Sajak-Sajak Viddy Almahfoud Daery

SEPANJANG PACIFIK HIGHWAY 

pro: Sally Blackfellow

lihatlah jalan panjang Pacifik Highway
membawaku dari Brisbane ke rumahmu
melewati hutan-hutan yang luas
dan sungai-sungai yang sunyi

kenapa kau matikan televisimu?
padahal dari negeriku yang riuh
telah lama kukirim gambar kupu-kupu
yang kau minta untuk Taman Koolangata

janganlah mengurung diri
di rumahmu yang indah
karena dari Toowomba sampai Woolongabba
sejarah tumbuh dari rerumputan
dan di putik-putik bunga biru Jacaranda

Brisbane, November 1994
BUNGA WATTLE DI RUMAH ALLISON

bunga Wattle di rumahmu, Allison
dijaga oleh cinta dan senjata
dari sejarah yang muram
lalu dibersihkan oleh peradaban
menjelma matahari jam sembilan pagi
di halaman luas, indah dan sunyi

aku melukis bunga Wattle
di halaman rumah yang indah
sepertti halaman rumahmu, Allison
di negeri yang indah dan rapi
tetapi penuh kebun tomat dan cabai

jika musim hujan dan dingin datang
aku akan menyiapkan buku-buku
kelak, beri aku lima hari Sabtu
setiap buku telah kusampul rapi
dengan gambar bunga Wattle
dikurung buah tomat dan cabai
dengan latar belakang negerimu
yang indah dan sunyi

Brisbane, November 1996
SOUTH BANK & AIR MATA

kapal Kookabura Queen berangkat dari South Bank
mengangkut rombongan penyair
menyusr kota Brisbane
sampai jauh di balik Victoria Bridge

dan ketika kapal berbelok kembali
airmatapun berjatuhan
dihalau angin dingin Australia

tisu-tisu diremas dan dilarutkan
di lumpur sungai Brisbane
yang mengendapkan sejarah hitam
sampai bekasnya tak lagi kelihatan

lalu puisi-puisipun ditulis
tapi lantas diremas dan dibuang
di kotak sampah yang rapi
karena sejarah dan peradaban
tumbuh dewasa dan bijaksana
bersama senyum dan airmata

para penyair minum air ponten
di City Botanical Garden
lalu menyusut air matanya
sambi meremas roti kering
dan disebarkan di rerumputan

burung-burung gereja, gagak, merpati,
pecuk, gelatik dan Kookabura (alangkah ramainya)
dengan damai berebut mematuk remah-remahnya.

Brisbane, november 1994
ABROR DAN WAGGA WAGGA

Abror menelpon dari Wagga Wagga
lima tahun sudah kami tak jumpa
“Jangan hanya di Brisbane, datanglah
Ke Wagga Wagga
di sini banyak kebun, sungai dan lembah
udara bersih dana harum bagai sajak-sajakmu
rumah-rumah di sini mungil,
berandanya dirambati markisa
anggur dan bougenvil
rumah-rumah dipisahkan jarak
yang diisi rumput, bunga Wattle dan jeruk Jacaranda”

“Aku kerasan di sini, Viddy
tiap pagi bekerja bagai upacara
menghitung pohon-pohon lemon,
biri-biri merumput
dan jalan-jalan yang rapi
bagai kartupos-kartupos Eropa.
Ini memang negeri fotokopi
tetapi lebih cantik dari yang asli.”

“Ini negeri muda di tanah yang tua
ketika negerimu sudah makmur
dipayungi kerajaan Mojopahit yang jaya
negeri ini masih tanah kosong
dengan Aborigin di gua-gua.
Kini negeri ini begitu cantik jelita
apakah negeri kita juga semakin perkasa?”

Abror, tunggulah aku di Wagga Wagga
kami juga sudah banyak membangun
kami terus berjuang dan berkarya
hanya orang jahat yang merusak negeri kami
menggunduli hutan, merusak udara,
mencemari sungai, menindas rakyat
dan menodai kesucian arti kemerdekaan.
Tapi memang, orang jahat di negeri kami
jumlahnya banyak sekali.

Tapi kami terus membangun
bekerja keras dan berkarya
di tengah-tengah kepengapan, kemiskinan dan kebodohan
dan jalan-jalan yang persis kubangan.
Ngeri kami tengah merayakan
50 tahun usia kemerdekaan

Brisbane-Jakarta 1994-1995

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *