Sajak-sajak Tulus Wijanarko

ADZAN PUN LALU

mihrab membisu diremas waktu
menunggu sang imam tak kunjung berwudhlu.

oktober, 2000

tuluswidjanarko
LELAKI DI GERBANG KOTA

Kemanakah gema suara lelaki, yang
pernah menyeru di gerbang kota,
zaman demi zaman, jazirah-jazirah, tepi-tepi benua
ingin kujaring satu patah saja
diantara desau angin,
membentur-bentur dingin pencakar langit,

lelaki di gerbang kota
muara rindu kegelisahan,
kukembarai stasiun demi stasiun
pada setiap kereta yang berangkat
jubelan penumpang disergap sepi
wajah-wajah dingin dan kosong.

masihkah engkau menunggu di sana
setelah terompet itu dibunyikan?

oktober, 2000
tuluswidjanarko
KEBERANGKATAN
: laila

1
sekali lagi kerata api telah beranjak
dari stasiun yang kehilangan rasul
di atas rel berkarat

2
kembali terpiuh perahu berlayar
gagap mencari angin buritan
menggapai-gapai mercusuar

3
di tepi gurun kafilah mengukur bintang
merasakan debu melekat di jiwa
satusatu memilih langkah

4
sebelumnya, sekalipun.

september-oktober2000
tuluswidjanarko

YA, AL DURA

bolehkah aku bergabung dalam barisan itu usai pulang sekolah
seperti seluruh bab pelajaran sejarah: masa depan tersisa di dua

arena,
bangku sekolah atau jalanan kota, pensil atau batubatu,
(tapi kami tahu pasti, mereka tak akan pernah memberikan pilihan)
dalam debu panas dari gurun, jiwa kami menyelinap diantara ranting

zaitun

sudut kota, lengan bapak, serdadu, peluru…
dalam tafakur seekor merpati melepas sayapnya

oktober 2000
tuluswidjanarko

AZAN AL-AQSA

tak sepatah aksara tereja
untuk nyanyikan wangi darah
dari lambung mohammed al-dura

azan al-aqsa, jiwajiwa merekat

seperti selalu sudah terjadi
setelah itu kita titipkan harapan pada batubatu
demi sejengkal tanah tertawan

oktober,2000

tuluswidjanarko
DARI JENDELA AL-CAZAR

dari jendela al-cazar puisi ini begitu dekat
lewat mata nanar pelayan hotel ke kotak kaca
tragedi yang datang dari sebuah pasar

sahabat datang dari jauh, hanya membawa latu
tergagap-gagap menjawab Nashren
apakah kalian membenci para lanun tanpa perahu itu, matamu bertanya
angin berhembus dari Jabal Johar
memandang Hebron, memandang intifada

oktober, 2000

 

P R O L O G

kau tagih masa lalu yang terculik
dengan keliaran serangga
lolos beterbangan dari mulutmu

kau tagih kepedihan tanpa jeda itu
dan berharap keluasan langit
akan menghiburmu

apakah yang kau cari, tanyaku

sebab gerendel pun tak lagi dijual
para politisi atau tukang besi.
lihat, seribu topeng seribu kalimat
juga seribu kesia-siaan…
——————–
(3 menit lalu, 2K)

ANGIN MERINGKUS ANGANMU

kau eja huruf seperti si buyung mainkan lelayangan
ingin kau daki kerajaan awan
tapi angin meringkus segala angan
tanpa tegur sapa

di jarimu si upik selipkan rumput alang-alang
aku tak ingin meremasnya di sela gigiku, katamu
lalu kau rangkai sosok ekalaya
agar bisa memindai layang-layangmu
menjemput aksara
di lipatan awan

-bekasi, april 2000

 

NURUL IZZAH, SERIBU KUNANG-KUNANG

malam mengirimu ke persimpangan
setelah badai, yang lindap
di helai kerudung merah
orang-orang berarak di jalanan
membawa seribu kunang-kunang

tapi ini bukan kemarahan, bisikmu

aspal jalanan
langkah membadai
kepal tangan
serupa sungai tak hendak menuju hulu

secercah senyum itu,
namun malam masih berjelaga

-mei 2000
tulus widjanarko

 

ADA YANG DATANG SENJA INI

ada  yang datang senja ini
setelah kesunyian berabad-abad
dari bumi yang kehilangan musim
ini senja terakhir untuk sebuah kesaksian

mari buka album tua dari laci terdalam
barangkali remah-remah kebenaran
masih terselip di bingkai kusam

(kata-kata menjadi senjata, jiwa terjaga aksara,
dan makna membebaskan duka)

ini senja terakhir untuk sebuah kesaksian
sebelum telepon berdering menunda kecemasan

-bekasi—jakarta, mei 2000
tulus widjanarko

………….
kembalikan malam kepada keheningan
kembalikan kata kepada makna
…………..

TIDAK, UNTUK SEBIJI PUISI
(dengan kenangan kepada Moh. Khoiri)

barangkali kau tengah berbicang dengan Hok Gie, kini
atau bertukar debat dengan Ahmad Wahid

senyampang kau sampaikan salam kami
kabarkan kisah sejuta duka negeri
mengurung bagai mambang tengah malam

dan, tangis ibu pertiwi
entah kapan terusap
selendangnya kian terkoyakkoyak

setelah dua puluh purnama
alamanak seperti tak ditanggalkan.
republik masih –dan kian—membosankan
seperti katamu waktu itu

letih kita menonton karnaval hari ini
dari para para durjana yang tenteram,
meringkuk pada senyum politisi
kemeja safari punggawa negeri
atau gerombolan marsose sakit hati

nasib terbaik adalah mati muda, pintamu

tapi ibu pertiwi tengah merintih
mustahil reda oleh sebiji puisi

“kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
airmatanya berlinang
merintih dan berdoa….”

Agustus2000

BANGKU TAMAN IZRAIL

apakah makna kepergian, jika masa lalu
merebut bayang-bayang kita hari ini,
sedang harapan hanya berarti melepas alamanak
pada hari yang berganti

:selembar demi selembar.

kita selalu cemas mencabut rambut yang
berubah keperakan, (hari itu kita menghitung neraca)
lalu membayangkan bangku taman
bakal menjadi teman setia

seraya termangu menunggu izrail
tunaikan undangan

agustus2k
tulus wwidjanarko

SIANG YANG MENGELUH

Siang yang mengeluh,
menengok jejak sepanjang hikayat
meranggas di gigir bebukitan,

lepas dari pendakian ini
jalanan belum lagi menurun

seperti cakrawala, yang selalu
lebih panjang dari harapan
dan kalimat entah kapan selesai,

(kita pun meniti siang, meski
terik mendaulat rapat bukit,
menyimpan kata-kata kita)

bilakan hujan segera turun?

*Juli, 2000
tulus widjanarko

RELIKWI YOGYAKARTA

masih tersimpan di udara derit pagar mengantarmu pergi
sebelum kita bergegas merinci kenangan,
meminta masa lalu menggantikan sebuah kehilangan

selamat malam yogya
biarkan kelenengan andong dan siter wong mbarang
menjaga seluruh siang

siapakah yang pergi?

juli2000
tulus widjanarko

SAJAK BELUM SAMPAI (2)

kuketuk pintuMU
tanganku ragu

kupanggil namaMU
suaraku bau

kutakar dukaku
doaku gagu

sangsi langkahku
KAU  tak cemburu

KAU menunggu di segala arah
jejakku terpiuh di setiap kelokan

agustus,2000
tulus widjanarko

 

SAJAK PAKELIRAN

dan, bagai wisanggeni takon bopo
kita tak akan pernah melewati tengah malam

sebab kesejatian telah dicuri krisna
ketika mencegat asal muasal
sebelum menguncinya ke dalam peti ki dalang

sebelum tengah malam,
kita tersingkir dari pakeliran

juli2000
tulus widjanarko

 

 

JAKARTA

Kau tikam sudah
koloni mimpi ungu
yang tak terdaftar di buku tamu

gerombolan kunang-kunang, melepas pagi yang penat
usai hujan semalaman,
menggumpal dan menggeliat
di lubang-lubang kunci

–Tapi kau pilih, memburu
kesia-siaan, dan gigil
kecemasan, rapat kau simpan,
dalam mimpi pedih seharian.

tulus widjanarko
mei-juni, 2000

 

(GENGAM BELATI INI)

Genggam belati ini, anakku
hanya perlu belajar pada televisi
agar mahir engkau membuat sebuah tikaman
persis di ulu hati
……………………….

 

PELAYARAN BISMA
untuk nir

terimalah memar  jari-jariku
karena bersama kelunya, kutitipkan
kisah gugur bisma dari padang kuru

tersenyumlah untuk setiap luka, yang
netes bersama keringat poriporiku,
pada pedihnya berlayar perahu,
membawa gema doa-doa rabi’ah

september’2000
(mengenang ali dan zahra)

 

PERCAKAPAN DENGAN F, DUA

Inilah aku, tunai menjumpaimu
sebelum matahari tenggelam kelu,
seperti janjiku waktu itu.

di saku kusimpan serpihan cakrawala
yang kupungut dari debu jalanan,
terimalah apa adanya, kelak
mungkin bakal menjadi kawan perjalanan.

Atau simpan saja,
sekadar untuk mematri kenangan

september 2000

 

TITIK NADIR
(dengan permintaan maaf pada khaw)

hanya seutas benang, sebelum
senda gurau bernilai justa,
benakku mengapung
pada tebingtebing kesangsian.

agustus2k
tulus widjanarko

 

MAKLUMAT SEBIJI SAJAK

cukuplah aku sebagai ranting kayu
tergeletak sepi di rimba kalam
menyapih tanda-tanda

ingin mengantarmu ke penjuru mukadimah
pada pintu-pintu memuara ke percabangan

hening o hening
ingin kupasangkan sepasang sayap
agar kegelisahan mengembara di hutan makna

september 2000
tuluswidjanarko

 

DI CILIWUNG

di ciliwung,
seperti batubatu yang tercuri jiwanya
kita penat menata mimpi masa silam
tentang relikwi sisi kiri sungai seine
bahwa hutan percakapan bukan perawat kesia-siaan.

berdiri di ciliwung,
jalan bersimpangan di depan mata
menangisi kemiskinan, atau
menggantung perasaan pada kekusaman.

:ini ciliwung, jauh dari seine
percakapan harus tumbuh dari bumi

ciliwung adalah bunda bagi perihpilu kaum urban
koloni yang tersingkir dari pusaran neon
datang tanpa mengisi buku tamu
sebab desa mereka dicuri benda-benda.

dari ciliwung, mereka
menagih gerimis yang menetes, sisa hujan yang
mengguyur pencakar langit,

:amarah ciliwung, melahar dari pencakar langit, dan
bukan karena liliput-liliput di bibirmu

ciliwung, adalah jendela bagi angin
selundupkan sekerat mimpi
bahwa hidup masih layak diperjuangkan
juni-juli2000
tulus widjanarko

 

SIANG YANG MENGELUH

Siang yang mengeluh,
menengok jejak sepanjang hikayat
meranggas di gigir bebukitan,

lepas dari pendakian ini
jalanan belum lagi menurun

seperti cakrawala, yang selalu
lebih panjang dari harapan
dan kalimat entah kapan selesai,

(kita pun meniti siang, meski
terik mendaulat rapat bukit,
menyimpan kata-kata kita)

bilakan hujan segera turun?

*Juli, 2000
tulus widjanarko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *