Sajak-sajak dimas triwibowo

CITATAH

darimana kamu, darimana kamu, reronceng daunan kering, 
berlarian menyambut gerai rambut si jelita,

di pesisir sungai bening, di deru air yang menciumi batuan, 
seramping tubuh indah, bersematkan kain batik tua,

memain-mainkan busa, bercanda tawa, mendendang lagu rindu kekasih, 
pepohonan, tetumbuhan, rerumputan, menunduk malu, mengutip senyum  sang
 
dara,

itu dia, itu, itu Juleha, Juleha namanya, kerikil-kerikil batu bersaksi, 
pada anggrek ungu dan pucuk pinus, untuk kembang desa di senyap desa
 
citatah,
 

dimas,- 
12.11.00
 

BALADA RATNA ROMLAH

ratna, temukan nafas om gendut, berakhir di peluknya, 
ratna, temani peluk polos om gendut, ke sengat durjana,

duh Gusti, duh Rabbi, ratna bertanya, ratna terpana, 
kemana dosanya, kepada akukah, jangan, masa bodoh ah!

ratna, berkemas, berbenah, sempat juga semprotkan Davidoff, 
dirogoh saku celana om gendut, di ambilnya segepok seratus ribuan,

ratna, bergegas, tinggalkan ruang, dicium kening teman nafsunya, 
dah sayang, dah sayang, namaku ratna, ratna romlah, udah ah,

dimas,- 
13.11.00
 

DIMANA

dimana aceh, 
dimana ambon,
 
dimana wamena,
 
dimana pontianak,
 
dimana republik ini,

kucari cari, 
tak kutemu jua,
 
bahkan dalam hati ini,

dimana, dimana, haruskah reda, 
atau, lupakan saja,
 

dimas,- 
15.11.00
 

O, AKU

kesombonganku, kepongahanku, 
tak kan punya arti,
 
disini, dan disana,
 
di bumi, dan di langit sana,
 
meski hanya, segoresan kecil di hati,

maafkan, o sanubari, 
sering kutempatkan mereka,
 
di pintumu,

: o, aku 

dimas,- 
17.11.00
 

REFLEKSI

aku matahari, 
di jendela hati sendiri,

aku buih ombak, 
di resah sanubari,

aku batu karang, 
di ketetapan waktuku,

aku siluet purnama, 
di kegelapan sukma,

aku apa? 
di ruang sepi sunyi,
 

dimas,- 
16.11.00
 

KEPADA ANGIN

aku titip kabar kematian, 
dari hibah Izrail kepada aceh,

aku titip kabar kebiadaban, 
sembunyi pada kesenyapan timur nusantara,

aku titip kabar kemelaratan, 
tersembul di tenggorok sang papa,

aku titip kabar kabur, 
ke telinga penguasa bangsaku,

aku titip tanya untuk Tuan-mu, 
, kenapa?

: wahai angin, 

dimas,- 
18.11.00
 

STUCK ON YOU

the road is getting dark, 
but I’m still walking here,
 
with a blues song ringing in my ears,

“so long, it was so long ago, but I still got a blues, for you”

but I still got a stuck on you,

dimas,- 
11.11.00
 

RINDU

mama, 
kutangisi pusara ayah,
 
karnaku tak bisa,
 
nyanyikan lagu merdu,
 
untukmu,

kurindukan, tawa candamu, ayah, 
kurindukan, tawa candamu, berdua,

dimas,- 
11.11.00
 

LUKA

luka itu, 
masih saja terasa,

luka itu, 
masih juga setia,

bagaimana jika, 
aku lukai saja luka itu,

dimas,- 
09.11.00
 

KONGKALIKONGLOMERAT

kongkalikonglomerat, 
bikin rakyat megap-megap, bikin leher kejerat, bikin nafas sekarat,

kongkalikonglomerat, 
sogok sana sogok sini, lumat sana lumat sini, utang sana utang sini,

kongkalikonglomerat, 
mata ane sepat, awas aja kalo lewat, bakal ane babat,

kong!!, coba kau lihat, 
masih adakah wangi bunga merebak,
 
dari tanah suci pemakaman pen-jihad,
 
tak sudi mereka lihat bangkai jasadmu,

wuuaachhauuu….

dimas,- 
10.11.00
 
DIALOGUE

seperti apa rupa keadilan, kawan? 
seperti asap terjuntai melayang,
 
ikuti lalu lalang angin, jawabmu

seperti apa wajah kebenaran, kawan? 
seperti rumputan di jalan setapak,
 
terinjak merebah sampai ke akar, jawabmu

seperti apa wangi demokrasi, kawan? 
seperti tongkat penuntun sang buta,
 
kadang berjalan di tepi kadang terjerembab, jawabmu

seperti apakah cinta kasih itu, tanyamu 
seperti arakan tangis awan dan terik mentari,
 
relakan kembang-kembang menumbuhi bumi, jawabku

seperti apakah hukum dan norma itu, tanyamu 
seperti nafas berat petani dan peluh jagungnya,
 
terludahi traktor-traktor  penguasa dan kroninya, jawabku

lalu bagaimana, tanyamu 
tak tahu, jawabku

dimas,- 
10.11.00
 
*       dialog dengan jin iprit
 

MANUSIA BIASA

kadang aku lantun ayat-MU, 
kadang aku lupa aturan-MU,

aku cuma, manusia biasa,

dimas,- 
20.10.00
 

WHAT DID YOU DO?

apa yang kau lakukan padaku, bunga? 
hingga hatiku tergila meronta

apa yang kau lakukan padaku, bunga? 
hingga kalbuku berwarna-warna

apa yang kau lakukan padaku, bunga? 
hingga diriku diam seribu asmara

atau, lebih baik begitu, 
kusimpan, sendiri saja,

what did you do, is that I like to,

dimas,- 
08.11.00
 

BERI AKU BUNGA 1

beri aku bunga, 
walau hanya satu senyuman,

beri aku bunga, 
walau hanya satu kecupan,

beri aku bunga, 
walau hanya satu dekapan,

beri aku bunga, 
bukan untuk terakhir kalinya,
 

dimas,- 
21.10.00
 

KAMU

pada malam, 
aku bercakap,
 
tentang bintang-bintang,

bisiknya, 
satu diantara kerlip disana,
 
adalah milikku,

: kamu, 

dimas,- 
21.10.00
 

AKU INGIN

aku ingin, 
rasakan cinta,
 
seperti angin,
 
tiupkan sepoinya,
 
di gemercik gugur daun,

aku ingin, 
rasakan cinta,
 
seperti embun,
 
tafsirkan tetesnya,
 
di rindu tanah basah,
 

dimas,- 
21.10.00
 

BASI

setelah grasi, 
kau gelar peninjauan kembali,

saat eksekusi, 
engkaupun lari,

setelah ini, 
apalagi,

sudah, sudahlah, sudahi saja kawan, 
lebih baik kau mati,

karena semuanya, 
sudah basi,

si harto rese’, si tommy basi, 

dimas,- 
08.11.00
 

Untuk Papa-ku

otakku terkatup oleh kegalauan hati, 
yang tak jelas kapan datangnya,
 
mungkin di koran-koran usang,

bibirku berpikir dalam kegelisahan nalar, 
pada luka selimut malam mei sembilan delapan,
 
hingga kini, aku masih bertanya-tanya,

untuk apa? 
bukan untuk apa-apa,

jika kubangan demokrasi masih setengah hati, 
walau dibangun dengan tetes peluh setengah mati,
 
jika merah putih masih berbungkus kain kuning,
 
walau katanya lumayan dibanding kain kafan,
 
jika si merah dan si hijau berjalan sendiri-sendiri,
 
walau digedung rakyat engkau saling sapa,

apa yang harus kujelaskan, 
pada mayat-mayat penculikan,
 
pada mayat-mayat pembantaian,
 
pada mayat-mayat kebebasan,
 
pada mayat-mayat pengeboman,
 
pada mayat-mayat hidup di pinggiran,
 
pada tarian marsinah dan nyanyian bang udin,

kalau papaku melantur, kalau mamaku tertidur, 
kalau komandanku ngawur, kalau wakilku terpekur,
 
kalau si bulus kabur, kalau si culas mulur,

adakah demokrasi, kau jawab saja,

Papa Dur, mending kau mundur,

dimas,- 
09.11.00
 

BALADA MONYET DAN KUTU KUPRET

pak ketipak ketipung gubrak!!!…… 
satu ranting patah terbelah
 
tak lekang menahan beban si dia…
 
padahal cuma bergelayut manja
 
padahal sedikit yang diharap
 
agar bisa tidur lelap digemerlap
 
biar dapet apa apa ini itu sana sini gono gini
 
huaa diziiig…sergahku…

syuuut…syuuut…plok!!!… 
lagi dia bergelayut ranting ke ranting
 
sambil merayu-rayu menjilat-jilat mencopet-copet
 
sekujur otak penguasa kuyup oleh liur si dia…
 
ini buatmu ini untukku katanya
 
kresek…kresek!!!….suara derita lirih terdengar terinjak tercabik
 
tulang di tendang teman di makan uang di-emut di kulum
 
si jelata telanjang rusuknya jelas terlihat tangisnya tak jelas

menyanyi 
wuaachaau…..satu jurusku menendang angin kosong…
 
monyet!!!….hardikku…..

tik kitak kitik kitak kitik plung!!!…. 
asmara dorna meniup si anu ke kilap altar
 
tangannya enam kuat mencengkram
 
tak tahan gelitiknya garuk sana gorok sini
 
sodok begitu sidik begini
 
kecil tak terlihat tapi bikin menggeliat
 
sembunyi di topeng-topeng kardus
 
pada partai-partai bulus…..
 
sompret!!!…serapahku…

eng ing eng wush wush…fiuwiit!!!…. 
satu persatu si anu menggeret konco coro podo bodo
 
disebar diberi mawar dijanjikan keju roti tawar
 
penguasa cuma mengelus dada menumpuk harta
 
sekali lagi si jelata menindik jemari sendiri
 
maratap gabah beras cengkeh kapal perang hutan
 
montor mabur emas timor tembaga minyak mayat darah
 
keringat bla bla bla blu blu blu ble ble ble bruuut!!!…
 
kutu kupret!!!…tampikku…

dia monyet!!!…anu kutu kupret!!… 
cuma bisa kutangisi semua realita
 
sebagaimana hidup mengungkapkannya…..

…31.03.2000 
…dimas,-
 

AKU RAYU TUHAN

aku tertawa ha ha ha… 
lihat keadilan bertopang dagu
 
simak kebenaran sebatas bibir
 
hardik kezaliman seraya berbisik,”…ikuutt!!!…”

aku tertawa he he he… 
rangkum pasal-pasal buku tebal
 
membaca nota-nota kurawa kurcaci
 
lihat kamu menampik sambil mencibir.”…hukum positif!!!…”

aku tertawa hi hi hi… 
pandang jemari emas melingkari pinggangmu
 
longok mercedez e-class hampiri parasmu
 
lihat matamu mengorek isi dompetku
 
sembari merayu,”…yang ini aja ya, Mas!!!..”

aku tertawa hu hu hu… 
otakku tercecer entah dimana
 
nafsupun bersebar tak tentu arah
 
sakit!!!…sakit!!!…sakit!!!…aku meracau…

kurayu Tuhan… 
untuk sembuhkan sakitku
 
kurayu Tuhan…
 
untuk hentikan tawaku…..

Ha Ha Ha Ha Ha… 
La  La  La La  La…
 

…dimas,-… 
…08.05.00…
 

AKU SUDAH MATI

taburkan saja bungamu di tanah pemakamanku!! 
hapus airmata itu dengan saputangan
 
berajut bunga jingga…

hentikan isak tangismu!! 
takkan juga kembalikan diriku
 
kunanti persembahanmu dalam do’a dan
 
sertakan salam untuk-NYA…

sudah, sudahlah, sudah jangan kau sesali 
aku sudah mati!!!….

demos!!!…kratos!!!…siniii!!!… 
temani aku yang sudah mati…..
 

…dimas,-… 
…270500…
 

DARI ALAM KUBUR

kenapa orang-orang diatas itu menangis? 
tak tahukah mereka
 
aku berselimut gelap dibawah sini?
 
ku-urut satu persatu wajah-wajah lesu mereka…

lho???…. 
itukan keluargaku itukan teman-temanku
 
itukan saudara-saudaraku itukan kolegaku
 
tapi siapakah itu disana yang berwajah
 
mengerikan…
 
cambuk panjang ditangannya….

lho???… 
mengapa aku ditutupi dipan kayu
 
mengapa aku berhiaskan kain putih
 
mengapa aku beralaskan tanah

lho???… 
tak kudengar lagi hembusan nafasku
 
tak kurasakan lagi detak nadi ini
 
duh gusti…kenapa aku ini?…

satu…dua…tiga…empat… 
lima…enam…tujuh…
 
kuhitung langkah mereka satu persatu tinggalkanku sendiri…
 
kok?…wajah seram itu masih disitu…
 
kok?…dia mendekatiku…
 
kok?…cambuknya diangkat dan berayun kearahku…

Aaaarrggghhh…..Ouuughhhhh…. 
Tidaaakk!!…jangan!!….ampuuun!!…
 
sabetan itu bertubi-tubi membelai halus jasadku…
 
tak bisa kulukiskan perih itu melintang rapi
 
diseluruh tubuhku…
 
kucoba bergerak kucoba berontak kucoba menyentak
 
Uuups…ikatanku terlepas
 
Uuups…dipanku terbelah

Aaaarrggghhh…..Ouuughhhh…. 
Cepaatt!!!…cepaatt!!!…
 
Coba kutelusuri tanah merah disekelilingku
 
Tak tahu kenapa aku dapat melewatinya
 
Sekuat tenaga kusibak semua yang menghalang
 
Sampai akhirnya kurasakan kuberhasil menembus tanah
 
Sampai akhirnya kurasakan kutinggalkan wajah seram itu

Ya…Rabbi… 
baru kusadar baru saja kujalani alam-MU
 
baru kusadar baru saja kuberjalan dari alam kubur…
 
baru kusadar aku kini hanya seorang mayat hidup!!!!…….
 

…dimas,-… 
…300500…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *