Sajak-sajak Lukman A Sya Berbicara Dengan Diri Sendiri

Lukman A Sya
Hukum Hidup

Ingin kuhancurkan langit
dikala awan-awan tebal menyentuh kecemasan bukit
“Apakah kau sang pengecut bagi gerak-hidupku?” tanya awan
kepada bukit. Dan ia berlalu mengikuti angin membiarkanku
duduk membusuk menemu sejarah kematian

Ingin kuhancurkan langit
dikala hujan menjadi keinginan di laut resah
Lalu aku akan menari-nari bersama pucuk kelapa itu
sambil menembang seperti si pangeran sunyi
menyaksikan sungai yang bertasbih
tatkala seluruh arti terbakar di hutan dalam hati;
Pohon-pohon menjadi abu
seperti nasib sajak awan tanpa jejak
-Hukum hidup kali ini adalah matahari
yang mengangkat sebelah kakinya. Mengencingi
kepengecutan yang telah tiba di ubun-ubunku

Indonesia, 2001

Lukman A Sya

Jarum-Jarum Hujan Menyerbu Ubun-Ubunku

Guru, ada seseorang yang mengirimkan bangkai-bangkai semut
lewat darahku
bekas sarangnya dirusak kalajengking yang mabuk
Dan aku sendiri tuhan kecil yang suka mengutuk
rayuan kematian
Kematian yang menari-nari di jasad semut-semut itu.
Tiba-tiba kepalaku berputar seperti bola dunia
yang kehilangan kenangan
Guru, kata-kata yang kaucucukkan di keningku
merestui rasa nikmat cinta yang tak acuh pada darah
kepedihan.
Tiba-tiba jarum-jarum hujan datang menyerbu ubun-ubun
mengutuk si tuhan kecil ini
yang suka membiarkan kebohongan berkuasa

Indonesia, 2001

Lukman A Sya

Panorama Sunyi

Aku menatap ke luar jendela
mengekalkan sunyi; melayangkan harap seperti pucuk
yang melambai lirih memanggil angin.
Ternyata cuma ada kelengangan di jalan-jalan
kesepian bergemericik di selokan-selokan
menuju hatimu. Sawah dan embun rindu memadukan hasratnya
ingin menghijaukan cinta dalam rasa damai
di bawah langit mencumbu awan-awan berarak
bercanda dengan matahari. Rumput-rumput liar menyimpan kenangan
di pekarangan dadamu, melupakan bunga yang gugur.
Tetapi hanya tanah yang menyatukan kita
untuk membangun doa hidup yang jujur
Sementara sungai itu biar menghanyutkan
dosa-dosa, bersama gemuruh kata
yang mengendap di perahu jiwaku.

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Burung-burung dan Angin Bertasbih seperti Kata-kata

Burung-burung dan angin bertasbih seperti kata-kata
yang hidup dalam dadaku merindukan kelezatan makna
Mimpi dan cita-cita bersedekap di pembaringan istirah.
Daya khayal rumput-rumput tak menolak cumbu semut-semut
yang membangun rumah sunyi di bawah tanah gembur
kasih-sayang. Suara dan gema sajak telah menebus
luka-derita langit dan bumi. Kembali ke asal
keheningan yang abadi.

Burung-burung dan angin bertasbih di jiwaku
Jiwaku yang penuh rindu menolak bangkai kecemasan
yang diseret masa lalu itu
Tuhan cahaya, tariklah hasratku! Sebab sungguh
aku berharap mampu kilat menaklukkan ular di nadiku

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Pecahan Gelas

Pecahan gelas itu sungguh mengerikan
di sudut dapur merindukan darah. Sementara laki dan perempuan
yang kawin atas nama angin telah saling membelakangi.
Pecahan gelas itu mengutuk kenyataan hidup
cinta yang cuma dipajang di lemari kaca. Telah berdebu
Lantai pun tak lagi sudi meditasi, mendoakan ranjang
agar tetap sabar tak mengamuk

Tuhan, pecahan gelas itu menyerang mata kehidupan
seperti kemiskinan yang tiba-tiba liar di jalan-jalan
Sedangkan laki dan perempuan itu menjelma ular
yang melingkarkan rasa kecut.
Anak-anak pun harus rela menjadi tiang-tiang kurus
menatap masa depannya yang cemas

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Siapakah

Siapakah yang datang ke mari
dengan langkah diikuti gerak angin
menyapa pintu
Siapakah yang tak ke mari
diamnya begitu linu
mengurung hati pilu

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Ketika Langit Menumpahkan Rasa Sunyi

Langit menumpahkan rasa sunyi
Bumi masih mencemooh puisi yang kutulis
di kening. Bayang-bayang keikhlasan
menggambar kehidupanku
-Aku adalah si gelandangan yang mencoba tasawuf
dikurung doa langit untuk terus memahat puisi

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Akan Kulintasi Peradaban Senja

Akan kulintasi peradaban senja
menerobos gelap malam neraka tanpa tangis.
Kupahami sungai dan udara tanpa rasa kalah
ketika tubuh-tubuh itu dikurung rasa cemas
Dan senja memang merestui segala kiblat puisi
bagi mataku

Akan kulintasi peradaban senja
membawa kisah pagi yang dibunuh sunyi; prosa siang
yang terbakar di ranjang kudus
ketika kata-kata menyetubuhi sang waktu
Dan anak-anak cahaya pun bermain dalam puisi

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Kekasih

Segala puja-puji aku haturkan kepada kelopak matamu
yang menciptakan embun
begitu suci dan bening. Kenangan dan cinta bersujud
O. Lihatlah! Kupu-kupu telah kedinginan di hatiku
Ke manakah mencari matahari

Di atas sajadah ini aku menjelma keterasingan batu dan merasa sepi
Maka. Kepada laut aku merindukan cahaya mutiara
kepada gelap aku minta selimut bulan sabit
kepadamu, biarkan aku menjamah dadamu
dan mencecap rasa anggur di bibirmu yang mungil dan tabah

Indonesia, 2000

Lukman A Sya
Nasib Langit

Memang langit selalu kanak-kanak
melempar-lemparkan hujan; bertukar rupa dengan laut
mentertawakan dingin yang kupeluk

Memang langit selalu kanak-kanak
hujan dibuatnya gusar. Cuma mengecup tanah?
ketika pohon menggigil terlalu rindu
sungai-sungai yang mengenang masa remaja
menyimpan ikan-ikan bercumbu
dengan kangen batu-batu yang menunggu
di riak nasibmu

Memang langit selalu kanak-kanak
ditatapnya genangan hujan
yang mengandung rasa manis puisi
menafasi doa bumi untuk akar-akar
yang tak mengeluh, tak kehilangan siasat

Memang langit selalu kanak-kanak
setelah ditinggal hujan ia membisu
menatap sunyi di dua sulbimu

Indonesia, 2001

Lukman A sya
Reportoir Senja Hari

1.
Ada ingin melintasi benua
bagai burung mengunyah angkasa
bagai sajak cintaku padamu
O! Daratan dan lautan yang telentang
ajaklah nafasku di anginmu
meresapi panas dan hujan
memburu rindu pada tiap detak jantung
menolak debu-debu. Keheningan,
O! Keheningan, datanglah!
sang abdi telah memanggilmu
sebagai kekasih sekaligus budak belian
yang tertikam waktu

Ada matahari surup di dadaku
merindu bulan sabit
tertanduk kekuasaan
Bulan sabitmu tersaruk-saruk
di angkasa batinku.
O! Sang kala yang maha hebat
kembalikan aku pada kehidupan!
mengambil daster-daster rinduku
yang tersangkut di pohonan
segera kukancingkan cinta. Meski
belum usai bermandikan puisi

Ada sujud mengikuti pusaran doa
shahadat-shahadatku bangkit dan menyala
inginku menjadi pengantin
matahari menjadi wali
bulan sabit menjadi saksi
mas kawin adalah nafasku

2.
Ada anak-anak cahaya berkejaran
di pantai kita yang lelah tengadah
langit menjadi kapas bagi tatapmu yang kabut
tanah berlinang embun bagi gairahku
Kita mengejar anak-anak cahaya
melompati rintihan-rintihan pasir
sambil mengusir bianglala

Ada kecemasan yang menguap dari tanah-langit
dipanggil matahari
“Kita tidak sempat melahirkan sang anak yang baik,” katamu
“namun cahaya yang berjejak itu menjadi mimpi kita
barangkali sia-sia.” tegasmu

Ada maut mengintip ubun-ubun
saat tahta, darah dan turunan lenyap digulung
gelombang yang mengancam

3.
Ada dua makhluk yang kukuh di kubur kita
matanya bercahaya. Dan bibirnya bertanya:
Bangsa apa asal kalian? Bar-bar, jawabku
Siapakah nabi kalian? Nabi kesunyian, jawabmu
Apa yang menyatukan kalian di kubur ini? Cinta, jawab kami

Ada mimpi yang menyeretku
Ada harap memaksamu
terasa sakit. Dihimpit. bahkan menyilet
pedih sungguh hidup kita
dalam udara

Indonesia, 2000

Lukman A Sya
Aku dan Bunga-Bunga Itu

Kusampaikan hasrat dan gelagat pada bunga-bunga yang tumbuh sunyi
merindukan musim damai; cakrawala damai; tanah bumi dalam mimpi damai
Tetapi angin sungguh tak bersahabat; bosan pada kata cinta
yang diucapkan dalam pengap. Sebab yang hidup di taman-taman
kejengkelan rumput pada jiwa kemanusiaan yang sengsara
ketika gemuruh dan ledakan-ledakan rasa benci menggetarkan
sungai yang mengalir tenang membagi-bagikan cintanya ke sawah-sawah
yang tak pernah mengeluh.
Hasrat dan gelagatku pada akhirnya sunyi seperti nabi
melihat bunga-bunga kini menangis dalam gigil hidup yang terasa sia-sia
Masih belum juga harum sukma-sukma itu dan dapat menjelaskan
keberadaan yang tentram, orang-orang tak berebut nafkah dalam tengkar
Tapi apakah seutuhnya kehidupan harus dalam tentram?
Pertanyaan yang sungguh membuat penghuni taman doa memekikkan tangisnya
sebab merekalah yang menginginkan siapa pun menuju tentram laut
meski ada gelisah ombak, cemas batu karang serta pantainya
yang merintih
Adalah laut tempat untuk berbagi rasa dan bertukar cerita. O!
Apakah inti kehidupan ada di dalam bunga-bunga yang tumbuh di hatiku
ketika langit telah sembab oleh duka. Jalan-jalan menyimpangkan hasrat
karena tahu di depan ada dewa-dewa kecil yang lebih ganas dari sekedar
fira’un
membuat kerusuhan sebagai ungkapan dari kekuasaan yang pengecut.
Bunga-bunga dan syarafku tegang setelah seharian
mengkhayalkan taman-taman bebas dari sulutan-sulutan dendam
justru menginginkan doa-doa menuju keikhlasan dan kepasrahan
menolak bencana
Maka aku dan bunga-bunga mengharap pada musim mengajariku kesetiaan
langit dan bumi sebagai hasrat yang tak pernah berdusta
Bahwa ia, musim itu, ingin dalam damai. Tak ada murka lagi
yang dilepaskan jiwa-jiwa kemanusiaan yang pecah
karena hasrat dan gelagatku menjadi doa, tatkala hidup yang penuh riuh
menggolakkan kata-kata. Sebagaimana malam masih tetap menyimpan
cahaya bulan. Aku pun ingin terus bermain di bawah cahaya bulan
menyaksikan bunga-bunga yang mulai tersenyum
Masih ada harap yang setia bermimpi dan mencintai segala kemekaran
sebagai isyarat rasa damai telah tiba dalam ayat-ayat yang tertera di
istana cinta. Bunga-bunga itu pun menyapa hatiku yang sendiri saja
mengolah kata-kata, jadi huruf yang baik pada segala kata
Bunga-bunga pun karib dengan perasaanku yang hampir membeku
mencangkungi nasib kemanusiaan menolak kebengisan dan kerakusan.
Taman-taman di muka bumi harapku tak akan bisa ditaklukkan
oleh dendam dan ancaman. Mereka serempak menghimpun diri
dalam doa: Pangeran sunyi-lah yang kuat dan perkasa
menciptakan kemanusiaan jadi hidup; mengembalikan
setiap hasrat dan gelagat ke asal bayangan
Amsal maut yang menjembatani hidup resah ke hidup damai
Maka aku dan bunga-bunga itu sepakat bertegur sapa
dalam duka dan cinta menolak amukan dan dendam. Memahami hidup
sebagaimana nafas hidup memahami jiwa pengembara.
Maka aku dan bunga-bunga itu cukup mengeluh dalam dzikir
untuk kemudian tumbuh di diam semesta menghayati keberadaan
Aku belajar teguh pada kemanusiaan yang diisyaratkan bunga
pasrah pada kehendak langit. Sambil mengukur jalan dengan nafas sendiri
membagi-bagikan cinta sebagaimana sungai yang mengalir tak letih-letih

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Victims Still Must Smile*

Pada pagi yang mencengkram sunyi; sunyi mencakar pagi
langit mengakhiri cerita hujan yang sedih: tinggal
genangan itu seolah abadi mentafakuri kata-kata yang dikorbankan
dan masih harus tersenyum pada tubuh dan jiwa yang mengkhotbahkannya
begitu setia. Mereka menggeliat dalam nikmat yang terpaksa
mencari jawab dari tanya; melepaskan tanya untuk sebuah jawab
seperti paru-paru yang jadi huruf
bagi para serdadu penyair di tengah kancah amuk rasa cemas. Berpeluh
menemukan siapa yang paling ingin menjadi korban kata dan dikorbankan
untuk membusuk menjadi tanah yang masih ikhlas pada genangan itu.
Maka pada kekuasaan sebagai tuhan, segalanya sungguh nyata
Tangan-tangan harus menari; bibir-bibir harus bernyanyi
menafasi bahasa-bahasa yang didamaikan angin
memahami cinta di daun-daun
yang akan sempat gugur sebagai pahlawan sunyi
menyampaikan keriangan yang dimerdekakan burung-burung
di tanah airku yang masih harus tersenyum seperti kalian
yang sengsara kehilangan nyawa; jiwa-jiwa
kembali menguap bersama rasa sedih ke langit seperti kata-kata.
Pada akhirnya,
kata-kata meninggalkan rambut-rambut yang dikusutkan darah kering
meningkahi persoalan yang gentayangan sebagai setan
yang berpaling dari taubat pagi

Indonesia, 2001

*) judul puisi ini dicuri dari judul lukisan Toto Sugiarto

Lukman A Sya
Kalau Langit Sudah Marah Begini

Kalau langit sudah marah begini
hujan terus-menerus bersedih
mengguyur kelahiranku. Angin
mengajak pohon-pohon
ikut menari dalam doa. Sampai tegas
siapa yang terjungkal hari ini
menemu sang nasib di kehendak
darah dan air mata

Kalau bumi sudah muram begini
lampu-lampu pada mati; tanah-tanah
mengenang rasa cemas sepanjang was-was;
jalan-jalan memanjang dalam kekeruhan
tabiat. Apakah matahari
masih mau menyalakan sunyi di hatiku?

Kalau bumi sudah parah begini
apakah angin dan hujan masih ingin
memperbaiki musim kuasa? Langit dan bumi
bersepakat dalam khusuk menciptakan istana
cinta. Dan aku melihat diriku dalam
bayangan cahaya lilin, menjadi nyinyir
pada yang masih bergerak sebagai ancaman

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Ketika Sunyi Menciptakan Tuhan

Ketika sunyi menciptakan tuhan
dan tuhan menciptakan sunyi
aku merajut kain hidup untuk menerima
kebangkitanku sebagai jarum yang menolak dukalara;
sebagai yang hidup dalam puisi;
sebagai yang menghasilkan mantra-mantra
memaksa mimpiku harus nyata

Ketika sunyi mengkhianati nabi
tuhan mewartakan kabar buruk
bagi rasa liar dan ular kata-kata
karena nabi telah membakar semak-belukar yang jahat
O! Kadal sunyi. Jangan kau tatap lagi aku
sebagai katak kecil yang mencintai rasa laparmu!

Indonesia, 2001

Lukman A Sya
Berjalanlah

Berjalanlah seekor harimau dengan rasa lapar
dalam pikiranku. Ia mencari. Tapi kepincangan kaki
menjadi yang maha agung untuk tidak berangkat
ke mana pun. Diam sesaat sambil merasakan nyeri.
“Padahal aku butuh kekuatan untuk menaklukkan rimba,” katanya
Air mata seperti tak bosan-bosan keluar dari sumber kesengsaraannya.
Apakah arti sengsara ketika justru kehidupan ini sesungguhnya
sengsara?
Seekor harimau tidak menjawab duka lara dengan doa
Doa hanyalah ruang untuk semakin melacurkan diri dan menunjukkan
kedunguan diri yang sebenarnya di hadapan tuan Tuhan
Kepada siapakah ia harus mengembalikan seluruh keyakinan
bahwa dirinya pasti ada yang membimbing ke arah cahaya?
Seekor harimau cuma dapat mengenang masa lalunya yang manusia.
Sedangkan perasaanku berkaca-kaca
merasakan yang tak pasti

Indonesia, 2000

LUKMAN A SYA

Keajaiban yang Maha Ajaib
Dan Langit Merunduk pada Cahaya
Kita Berdzikir di dalam Kata

Kalimat-kalimat cinta menyebar
di langit Allah. Matahari mencecap
bumi yang bergetar kasmaran
Huruf-huruf tauhid memancar
dari dadaku menyerap tatapan Allah
dan mataku mengisahkan dzikir

Langit merunduk pada cahaya
sedangkan kalimat cinta yang terbayang
terhuyung-huyung. Menjadi awan diseret angin
dan gaib dalam kenyataan yang biru

Di puncak keagungan Allah
tak siapapun mengelak
dari restu maupun kutukan:
Seekor kucing telah menjadi manusia
di gendongan ibunya
dan manusia berubah kucing garang
di panggung peradaban

Indonesia, 1999

LUKMAN A SYA
Tiga Bait Sajak

Angin dan rintik hujan
mengirim bencana di suatu hari
yang redup
“Kami sadar betul, Tuan
tak ada yang pantas kutangisi
misalkan anak sendiri menjadi maling
dan memperkosa.”

Bukit-bukit yang nungging ke langit
dan matahari yang memar
berkemeja awan mendung
menanti kiamat sambil berkawih
“Kami sadar betul, Tuan
keindahan cuma fatamorgana
yang bimbang dan ragu.
Lambat laun ia bunuh diri
Adapun comberan tempat kencing nyonya dan tuan
sorga bagus yang terlupakan.”

Mesjid dan gereja yang menyatukan hasrat
mencapai Allah. menggugurkan air mata:
Ada yang layak dihancurkan
Ada yang kekal dikhotbahkan
“Kami sadar betul, Tuan
gelap tetap cemas, siang tetap gamang.
Yang telanjang itu perawan
yang merana. Seperti negara.”

Indonesia, 2000

Lukman A Sya
Berbicara Dengan Diri Sendiri

Berbicara dengan diri sendiri berarti aku mengeraskan kata-kata pada
kekasihku
disaksikan ibu. Dan adikku mencibir karena takut kehilanganku sebagai
diri sendiri. Mata yang cekung karena semalaman gelisah menunggu langit
yang belum juga sujud
Aku terus-menerus membaca keresahan mimpi di antara alis mega-mega dan
angin yang telah lama menciptakan ruang penciuman untuk merasakan
bau siapakah ini yang bertukar nafas dengan pohon-pohon
Rambutku yang berminyak yang dijaga telinga-telinga labil
masih mendengarkan doa cakrawala. Tempatku mengibaskan rindu sebebas mungkin
Aku masih berjaket sunyi menaklukkan kekasih yang sedikit keras kepala
karena tak paham kandungan prosa jantungku yang terus berdenyut
mengikrarkan puisi-puisi. Leherku dengan buah jaqun yang kurus menyimpan
jalan bagi kenangan dan kepahitan nasib. Sementara kulitku yang
membungkus kesetiaan, berdagingkan yang paling sejati. Setia pada urat
dan syaraf yang mengantarkanku pada khayalan matahari
Bibirku yang tebal tak takut pada cuaca: apakah musim yang demam
pada kemarau atau hujan yang demam pada musim?
Aku akan terus melafalkan nyanyian-nyanyian perih dalam kegembiraan
huruf-huruf
Sampai pagi kembali aku tidak akan menggantikan langkah-langkahku
tetap sebagai ombak yang berguru pada pantai hatimu
Aku akan terus menumpahkan hasrat sukma yang menjadi perahu
Aku tidak takut pada benturan atau karang yang diledakkan!

Indonesia, 2001

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 − = two

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>