Sastra untuk Siapa?

Sastra untuk siapa?

Beberapa media massa di Indonesia memuat berbagai macam karya sastra dari berbagai macam penulis dengan background berbeda-beda. Setiap melihat kolom tersebut hati saya gelisah dan ingin berkeluh kesah. Sebagai ‘pembaca biasa’ saya sering merasa aneh dengan karya-karya tersebut. Mungkin saya yang memang ‘tidak paham’ alias bodoh atau jangan-jangan karya sastra yang akrobatik kata tersebut memang hanya ditujukan bagi ‘dunia sastra’ sehingga saya sebagai ‘dunia lain-sastra-’ tidak berkesempatan menikmati karya tersebut dan lebih sanggup menikmati, yang orang sastra sebut sebagai, karya popular semacam Kambing Jantan karya Raditya Dika. ternyata saya tidak sendiri, banyak kawan saya yang menempuh pendidikan sekelas kedokteran dan teknik yang selalu mendapat ip diatas 3,5 juga mengalami hal serupa. Tiba-tiba saya teringat satu jargon sastra ‘dulce et utile (menghibur sekaligus mendidik,semoga tidak salah), pertanyaanya bagaimana bisa terhibur dan terdidik jika untuk membaca satu kalimat saja bisa stress.

Ketika saya berdiskusi dengan pakar sastra (sebab beliau sebagai dosen di jurusan Sastra Indonesia di universitas terkemuka) beliau menjelaskan bahwa memang dibutuhkan ‘energi’ khusus untuk membaca sebuah karya yang dikategorikan sebagai sastra. Wah kalau begitu bisa-bisa bangsa ini (termasuk saya) bisa semakin bodoh seiring berjalannya waktu. Lha wong untuk membaca karya yang berkualitas dibutuhkan energi khusus, energi khusus tersebut bisa didapat tentunya dengan perjuangan yang tidak murah dan tidak mudah, sedangkan banyak dari kami hanya mampu sebatas pangan sehari-hari, maka kami lebih baik tidak membaca karya-karya tersebut, daripada untuk membaca karya, yang banyak dari kami tidak mendapatkan ‘keuntungan khusus’ lebih baik energi tersebut kami gunakan untuk bekerja lebih keras demi menghidupi diri sendiri dan keluarga. Mental seperti inilah yang -banyak dari- kami anut ‘tidak mau ambil pusing’ sebab negeri kami sedang galau.

Kembali ke sastra, membaca karyanya bagi saya mencerahkan- memang- namun membuat saya jera. Memang tidak semua karya sastra berakrobatik kata, tetapi banyak media massa terkemuka memuat karya yang ‘ndakik-ndakik’ bahasanya. Bukan hanya dalam bentuk cerpen tetapi juga apresiasi dan kritik sastra. Oh My God… susah sekali bahasanya, memang benar-benar mencerdaskan sebab sedikit-sedikit harus membuka kamus. Diskusi saya belum berhenti, beliau menjelaskan bahwa karya sastra memang eksklusif. Hmm.. jadi, barang eksklusif hanya untuk orang eksklusif? Lalu untuk siapa sebenarnya karya sastra?

14 thoughts on “Sastra untuk Siapa?”

  1. Saya pun kadang berpikiran demikian. Dalam membaca puisi, sering saya menemukan metafor-metafor yang tak saya pahami sedikitpun. Apalagi sering diselipkan kata-kata ‘aneh’ dalam puisi tersebut, padahal saya tak punya KBBI. 🙂

  2. Kalo kata siapa gitu: sastra, konteksnya puisi, g seperti TTS. Di mana makna/pengertian atas suatu kata/kalimat bersifat satu dan mutlak. Di sastra sangat dihalalkan memiliki pengertian yg berbeda atas suatu kata/kalimat/bacaan. Bagi saya, di sinilah enaknya sastra. Saya bebas mikir apa aja atas suatu tulisan yg diberikan oleh pengarang. Kebebasan pengertian, bagi saya, yg bikin sastra bisa dinikmati (baik sastra populer ato serius). Mungkin saya keterlaluan dgn tindakan saya itu. Tapi, saya lebih asik mengartikan “dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya/terpisah dari hujan” sebagai kurang kerjaanya Sapardi setelah ML dgn pacarnya/istrinya, daripada saya membaca cerita2 seks yg bertebaran di internet atau melihat film Indonesia yg bertema seks.

    Sastra untuk siapa? Ah, ini memang pertanyaan paling absurd sedunia setelah pertanyaan “Apa fungsi sastra?”

    1. yang absurd itu bang biasanya menyimpan makna yang filososfis…..kalo ini bisa ‘terjawab’…wah betapa bahagianya saya dan teman2 sy yg gelisah

  3. Sastra itu disamping sebuah genre Seni, juga sebuah Ilmu Pengetahuan (science) makanya ada Fakultas Sastra di seluruh dunia yang mempelajari Sastra sebagai Sains. Kerna itu, Sastra punya Sejarah, Teori, dan Karya. Ketiga hal ini HARUS dipelajari kalau memang mau paham Sastra!

    Membaca karya Sastra dengan lagak membaca berita koran ya jelas gak bener! Kalok anda gak paham, itu bukan salah karya Sastranya tapi salah anda yang menganggapnya sama seperti berita koran! Anda lupa bahwa Sastra punya hukum-hukumnya sendiri untuk memahaminya dan anda sudah lecehkan itu waktu menganggapnya sama kayak berita koran!

    Perbandingan! Anda gak kan mungkin bisa paham “lukisan” Affandi kalok gak paham hukum-hukum senirupa termasuk apa yang disebut sebagai estetika Ekspresionisme yang dianggap mempengaruhi Affandi. Kalok anda melihat lukisan Affandi kayak melihat foto artis sinetron di koran, ya gak nyambung!

    Kebiasaan membaca karya pop macam “Laskar Pelangi” ato “Ayat-ayat Cinta” tidak akan menolong anda untuk memahami sebuah karya Sastra. Karya pop itu ditulis memang untuk Menghibur doang, sementara sebuah karya Sastra ditulis BUKAN untuk Menghibur kegalauan anda! Menghibur bukan tujuan utama Sastra, itu tujuan utama karya Pop! Karya Sastra berusaha mengajak anda untuk berpikir, kerna itu karya Sastra rata-rata gak enak dibaca! Kalok anda berhasil diajak berpikir barulah timbul rasa terhibur di diri anda. Katarsis! Itulah yang dimaksud dengan istilah “dulce et utile” dari kritikus sastra Romawi Kuno, Horasio, yang anda kutip itu!

  4. karya sastra utk pembaca sastra, meski seharusnya utk publik. sebab haq,sastra punya hukumnya sendiri. tiap org pny kegairahan yg berbeda2,jd jgn berharap bahwa sastra dibaca/dinikmati oleh masy, lha wong yg kuliah di sastra sj tdk byk yg ‘suka’ bc sastra (pengakuan di jurusan sy)

    1. Karya Sastra itu untuk siapa saja, tidak ada batasan siapa pembacanya. Persoalannya, untuk bisa memahami karya Sastra dengan baik, membaca karya saja tidak cukup! Makanya ada Sejarah Sastra, ada Kritik(us) Sastra, ada Fakultas Sastra bagi mereka yang ingin memahami Sastra secara akademis.

      Membaca “Tetralogi Pulau Buru” Pramoedya Anata Toer bisa saja dilakukan seperti membaca novel pop “Laskar Pelangi” atau “Ayat-ayat Cinta”. Tapi untuk memahami KENAPA TOKOH MINKE ITU BISA SEPERTI ITU maka pengetahuan atas Sejarah kolonialisme Belanda di Jawa dan pengetahuan tentang tradisi budaya feodal Jawa WAJIB DIKUASAI! Faktor pengetahuan eksternal inilah yang membuat karya Sastra biasanya dianggap sulit dibaca oleh mereka yang malas membaca!!!

      Ada dua jenis mahasiswa di Fakultas Sastra: mahasiswa yang memang belajar Ilmu Sastra dan mahasiswa yang belajar Linguistik atau Ilmu Bahasa. Jadi adalah naif untuk menganggap bahwa semua mahasiswa yang di Fakultas Sastra itu adalah mahasiswa yang mempelajari Ilmu Sastra! Mahasiswa yang belajar Linguistik TIDAK DIWAJIBKAN UNTUK MEMBACA KARYA SASTRA APALAGI UNTUK MENYUKAINYA!

      Saya saja sebagai Sastrawan tidak selalu suka baca karya-karya Sastra Indonesia! Selalu ada Pilihan karya yang sesuai dengan Selera dan tingkat Intelektualitas kita!!!

      1. setuju dengan pendapat bang saut situmorang. berarti memang tidak semua lapisan masyarakat mampu memahami (untuk menikmati kadang langkah awalnya adalah memahami) sastra

  5. Hmmm… mungkin akan sulit bagi kita kalau memahami sesuatu dengan terlebih dahulu ada sebuah tendensi, apalagi negatif. memang seringkalipun ini hanyalah masalah selera. dan itu merupakan hak siapapun untukmenyenangi atau tidak. dalam sebuah karya seni baik seni sastra atau senirupa atau apapun dalam konteks memahaminya tentu mempunyai pemahaman yang berbeda, tergantung referensi atau daya perjalanan seseorang mengenal sebuah estetika atau nilai seni itu sendiri. disatu sisi sebuah karya seni itu mempunyai nilai berdasar daya kreasi, imajinasi dan skill seniman, selain tentu saja faktor estetika siseniman, juga ketika karya itu berada diruang umum, dimana banyak orang menyaksikan dan mengapresiasi melibatkan audiense atau masyarakat yang tentu saja mempunyai tanggapan estetik atau pemahaman yang berbeda pula. jadi selain sang kreator yang cerdas dalam dialog itu diperlukan pula audience yang cerdas pula, atau audience yang juga mau belajar dan memahami sebuah proses karya seni. disini seringkali terjadi ketimpangan antara seniman audience atau mungkin juga para pemerhati seni lainnya. seringkali dari ketiga hal ini terjadi jurang yang jauh. si seniman sudah berlari, tapi audience masih tertidur, dan para kritikus masih terduduk. atau seringkali hal ini berganti posisi. semua perlu belajar, bukan saling membuat jarak. atau terserah saja kalau memang itu yang diinginkan masing masing. audience memikirkan perutnya, seniman memikirkan estetika yang melangit, kritikus dan sebagainya mengimpikan pesanan dan kenyamanan.

  6. balik ke permasalahan sastra untuk siapa.
    berarti boleh sy simpulkan bahwa sastra itu memang untuk masyarakat tapi dengan strata pemahaman masing-masing. artinya sastra itu relatif dan tidak bisa pukul rata

  7. Sastra adalah sebuah produk untuk publik, tentunya bagi siapa saja yang berminat untuk menikmatinya. Kalau memang anda merasa tertantang, anda harus menguasai instrumen-instrumen tertentu agar bisa menikmatinya.
    Di era global dan Internet masa kini dengan beberapa ‘klik’ anda mengakses instrumen-instrumen sastra tersebut.

  8. Bahasa sastra memang rumit, susah untuk dimengerti. menggunakan bahasa indonesia saja masih belepotan apalagi sastra, tambah gak ngerti. Jadi sastra untuk siapa? Pentingkah belajar sastra?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *