Sajak-sajak Togog Tedjasomantri

Di Awang-awang ku tulis namamu N,…..

Seperti sore tahun kemarin N,
aku masih memerlukanmu
merapikan peta perjalanan
dan menyusun perbekalan
sebab kita akan menuju ke arah barat
tempat matahari pulang
tempat senja mengunjungi kelopak mata
tempat harapan kita pernah disimpan
disimpan di arah barat

Di awang-awang kutulis namamu N,
agar bisa terlihat dari sembarang sudut
atau ketika kau buka jendela
yang pertama terpandang bukanlah awan
adalah ucapan salam itu
salam sebuah kerinduan yang patah
tertulis dengan jelaga
sebab,
aku sudah tidak punya pena

Seperti gerimis oktober tahun kemarin N,
air itupun adalah warta
dimana semua rasa bisa terwakili
entah sepi ataupun keterasingan yang ada
di antara kita
tak pernah ada titian yang bisa dilewati
di antara kita
selalu mendung yang membatasi,

Di awang-awang kutulis namamu, N….
agar bisa dikabarkan sang elang
bahwa perjalanan in masihlah teramat panjang

Milosevic : Salam Sejahtera

Milosevic : Salam sejahtera,
salam dari dari kaos oblong prajurit yang tergontai-gontai ketika
memperkosa, dari senapan-senapan tentara ketika menyiksa, dan dari
kemaluan-kemaluan serdadu ketika perintah bantai dicerna.

Milosevic : Salam sejahtera,
salam dari janin-janin yang telah di kremasi, ataupun janda-janda
yang dikuliti, demi muntah dan buang air yang bernama serbia raya,
salam sejahtera dari kami, para bayi yang diinjak masa depannya,
anak-anak yang digadaikan hari tuanya.

Milosevic : Salam sejahtera,
salam dari darah serta nanah yang telah dikumpulkan lalu  kau jadikan
kasur dan bantal,tempat diatasnya kau bersenggama dengan impian,
impian terbentang, dongeng yang memuakan; serbia raya.

Milosevic : Salam sejahtera,
salam sejahtera dari tembok-tembok penjara tempat tawanan tak tahu
kesalahannya, tempat para manusia dijadikan titik terendah dalah
kodrat, atau bisa kau dengar juga salam sejahtera dari lubang-lubang
kusam persembunyian, tempat satu keluarga yang pernah kau musnahkan
dengan sianida.

Milosevic : Salam sejahtera,
salam sejahtera dari langit yang berawan mesiu, berhujan peluru,
bermatahari kematian…..

Salam sejahtera dari neraka.

togog.

note : milosevic pada 6 Oct pukul 01.23 GMT dinyatakan
       melarikan diri meninggalkan tahta serbia raya
       yang diimpikannya.
       (Reuteurs & APF)

Yudhistira ( kepahitan kemenangan

Adakah yang salah dengan kemenangan itu Yudhistira?
sehingga kau menangis dan meratapi perang dengan kegemilangan itu?

Lampu bergantungan, bergoyang ditiup angin astina yang kencang,
tiang-tiang istana yang kini tak ada pemiliknya lagi, terdiam pucat
seperti merasakan, bahwa setelah perang sesungguhnya tidak ada
kemenangan.
Alun-alun kerajaan yang berdebu sepi, seakan sangat tahu, bahwa
beratus hasta jarak dari sana terdapat pula alun-alun kematian.
Kematian sebuah masa depan.
Pandawa tidak mempunyai musuh lagi, tidak ada lawan
maka kehidupan berhenti pada keadaan itu, cerita akan berganti.

“Duh saudaraku Kurawa yang waskita, apalah artinya kejayaan ini,
manakala kekuasaan hanya menemukan getirnya penderitaan, kekuatan
hanya menemukan kematian, istana besar dengan kamar kamar berisi
suara ajal, adakah engkau mendengar saudaraku, kenapa yudha itu
mesti terjadi, saat sesunguhnya kita bisa bercengkrama bersama
sebagai saudara atau setidak-tidaknya sebagai manusia”

Tak ada sahutan,
masih suara lampu istana yang berayun-ayun,
alun-alun yang berdebu sepi.
Kenyataan bicara, peperangan tiada guna
apalagi debat dan umpat
yang tidak melahirkan kata sepakat,
Yudhistira termangu, memandangi balustrada singgasana astina, disana
ada sesuatu yang terbayang samar,
kematiannya……………..

Oo israeli….

Oo israeli…
tanah asing, kuning gading dan kidung buldoser perata nasib,
manusia-manusia munafik penghamba ayat dan keturunan berserak
mengubur nurani.
bermandi darah atau bersendawa dari makanan nanah,
tak cukupkah wahai engkau pendusta, menggerogoti nilai asasi dari
atas kepala sampai kaki manusia.
tak cukupkah engkau wahai pemerkosa, memenjarakan naluri kami dengan
dongeng dan dusta.

Oo israeli,
anak-anak kami tak kan berhenti lari melempar batu sekepalan
ketika peluru menyambut salam dan rentangan tangan,
tidak akan engkau dapatkan segala harapan
sebab dirimu sesungguhnya adalah kutukan zaman
terkutuklah bangsamu yang terkutuk
terkutuklah manusia-manusiamu terkutuk
terkutuklah pikiran-pikiranmu yang terkutuk
terkutuklah masa depanmu, masa depan terkutuk
terkutuklah kematianmu, mati  terkutuk
bertekuklah wahai isareli terkutuk.

Bisma

ah..Bisma, resi agung penyejuk kurusetra
kematianmu begitu indah, teramat indah,
bahkan matahari pun dengan sengaja meredupkan angkuhnya
genderang perang pun bersuara kidung pujian.
Sesungguhnya apa yang terjadi ya resi yang agung?
ketika darahmu mengucur
dan setiap cucuran darah itu menumbuhkan melati dan kamboja,
bunga kehidupan dan cinta
serta bunga kematian dan petaka
ataukah aku teramat sederhana menilai arti sebuah pengorbanan.
Menderitakah wahai engkau resi yang agung,
ketika ratusan anak panah
menyangga tubuh dan kepala menghadap ke arah anak-anakmu,
pandawa dan kurawa yang masygul dan takabur dengan perangnya,
tersedu menunggui jasadmu.

Menderitakah wahai engkau resi yang agung
ketika sumpah setia ternyata
hanya alat untuk lebih memunafikan arti kita sebagai manusia,
manusia yang kadang diperbudak oleh hawa nafsu dan pura-pura.
atau ketika etika tidak lagi bisa bicara
begitupula kekuasaan meluluh lantakan perbendaharaan hidup
ataukah masih sering engkau berucap :
“Ah Setyawati, ma’afkan aku,jika kelak aku tidak bisa menemanimu
mengunjungi hati nurani, keturunan, dan rindu datangnya malam,
sebab segala bentuk pengorbanan dan  pembelaan untukmu telah
tergadaikan pada kurawa, sang pemilik hati nuraniku”

Maka dari itu ya Bisma,
di akhirat kelak, kabarkan pada para penghuninya,
kehidupan kita adalah bukan milik seseorang
apalagi budak manusia lainnya
kehidupan kita adalah hanya milik pencipta kita,
selamanya…

tedjasomantri

Karna ( simalakama balas budi)

o Karna anakku,
diantara dentingan pedang,
hujan panah dan anyirnya darah di perang Bharat ini,
sesungguhnya apakah yang engkau bela?

“Bukan panji ataupun dengki yang aku pertahankan, namun rasa jasa
yang tak terkira yang ingin aku kembalikan”.

ya, Karna.
Balas jasa adalah sebuah utang yang maha berat melebihi beban kita
sebagai manusia, itupun masih ditambah dengan berat beban dari
seluruh isi alam yang menyaksikan ataupun langit yang menjadi saksi
atas sumpah sang manusia ketika ia bernazar dengan kalimat dan kata.

Sekali lagi, balas jasa adalah hutang. Ya..Karna anakku,
maka jangan bermain-mainlah dengan hutang, baik itu hutang raga
apalagi jiwa kita, sebab jika kita tidak mampu membayarnya
hidup kita sebagai manusia sudah menjadi setengah dineraka.

“Lalu apa hutang jasa jenis apakah yang harus engkau bayar wahai
Karna
yang mulia ?”
“Hutang jasa akan harga diri!”
“Ah..tingkatan terberat dari semua jenis hutang dalam penilaian
manusia dan pencipta, lalu dengan apa kau membayarnya?”
“Dengan harga diri pula!”
“Caranya wahai anakku?”
“Menggunakan akal dan gondewa!”
“Untuk siapa?”
“Para pandawa keparat dan pemakan bangkai saudaranya sendiri!”-

Ah..Karna sang putera Surya,
persaudaran adalah semu manakala dia menemukan jatidiri
masing-masing,
sang kakak banyak yang memperkosa adik-adiknya, sang adik banyak yang
menelikung kakak-kakaknya, namun yang paling mengerikan adalah
persaudaraan semu antara nafsu dan cinta.
banyak manusia tidak bisa mengelak dari keduanya
pun itu Adam dan Hawa.

(Sang raja pucat itu pun berdiri memandang langit merah di padang
kuru, tempat bangkai manusia, harga diri dan mati berwarna kuning
abu-abu)

padepokan tedjasomantri, 12 Sept

Cakil ( kesirikan kota maya )
(dedicated to spammers, hackers, and bouncers)

Nun jauh dibawah keramaian kota,
sebuah kota maya, internet namanya
tanpa batas jarak dan bebas dari putaran waktu,
ada seorang mahluk yang selalu berjalan dengan perutnya,
menggelosoh-gelosoh membuang sisiknya yang anyir
dan bau amis oleh terpaan hujan asam dan air got kota maya.
Mahluk mengenaskan dan menjijikan itu selalu mewartakan
tentang kebencian, tentang kesirikan, dan tentang….pornografi.
“Alhamdullilah, dia tidak hidup di dunia kita”.
“Emang dia bener  ada gitu wak haji?”
“Ada anakku, mahluk seperti itu selalu memakan kotorannya sendiri,
selalu minum kencingnya sendiri (interupsi!, sekarang kan lagi
trend terapi urine, jadi kan gak pa-pa kan wak haji?)
selalu memelototi puser dan tete’ anak kandungnya sendiri”
“Ih amitz-amitz jabang cumi ”
“Jangan bilang begitu anakku, kita kudu ngehargai eksistensi mahluk
seperti itu”
“Siapakah namanya wak haji?”
“Namanya sih tidak tau, tapi yang jelas dia masih satu ordo dengan
buto cakil, pemakan orok dan penghirup segala yang bernama tai kecuali
tai besi alias karat””Kok wak haji tau?”
“Ya..tau dong, semangkin kita tenar, semangkin cepet mahluk itu mengikuti
kita”

…..Ah wak Haji Jalil yang terkasih, terima kasih telah memberikan
pencerahan,
ternyata hidup itu begitu penuh dengan cobaan,jangankan di dunia nyata
di dunia maya pun kalo kita tenar, banyak yang nyirikin…
ai..ai….butoooo cakillll ternyata engkau ada dan hadir disini..
ngik…ngik..ngik..ngik….

Tuhanku ( do’a seorang pengungsi)

Tuhanku, bila do’a-do’a diseru, sesungguhnya dimanakah Kau bertahta
Tuhanku, bila do’a-do’a diwakili oleh suara perut lapar,
dimanakah kebun-kebunMu?
Tuhanku, bila mata-mata kecil, kuyu mengantri air jernih dipengungsian
dimanakah sungai-sungai mengalirMu?
Tuhanku, bila kaki-kaki kerdil terjinjit-jinjit menopang ketakutan entah
perang, entah kebencian,
dimanakah tentaraMu?
Tuhanku, bila tangan-tangan legam mengetam gandum dan padi yang terporanda
oleh hama dan bencana,
dimanakah penjaga-penjaga bumiMu
Tuhanku, ma’afkan aku dengan pertanyaan-pertanyaan lapar itu…….

———————————————————————
note : tifus, pneumonia, malaria, TBC, diare dan mati adalah teman-teman
mereka kurang lebih 800.000*) pengungsi tersebar di bumi pertiwi,
tanah dan air kita sendiri. Aceh, Ambon, Bengkulu, Atambua, Menado, Sukabumi,….
mereka di dekat kita, dekat dengan selimut dan tempat tidur kita…

*)sumber Kementrian Pemukiman dan Pengembangan wilayah
statistik September 2000

Gurindam 44 (anti athiest)

kala matahari berputar melangkahi jagat
tak terasakah kau hanya seonggok jasad
ada yang mimilikinya dialah yang Maha Ahad
takabur sombong penuh pastilah berakibat

wahai mahluk yang merasa adil dan pintar
jika disuguhkan persoalan kaupun bercerai berai
tapi jika kesenangan hidup datang kalian besorak sorai
sesungguhnya hidup itu sandiwara yang sebentar

tidurlah kalian jika malam datang
cari rizkilah jika siang menjelang
namun jangan lupakan do’a dan sembahyang
jika kau tolak kuasaNya, kepahitan pun menghadang

asam kandis asam genderang
ketiga asam joget tarian malam
dalam kubur menangis dan mengerang
ketika hidup lupakan Islam

Gurindam 44 (II) ( hak asasi)

pada suatu batas imajiner tentang warna hak asasi,
jika digelontorkan pada sebuah bidang persegi
maka hak asasi itu berbentuk sebuah candi suci
dimana para pemujanya siap membela hidup atau mati

hak asasi selalu bersembunyi diatas dogma
mengalahkan takut, pura-pura dan agama
namun haruskah hak asasi itu harus begitu lantang
sampai sebuah ajaran agama sempurna pun dirasa kurang

dengan hak asasi kalian perkosa kehidupan
dengan hak asasi pula kalian mencari makan
tak maukah engkau terbang pulang
ke tanah air yang tlah kau anggap hilang

kehidupan adalah bola nisbi yang berputar
hak asasi pula yang bicara ketika agama dihina
merasa diri yang paling benar dan pintar
tak terasa akhirat menunggu dalam pose neraka

sesungguhnya hidup adalah untuk dinikmati, katanya
tetapi mengapa hak asasi kau jadikan tuhan kembarannya
di ujung ajal baru terasa siksanya
maka hiduplah damai dalam Islam senantiasa

salam,
togog

Menantang hujan (atawa peradilan daripada Soeharto)

Palu, taplak hijau dan kursi pesakitan
yang bergoyang-goyang di tiup kekesalan jutaan nurani
penutup mata dewi keadilan telah hilang
dicuri puluhan orang yang menantang hujan
hujan bukan sembarang hujan
tapi hujan yang telah memporandakan keadilan
keadilan hati, keadilan rakyat banyak.
Palu, taplak hijau dan kursi pesakitan
yang di basahi kencing jutaan anak di pengungsian
tak terduduki oleh sang buruan,
sebab sang buruan sedang bergelimang dengan kepikunan,
“Apakah saya pernah membunuh, nduk?”
“Ndak pernah romo, romo adalah sang purnabakti, penggenap
jiwa karsa, penderap jagad pembangunan.”
“Apakah saya diktator, nduk ?”
“Bukan romo, tak terlintas dibenak rakyat banyak, bahwa
romo adalah diktator, romo adalah sang negosiator, sang
pengumpul dana agung, sang pengutang suci bagi api keabadian
keturunan..”
“Nduk, apakah bendera kita masih merah putih”
“Masih romo, dan mungkin selamanya merah putih….”
“Lha itu !, yang kliwir-kliwir dimana-mana disetiap desa di tipi ko
warnanya biru, terus ada bacaan UNHCR itu benderanya sapa nduk..?”
“Ohh…itu romo, itu adalah bendera penghormatan kepada romo, sang
demokrator sejati tanpa tanding, bendera kenangan tentang konsep
romo menghidupi orang banyak dengan lahan sejuta hektar…”
“Lalu Nd…”
“Sudahlah romo….hari sudah larut malam, romo tidur dulu yah, nanti
besok kita ngobrol lagi sambil makan nasi kebuli dan tahu
isi…cupp..romo tidurlang romooo…”

Jl. Cendana baru pukul lima
hujan ditantang mahasiswa
hujan ditantang penjaga
hujan ditantang manusia
manusia menyisakan sejarah
sejarah tak terlewat
ketika sang penghutang agung itu pun terlelap dalam mimpi sekejap
tentang pembangunan bendungan, lalu jebol
peresmian pabrik kimia lalu bocor,
berbau busuk
menebar di seluruh ruangan
Palu, taplak hijau dan kursi pesakitan
yang bergoyang-goyang diterpa hujan kesorean…..

 Dursasana ( season in the high libido)

“Kesini budak ….ha…hah.ha…bertelanjanglah…..layani aku…
puaskan aku budak!..bertelanjanglah!”

sang angkara itu terengah-engah penuh birahi seperti sang babi,
menarik helai demi helai kain yang mengayomi tubuh putri sang Drupadi.

“Hah..budak….siapa suruh kau mengenakan kemben yang berlapis…
toh kini kau sudah jadi milikku..milikkuuuu…hahhhhaaaa…!”

Langit menangis, para pandawa meringis, taruhan ini begitu tidak
adilnya, taruhan antara harga diri dan kesucian menjadi bias dan
pudar sampai ketitik nadir penghabisan.

“Hah..budak…layannniii akuuu!”

Sang durjana Dursasa menggembor dalam kubangan libidonya, dalam
puncak kehausan birahinya, namun adakah lebih dari itu kenistaan bisa
dipersembahkan dari sel-sel syaraf sadar, bahwa kita lahir pun
terlahir dari birahi, menghirup udara jagad dari nafas birahi.
Birahi suci.

“Drupadiiii…bertelanjanglah…..layani akuuu keparattt…!”

Garis takdir dan garis kodrat begitu tipisnya, sehingga kadang kita
sebagai manusia terlalu sering menggadaikannya, tidak terkecuali
waragad sang sucipun telah ditumbalkan hanya untuk keegoan dalam
perjudian yang menyayat hati.
Birahi dan kasih sayang punya perbedaan yang begitu signifikan, kasih
sayang bisa menghasilkan sang anak dambaan, sedang libido kusam yang
dibungkus birahi buram, bisa kita hambur-hamburkan di kolong jembatan
atau pun emperan toko sepanjang malam, sepanjang jalan…
Ah..perempuan…sang kesucian,
terimalah birahi dari rasa kasih sayang, pupuk dan sirami tunas
keabadian itu, kita lihat begitu indahnya tumbuh dan
berkembang,menjadi putera hidup, anak keturunan,
tidak seperti kita melihat sang durjana Dursasana, menuhankan
adrenalin kotor dan hormon comberan, membungkusnya atas nama
kebebasan dan memamahnya seperti binatang

Drupadi (hablurisasi birahi)

ah anakku Drupadi,
sang rupawan,
maha dewi impian para dewa dan sanghyang
gelak tawa Duryudana dan rintihan Dasarata
adalah tangisan sesungguhnya
dari hidup dan kehidupan.
Ketika judi dan undian harga diri berhablur jadi satu,
engkau terperangkap diantara birahi iblis
dan asmara sang angkara.
Namun Drupadi,
yang lebih penting adalah
kesucian jalan hidupmu itu sendiri.
sebab disanalah engkau harus meniti
tanpa lima suami yang hanya termangu
memandangimu ketika sang murka ingin melihat dan mengunyah kesucianmu.
berlapis kain dan berpuluh tirai tubuh itu adalah anak-anakmu,
dari sang bunda keabadian yang tak pernah tahu apa arti dusta,
sombong dan kepicikan berpikir.
Drupadi anakku,
manakala manusia dengan amarah dan nafsu yang sebesar bukit kurusetra
ingin mematikan agni kerinduan akan dogma
ataupun agama suatu cipta sang Ilahi,
sesunguhnya ia teramat keliru, sebab hasta dan karya itu harus
terus menemui sang pembuatnya.
Selalu dan selalu begitu.
maka jika engkau rindu akan Khalikmu, temuilah ia dengan wadag lembut
semampu yang engkau bisa hantarkan, ajaklah Dia bicara,
kenapa manusia lahir berbeda,
kenapa manusia lahir dengan birahi
dan angkara.

salam sayang dari buyutmu,
Togog, padepokan tedjasomantri desa lemahwungkuk kecamatan Indihiang

Yamadipati

o Yamadipati, adikku
kehidupan bumi, langit dan sembarang kutub
apakah cukup panjang jika waktu itu kau juga jaga
dari rasa bosan dan keinginan untuk triwikrama
manakala melihat manusia banyak yang begitu tidak membumi,
menepuk dada
padahal kaki dan bayangannya menginjak anak yang tanpa bapa
padahal kaki dan bayangannya menyetubuhi lapar sang janda

o Yamadipati, adikku
telanjangilah diri dibawah matahari
sebab dia dengan sukarela akan menunjukan
dimana segala nista kita.
pun kita sebagai dewa
atau hanya kura-kura
yang mengejawantah dan ingin dipuja serta disembah

hidup,
mati dan air adalah buku suci
tiap kaca dan kata-kata nya adalah masa depan
jika kau salah membalik apalagi membaca
penyesalan dan ratapan adalah senantiasa-
o Yamadipati, adikku
jangan kau pedulikan ajaran tentang cinta
jika masih ada manusia yang didera dahaga
jangan kau pelajari arti tentang jiwa
jika masih ada manusia yang saling menghamba sesama
jangan kau sentuh sebuahpun dari berpuluh macam surga
jika hatimu masih tak percaya adanya Sang Maha Kuasa

salam kangen dari jauh, Togog , kakakmu.

Sokrasana (plus minus jasmani)

“Kaniaya kakang Sumantri…..kaniaya….!”
lalu roh sang adikpun menari-nari menembus batas kaki langit menuju
keabadian sang cerita.
Begitu dalam rasa malu akan makna jasmani, tali raga keluarga pun
dipentang seperti busur tanpa arah, jauh dan tanpa bisa diikuti.
Rasa malu akan kekurangan sifat jasmani itulah sifat yang sangat
berbahaya. Dan Sokrasana adalah tamsil tumbal yang indah akan rasa
ego dan gengsi yang mengalahkan kamanungsaan jiwa perjiwa yang
bernama manusia.
“Sumantri, kenapa kau bunuh adik yang begitu sangat mencintaimu?”
“Karena dia denawa yang buruk rupa baginda”
“Buruk dan rusak rupa tidak menandakan dan menggeneralisir sifat
bathinnya anakku”.
“Tapi saya malu punya adik sang raksasa kuntet paduka, sedang saya
ksatria emas yang berhamburan wibawa serta kasta tertinggi dalam
tahta punggawa ”
“Ah, kau masih saja membawa wibawa dan tahta jika bicara tentang
cinta anakku, cinta seorang saudara adalah bening seperti tetesan
air di batang bambu, menyejukan dan itu bukan kepura-puraan seperti
cintanya para pelacur di Alengka sana”
“Tapi saya menyesal baginda”
“Penyesalan adalah penundaan akan perbuatan yang berikutnya, persis
sama namun dengan kadar yang berbeda”
“Lalu saya harus bagimana paduka”
“Duduklah engkau dengan tu’maninah diantara batas khayal dan
atra tentang rasa ego,wibawa, cinta dan mati. Turutilah apa kata
hatimu, jika perlu bertanyalah kepada manusia yang sok berwibawa dan
egonya melebihi ego sang pencipta ruang dan jarak, bahwa manusia
tercipta dengan sendirinya itu benarkah?”
“Evolusi maksudnya paduka”
“Ah…teramat sederhana dan betapa kasihannya manusia yang berpola
pikir seperti cicak merindukan gozilla itu anakku”.

Sumantri pun termenung ingat akan roh Sokrasana adik yang telah
dibunuhnya…..
apakah roh itu juga berevolusi, menjadi kupu-kupu atau menjadi sang
penanya picik…..aku berpikir maka aku ada!

jakarta, sept 2000
togog tedjasomantri

Bima ( polarisasi sumpah )

 Alam raya meringis, langit pun menangis, ketika sang satria agung
bersumpah membelah jagat, ketika kata-kata mengalahkan ketakutan,
ketika amarah menunggang dendam.”Aku bersumpah atas nama yang menguasai
hidup!,

“Aku bersumpah atas nama yang memberikan nama!
kan kuminum darah sang durjana Dursasana, tanpa sisa,
jika kelak ada yudha, ataupun itu ada bencana!”

Ah Bima, anakku, mengapa harus seperti itu, ketahuilah bahwa segala
macam
sumpah adalah sampah, sumpah adalah untuk yang tak berkemauan hidup, tak
sadarkah kau banyak manusia yang telah bersumpah dan semua itu palsu.
Sumpah pemuda, itu palsu, mana bukti sampai sekarang semua pemuda dari
semua suku mau bersatu.
Sumpah pegawai negeri, itu juga dusta, mana ada pegawai negeri yang
untuk makan, pagi ada tapi tidak buat sore, berderma bakti terus menerus.
Sumpah si kate Lenin itu juga silly, sumpah si goblok Mao, atau sumpah
si tolol Nguyen Ngoc Loan*) pun adalah dusta semua!
“Tapi,”
“Tidak ada tapi-tapian!, engkau hidup, dan menjalaninya itu adalah suatu
sumpah dari sang pemilik Maha Purba dan keabadian..”
“Tapi, ”
“Tidak ada tapi-tapian!, sumpah tuhan tidak perlu pembuktian, ataupun
debatan, dengan menikmati hujan engkau bisa rasakan, dengan memandangi
langit engkau bisa lakukan””Tapi,”
“Tidak!, sekali lagi tidak ada tapi-tapian, hidup itu mengalir ke arah
muara kematian, tapi mata airnya tentulah ada yang menciptakan, dengan
sumpah tentunya, yang kadar dan tujuannya jauh berbeda dengan sumpah
kita sebagi manusia”

Sang Bima pun termenung, dan kelak terbukti dia  menuruti sumpah hawa
nafsunya nya dengan membelah dada Dursasana, meminum darah dan memakan
jantungnya, di perang yang berhawa nafsu pula, Bharatayudha.

*) Nguyen Ngoc Loan : kepala pasukan keamanan republik Vietnam Selatan
bersumpah bahwa dia tidak akan membunuh seorangpun musuh² perangnya,
tapi disuatu siang yang pucat dia melanggar sumpahnya dengan menembak
kepala seorang serdadu vietcong dari jarak 25 cm dengan Smith & Weston
pada senin, 21 September 1968, 32 tahun dari sekarang.
(associated press )

jakarta, sept. 2000
togog tedjasomantri

Kepada N,
Hari ini genap 29 Tahun, segalanya masih sama
kaki-kaki kecil yang dulu merangkak
dan tangan menggapai mencari pegangan,
kinipun begitu,
namun pegangan nurani yang dicari,
sebakul nasi yang diburu
seperti dulu memburu air susu ibu.

Hari ini genap 29 tahun, wisata hidup ini baru separuh dilakoni,
entah akan sampai ditujuan
atau hanya berhenti di padang gersang kehidupan,
cobaan, godaan, dan pengharapan
adalah aroma perjalanan yang begitu dekat menghibur
kala tubuh wadag ini mencari puluhan jawaban,
“mengapa aku hidup, jika hanya sekedar untuk mati.

Ah N,
bukan tepuk tangan ria riang pesta selamat ulang tahun yang akan digemakan
apalagi sukan yang banyak menelan biaya,
hanya akan kepersembahkan nyanyian buluh kerinduan
rindu akan masa kanak-kanak kita
rindu akan kampung halaman kita
rindu akan gunung,
lembah,
terminal,
Tuhan,
dan mati………

Tapi sesungguhnya dimanakah kamu N,
adakah kamu torehkan khabar
di saku-saku jembatan yang pernah kita lewati…
ah,
atau di tiap sambungan kereta
ketika ransel biru kita satu warna,
ataukah kamu masih tetirah dibukit kesendirian sana
menunggu hujan dan senja menunjukan keindahannya
datanglah kesini N,
kita menari sama-sama lagi dibawah kemuning sang bulan
kita berteriak sama-sama dikesepian lembah ketakutan

N,
kita tertawa berdua melihat duka kita yang persis sama,
seakan terlahirnya engkau adalah untuk melengkapi sukaku
dalam pengembaraan kemarin begitu jelas lukamu terlihat
bukan luka yang penuh darahbukan luka yang dipeluki nanah
namun luka itu adalah luka kerinduan akan pertanyaan,
Ya…Rabbi dimanakah Engkau mesti kutuju….

N,
Selamat ulang tahun, dan renungi keberadaanmu pada dini hari
ketika yang lain tertidur, cobalah sekejab kamu menghadap kebarat
titikan sesal dengan matamu jika itu perlu,tak perlu kau sesali
kelahiranmu,
jika bertemu aku
berkemaslah untuk pengembaraan berikutnya
bersama-sama………….

Majalengka – Jakarta, akhir kemarau 2000

Kepada Bapa’
pekuburan cibarunai, sukajadi bandung april 1997

Sejahtera ya Bapa’.
anak yang sering engkau tidak kenali lagi ini hanya bisa
menggapai nisan dengan tulisan..”Disini Dikuburkan….”
padahal sering banyak waktu kau sisakan untuk aku,
salah satu anakmu.
Beratus-ratus tumpuk kepingan harap telah kau susun
putih, biru, putih, biru
warna-warna surga dari do’a-do’a ikhlasmu
tidak bisa mempertemukan kita di kubah sempit
dan berdebu ini.

Sejahtera ya Bapa’
sekarang aku sedang bertamu di kuburmu,
tak usah kau suguhkan kembali
cerita tentang pengorbanan dari detik ke tahun milikmu
ketika rasa kasih sayang seorang bapa’
tidak bisa dinikmati lagi
adalah semesta luka
dan puluhan karma
yang mendera tanpa-habis-habisnya
lumpuh, lunglai dan layu
…aku rindu engkau ya bapa’

Sejahtera ya Bapa’
kemboja, rumput dan awan-awan teman penantianmu,
telah mewartakan, kau selalu tersenyum disini
menunggu hari pengumpulan semua benda bergerak bernyawa
ataupun semua yang melata,
tanah merah ini
kan kubawa
kubuat arca
bukan wajahmu
tapi
kerinduanku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *