Sajak-sajak Tiar “iyang” Rahman

puisi kelima belas

sudah kuterima rindumu
yang kau titipkan pada jernihnya sungai
di desa kita dahulu
yang kadang keruh
karena gembala memandikan kerbaunya
sebelum beranjak pulang
:”AKU PUN RINDU”

sudah kudengar salammu
yang kausampaikan dengan kokok ayam pagi hari
dan burung pipit yang bernyanyi di jendela hati
bangunlah….
:”SALAM JUGA BAGIMU”
(semoga selamat, rahmat dan berkah Alloh terlimpah untukmu)

sudah kusentuh kecemasan dan tangisanmu
yang kausampaikan lewat suratmu
yang kau berdiri di serambi rumahmu
menanti hari-hari
akankah ku kembali?
:”INSYA ALLOH AKU ‘KAN KEMBALI”
Puisi ke sembilan belas

ramai nian burung walet di pagi ini
nan bercuat-cuit beterbangan
di bawah jembatan, di pucuk sungai enim
masih pagi, masih sepi
akh… andai aku punyo sayap
aku nak melok kamu
melintas dan meyambar-nyambar bayangan di banyu
sekali-kali mengangkaso dan melewati jembatan besi
tentu seneng nian hati ini
dan kalo kamu ngerti bahasoku:
“hai kanceku….. aku sedang merindu

Puisi ke dua puluh lima

terkurung dalam kungkungan bukit barisan
aku hanya bisa menerawang
langit malam yang tiada berbintang
aku ingin pulang
kala siang datang menjelang
hanya kulihat layang-layang diatas awan
mungkin dari atas sana
bisa kulihat kampung halaman
pada kungkungan bukit barisan
aku hanya ingin mengakhiri penantian
rindu sungguh di hati meradang
aku ingin pulang…

PUISI KE DUAPULUH

pada mata yang berkaca-kaca
kucari dusta, tetapi tiada
walau sudah kucari di semua sudut matanya
pada mata yang berka-kaca
kucari duka, juga tiada
sebab senyum di bibirnya mau berkata
:”Aku tak pernah merasa susah”
lewat mata yang berkaca-kaca
ia hanya ingin bicara
:”Jagalah titipan rinduku untukmu”
PERJALANAN

jalan berkelok menghentak
tajam
lebih menghentak di banding jalan puncak
lebih gelap dari jalan lintas sumatera
terguncang-guncang dalam bis
tanpa suara
CITEPUS 1

adzan shubuh bersahutan
dan ombak berdebum memecah pantai
menggemuruh, meledak
gelap
sesekali kilat tanpa suara
menerangi angkasa
lampu-lampu kapal dan lampu di anjungan
berkelap-kelip manja

kuasa-Mu Tuhan…
indahnya
ANAK GUNUNG TURUN KE PANTAI

anak gunung turun ke pantai
pikiran bingung jadi santai

anak gunung turun ke pantai
hati yang pundung menjadi damai

anak gunung menjadi anak pantai
tak ada murung, semua bersorak sorai….
CITEPUS 2

mandi di laut?
nanti dululah
tetapi serasa ada yang memanggil

“berubahlah kalian semua menjadi anak kecil
berenang …… menjemput ombak
membuat istana pasir
jadilah anak kecil
memercikkan air, saling melempar pasir”
CITEPUS 3

“Om tiar… Om Tiar..
ke tengah laut Om…”

jangan terlalu ke tengah laut, berbahaya
di sini saja
mari kita pukul ombak yang datang ….byur..
kita tendang…byur
sekarang duduklah membelakangi ombak…
ha… ha… kita terbawa gelombang

“Om Tiar… lebih ke tengah lagi…”

Ya… boleh tapi tetap hati-hati.
CITEPUS 4

“Om gendong Om…..!”

ya… ya…
coba lihat ombak itu
byur… ha..ha..

“Om ada kerang!”

ada isinya enggak…. bawa pulang aza
eh jangan deh… dilepas saja di pantai
lihat saja dan biarkan ia bebas…
PAK GEMBALA

berjalan sendiri dengan kerbaunya
asyik mengayunkan cemeti
menyusuri pinggiran pantai

“Cepat ambil gambarnya!”

yah enggak keburu
pak gembala tetap asyik sendiri
sambil mengayunkan cemeti
membunyikannya di angkasa
terus berjalan
entah kemana
I-M-U

kutuliskan di atas pasir
kira-kira tak tersapu ombak

“Yant… IMU”

tapi ombak tetap datang
membawa serta pasir dan tulisan

aku tersenyum
“Bukan seperti ini rindu dan cintaku padamu”
KARANG KAWU

ombaknya lebih keras
lebih menggunung
pecah di karang
karang-karang yang indah

gelombang air yang menggunung
pecah di antara karang
menjadi putih berbuih
buih yang berbisik:
“Penuhi aku dengan sayangmu,
Sapa aku dengan puisimu!”
SEANDAINYA

pulang yang diguyur hujan
menyusuri tapak jejak yang kemarin
deras bersenandung meninabobokan yang lain
aku terjaga dalam hujan

“seandainya kau ada bersamaku
bersama-sama mengukir kenangan di pantai itu”

17-18 Oktober 1999
Bangun…..

seribu bunga sedang bersemi merekah
di tepi jendela kamar
semerbak harum menyengat
menggairahkan,

walau kau tak sempat datang
sekilas senyummu
padamkan api resah jiwa

walau kau tak melihatku
tersenyum riang serasa terbang
tapi dengarlah:
“terima kasih……..aku sayang kamu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *