sajak-sajak astrid widjaja

lihatlah…

 

lihatlah tanahku
hijau berpetak-petak liku
lihatlah kecintaanku
gunung2 yang menjulang agung
tanah yang berbukit2
sungai2 yang mengalir-alir
sawah2 hijau tertata laku
lihatlah itu
semuanya…
kahyangan lihatlah tanahku…

19.11.2k@daw
-above java island, 12.15 WIB-

lautan hindia

birunya begitu tajam
mengangkasa ke awang2
rata, tenang, diam…
saksi bisu kehidupan
menenggelamkan, mempesonakan dalam heningnya
kedamaian yang menggoda peluk

kala langit dan lautan bertemu pandang
dipisahkan kabut buram
saling berkaca-kaca
mengundang decak kagum alam semesta
mereka jatuh cinta…

19.11.2k@daw
-above indian ocean, 09.00 WIB-

kalong bogor

senja ini….mereka berterbangan…
di balik matahari…menunggu hujan…..

*astrid
nb: mbak dani….mas heri….kalongnya masih ada tuh:)

kembali

satu satu aku sayang ibu
dua dua aku sayang ayah
tiga tiga….

aku mengingat2 lagi….

ayah bunda…rentangkan tanganmu
ananda pulang dalam tangkupan kasihmu

aku kembali…
ternyata dunia tak bawa aku mati…

19.11.2k@daw

lagi

bicara sendiri
lagi
jangan lari
wahai diri
lihat aku mati

15.11.2k@daw

keabadian

satu kata
keabadian yang menunggu

tak datang
tak pergi

mengapa kau tak tinggal?

10.11.2k@daw

tolong

kosong…
melompong…
tolong…

aku tak minta disini…
dunia yang ompong…
tak bergigi
tak bernyali

tanpa rasa yang pasti
saraf2 yang rusak
mati

10.11.2k@daw

amnesia

kabur
semuanya menghilang lagi
amnesia dunia
mungkin lupa
apa itu manusia

kau pun lupa?
sudah cukup
dorong aku lagi
sekeras2nya

mengenai batas2
mengenai dinding2
mengenai kemanusiaan

mungkin
muncul
mungkin
tenggelam

aku tak tahu
memoriku hilang
jadi tamparlah aku
sekali lagi

10.11.2k@daw

keabadian 2

jika keabadian bagai bintang
akankah dia tetap menyinari
di malam2 yang terang
di manapun kita berada
mengawasi kita, menjaga kita
selama2nya
tak akan ada sepi di malam2 yang panjang
tak akan ada sendu di dalam senyapnya hari
keabadian tak perlu berbicara
tak perlu berkata2
nafasnya cukup membawa arti

10.11.2k@daw

temu

pertemuan dan perpisahan
antara kamu dan aku
datang dan kembali
di bumi terlarang
pijakan2 langkah di pasir hitam
akankah menghilang
seperti yang sudah2
ingatanku hanya diam
terpaku baku
membuka tanpa tabu
yang berhirup laku
beribu haru

11.10.2k@daw

……

tenggelam tanpa mengaku
laku yang dicumbu rindu
mendewa dewi
langit turun ke bumi
memangku bulir2 waktu
doa yang mengoyak hati
di bawah hari2
racun2 merikuh
mematikan asa
resahnya sebuah jiwa

14.11.2k@daw

hujan

malam2 terasa makin terajut larut…
ingatanku memupuk di pelupuk hujan…
ah…kau ingat mas…teman kita itu…
hujan…yang merayu mendayu…
tawa yang tersisa…senyumku merekah…
kilas sejenak itu…sedetik tertanam…
setetes jatuh dibawah siraman rintikan air…
kau menangis…tanyaku…
cintaku akan hujan dik…
tercurah semua asa….
segarkan luka…menyengat perih…
di tengah hujan…bicarakan kehidupan…

5.11.2k@daw

tanpa rasa

lemah tak dianggun lara
cantik tak diagung dara
hati tanpa rasa
sisakan hampa

19.10.2k@daw

tertidur

kenapa pagi harus tiba
begitu cepat begitu terasa
kukira cinta tak pernah bangun
hanya tidur abadi
dalam hati dan dalam jiwa
engkau dan aku
satu…
20.10.2k@daw

maafkan

maafkan jika pesonamu menggoda hatiku
kutakar namun kuteguk
kutolak namun kusayang
kulepas namun kuterpaku
kubakar namun kupandang
habis tersisakan abu rindu

maafkan kutak bermaksud begitu
pandanganmu sejuk
menusuk rusuk2 jiwaku
senyumanmu hangat
melahap hatiku
cintamu menelan habis diriku

maafkan jika harapan itu muncul di tengah ketidakpastian
jangan dekap aku, luluhkan hatiku
jangan cium aku, basahkan airmataku
jangan panggil aku, tutuplah telingaku
jangan ingat aku, bunuhlah rasaku
lenyapkan aku dalam kasihmu

20.10.2k@daw

tuan-tuan…

tuan-tuan
kami hanya minta didengarkan
bukan pendengaran
kami hanya ingin bicara
bukan pembicaraan

tuan-tuan
jangan beri kami uang
beri kami pengetahuan
jangan beri kami wejangan
beri kami pengajaran

tuan-tuan
kami jatuh terinjak
selama ini kami hanya merangkak
kami tak ingin terbang
kami hanya ingin bangun dan berdiri

tuan-tuan
kami inginkan kejujuran
walau tampilkan penderitaan
cucuran air mata dan penyiksaan
namun bernilai kehormatan

tuan-tuan
terdengarkah tangisan kami
di telinga2mu yang membeku
entah terserang saraf waktu
atau kebisingan duniawi

tuan-tuan
tak lihatkah kami dengan mata
tak lihatkah kami dengan hati
tak lihatkah kami dengan rasa
tak lihatkah kami manusia?

20.10.2k@daw

yg dicari

dalam keramaian
dalam kebanggaan
dalam kebisingan
kutemukan kesunyian
kutemukan kebohongan
kutemukan kejemuan

lalu ku berhenti
diam
kutemukan arti
menungguku

28.10.2k@daw

*astrid

masihkah…

rintihan jiwa2 ditelan gelapnya kehidupan
tak minta namun terdorong tanpa ampun
merangkak-rangkak di kolong peradaban
manusia2 dengan mata tanpa nyawa
yang hanya merenungkan arti
tanpa mengetahui renungan
yang melanglang buana abadi
tanpa mengetahui batas
hidup bagaikan mati
mati bagaikan hidup
tak mengenal rasa
mengangguk2 hampa
menghilang ditebas kerasnya kehidupan
suram dan muram
ekspresi2 kesedihan di mata mereka
tersisihkan tanpa perjuangan
terlupakan tanpa peringatan
masihkah ada harapan…

29.10.2k@daw

*astrid

catatan kecil lautan 2

kujenguk laut hari ini
sangatlah tenang…

berbisik lapang di telingaku
angin semilir mengelitik jiwa
mengundang senyum abadi

biru bening berkemilauan
berpecikkan bermandikan cahaya
bagaikan beribu bintang bertabur hampar di langit biru

damai…sungguhlah damai
begitu tenangnya
seakan-akan tak ingin basahi ujung celanaku yg tergulung
menyejukkan suam2 kuku
andai hidup pun seindah ini…

31.10.2k@daw

*astrid

menunggu matang

aku serasa hilang
nyata tak terbilang

bagai layang2
jatuh di padang

lapang dan gamang
menantangku lantang

lancang dan garang
menaruh lintang

menunggu matang

3.11.2k@daw

*astrid

pagi tadi

kau tak ijinkan air mataku mengalir untukmu tapi kau menangis tanpa
henti di hadapanku
bulir2 tangismu merasuk aliran2 darah tubuhku, meranum di hatiku
mengalirkan semuanya…sedu sedan kita bersama…anak manusia yang
hilang
“tuhan tak adil” begitu katamu…aku tak salahkan kau…nafasku hanya
beiringan tak ingkari kenyataan
kau bilang kita hanya bisa bermimpi, bukan kita yang menentukan…
harapanmu lenyap ketika matahari terbit di hatiku, bagai bintang2
yang kubuai di tengah hari
kita hanya lamunkan pertanyaan…tanpa mencari jawaban…
mungkin kita hanya diam, mungkin kita hanya lalu, sedetik kureguk
arti denganmu
kau tunjukkan langit bagiku, yang tiada batas tanpamu, samudera
harapan membentang
letih jiwamu…hanya isikan diriku dengan kasihmu…terakhir…tak
akan kembali
bulan mungkin termenung malam ini…dibawah cucuran air mata…
alunan malam petikan getar2 hati yang gelisah, layangkan hari tanpa
terang yang lapang…
mimpi-mimpi yang menangkap dua insan…tenggelam dalam perenungan…
putuskan benang2 untaian kehidupan…rengkuhkan tempat kita
berlindung…
kekosongan mengantikanmu…arti keberadaan yang menusuk…

4.11.2k@daw

*astrid…termenung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *