sajak-sajak ben abel

satu – Ketika Puber


"Bolos demi bola-jajan"

Lepas sekolah
main bola
di lapangan hijau sekolahan

Jam sekolah
dibolosi, demi bola
adu sekolah, menjudi kemampuan
tarung menuju ribuan rupiah
pemenuhan jajan
sekalipun seusainya, pasti distrap

ujar para tetua
Masa puber
penuh gelisah
menarik perhatian dengan segala aksi
sialannya, aku malah cuma makcomblang
tukang nulis surat cinta, atas bayaran seribu rupiah
ganti main bola

Ah! eSeMPe

kandang monyet dan cinta

-------------------------
ka-kapuas;12x1978
------------------------ 

dua - Ketika Jadi eSMe'A

"Mata indah"

Masa mapras*
aku disuruh jadi kambing
merangkak keliling
dan diteriaki "kambing galak!"
malah senior atau panitia melepas ludah
para senorita mencekikik geli
aku harus mengembik merangkak keliling
ada lima puluh depa
malu kupangkas dalam aksi lebih dari kambing
katanya inilah "pembinaan pendidikan mental"

Kesan minggu pertama gituan
spasang mata senorita meraup lapang ingatan
Jadi orang baru, mahluk peloncoan
digojlok, dengan imingan nanti saatmu jua
tempo akhir, riuh mencari tanda-tangan
karena dihitung, banyak! : juaralah anda

buku maprasku kumal
blinsatan kena keringat
lusuh terlipat-lipat
tiap sudut kiri atas kucantum "indah matamu"

Apel akhir
aku mesti tegak didepan
jadi tontonan
hanya oleh nol tanda tangan
dan buku kumal bertanda "indah matamu"
berkibar ditangan ketua sebagai bukti
diriku peserta terburuk

Itulah balas
ketaksetujuan
aku rasa acara beginian
tidaklah membebas keinsanan
dikambingkan, terburuk dikurung kepicikan
justru membuatku bebas
karena kutau arti penghinaan

"indah matamu"
aku tersenyum tak ragu

-----------------------------------------------
ka-kapuas; 14x1978
*Masa pra siswa alias masa pelocoan

empat - Yang pergi yang tinggal juga

"Perpisahan & tangis cinta"

Meddi gadis pujaanku
menghadapi ujian akhir
aku membantu membaca kertas-kerjanya

Biar sekelas diatasku
dia begitu percaya aku bisa
dan itu menyanjungku

sepasang kekasih
begitu gossip sekolah
kami berdua lepaskan tawa
rahasia-hati kami 'lah punya

Lulus terbaik
menerima beasiswa
Meddi harus pergi
kehilangan merayapi percaya diriku

Dan katamu :
Aku memang mencintai kamu
dan terima kasih atas balasanmu
kau tau, umur dan keadaan kita belumlah tentu
kita harus selesaikan sekolah
dan untuk apa kita berjanji
jika nanti keadaan tidaklah sama seperti kini
aku tak mau menipu kamu, yang juga menipu diriku

kita berpandangan
aku menyelami yang ada
kau pegang tanganku
lalu mata indahmu mengurai
kau tidak tunduk

Kau cinta pertamaku
akan kusimpan dilubuk sanubari-jiwaku
aku berharap terus berlanjut dinanti-nanti
kau tak perlu berkecil hati
kau tetaplah sahabatku sampai kapan jua pun pasti

kau tau 'kan maksudku?

aku mengangguk belum pasti

aku inginkan juga seperti yang kau ingini
sudah sering ............., rasanya kita sudah
pernah,
bahkan selalu, tiap kali matamu menghujam aku
suaramu mulai berbisik
dan kau menunduk

sudahlah MeMe, kita jalan dimana mata tak banyak mengganggu
kau juga tau, bahwa mata keringku
menderas arus lara
itulah membuat aku tahan
memelukmu erat, lama

pagut ketatku
dentum jantung yang tak terhitung
adalah olesan terakhir untuk semasa
kita terpisah dengan sanguan cinta

-------------------------
p.raya;20jan1979
------------------------- 

tiga - Menguber cinta, ketimpa skorsing

"Hari-hari menanti"

Kesempatan mengenalmu tiba
kita jadi panitia perpisahan

kau maju duluan
setelah mata kita beradu
saat aku terpaku
"indah matamu"

Kata-katamu
penuh tanya
semua menggelora keinginanku
dan kau pinta aku mengantarmu
kau perkenalkan aku pada ibumu
"mami, ini teman Meddi dari sekolah"
aku tergeli sendiri
sejak kapan kita berteman
dengan begitu sajakah kau percayai aku
...ini teman... mu

Seperti surat-suratku lalu
aku suka kamu
karena aku merasa sangat suka bersamamu
bukan karena aku selalu melamunkan kamu
Dan suratmu padaku
"kau anak baik" se ....laaa ... luu!

Dan cintaku bagimu MeMe
kau anggap cinta anak-manis, ya kau lihat aku sebagai anak-anak
ketika membaca itu, kau datang mengadu
"mengapa kau hendak racuni persahabatan kita?"

Dan itu membuatku jadi pelamun
membayangkan dirimu telanjang
kita bercengkerama riang
sampai ketika ulangan
aku lupa mengontrol diri
seorang guru bertemperamen keras menantang eksistensi diriku
dituduh menyontek tanpa bisa menunjuk bukti
tangan kasarnya melayang
disambut latihan 4 tahun karateku
maaf bapak guru, inilah hasil ajaran para guru baikku
aku menjadi kriminal sekolah, melanggar tabu
menerima surat skorsing
apa arti "guru kecing berdiri, murid kencing berlari"
rasanya 'lah jadi "guru kecing tak peduli, murid mesti mengecingi gurunya"

Dan tak datang-datang kamu
padahal aku malu
juga perlukanmu
selain catatan "tabahlah sahabatku"

Ketika pengadilan sekolah
antara sekedar skorsing atau keluar
baru aku tau, kau dipihakku
"Bapak-ibu sekalian, atas nama teman-teman sekelas dan anak-anak kelas satu 
Be inilah petisi kami"
katamu
Pak kepsek gemetar menyambut kertas itu
membuatmu nampak kukuh, gagah!
duhai hatiku

Kau tau ketika aku diarak
mungkin kita telah berciuman dalam peluk-peluk kemenangan
bukan! ini kebebasan pelajar-pelajar semua
OSIS lumpuh sempurna, paguyuban cinta-sesama maju membebas
dan kau pahlawannya

Kita memang saling mencinta

-------------------------------------------
ka-kapuas, 23xii1978
-------------------------------------------

lima - Ketika hujan surat-surat

"Jauh dimana, lekat dilamunan"

MeMe
Kita sampai di cinta
bukan batas satu masa
beginilah lembar-lembar hidup
dalam buku pilahan bumi manusia,
mungkin

eSeM'A kulewati dengan cepat
ingin kurengguk semua ijazah
agar segera menyusulmu
surat-surat rindumu membakar seluruh lamunanku

olah-raga seperti katamu, cara keluar dari rindu-dendam tak berbalas
dulu aku bolos
kini segalanya usai sekolah
tanding pun tak lagi untuk uang
segalanya telah terasa hanya untukmu

seperti gawang yang selalu kutembak
jika bola melayang tanpa gol
ia membuatku semakin menggebu
jika mencetak lalu sambut gegap gempita
penonton raya, aku rasa kau datang memelukku tak lepas

bayanganmu ciptakan nafsu
semua hanya oleh olahanku
akan dirimu yang jauh dimana
lekat sikali dalam lamunan

aku tak boleh begini selalu; 'kan?
isi kepalaku mestilah yang sama
pada keadaan sekitar - dimana aku boleh saja melamun
entah engkau, atau siapa saja

biarkan bola bergulir
dan pemain memburunya
kaki kancilku [seperti katamu] akan beradu kencang
jika untung, mencetak gol
itu karena timku bisa berolahsama
aku hanyalah pemain yang menyarangkan
bola digawang lawan

Gol MeMe; yang jauh dimana, lekat dilamunan

----------------------------
p.raya; 5mar1980
----------------------------

enam - Ketika masuk universitas

"anak baru lagi, menerima kenyataan"

NKK masih sibuk
acara perpeloncoan compang camping
panitia malah berantam sendiri

karena
dari awal ada kabar
panitia keluarkan selembar-harian posma [alias : pekan orientasi studi 
mahasiswa baru]
kumasukkan orat-oret saban pagi
semua sajak pujaan bagi-bagi harapan
dan MeMe, kau kulupakan

Aku paling grogi disuruh manggung
demikianlah yang terjadi
ketika ramai-ramai orang menyebut namaku
meminta supaya membaca rangkaian sajak "cinta sarapan pagi"

dan MeMe, wajahmu melambung
menangkap rasaku seperti kau disisiku membisik : "ayolah maju, unjukkan 
siapa engkau sayang"
seperti selalu ketika kita berdempetan

tapi tidak MeMe
bukan engkau yang harus membuatku kukuh
akulah yang putuskan, kini kumaju

----------------------
p.raya;20VI1980
----------------------

tujuh - Mahasiswa baru dan sajak sarapan pagi cintanya

"Cinta sarapan pagi"

masih hangat pisang goreng tiga bilah
segelas teh manis mengepul pula
dibalik kirlap plastik taplak meja
ibu kos yang mulia

hari ini kulongok lagi : wajah-wajah kami para mahasiswa
dikampus maunya menimba, ilmu untuk kejayaan manusia

nanti dulu ----

ejakan hari-hari sendumu
mengayuh sepeda
menunggang Honda, Kawazaki, Yamaha
barang impor pagi-pagi

mending kulamunkan wajah kekasih
yang sudah, yang kini, dan siapa tau juga yang nanti
menuduhku cumalah figur-komersialis sejati

paduka sekalian
kita ketinggalan
ayoh berkayuh

negeri ini bukan kawah penerima
kejayaan karyacipta seberang sana
manusia sini tidaklah tong-sampah sasaran pasar darimana-mana
bumi disini syah dipijak, dibela atas nama kemuliaan bersama

pisang goreng kusambar
untuk cinta, harapan dan kalian
selamat pagi

------------------------
p.raya; 19mar1980
------------------------

delapan - Sajak cinta merundung nasib

"saat bahagia di sikut impian"

Jadi mahasiswa
rasanya sudah sedang menguasai dunia
impian pun terbang
nanti, aku sarjana memetik semua
dan saku pasti tumpah ruah biji kebahagiaan

Apa lacur
bangku kuliah oleng ke kiri ke kanan
bak kapal digempur ombak samudera
terkadang hasilnya; salahkan dosen-dosen
juga buku-buku teori kakap, sialan bikin puyeng
kredit tersendat, nilai merana, hati goyang :
apa perlunya aku sekolah cuma untuk beginian?

Jika kau hendak berhasil dalam hidup
semuanya harus kau tempuh, unjukkan sapa kamu
ujar ibu seperti ungkapan lunak Meddi selalu :

"ayolah maju, unjukkan siapa engkau sayang"

Hanya tambahan pedas ibu; apa yang kurang pada dirimu? Mengapa ragu, ini 
toh pilihanmu.
Kulahirkan kau dengan penderitaan panjang, jangan kau lupakan itu anak lakiku!

Duh, dewi-dewi
apatah ini nasibku
dayaku serasa buntu

"ayolah maju, unjukkan siapa engkau sayang"
kembali MeMe menyaru dalam bayang impianku
aku harus memeluknya dalam kecapaianku
dia memang bahagian inti sukma inginku

bahagiaku disikut impian
ini kenyataan membanting semua
bulan dan langit 'kan selalu memandangku
matari menerang hari, pasti selalu
aku mesti melangkah lagi

------------------------------
p.raya; juli1980
------------------------------

sembilan - Sekali-kali merdeka cuma belajar

"NKK-BKK dimeja hijau mahasiswa"

Meddi menyurati aku;
kampus kami menggelora
aku baru kenal apa itu demonstrasi
kawan sekelas korban aparat keamanan
darahnya tumbah dijalan
aku tak bisa cuma menonton, mohon restumu kasih

terbelalak ingatanku
masa di eSeM'A, engkaulah penyelamat
saat, nasibku diujung tanduk pengadilan sekolah
petisi barisan tanda tangan teman sekelas kumpulanmu
selamatkan aku dari dikeluarkan
kini engkau masuk gerakan demo mahasiswa
oleh nasib kawan sekelas yang rela menderita
oh, MeMe aku mengelus dada, juga bangga watakmu

Di kampus Tunjung Nyaho
tuan Daud Josoef, mendikbud bertamu
disambut pertunjukan seni panitia
sekelompok mahasiswa dilapangan bola
ramai menyepaki bola api ----[terbuat dari kelapa tua yang telah dibenam 
sehari-semalam dalam minyak tanah]
seksi keamanan kaget setengah mati
tidak mengerti
tapi kau dan aku tau pasti
bagi masyarakat Dayak, bermain bola api
pertanda adanya kematian
begitulah demo kami

Ya kita harus mendobrak NKK
sementara issu-issu militerisme makin meningkat
NKK berhasil memagari kita dari negara
kampus telah menjadi kerangkeng agung  negara bagi ke MAHAsiswaAN

Restuku kasih,
untukmu dan semua pejuang kampus
yang tetap merdeka untuk belajar terus

--------------------------------------------
p.raya; juli1980
--------------------------------------------

sepuluh - Ketika kampus dirampok

"Aisyah [1]"

Meddi bercerita ulah aparat
menerobos kampus
merobek otonomi
merampas kebebasan
menginjak-injak kemerdekaan
mahasiswa menggelora, arak bendera perlawanan

Disini kampus biru
ditengah pulau Kalimantan
asing jauh dari bising
lembar surat MeMe bingar
aku turut larut
seperti kegiatan MAPALA
berkemah sampai amdal [analisis mengenai dampak lingkungan]
peduliku tumpah kemasa depan lingkungan
dan Aisyah pemandu calon anggota MAPALA :
"sekalipun ini kegiatan tiruan, kita harus punya integritas Ben!"
katanya, seraya memperbaiki selempangan hijau-kuning simbol kelolosanku

busyet! matamu berpancar
bikin darahku memijar
sekelebat mata indah Meddi "yang jauh dimana - dekat dilamunan" kembali
kabur dalam bentang sekarang

anak-anak MAPALA gaul bersama
riang bersama susah bersama
saban mau berangkat, khusyuk berpeluk
rimba Kalimantan nama ganas
penuh misteri binatang buas
ular berbisa kekhawatiran regu
akhirnya mematuk kakiku
sempat terpikir, inilah akhir riwayatku
sebelum kulupa

Ketika sadar
mata berpancar, mengangkat inginku tetap hidup
dan iya, dia memang dingin memanduku
luka kecil patukan disobeknya cekatan
darah dan bisa disedot mulutnya tanpa ragu
tanpa banyak kata, selain mata memancar satu telah menghujam jauh

lemahku hampir layu
dibujukrayu menjadi tegar
luka sakit terasa lain, aku ikut maju
Aisyah menangkapku
aliran bangga pelan menyusup ragaku
disambut berita
Kampus kemasukan intel
Perwira-perwira KODIM jadi mahasiswa
pejuang kampus bikin petisi
"mereka berhak jadi mahasiswa," pak rektor gusar
jadi, intel memang mahasiswa terdaftar?
pemerintahan kampus jatuh, dunia intelektual mesti berduka
gugur bunga bertebar dimana-mana

--------------------------
p.raya; Sept.1980
--------------------------

sebelas - Ketika kejadian memacari logika

"Aisyah [2]"

Patukan itu seperti kiriman baru
dan aku menyambutnya
Aisyah jadi kegemaranku

yang mula kukira bisu kaku
justru menggebu hampir tak tersetuju

Ah, kau kira hanya lelaki yang boleh
aku menyukaimu, dan kau menyukai aku
kita bisa bermain cinta
hanya, kau harus tau
kita berlaku sadar, dari sini sampai nanti
aku tak setuju lekas-lekas memikir ikatan penghulu
aku belum tentu mencintaimu
kau pun belum tau mencitai aku
marilah kita renggut apa yang kita rasa
sebelum masanya surut, kenikmatan pergi
atau, aku tinggalkan kau merana beronani

Aku lelaki menyerah?
bukan, kurasa aku lah pemula
menunggangi godaan
dan aku menyukai gelora
kenapa mesti munafik
perempuanku inipun tak munafik

cinta kasih
tak keluar dari raung asmara
ia membakar kerja ragawi; dunia milik kita

aku tak tau lagi
selain remuknya rasa gelisah
di laut kejadian yang biru tak bertepi

logika zinah!?!
itu urusan bila keluar dari dekapan kita, Ayi meyakini
kita lakukan semua diruang kenikmatan sadar
tanggung jawab apa, jika penghakiman hanyalah memaksa ucapan penghulu
kau takut? Silahkan pergi
asal kau tau aku menyukaimu, masih
andaipun nanti jadi suami-isteri segelan-kertas
kau hanyalah lakiku, dan aku wanitamu
yang sekarang, mari teruskan bercinta kasih, sebentar lagi kita kan 
tua-renta tak laku lagi

bedug mengalu
genta memanggil
kami terus bercinta

----------------------------------
p.raya; Sept.1980
----------------------------------

duabelas - Ketika diri menuntut

"Aisyah atawa Ayi (1)"

Ayi; hanya aku pemanggilmu begitu
"itu selalu membuat darahku menggebu," katamu
selang masa sudah
aku tertegun dalam tanya disebuah penantian
atau penantian inipun cuma aku dan lamunan

Ayi; tanpa menatap aku, kau bicara
bahwa, "kita sudah intim mesra,
kau meragukan keutuhan diriku?"
itu membuat sosokmu misteri kelabu

Ayi; kau kira aku mundur
ketika rahasia dirimu kau tutur

sobat yang kekasih hatiku
ingatlah siapa aku
yang kau ajak bergelut
yang mengajakmu jangan pernah berlutut
kawanmu yang cukup setia 'kan

Ayi; usirlah ragu
terangkan percayamu, seperti langit biru
biarkan aku mencebur dalam semua keraguanmu

============
p.raya; des.1980 

tigablas - Ketika cerita tabu menampar

"a y i (2)"

"Aku anak Pe Ka Ii
ayah-bunda hilang tak berimba
ibu-bapakku kini
kau bisa cari tau sendiri
atau kupingmu telah tangkap semua bisik seputarku,"

matamu menajam parah
serasa menghujam dendam dipias gelegak darah
kelu hatiku, ucapan begini menampar "siapa-aku"
sementara gayut hati 'lah paguk bersamamu
tak tau aku, mesti bangkit bagaimana?

kuping, jauh hari telah terima
segala bisik, bahkan teman sekost becerita
Aisyah gadis pesanan kelas-atas
apa-apaan, sambutku ketika itu
mestikah aku percaya, lalu membuat perhitungan dari orang lain selain 
Aisyah sendiri ?

kini Aisyah menyatakan itu benar
mestikah kutanya semua yang busuk mengaduk percayaku
sensasi apa cerita begini
tapi kubiar semua menggelantung pun akan merongrong percayaku

Ayi, kekasihku ----- [masih]
kau pribadi yang mengaduk seluruh diriku
tempokan waktu bagiku kembali
bukan mengadilimu
aku pun tak tau nantiku
biarlah waktu mengendus semua
==================
p.raya; Peb.1980
================== 

14 - Ketika nyali harus tarung

"A y i (3)"

Usai kuliah, mentari menyusup rona jingga kaki langit
berita kemalingan seputar kostku tak mampu robah tekad bertemu
kantin koperasi mahasiswa jadi saksi

hampir takbisa kumenatapnya
beban berat serasa menimpa di kepala
ragaku megap-megap menghadap
otakku entah dimana melayap
selain gelisah-diri sibuk menjajah

sampai Aisyah menyorong air putih
bersama kuluman senyum mata binal yang sungguh kukenal
itu melegakan semua keresahan
membebas aku keruang kami biasanya
"ini yang kuperlu"
"Ayi, aku takut ......."
rantapku bak bayi ketemu susu bundanya

tapi,
busyet, lidahku tak jua mampu memulai
sibuk mencari jawab "mengapa aku begini"
sementara matamu tenang menemani
"lelaki macam apa aku" caciku sendiri

dan suaramu mengalun :
"sudah kau pikir, akan kau percayai semua bisikan itu,
atau perlu kututur semua menurut harga hidupku,
jangan kau ragu, aku takan pernah membenci untuk semua,
aku siap untuk segala pengadilanmu, sekalipun kutau kau pribadi lain
pujaanku, tapi manalah manusia bisa memiliki manusia lain
engkau seperti juga aku; jadi raja dan budak diri sendiri
utarakanlah, untuk tak menyiksaku lama"

dengan tarikan nafas entah berapa kilo
sambil pegangan tangan, aku berhasil menyuarakan diri
ketika begitu kulihat kebanggaan di wajahmu bersenyum
"aku tak mau kehilangan kamu," lagi jerit anak-kecil benakku

"aku tak berani menanyakannya
aku tak tau mengapa
mungkin takut kenyataan, mungkin memang aku tak mau tau juga"

"baiklah aku yang sampaikan padamu
demi persahabatan kasih"
selamu tanpa ragu
"PKI itu urusan politik, aku tau dan mengerti,
tapi ini hidupku maka itu marahku pada dunia manusia-manusia berjiwa kerdil 
munafik takan lekang,
karena semua yang telah terjadi 'lah jua jadi darah-daging-jiwa semangatku,
engkau pun akan mengutuk bila nanti kau mengerti, betapa keji rejim yang 
sekarang,
aku memang korban, tapi takan membiar diri tetap di orbankan,
dimana juapun keadilan adalah harapan bagi semua orang tertindas"

"dalam kamus moral orang banyak, pelacur adalah kebusukan dunia,
tetapi tanpa permintaan pasar, pemerasan, dan kemunafikan
manalah akan ada pelacuran,
diriku dan pelacuran ataupun bersama engkau-anak-suci,
dimuka akhirat, sama saja 'kan"

"engkau memang melacur?" kata sang aku engkau-anak-suci meloncat
disambut senyum yang selalu merogoh dalam kehati
"apa yang kita perbuat dalam keintiman, .... bagimu?"
aku kembali terperangah menggeluti nyali sendiri

"aku memang mempunyai pekerjaan rahazia, mungkin kerja-paksa
seperti kau ketahui darimana sumber hidupku
bapak-ibu piara aku bukan orang kerjaan, mereka sepertiku mencari-cari
jika melacur itu adegan ranjang dan segepok uang, kegiatanku bukanlah itu
aku memang melayani beberapa bapak pejabat
sebagian karena tekanan, agar bapak-ibu piara aku tidak di-PKI-kan
jika pernah terjadi itu memang perkosaan ... itu memang resikonya
pilihanku: hidup dirongrong atau lalui rongrongan menuju kebebasan"

kau menitik airmata
aku menanya diri, inikah cara menjatuhkan rasa iba
tega benar aku menghakimi demikian, bukankah harus pertimbangkan percaya 
tidaknya
apa yang tak kupercaya dari seorang kekasih

"engkau ingin tau apa yang kukerjakan
betapa gilanya para bapak pejabat
bagaimana mereka mengeluh panjang lebar akan hal isteri, anak-anaknya
selalu merongrong agar rengkuh semua kekayaan
aku tau, mereka kesepian, seperti anak kecil kurang perhatian
itulah pekerjaanku; jadi psikolog, jadi tukang pijat, jadi tukang puji,
membelai-belai badan tambun mereka yang sebenarnya lelah bersandiwara
sebagai pejabat tinggi berwibawa
yang dipanggang moral-mental kerdil pribadi tanpa integritas
kau tau, hampir seluruh mereka tak lagi berfungsi"

impoten! kataku terlompat
ajaib, tak risau lagi aku akan bisikan kawan-kawan
betapa hancur Aisyah punya kelakuan
==============
p.raya; des1980
============== 

limablas - raffles dan menwa


"Baddak MENWA"

1981 HUT kemerdekaan RI merdeka
apalagi ... kalau bukan upacara
seragam hijau sepatu bot tentara
tegak aku dalam barisan menwa

tanpa dilatih, hanya karena pernah pramuka
urusan beasiswa, maksa juga
urusan jadi pegawai, nuntut pula
mapala, bukan BKK
sekarang nasib dikalung NKK

Aisyah geli setengah mati
membusak-busak rambutku kepala cepak

"kau enak bisa kerja
dapat surat-bebas G30S/PKI
berkelakuan baik" urainya suatu senja
merentang ketidakadilan negeri kungkungan kaum tentara

apa yang bisa kulakukan
rejim ini memang siluman
aku cuma pemuda kemarin
baru milir dari hulu
dan ini pakaian sedadu gadungan
resimennya mahasiswa pengagung tentara
pembunuh orang tua Aisyah
penindas hidup Aisyah
mungkin pula ribuan bahkan jutaan Aisyah lainnya
mestikah aku lanjutkan
apa tak sepatutnya bakar saja semua

tidak! kau harus mengerti kasih
kita menghadapi siluman
pandai-pandailah jaga diri
kau perlu pekerjaan
jangan bikin tindakan siakan harapan
panjang masih lanjutan perjuangan

susut aku dari kalut
menghadap kasmen, lalu bertamu ke danmen
Raffles Baddak berseragam
bak pamen tentara usai tugas di Kongo
dadanya berjuntaian jimat biru putih kuning entah apa
baretnya jingga, kasmen menMaharaya
pet hansipku nongkrong dikepala cepak anggota mendadak
lagi peloncoankah

lapor komandan, ini anggota baru
buset, sepatuku lengket
barusan nginjak permen karet
rusak tegel markas kodim lecet-lecet

koq kurus amat, gerutu dandim eh, danmen
biar nda mudah ditembak, pak!
gurau Raffles Baddak
bikin ruangan banjir gelak
semua diam kutangguk sengak
anggota batalion "A" Unpar inilah awak
dapat baret merah jingga menjingkrak
petantang petenteng ngatur parkir seratus perak
kampus kerajaan kami, siaaaap PAK!
semua meniru gaya kasmen Raffles Buddak eh, Baddak
Dan Aisyah makin terbahak-bahak
===================
ben abel: p.raya, sep1981
===================

glosarilah :

Menwa = resimen mahasiswa
Menmaharaya = resimen mahasiswa palangkaraya
Danmen = komandan resimen
Kasmen = kepala staff resimen  

namblas - Aku ini apaan

"aku ini apaan"

....memerintahkan, saudara .... pekerjaan mahasiswa, anggota resimen Maharaya
mengikuti suskalak, agar segera melapor; komandan resimen Maharaya letkol ....

heran aku
gimana ikut suskalak
latdasmil saja tidak pernah
tapi ini perintah, bantah Aisyah
ya, peduli amat aturan mainnya
korupsi? ini perintah,
siap pak komandan

pergi suskalak
enam minggu, pagi-sore : siap grak!
nambah teman dari luaran
ilmu temuan, mati hidup demi persatuan
dinamisator dan stabilisator acuan
mengambang wajah kekuasaan
dukung ABRI punya dwifungsian

balik kampus sudah klasifikasian
boleh pegang jabatan
menyempang tali komando, merah menggantungi pundak kanan
wah, aku jadi batalion punya komandan
tanpa gaji, namun petantang petenteng selalu minta batuan
korupsi ? .... ah kecil-kecilan
dipikir saja masih halal, toh basanya cuma "bantuan"

sebaiknya kau bukan komandan
itu merusak kepribadian
kau nampak makin gadungan
ujar Aisyah menampar rasa heran

bukankah kau yang saran
aku untuk baikan
toleran demi masa depan

ya, tapi aku bukan suruh kau makan
semua kata sedemikian
tanpa mengerti kepribadian
makna untukmu sendiri kawan
memangnya aku ini apaan

sudah, aku tetap komandan
siapa tau nanti-nanti banyak pelajaran
menambah luas pandangan
bisa keluar Kalimantan, tengok negeri-negeri jiran

siap pak!
sudah suskalak
boleh melatih, merintah mencak-mencak
hei, ini komandanmu; hormat grak!

Aisyah tambah tak karuan
aku ditindih heran
mungkin tiba masa untuk berlainan
sebagai proses bagi kemudian

ini komandan
mengurus diri sendiri sudah sempoyongan
aku ini apaan

================
ben abel/p.raya apr.'82
================

suskalak = kursus kader pelaksana

    Keadilan dan Senjata


keadilan dan senjata memang sama,
keduanya diguna membela yang lemah,
maksudnya

keadilan dan senjata memang sama,
keduanya sering diguna menjaga kuasa,
ini yang celaka

di Acheh senjata berbicara
keadilan porak poranda
seperti bangkai terserak dimana-mana
semua demi keadilan manusia
keadilan bagi Acheh, hanya merdeka
keadilan bagi prajurit, genggam erat senjata
sama-sama memekik merdeka
sama-sama muntahkan peluru
keadilan tutup mata

Ambon dan Papua
bendera kibas disiram darah
Indonesia, selamat sore

Modal kita pada bantuan modal
keyakinan bukan lagi pada tangan dan kaki sendiri
keadilan dan senjata memang sama
berjaga kita, dengan senjata
terjaga kita, dilecut keadilan sesama
bangkit kita, pikir senjata

kenyamanan tanpa senjata
bikin keadilan rasa percuma
modal bakal diambil maling semua
senjata ditangan maling, celaka kita
keadilan jadi valuta
senjata nilai tukarnya

ben abel/2k-sept.  

    Soeharto


ia datang dari gelombang pasang
revolusi kehilangan akar

gerombolan
dijadikannya tradisi
negara dipancangnya menjadi keluarga

ketika kemudian pemaksaan
tidak lagi dosa
ia maju sebagai prabu
lengser ka prabon madeg pandhito

ia presiden berkepala raja
sakratul maafkan dia
karena massa rakyat tak mungkin memberinya  

    Acheh ....

apa kabar kematian

kan engkau bukan momok
kemana besok
haruskah kau berbelok
tanpa menengok
Acheh penyok-penyok
dilindas keroyok
???????????????????

dikTE KEadiLan


kertas secarik menggelepar di meja
palu hakim memaku : "ini keadilan mu"

sumpah mampus demi keadilan aku rela mati
dan simbah-darah lagi berseru : "ini darah, daging, tulang dari keadilan"
nyawa kau hitung, atas nama keadilan
teken buat hidup-mati oh dewi-dewa kedamaian

akal ciptakan permintaan dan pasar
hukum tak berdaya tanpa manusia menghidupinya
makanya ia pun terkadang bak mesin-perang yang bisa disalah gunakan

keadilan pun mengambang semacam utopia
namun hakulyakin, aku percaya keadilan pasti datang
karena bumi-manusia tetaplah diatas dunia binatang
saling memusnah tetap tak punah

aaah! ...sekedar mencoba mengerti doang !

akumeX / benX / XIcc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *