Sajak-sajak Toto St Radik

SELAT JOHOR

selat johor sediam batu
dinihari dirundung murung

di seberang
singapura yang kecil menyala
bagai kawanan kunangkunang liar
menyerbu mataku
menikam hatiku yang bolong

selat johor sediam batu
bulan tumpas tanpa jejak

segaris sinar
memancar dari dasar laut
tegak lurus
seperti tombak yang menagih negeri
dan kudengar suara ibu memanggiliku

selat johor sediam batu
rinduku begitu gaduh

— Johor Bahru Malaysia, 1999
MAJLIS MAKAN MALAM DAN LETUPAN DI
MASJID ISTIQLAL

ketika lidah sibuk mengganyang 20 tusuk satay, ayam
bakar, laksa johor, semangka, dan teh susu dalam
majlis makan malam di saujana yang amat berhormat
deto’ haji abdul ghani othman*), seseorang menikam
telinga kiriku: istiqlal diletupkan sebutir bom, tuan!

seketika itu juga, di tengah tarian dan nyanyian
melayu yang mendayudayu, hidangan di atas meja
menjelma bangkai dan genangan darah. malam mengerut
angin memusing, menghisap seluruh kesadaranku. seribu
mulut berdengungan seperti lebah gila, ditingkah suara
tawa yang berdenging tajam. aku muntah. tubuhku pun
meletup. kepingankepingannya beterbangan, melesat
melintas pulau dan lautan. jatuh berkaparan di lantai dasar
masjid di antara kacakaca yang berpecahan dan sengatan
bau belerang

—Johor Bahru Malaysia, 1999

*) Kediaman resmi YAB Menteri Besar Johor.
SAWAH SATU

di sawah sunyi ini aku menanam
benih padi
menyelam ke dasar lumpur
membuka birahi bumi
dan menanam lagi

di sawah sunyi ini aku menari
sendiri
mengembara ke dasar doa
mereguk saripati bumi
dan menari lagi

di sawah sunyi ini aku rebah
pada tanah
menjemput gelisah
menulis sejarah

—Serang, 1999
AMSAL SEBILAH PISAU

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu terisak
sedih
sudah berharihari tak ada apa pun, sekadar bawang merah
atau seekor cicak melintas, untuk dicincang
jamur karat membelukar di tubuhnya yang kian suram dan
renta
matanya yang tumpul masih berkilat karena siksa lapar
namun ruang dan waktu yang mengepung dirinya hanya
menurunkan sepi

seseorang meninggalkannya begitu saja di meja makan itu
tanpa tugas tanpa mangsa
padahal begitu nyaring ia dengar suara erang daging dan
deras darah
yang muncrat di jalanjalan kelam dari jaman ke jaman
sejak qabil membantai habil
o, daging yang ranum darah yang harum
aku menginginkanmu di hari tuaku yang buruk ini! ratapnya
pedih dibekuk kenangan yang mendatanginya
bertubitubi

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu meraung
sangsai
seperti putus asa
sudah berharihari ia tak menemu cara bunuh diri: mengakhiri
seluruh perjalanannya dan memulai lagi pengelanaan baru
menyusuri jalanjalan kelam di dunia lain
bersama orangorang lain
sebagai korban

—Serang, 1998-1999
DI TENGAH LADANG JAGUNG

di tengah ladang jagung
kuterjemahkan ayatayat cintamu
di antara gerak daundaun
dan dzikir embun

di tengah ladang jagung
aku lelaki dengan tubuh legam berkilau
dibakar matahari
dalam gairah cinta menggelegak

di tengah ladang jagung
aku penari yang khusyuk mengurai doa
menjadi beribu gerak di antara riak kenangan
kenyataan hari ini, dan impian masa depan

di tengah ladang jagung
di bukit yang jauh dari tahuntahun gaduh
dan usia kemarau, aku tengadah ke langit
menyerap seluruh cahaya

—Serang, 1998
CATATAN HARIAN SEORANG PENYAIR

di negeriku lelaki tak patut menitikkan
air mata

hanya perempuan boleh bersedih
dan menangis

lelaki adalah serdadu: baja yang ditempa
di atas api
keras dan padat dan kejam menggenggam hidup

tak ada sepetak ruang dan sejenak waktu
untuk bertanya
tentang sesuatu yang sederhana

segalanya telah selesai
dalam kitab kalah atau menang

di negeriku lelaki tak patut menitikkan
air mata: aku pun pergi

ke negeri puisi
di mana kegembiraan dan kesedihan
keraguan dan cinta

tak ditampik atau menampik

—-Serang, 1998

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *