sajak-sajak aslan abidin

Lirisme Buah Apel yang Jatuh ke Bumi

Pada suatu tengah malam, seusai menikmati 
gravitasi di atas tubuhmu, kita bercerita tentang
 
newton dan buah apel yang jatuh ke bumi.
 
“Jangan tinggalkan aku, apalagi di bumi ini,”
 
katamu dengan kerongkongan kering.
 
tapi Tuhan adalah penguasa
 
atas kemurungan dan keriangan. dan dengan selera humornya
 
yang aneh, melerai cinta kita.
 
inilah kemurungan itu kekasih, kau pergi bermil-mil dari lukaku,
 
sementara aku harus beranjak dari seluruh kenanganku tentangmu.
 
“Jangan tinggalkan aku apalagi di dunia ini.”
 
masih kukenang itu sebagai lirisme yang jauh. juga Tuhan pencipta tragedi
 
dan komedi. dan sang waktu, kekasih. kini
 
tengah memberangus jasadku dan diam-diam hendak mengubahnya jadi
 
tanah.
 
“suatu saat kelak, seusai lelaki lain menikmati gravitasi di
 
atas tubuhmu, maukah kau mengenang buah apel yang jatuh ke bumi?”
 

Makassar, 1999 

Kaleidoskop Percintaan

-buat: erny rachmi nur

“kita mesti menuntaskan mimpi, kota ini terus beranjak tua.” 
pada sebuah kafe tanpa menu, di antara meja beku, aku
 
menatap bening matamu. tak kau tahu cinta gemetar dalam dekapanku.
 
di arloji, waktu terus berlompatan, dan tahu-tahu telah kucuri bibirmu.
 
“untuk mengekalkan kenangan,” ucapku
 
membujuk degup jantungmu.
 
entah mengapa sejak itu aku selalu ingin
 
memelukmu. aku ingat itu pernah kulakukan di sebuah taman,
 
di antara daun yang jatuh menerpa pundakmu. tapi aku lupa kapan
 
pertama kali memelukmu. mungkin
 
ketika aku jenuh menyeduh bergelas-gelas rindu
 
dan meminumnya dengan hati terluka.
 
di batinku
 
ingin kuciptakan senja yang tak terhapus dari ingatan. di situ
 
kubangun arcamu. dan matamu, -yang tak kedip menatapku-
 
kurekatkan dengan air mata yang dulu kuseka di pipimu
 
seusai kuceritakan kerinduan adam pada hawa.
 
menggenanglah dalam dadaku kekasih. jadilah magma
 
yang mengeras yang kelak akan kita
 
pahat jadi kanak-kanak yang pandai menggambar wajah tulus
 
kewanitaanmu dan paham mengukir raut kasar
 
kelelakianku.
 
mengendaplah dalam hatiku. biar kuasah pisau buat sebuah perahu
 
untuk menjemputmu: kutahu di hatimu ada laut yang mencintai
 
seluruh musim.
 

Makassar 1996 

Masuk Keluar Mal: Ingatkan Aku pada Banyak Orang

masuk ke sebuah mal, disambut 
gadis-gadis pelayan dengan buah dada yang siap menerima, melihat
 
gadis-gadis pengunjung melompat-lompat
 
seperti ikan di atas bara: cina, jawa, bugis, arab, dst.
 
memegang-megang pakaian dalam impor dan
 
membayangkan kemaluan orang asing. kemaluan-kemaluan
 
yang diposkan dari benua-benua baja. dan
 
di sini, kita mencocok-cocokkannya dengan kemaluan
 
sendiri di kamar pas. sementara di sudut lain,
 
kita menertawakan tomat dan wortel yang mirip kemaluan
 
sendiri.
 
berstanding-party membaca buku agama:
 
jalan-jalan ke neraka, dan buku konsultasi seks: bagaimana
 
membebaskan diri dari onani. keluar dari sebuah mal, disambut bocah peminta-

minta yang ingatkan aku pada musa, peminta-minta tua 
dengan mata terpejam yang ingatkan aku pada
 
gandhi. aku tiba-tiba ingat juga pada judas. o, di mana dia ketika
 
dibutuhkan seorang pengkhianat seperti sekarang ini. di antara
 
dengung eskalator dan gemuruh tas plastik, aku hanya
 
mendengar woody allen, ia seperti bersabda: “aku berbelanja,
 
maka aku ada!”
 
keluar dari sebuah mal,
 
dan hanya sanggup menyelipkan sebuah buku sajak tipis bersampul
 
gelap di jaket: ingatkan aku pada chairil.

Makassar, 1996

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *