tiada, nampak pusam &
purba. akar-akar kayu disadaikan di persilaan kakilima
buat dijualkan kepada penghuni kota sebagai ubat
atau menemukan diri yang terpisah dari hutan buana,
demi panah yang dipatahkan oleh raksasa demi kijang
yang tak bisa diburu lagi.

akar-akar kayu telah kehilangan alamnya. dan hari ini
tatkala hujan maghrib, dia pun mengangkat bungkusan
meraba jalan pulang…

Arif Djauhar
(suatu senja di Yogjakarta)

Kaukah Itu?

di balik cermin
mengintai rupaku

pada suatu malam
ada ketukan di pintu
selepas kubuka
berdiri di sana seorang lelaki
“berilah aku cahaya!” pintanya

waktu kutatap cermin
alangkah aneh
diriku ada rupa tiada

hasil tulis: Arif Djauhar

Nun Hujan Di Yogjakarta

hujan menjaringi malam dan kota terpengap
oleh neon warna-warni. dia pun berhenti di
teduhan kakilima dan rindunya tertiarap
di jalan aspal yang basah. dia duduk
mengongsi kesedihan seekor kucing tua
yang malang, berkisah tentang tonil sang dewata
di langit, tentang seekor naga menakluk sebuah
lautan. malam pun larut oleh dongengan dan
asap rokok yang dihembuskannya adalah bau
dupa dari hutan. katanya dialah sang kelana
yang tersesat memburu kijang mas, punya
perawan kekasih yang cantik tetapi telah ternoda
di ranjang raksasa. kucing tua itu menitiskan
airmata dari kelopak pusamnya. dia pun
mengangkat rindunya yang tertiarap, katanya
dia mesti teruskan juga perjalanan meski hujan
tanpa reda. kemudian derap kasutnya sayup-
sayup menyusupi & semakin hilang di celah-
celah kenderaan & bangunan purba…

oleh: Arif Djauhar

Dondang Internet

bayang-bayang ini di mana mesti kusimpan sedang
kau telah pergi bersama bunyi unggas di belakang
rumah kehidupan, kini waktu hanya dondangmu
yang kelabu memanggil sejuta derap kasut berjalan
di luar cuaca sukmapurbawi.

malam kutidur tanpa purbani di tapak perimbaan,
tangan ini pun kemarau ketika hendak kurenjiskan
air sungai, atau barangkali ada sebuah bukit
yang lebih matang menyembunyikan awan demi
enggan lagi menumbuhkan daun-daun penawar
kala sayap-sayap emas membawa mimpi dari
langit.

ya, antara jalan beribu-ribu waktu terhidu bau
perkebunan yang dibakar, semuanya terpedih
oleh asap pepohonan tua itu semuanya
terperangkap di tahun-tahun yang mati.

oleh: Arif Djauhar
(Singapura – Jakarta – Yogjakarta – Bandung 1999)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *