Sajak-sajak Tiar “iyang” Rahman

puisi kelima belas sudah kuterima rindumu yang kau titipkan pada jernihnya sungai di desa kita dahulu yang kadang keruh karena gembala memandikan kerbaunya sebelum beranjak pulang :”AKU PUN RINDU” sudah kudengar salammu yang kausampaikan dengan kokok ayam pagi hari dan burung pipit yang bernyanyi di jendela hati bangunlah…. :”SALAM JUGA BAGIMU” (semoga selamat, rahmat dan berkah Alloh terlimpah untukmu) sudah kusentuh kecemasan dan tangisanmu yang kausampaikan lewat suratmu yang kau berdiri di serambi rumahmu menanti hari-hari akankah ku kembali? :”INSYA ALLOH AKU ‘KAN KEMBALI” Puisi ke sembilan belas ramai nian…

Puisi Rumah Kontrakan

Dapur #1 ruang. melompong dipenuhi toples kosong. kesepian. ikan tongkol basah dalam keranjang menanam asin garam. laut berlumpur hitam dipenuhi kapal layar aneka warna. pemabok di atas geladak memuja bulan! ditikamnya bintang bintang di puncak tiang layar yang kecil yang jauh yang gemerlapan berulang ulang dengan sebilah parang. jarum kompas di saku celana membeku bersama cerita hantu masa lalu. badai sialan! membuat maboknya tambah kacau meninggi air laut pasang ombak menggigil dan demam buihnya tersangkut di batu karang di gigi dan bualan. mercusuar memandang kapal kecil berlayar kecil di kejauhan…