Tag Archives: esai

Sastra (Berbahasa) Lampung Dari Kelisanan ke Keberaksaraan – Udo Z. Karzi

Oleh: Udo Z Karzi

Dang lupa di lapahan, ingok jama sai tinggal
(Jangan lupa tujuan, ingat dengan yang tertinggal).

Pesan tetua jelma Lappung (orang Lampung) kepada anak muda Lappung yang hendak merantau ini seperti tak berarti banyak ketika melihat kondisi riil di Lampung—spesifiknya Bandar Lampung—saat ini. Anak muda yang beretnis Lampung sedemikian malu dengan kelampungannya. Jika sudah demikian, apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang kehilangan identitas dan tengah mencari identitas baru?

Bahasa menunjukkan bangsa, kata pepatah lama. Bahasalah yang membangun peradaban di dunia ini. Maka, kata kunci untuk melestarikan, mengembangkan, dan memberdayakan bahasa-sastra Lampung adalah mengembalikan bahasa-sastra Lampung ke fungsi aslinya. Masyarakat dan kebudayaan Lampung terbentuk oleh bahasa Lampung. Ya, bahasa Lampung.

Setelah itu, bukan pada tempatnya kita bertanya lagi, masyarakat Lampung yang mana? Kebudayaan Lampung yang mana? Kesenian Lampung yang mana? Sastra Lampung yang mana? Bahasa Lampung yang mana? Karena, kalau kita sepakat untuk mengembangkan kebudayaan Lampung, jawabnya hanya satu yang harus kita ingat: Lampung. Barangkali, ada saja yang menuding ini sektarian, primordial, dan … bernasionalisme sempit. Tapi, mau apa lagi? Otonomi daerah memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembalikan potensi lokal—ada yang menyebutnya dengan lokal genius, kearifan lokal, tradisi lokal, pesona daerah, dan sebagainya—setelah bertahun-tahun ditenggelamkan olah semangat nasionalisme (Indonesia).
Continue reading “Sastra (Berbahasa) Lampung Dari Kelisanan ke Keberaksaraan – Udo Z. Karzi” »

Sastra untuk Siapa?

Sastra untuk siapa?

Beberapa media massa di Indonesia memuat berbagai macam karya sastra dari berbagai macam penulis dengan background berbeda-beda. Setiap melihat kolom tersebut hati saya gelisah dan ingin berkeluh kesah. Sebagai ‘pembaca biasa’ saya sering merasa aneh dengan karya-karya tersebut. Mungkin saya yang memang ‘tidak paham’ alias bodoh atau jangan-jangan karya sastra yang akrobatik kata tersebut memang hanya ditujukan bagi ‘dunia sastra’ sehingga saya sebagai ‘dunia lain-sastra-’ tidak berkesempatan menikmati karya tersebut dan lebih sanggup menikmati, yang orang sastra sebut sebagai, karya popular semacam Kambing Jantan karya Raditya Dika. ternyata saya tidak sendiri, banyak kawan saya yang menempuh pendidikan sekelas kedokteran dan teknik yang selalu mendapat ip diatas 3,5 juga mengalami hal serupa. Tiba-tiba saya teringat satu jargon sastra ‘dulce et utile (menghibur sekaligus mendidik,semoga tidak salah), pertanyaanya bagaimana bisa terhibur dan terdidik jika untuk membaca satu kalimat saja bisa stress.
Continue reading “Sastra untuk Siapa?” »