sajak-sajak budi p hatees

Puisi

KASIDAH KESUNYIAN 1

  
kesunyianku sebuah lorong yang panjang
 
tanpa cahaya. angin membeku di puncak geliatnya
 
udara gelisah di antara gedung-gedung tua
 
dinding-dinding yang keropos
 
 
serpihan cat terkelupas adalah kenangan tersendiri
 
tapi harum keringatmu sudah tak ada
 
di situ. sisa pohon randu di halaman
 
ruang-ruang bersawang dan tambah kelam
 
 
tak ada yang mendesah selain lumut
 
tumbuh memenuhi bangku panjang dalam diri
 
dan terus menebal. di puing-puing waktu
 
ribuan tahun yang tertinggal adalah undakan perih
 
 
yang sukar kulupakan sayatannya
 
sekalipun kucoba mengenang rembulan
 
serpihan cahaya yang ingin perpendek kelam
 
tapi kesunyian itu menjelma arca
 
 
batu yang mencoba mengeras dalam darahku
 
meski rindu kepadamu terus menggelembung
 
memenuhi ruang kosong demi ruang kosong
 
lebih besar dari harapan apapun.

  
 KASIDAH KESUNYIAN 2
 
jelas bukan sinar bulan yang berpendar-pendar
 
dari seluruh tubuhku. jika kutatap lekat bola matamu
 
wajahku berseri-seri dan senyumanku kekal
 
semua tertuju kepada waktu yang seolah rumpun bunga
 
 
dan ketika tiba aku di puncak birahi
 
kata-katalah yang bergelora dalam diriku
 
puisi-puisi; anak-anak yang kusuling
 
dari keringat dunia dan tumbuh sendiri layak teratai
 
 
di atas kolam bernama kehidupan. mengekalkan
 
keindahannya jadi kehangatan
 
di lubuk-lubuk terdalam. orang-orang memuja
 
sinar itu segeralah menetes
 
 
memenuhi gentong-gentong kosong di diri
 
lalu menjelma arak yang membuat mereka mabuk
 
kasmaran sepanjang hari. sampai fajar
 
tumbuh di kepala mereka. jelas bukan sinar bulan
 
 
yang berpendar dari seluruh tubuhku
 
yang mengusir bayangan kelam
 
tapi kabut turun mengatupkan pintu cahaya itu
 
di sana kesepian telah menungguku.
 

 KASIDAH KESUNYIAN 3
 
cintailah aku
 
seperti kuurai panjang rambutmu
 
sampai ke jantung tauhidku
 
jangan katakan selamat tinggal
 
langit itu sudah sangat ungu
 
sesuatu membangun ceruk di rahimnya
 
ketika matahari tinggal sisik-sisik tembaga
 
pada bayang malam itu wajahku biru sekali
 
biru yang mengental
 
aku rasakan juga gigilnya mengaliri darahku
 
menggali perigi di sana
 
seperti mencoba menemukan mata air
 
bagi kehausan panjang juga mantel tebal
 
tapi kabut tebal itu memelukku
 
ke dalam dekapannya yang pilu
 
 
cintailah aku
 
seperti kujaga seluruh indraku
 
tak menyusup jauh ke dalam kerudungmu
 
jangan katakan selamat tinggal
 
pada rumah yang kupelihara di jantungku
 
 
 
 STASIUN SUNYI
 
cemara berderai-derai saja sejak dari jauh
 
terasa waktu semakin mengasuh. semakin aku lusuh
 
di stasiun terakhir segalanya menyerbu
 
kenangan dan secangkir kopi warna biru
 
 
memenuhi pikiranku. lukisan yang tak kekal
 
seperti kemah-kemah awan di langit
 
menghapus jejak matahari. gelap mengekal
 
masih saja masa lalu menjadi rasa sakit
 
 
yang bergetah. aku tak tahu akan kembali
 
padamu, atau sekalian kutinggal
 
menuju ketakpastian yang bernama sepi
 
 
di stasiun. keraguan menyerangku
 
seperti wabah menerpa ubun-ubunku
 
hingga segala lupa, juga senyum manismu.
 
 
 
NARASI SUNYI
 
 
setiap kali senja mewarnai seluruh wajah langit
 
selembar lagi daunan hari gugur. begitulah kesunyian
 
menyusup jauh ke dalam plasmaku ketika ingin datang padamu
 
dengan huruf-huruf mawar. pengembaraan ini
 
 
tak letih, sebab pencarian sia-sia
 
segera akan berakhir. aku temukau
 
sebuah rumah tanpa keluhan-keluhan pada dinding,
 
jendela, langit-langit dan lantai marmernya. cuma
 
 
seekor cicak di dinding menyengatkan sunyi lain. seperti
 
nyanyian sebatang pedang yang tiba-tiba disabetkan
 
di uluhati. hidup tak kunjung kutemukan. pencarian
 
merentangkan jarak seperti lidah ombak terjulur
 
 
ke nurani pantai. aku bayangkan bulan purnama
 
mancar di sana, berpendaran di tiap loong
 
kegelapan dalam impian semusim
 
yang meresahkan, sampai pagi masih sisa
 
 
cahayanya. tapi, selalu daun-daun kering
 
tumbuh menjadi dinding
 
rumahku, perlahan-lahan menjelma masa
 
lalu. menakutkan, setiap kali senja
 
 
mewarnai seluruh wajah langit, aku melihatnya
 
seperti darah cecer dari luka-luka. seperti air
 
mata tetes dari duka-duka, membasuh
 
kejahatan yang berkarat dalam urat nadi dunia.
 

 RAHASIA SUNYI
 
rahasia yang tersimpan kedua bola matamu
 
adalah misteri kegaiban matahari melahirkan bayi
 
semua bersinar lembut hariku, juga pintu-pintu
 
yang semakin membuka diri bagi dunia gaib
 
yang tersembunyi dalam kerudung
 
 
itu. berulang kali aku katakan cinta pada
 
apa pun darimu: menjelma sebongkah kristal
 
bening. selalu kutatap rahasia keagungan di situ
 
seperti kita berdua pernah saling menyapa
 
mesra kepadanya. kini, tak ada lagi
 
 
yang terentang begitu lebar
 
di antara ktia segalanya telah diucapkan:
 
betapa berulangkali aku mencintaimu,
 
mencintainya, mencintai keindahan
 
dan kesedihan yang ditawarkan dunia.
 
 
 
SELAMAT DATANG, MALAM
 
 
cukup sudah kehadiran ini. di sini,
 
di ruang sunyi aku tuliskan pada dinding-dinding
 
kesepianku: “selamat datang, malam!”
 
 
inilah aku adanya, penantian panjang
 
dan tubuh kurusku berlumut. kepada siapa kesetiaanku
 
ketika kesiur angin bertiup meninggalkan abad-abad
 
 
luka dan menggiring padaku air mata:
 
“selamat datang, malam!”
 
 
kelam itu menggeliatkan pucuk-pucuk mimpi, seperti
 
kelelawar berdiam di sana. ribut mencium darah
 
yang diteteskan waktu.

  
ASMARADANA
 
 
ingin kusobek bulan dengan kecupan
 
pada bibirmu. tetes darah itu tidak bersisa
 
sebagai perih, sebab luka
 
 
telah menjelma kenikmatan surgawi
 
di jantungku menjelma bulan lain
 
lebih terang cahyanya sampai ke bola matamu
 
yang menyimpan mutiara
 
 
ingin kusobek bulan dengan kelembutan
 
cinta. seperti bapak, aku pun ingin tumbuh
 
jadi pilar dalam jantungmu.
 
 
 
TAHAJUD SUNYI
 
 
ketika aku datang padamu. jelaga itu
 
belum juga menyingkir dari tatapanku. bahkan,
 
tumbuh jadi kegelapan dalam rongga dadaku.
 
Menggumpal cahaya seribu kunang-kunang
 
 
yang menyala pada masa kecilku. telah berabad-abad
 
kueja waktu, beribu kisah menjelma buku harian
 
tetapi makin jauh jarak yang tercipta
 
di antara kita ketika aku datang padamu
 
 
jelaga itu masih mendekam dalam jantungku
 
sedang aku sejak lama merindukan
 
cahaya rembulan untuk menatap
 
kemolekan wajahmu.
 

 

Merindukan Tanah Lapang

aku merindukan tanah lapang di dalam dada 
setiap orang. tak ada lagi tempat bagi cinta dan dendam mekar bersama. melebur diri jadi keramahan
 

menyapa siapa saja. aku merindukan 
tanah lapang di dalam dada setiap orang sebuah tempat bagi serangga saling berlagu manusia dari anak-anak sampai dewasa
 

saling berdendang. aku merindukan 
tanah lapang di dalam dada setiap orang yang kehilangan keinginan bermain sekian lama.
 

Dari Puncak Bukit Pencarian

dari puncak bukti pencarianku 
semua begitu kecil. orang-orang di bawah kakiku mencari entah apa dengan menorek perut bumi yang telah kukosongkan
 
isinya aku nikmati warna kelabu di wajah mereka seperti menegak bergelas-gelas alkohol dan kupenuhi semua ruang kosong
 
dengan tawaku tapi langit itu mengejek dengan sorotnya yang luas. akupun tersipu tersipu di bawah lambungnya yang
 
menggelembungkan misteri
 

Asmara Laut

cintailah aku, pinta laut 
yang telah lama tidak mengenal cinta suci tapi nelayan-nelayan itu tidak mengerti bahasa air. kecuali kebiasaan ikan-ikan
 
bergerombol di terumbu karang di rahim laut yang mawar menebar harum kehidupan ke mana-mana
 

cintailah aku, pinta laut 
yang telah lama merindukan sentuhan lembut tangan-tangan terampil menyulap rahimnya jadi cahaya berkilauan ke mana-mana
 
tapi nelayan-nelayan itu tidak paham bahasa laut. kecuali bahasa ombak membanting-banting perahu dan mengaparkannya di
 
pantai yang jauh
 

cintailah aku, pinta laut 
yang telah lama ditinggal kekasih kesepian tapi nelayan-nelayan itu tidak paham bahasa samudra. Kecuali terumbu karang yang
 
berkilau-kilau di pasar-pasar kerajinan
 

cintailah aku, pinta laut 
yang tubuhnya terbakar birahi dan terkapar karena tercemar
 

Episode Kursi yang Roboh

jangan kau usik aku, kursi menghardik 
sambil menggerakkan kaki-kakinya tapi rayap-rayap itu telah lama tak bertemu kayu setelah beton-beton berdiri dan hutan jadi
 
padang rumput yang hijau
 

jangan kau usik aku, kursi menghardik 
sambill menggerakkan kaki-kakinya mau menginjak rayap. rayap-rayap tak perduli dan terus menerjang bersama impian
 
panjang tentang serat kayu
 

maka kursi meradang, melumur tubuhnya 
dengan pestisida. rayap-rayap tidak perduli lalu menerjang dan mati usai merubuhkan kaki-kaki kursi
 

Selepas Hujan

selepas hujan akan terbit matahari 
cahayanya memancar-pancar ke seluruh negeri memenuhi semua ruang gelap rumput-rumput, pohon-pohon, dan
 
burung-burung
 

melengkapinya. selepas hujan 
kicau mereka seperti sebuah kor yang merdu dan kita mendengarnya seperti doa yang khusuk seperti zikir yang iklas. cinta pun
 
tumbuh
 

seperti jamur. selepas hujan 
mari kita sembuhkan kesedihan dengan mengenang-Nya selalu.
 

Penantian Sunyi

sunyi bergetah malam di taman itu 
bangku panjang yang beku dan berlumut laron-laron terbakar kerdip api cahaya ternyata lebih tajam dari belati dan kita masih
 
tetap sendiri-sendiri
 

hati selalu ingin melengkapi 
tapi waktu dengan rongga-rongganya yang rahasia. menjelma ruang kosong pengap udara menggelupur di dalamnya
 

aku merindukanmu di sampingku 
dengan gelombang rambut yang selalu kusentuh mesra sekali. tapi sunyi yang menusuk aku dapati diriku tetap sendiri.
 

Sketsa Pagi

hari terang belalu pagi ini, buru-buru 
disedot kepulang debu ke dalam lambungnya yang kelam. memenuhi setiap ruang melebarkan sayapnya jadi kota yang lebur
 
aku hitung pecahan-pecahan kaca bangkai-bangkai mimpi yang onggok menjadi malam yang tiba terlalu cepat dan kutemukan
 
diriku di dalam kegelapan itu kehilangan muara cahaya dan tak bergerak
 

Lagu Pertobatan

pagi ini kugemakan lagi ketukan 
di pintumu. puisi-puisi yang lembut membentur dinding kelam dan menyerpih jadi kesunyian. sebuah celah
 

tak mampu menyedotku ke dalam lambungnya 
seperti sebuah kutukan. sepotong tangan menarikku menjauh. kabut mengepul dan menyeka semua kenangan
 

dalam pikiranku. sebuah ruas jalan 
berkelok-kelok dan semakin menyempit sebuah negeri tanpa cahaya semua lahir dari darahku yang tawar
 

pagi ini kembali tak sampai hasratku 
mencumbu mesra dirimu. telah kupaksakan kangenku untuk mabuk tapi pikiranku menjadi patahan ranting

 

Telah Pecah Matahari

telah pecah matahari 
di luar tak ada cinta di jalan-jalan kematian begitu wajar darah dan teriakan lagu yang senantiasa dinyanyikan
 

telah pecah matahari 
panasnya membakar hati dan jiwa kita terpanggang dan tak sanggup memberikan dunia terang impian anak-anak
 

telah pecah matahari 
mulailah bercinta.
 

Sebuah Negeri yang Jauh

di hadapanku sebuah negeri tak terlihat kukenali kelipatan cahayanya dari kitab sucimu tersembunyi di antara 
gedung-gedung yang dibangun di atas luka-luka peradaban makin tenggelam di bawah ledakan cahaya
 

bilboard dan kabut tebal. semua melingkar-lingkar 
berjalinanjadi ceruk dan jurang menganga sebuah ruang bernama kesunyian. di ujung sekali ada bintang-bintang tumbuh seperti
 
jamur ketika air mata kuteteskan memenuhi sajadah
 

kulihat bunga-bunga tumbuh di situ 
dengan kelopak-kelopak mengembang dan bercahaya udara senantiasa dipenuhi serbuk sari ribuan kupu-kupu terbang ke sana
 
melewatkan musim kawin yang panjang
 

seperti ingin mengekalkan keabadian 
kepompong-kepompong memenuhi setiap ranting matang oleh udara yang sejuk. harum perkawinan tercium di mana-mana dan
 
menjelma dinding dari ruang yang lebih lain.

 

Kita Telah Bertemu

kita telah bertemu dalam kebimbangan dan menetap di sana sebagai pengecut sedang kita telah paham hidup yang 
sebenarnya harus dihadapi dengan kebijaksanaan
 

kita bercakap-cakap dengan dusta-dusta 
hingga kesedihan terus menggerogoti jiwa sedang kita telah paham hidup yang sebenarnya harus saling memahami di antara
 
sesama
 

kita saling tersenyum dengan kepalsuan 
hingga tidak pernah ada kejujuran sedang kita telah paham hidup yang sebenarnya tidak hanya di dunia.
 

Kau Datang dari Sebuah Malam

kau datang dari sebuah malam yang larut menawarkan sekeping bulan dan sekerdip bintang suluh bagi sebuah 
perjalanan yang panjang luput di bumi yang gemetar, bumi yang bimbang
 

kau tawarkan sejuta harapan bagi yang kehilangan 
cerita-cerita indah yang menenangkan dan memabukkan tapi gelisah tidak tersentuh di jalan-jalan di setiap tindakan mengental
 
ketakutan

 

Pernikahan

setelah bertemu denganmu di sebuah senja aku menemukan kenyataan diriku seseorang harus berumah sebuah 
ranjang yang selalu bergerit musik senantiasa memenuhi ruang-ruang yang sunyi sebuah jambangan dengan bunga-bunga mekar
 
potret di dinding melengkapi kebersamaan
 

setelah kita berumah, aku menemukan kenyataan lain betapa perbedaan tidak mudah disatukan. 

Saat Musim Burung Tiba

inilah saatnya musim burung dengan kicau 
yang bising dari warung, bar, kafe, dan diskusi panjang yang melelahkan. kitalah kabar yang diputar-balikkan,
 
dilempar-lemparkan. sesuatu tumbuh di dada: rasa ketakutan dan kita memandang saling curiga. kadang kita tersenyum dengan
 
niat menunggu orang lain alpa, lalu kita tikam di punggungnya. jejak kita pada waktu membercak, tercecer-cecer dan tak
 
seorang pun di antara kita pernah paham: mengapa selalu orang-orang kecil yang dipermainkan.
 

setiap kali kita melihat almanak, kita tahu 
telah banyak yang lupa dicatat. lupa dikerjakan kita hanya bisa menyesalinya.
 

Perjalanan Sunyi

ke mana pun kita melangkah 
di sana ada yang mencatat dengan tinta tebal dan halus ke mana pun kita singgah dan berumah di sana selalu ada daun yang
 
gugur, dan di daun-daun itu ada catatan yang tertulis tapi kita tak bisa membacanya sedang kepada seluruh indra bagai orang
 
asing senantiasa tidak berteguran sering hanya memaksakan keinginan purba
 

begitulah 
huruf-huruf di daun-daun itu tersusun penuh warna malam kita tak bisa lagi menemukan warna menggairahkan di negeri yang
 
akan datang karena tak pernah berpikir akan sampai ke sana tapi selalu yakin hanya cukup hari ini saja dan daun-daun itu,
 
huruf demi huruf yang tertulis di dana sampai kapan pun tak terhapus oleh masa hingga suatu ketika daun-daun itu gugur semua
 
huruf-huruf itu bercerita sendiri kita mendengarnya seperti sebuah fitnah dan amarah yang tertahan berabad-abad
 

ke mana pun kita melangkah dan tiba 
kita tak pernah sendirian sekalipun di daerah sunyi.
 

Album Masa Lalu

kita di dunia yang membutakan semua mata 
di dalam diri undakan-undakan udara berserbuk anak-anak gemetar. di jalan-jalan semua arah telah dibengkokkan.
 
musim-musim meleleh
 

cuaca selalu dingin. kita menggigil 
dan menciptakan api yang membakar semua orang kesunyian tercipta di antara kita seperti ceruk-ceruk maha dalam.
 
terowongan
 

yang gelap dengan dan penuh kabut 
yang menutup bingkai waktu hingga tak dikenali kita tak bisa menghitung jejak-jejak dan membaca tanda-tandanya. juga
 
anak-anak sendiri.

 

Munajat

aku selalu ingin mabuk bila malam turun 
huruf-hurufmu yang kulafalkan mengalir dingin kurenguk seperti rasa anggur. gelap di luar hari seperti hamparan padang rumput
 
di tengah gurun sebuah orkestra sacxaphone memenuhi udara
 

nada-nada itu menyusup jauh ke lubuk hati 
yang ditumbuhi semak-belukar bernama kecemasan ranting-rantingnya berkerisik dengan daun-daun hijau, kuning, dan coklat
 
tua dalam amin panjang. dan aku bukan lagi milik diri
 

setelah kuserahkan semua untukmu. rengutlah 
aku ingin seperti air sungai yang mengalir hanya ke muaramu sambil menghitung jejak-jejak kelengkapi isyarat-isyaratmu. tapi
 
perjalananku makin jauh dan terlunta.
 

Sebuah Negeri yang Jauh

di hadapanku sebuah negeri tak terlihat 
kukenali kelipatan cahayanya dari kitab sucimu tersembunyi di antara gedung-gedung yang dibangun di atas luka-luka
 
peradaban makin tenggelam di bawah ledakan cahaya
 

bilboard dan kabut tebal. semua melingkar-lingkar 
berjalinanjadi ceruk dan jurang menganga sebuah ruang bernama kesunyian. di ujung sekali ada bintang-bintang tumbuh seperti
 
jamur ketika air mata kuteteskan memenuhi sajadah
 

kulihat bunga-bunga tumbuh di situ 
dengan kelopak-kelopak mengembang dan bercahaya udara senantiasa dipenuhi serbuk sari ribuan kupu-kupu terbang ke sana
 
melewatkan musim kawin yang panjang
 

seperti ingin mengekalkan keabadian 
kepompong-kepompong memenuhi setiap ranting matang oleh udara yang sejuk. harum perkawinan tercium di mana-mana dan
 
menjelma dinding dari ruang yang lebih lain.
 

Panorama Temaram 1

telah aku tanam segala yang menyenangkan 
di dalam kenanganmu. juga yang memabukkanmu cintailah bila kau rindu setelah aku jauh aku hanya pengembara di dunia yang
 
gegas seluruh tubuhku tertinggal di jalan-jalan, alamat-alamat baru, dan rumah-rumah kesepian kutabur di tempat-tempat
 
ibadah, puisi-puisi yang mengekalkan pertemuan kita sebagai sepi di dalam batinmu yang cemerlang. namaku perlahan hapuslah
 
seperti kuseka air matamu dengan sayatan yang pilu. aku bukan kekasih senantiasa diharap singgah.
 

telah kutanan segala yang menyenangkan 
maafkanlah bila aku tak lagi tinggal

 

Panorama Temaram 2

tarian batang-batang tebu adalah keangkuhan dengan bilah-bilah daunnya yang tajam di lahan penderitaan. 
keringat tetes merah tiupan angin menabur rabu petani-petani yang terbatuk dengan jurang menganga di paru-parunya dan di
 
hadapannya waktu yang gegas penuh air mata di jauhan perdu balam adalah kemurungan melengkapi duka panjang seperti
 
wajah langit yang selalu kelabu mata mereka tak mengenal matahari lebih sunyi dari kuburan manapun dengan jemari yang
 
senantiasa bekerja mereka selalu terluka dan terluka
 

tarian batang-batang tebu adalah keangkuhan 
dan mereka tak bisa berontak. karena lahir sebagai penurut tapi ada perlawanan di tubuh mereka terhadap kebodohan sendiri.
 

Panorama Temaram 3

butir-butir lada tak bisa lagi melagukan sebuah nyanyian riang di dalam rumah dan tidak berakhir jadi tarian 
kemenangan hanya luka-luka yang terus menganga membangun jarak yang lebar: tak seorang pun bisa menyeberanginya juga
 
dengan perahu yang ditinggalkan Nuh.
 

Panorama Temaram 4

matahari yang pecah di sekitar kita 
meleleh sepi dari retakannya. tapi kita belum paham bahasaNya lewat sentuhan cahaya yang gemetar. sebelum seeekor burung
 
menitipkan kotorannya di atas kepala, lalu terbang ke dalam kabut. membawa kabar yang purba dan meninggalkannya jadi
 
tangis anak-anak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *