Tag Archives: puisi

Sajak-sajak Tiar “iyang” Rahman

puisi kelima belas

sudah kuterima rindumu
yang kau titipkan pada jernihnya sungai
di desa kita dahulu
yang kadang keruh
karena gembala memandikan kerbaunya
sebelum beranjak pulang
:”AKU PUN RINDU”

sudah kudengar salammu
yang kausampaikan dengan kokok ayam pagi hari
dan burung pipit yang bernyanyi di jendela hati
bangunlah….
:”SALAM JUGA BAGIMU”
(semoga selamat, rahmat dan berkah Alloh terlimpah untukmu)

sudah kusentuh kecemasan dan tangisanmu
yang kausampaikan lewat suratmu
yang kau berdiri di serambi rumahmu
menanti hari-hari
akankah ku kembali?
:”INSYA ALLOH AKU ‘KAN KEMBALI”
Puisi ke sembilan belas

ramai nian burung walet di pagi ini
nan bercuat-cuit beterbangan
di bawah jembatan, di pucuk sungai enim
masih pagi, masih sepi
akh… andai aku punyo sayap
aku nak melok kamu
melintas dan meyambar-nyambar bayangan di banyu
sekali-kali mengangkaso dan melewati jembatan besi
tentu seneng nian hati ini
dan kalo kamu ngerti bahasoku:
“hai kanceku….. aku sedang merindu

Puisi ke dua puluh lima

terkurung dalam kungkungan bukit barisan
aku hanya bisa menerawang
langit malam yang tiada berbintang
aku ingin pulang
kala siang datang menjelang
hanya kulihat layang-layang diatas awan
mungkin dari atas sana
bisa kulihat kampung halaman
pada kungkungan bukit barisan
aku hanya ingin mengakhiri penantian
rindu sungguh di hati meradang
aku ingin pulang…

PUISI KE DUAPULUH

pada mata yang berkaca-kaca
kucari dusta, tetapi tiada
walau sudah kucari di semua sudut matanya
pada mata yang berka-kaca
kucari duka, juga tiada
sebab senyum di bibirnya mau berkata
:”Aku tak pernah merasa susah”
lewat mata yang berkaca-kaca
ia hanya ingin bicara
:”Jagalah titipan rinduku untukmu”
PERJALANAN

jalan berkelok menghentak
tajam
lebih menghentak di banding jalan puncak
lebih gelap dari jalan lintas sumatera
terguncang-guncang dalam bis
tanpa suara
CITEPUS 1

adzan shubuh bersahutan
dan ombak berdebum memecah pantai
menggemuruh, meledak
gelap
sesekali kilat tanpa suara
menerangi angkasa
lampu-lampu kapal dan lampu di anjungan
berkelap-kelip manja

kuasa-Mu Tuhan…
indahnya
ANAK GUNUNG TURUN KE PANTAI

anak gunung turun ke pantai
pikiran bingung jadi santai

anak gunung turun ke pantai
hati yang pundung menjadi damai

anak gunung menjadi anak pantai
tak ada murung, semua bersorak sorai….
CITEPUS 2

mandi di laut?
nanti dululah
tetapi serasa ada yang memanggil

“berubahlah kalian semua menjadi anak kecil
berenang …… menjemput ombak
membuat istana pasir
jadilah anak kecil
memercikkan air, saling melempar pasir”
CITEPUS 3

“Om tiar… Om Tiar..
ke tengah laut Om…”

jangan terlalu ke tengah laut, berbahaya
di sini saja
mari kita pukul ombak yang datang ….byur..
kita tendang…byur
sekarang duduklah membelakangi ombak…
ha… ha… kita terbawa gelombang

“Om Tiar… lebih ke tengah lagi…”

Ya… boleh tapi tetap hati-hati.
CITEPUS 4

“Om gendong Om…..!”

ya… ya…
coba lihat ombak itu
byur… ha..ha..

“Om ada kerang!”

ada isinya enggak…. bawa pulang aza
eh jangan deh… dilepas saja di pantai
lihat saja dan biarkan ia bebas…
PAK GEMBALA

berjalan sendiri dengan kerbaunya
asyik mengayunkan cemeti
menyusuri pinggiran pantai

“Cepat ambil gambarnya!”

yah enggak keburu
pak gembala tetap asyik sendiri
sambil mengayunkan cemeti
membunyikannya di angkasa
terus berjalan
entah kemana
I-M-U

kutuliskan di atas pasir
kira-kira tak tersapu ombak

“Yant… IMU”

tapi ombak tetap datang
membawa serta pasir dan tulisan

aku tersenyum
“Bukan seperti ini rindu dan cintaku padamu”
KARANG KAWU

ombaknya lebih keras
lebih menggunung
pecah di karang
karang-karang yang indah

gelombang air yang menggunung
pecah di antara karang
menjadi putih berbuih
buih yang berbisik:
“Penuhi aku dengan sayangmu,
Sapa aku dengan puisimu!”
SEANDAINYA

pulang yang diguyur hujan
menyusuri tapak jejak yang kemarin
deras bersenandung meninabobokan yang lain
aku terjaga dalam hujan

“seandainya kau ada bersamaku
bersama-sama mengukir kenangan di pantai itu”

17-18 Oktober 1999
Bangun…..

seribu bunga sedang bersemi merekah
di tepi jendela kamar
semerbak harum menyengat
menggairahkan,

walau kau tak sempat datang
sekilas senyummu
padamkan api resah jiwa

walau kau tak melihatku
tersenyum riang serasa terbang
tapi dengarlah:
“terima kasih……..aku sayang kamu”

Sajak-sajak Togog Tedjasomantri

Di Awang-awang ku tulis namamu N,…..

Seperti sore tahun kemarin N,
aku masih memerlukanmu
merapikan peta perjalanan
dan menyusun perbekalan
sebab kita akan menuju ke arah barat
tempat matahari pulang
tempat senja mengunjungi kelopak mata
tempat harapan kita pernah disimpan
disimpan di arah barat

Di awang-awang kutulis namamu N,
agar bisa terlihat dari sembarang sudut
atau ketika kau buka jendela
yang pertama terpandang bukanlah awan
adalah ucapan salam itu
salam sebuah kerinduan yang patah
tertulis dengan jelaga
sebab,
aku sudah tidak punya pena

Seperti gerimis oktober tahun kemarin N,
air itupun adalah warta
dimana semua rasa bisa terwakili
entah sepi ataupun keterasingan yang ada
di antara kita
tak pernah ada titian yang bisa dilewati
di antara kita
selalu mendung yang membatasi,

Di awang-awang kutulis namamu, N….
agar bisa dikabarkan sang elang
bahwa perjalanan in masihlah teramat panjang

Milosevic : Salam Sejahtera

Milosevic : Salam sejahtera,
salam dari dari kaos oblong prajurit yang tergontai-gontai ketika
memperkosa, dari senapan-senapan tentara ketika menyiksa, dan dari
kemaluan-kemaluan serdadu ketika perintah bantai dicerna.

Milosevic : Salam sejahtera,
salam dari janin-janin yang telah di kremasi, ataupun janda-janda
yang dikuliti, demi muntah dan buang air yang bernama serbia raya,
salam sejahtera dari kami, para bayi yang diinjak masa depannya,
anak-anak yang digadaikan hari tuanya.

Milosevic : Salam sejahtera,
salam dari darah serta nanah yang telah dikumpulkan lalu  kau jadikan
kasur dan bantal,tempat diatasnya kau bersenggama dengan impian,
impian terbentang, dongeng yang memuakan; serbia raya.

Milosevic : Salam sejahtera,
salam sejahtera dari tembok-tembok penjara tempat tawanan tak tahu
kesalahannya, tempat para manusia dijadikan titik terendah dalah
kodrat, atau bisa kau dengar juga salam sejahtera dari lubang-lubang
kusam persembunyian, tempat satu keluarga yang pernah kau musnahkan
dengan sianida.

Milosevic : Salam sejahtera,
salam sejahtera dari langit yang berawan mesiu, berhujan peluru,
bermatahari kematian…..

Salam sejahtera dari neraka.

togog.

note : milosevic pada 6 Oct pukul 01.23 GMT dinyatakan
       melarikan diri meninggalkan tahta serbia raya
       yang diimpikannya.
       (Reuteurs & APF)

Yudhistira ( kepahitan kemenangan

Adakah yang salah dengan kemenangan itu Yudhistira?
sehingga kau menangis dan meratapi perang dengan kegemilangan itu?

Lampu bergantungan, bergoyang ditiup angin astina yang kencang,
tiang-tiang istana yang kini tak ada pemiliknya lagi, terdiam pucat
seperti merasakan, bahwa setelah perang sesungguhnya tidak ada
kemenangan.
Alun-alun kerajaan yang berdebu sepi, seakan sangat tahu, bahwa
beratus hasta jarak dari sana terdapat pula alun-alun kematian.
Kematian sebuah masa depan.
Pandawa tidak mempunyai musuh lagi, tidak ada lawan
maka kehidupan berhenti pada keadaan itu, cerita akan berganti.

“Duh saudaraku Kurawa yang waskita, apalah artinya kejayaan ini,
manakala kekuasaan hanya menemukan getirnya penderitaan, kekuatan
hanya menemukan kematian, istana besar dengan kamar kamar berisi
suara ajal, adakah engkau mendengar saudaraku, kenapa yudha itu
mesti terjadi, saat sesunguhnya kita bisa bercengkrama bersama
sebagai saudara atau setidak-tidaknya sebagai manusia”

Tak ada sahutan,
masih suara lampu istana yang berayun-ayun,
alun-alun yang berdebu sepi.
Kenyataan bicara, peperangan tiada guna
apalagi debat dan umpat
yang tidak melahirkan kata sepakat,
Yudhistira termangu, memandangi balustrada singgasana astina, disana
ada sesuatu yang terbayang samar,
kematiannya……………..

Oo israeli….

Oo israeli…
tanah asing, kuning gading dan kidung buldoser perata nasib,
manusia-manusia munafik penghamba ayat dan keturunan berserak
mengubur nurani.
bermandi darah atau bersendawa dari makanan nanah,
tak cukupkah wahai engkau pendusta, menggerogoti nilai asasi dari
atas kepala sampai kaki manusia.
tak cukupkah engkau wahai pemerkosa, memenjarakan naluri kami dengan
dongeng dan dusta.

Oo israeli,
anak-anak kami tak kan berhenti lari melempar batu sekepalan
ketika peluru menyambut salam dan rentangan tangan,
tidak akan engkau dapatkan segala harapan
sebab dirimu sesungguhnya adalah kutukan zaman
terkutuklah bangsamu yang terkutuk
terkutuklah manusia-manusiamu terkutuk
terkutuklah pikiran-pikiranmu yang terkutuk
terkutuklah masa depanmu, masa depan terkutuk
terkutuklah kematianmu, mati  terkutuk
bertekuklah wahai isareli terkutuk.

Bisma

ah..Bisma, resi agung penyejuk kurusetra
kematianmu begitu indah, teramat indah,
bahkan matahari pun dengan sengaja meredupkan angkuhnya
genderang perang pun bersuara kidung pujian.
Sesungguhnya apa yang terjadi ya resi yang agung?
ketika darahmu mengucur
dan setiap cucuran darah itu menumbuhkan melati dan kamboja,
bunga kehidupan dan cinta
serta bunga kematian dan petaka
ataukah aku teramat sederhana menilai arti sebuah pengorbanan.
Menderitakah wahai engkau resi yang agung,
ketika ratusan anak panah
menyangga tubuh dan kepala menghadap ke arah anak-anakmu,
pandawa dan kurawa yang masygul dan takabur dengan perangnya,
tersedu menunggui jasadmu.

Menderitakah wahai engkau resi yang agung
ketika sumpah setia ternyata
hanya alat untuk lebih memunafikan arti kita sebagai manusia,
manusia yang kadang diperbudak oleh hawa nafsu dan pura-pura.
atau ketika etika tidak lagi bisa bicara
begitupula kekuasaan meluluh lantakan perbendaharaan hidup
ataukah masih sering engkau berucap :
“Ah Setyawati, ma’afkan aku,jika kelak aku tidak bisa menemanimu
mengunjungi hati nurani, keturunan, dan rindu datangnya malam,
sebab segala bentuk pengorbanan dan  pembelaan untukmu telah
tergadaikan pada kurawa, sang pemilik hati nuraniku”

Maka dari itu ya Bisma,
di akhirat kelak, kabarkan pada para penghuninya,
kehidupan kita adalah bukan milik seseorang
apalagi budak manusia lainnya
kehidupan kita adalah hanya milik pencipta kita,
selamanya…

tedjasomantri

Karna ( simalakama balas budi)

o Karna anakku,
diantara dentingan pedang,
hujan panah dan anyirnya darah di perang Bharat ini,
sesungguhnya apakah yang engkau bela?

“Bukan panji ataupun dengki yang aku pertahankan, namun rasa jasa
yang tak terkira yang ingin aku kembalikan”.

ya, Karna.
Balas jasa adalah sebuah utang yang maha berat melebihi beban kita
sebagai manusia, itupun masih ditambah dengan berat beban dari
seluruh isi alam yang menyaksikan ataupun langit yang menjadi saksi
atas sumpah sang manusia ketika ia bernazar dengan kalimat dan kata.

Sekali lagi, balas jasa adalah hutang. Ya..Karna anakku,
maka jangan bermain-mainlah dengan hutang, baik itu hutang raga
apalagi jiwa kita, sebab jika kita tidak mampu membayarnya
hidup kita sebagai manusia sudah menjadi setengah dineraka.

“Lalu apa hutang jasa jenis apakah yang harus engkau bayar wahai
Karna
yang mulia ?”
“Hutang jasa akan harga diri!”
“Ah..tingkatan terberat dari semua jenis hutang dalam penilaian
manusia dan pencipta, lalu dengan apa kau membayarnya?”
“Dengan harga diri pula!”
“Caranya wahai anakku?”
“Menggunakan akal dan gondewa!”
“Untuk siapa?”
“Para pandawa keparat dan pemakan bangkai saudaranya sendiri!”-

Ah..Karna sang putera Surya,
persaudaran adalah semu manakala dia menemukan jatidiri
masing-masing,
sang kakak banyak yang memperkosa adik-adiknya, sang adik banyak yang
menelikung kakak-kakaknya, namun yang paling mengerikan adalah
persaudaraan semu antara nafsu dan cinta.
banyak manusia tidak bisa mengelak dari keduanya
pun itu Adam dan Hawa.

(Sang raja pucat itu pun berdiri memandang langit merah di padang
kuru, tempat bangkai manusia, harga diri dan mati berwarna kuning
abu-abu)

padepokan tedjasomantri, 12 Sept

Cakil ( kesirikan kota maya )
(dedicated to spammers, hackers, and bouncers)

Nun jauh dibawah keramaian kota,
sebuah kota maya, internet namanya
tanpa batas jarak dan bebas dari putaran waktu,
ada seorang mahluk yang selalu berjalan dengan perutnya,
menggelosoh-gelosoh membuang sisiknya yang anyir
dan bau amis oleh terpaan hujan asam dan air got kota maya.
Mahluk mengenaskan dan menjijikan itu selalu mewartakan
tentang kebencian, tentang kesirikan, dan tentang….pornografi.
“Alhamdullilah, dia tidak hidup di dunia kita”.
“Emang dia bener  ada gitu wak haji?”
“Ada anakku, mahluk seperti itu selalu memakan kotorannya sendiri,
selalu minum kencingnya sendiri (interupsi!, sekarang kan lagi
trend terapi urine, jadi kan gak pa-pa kan wak haji?)
selalu memelototi puser dan tete’ anak kandungnya sendiri”
“Ih amitz-amitz jabang cumi ”
“Jangan bilang begitu anakku, kita kudu ngehargai eksistensi mahluk
seperti itu”
“Siapakah namanya wak haji?”
“Namanya sih tidak tau, tapi yang jelas dia masih satu ordo dengan
buto cakil, pemakan orok dan penghirup segala yang bernama tai kecuali
tai besi alias karat””Kok wak haji tau?”
“Ya..tau dong, semangkin kita tenar, semangkin cepet mahluk itu mengikuti
kita”

…..Ah wak Haji Jalil yang terkasih, terima kasih telah memberikan
pencerahan,
ternyata hidup itu begitu penuh dengan cobaan,jangankan di dunia nyata
di dunia maya pun kalo kita tenar, banyak yang nyirikin…
ai..ai….butoooo cakillll ternyata engkau ada dan hadir disini..
ngik…ngik..ngik..ngik….

Tuhanku ( do’a seorang pengungsi)

Tuhanku, bila do’a-do’a diseru, sesungguhnya dimanakah Kau bertahta
Tuhanku, bila do’a-do’a diwakili oleh suara perut lapar,
dimanakah kebun-kebunMu?
Tuhanku, bila mata-mata kecil, kuyu mengantri air jernih dipengungsian
dimanakah sungai-sungai mengalirMu?
Tuhanku, bila kaki-kaki kerdil terjinjit-jinjit menopang ketakutan entah
perang, entah kebencian,
dimanakah tentaraMu?
Tuhanku, bila tangan-tangan legam mengetam gandum dan padi yang terporanda
oleh hama dan bencana,
dimanakah penjaga-penjaga bumiMu
Tuhanku, ma’afkan aku dengan pertanyaan-pertanyaan lapar itu…….

———————————————————————
note : tifus, pneumonia, malaria, TBC, diare dan mati adalah teman-teman
mereka kurang lebih 800.000*) pengungsi tersebar di bumi pertiwi,
tanah dan air kita sendiri. Aceh, Ambon, Bengkulu, Atambua, Menado, Sukabumi,….
mereka di dekat kita, dekat dengan selimut dan tempat tidur kita…

*)sumber Kementrian Pemukiman dan Pengembangan wilayah
statistik September 2000

Gurindam 44 (anti athiest)

kala matahari berputar melangkahi jagat
tak terasakah kau hanya seonggok jasad
ada yang mimilikinya dialah yang Maha Ahad
takabur sombong penuh pastilah berakibat

wahai mahluk yang merasa adil dan pintar
jika disuguhkan persoalan kaupun bercerai berai
tapi jika kesenangan hidup datang kalian besorak sorai
sesungguhnya hidup itu sandiwara yang sebentar

tidurlah kalian jika malam datang
cari rizkilah jika siang menjelang
namun jangan lupakan do’a dan sembahyang
jika kau tolak kuasaNya, kepahitan pun menghadang

asam kandis asam genderang
ketiga asam joget tarian malam
dalam kubur menangis dan mengerang
ketika hidup lupakan Islam

Gurindam 44 (II) ( hak asasi)

pada suatu batas imajiner tentang warna hak asasi,
jika digelontorkan pada sebuah bidang persegi
maka hak asasi itu berbentuk sebuah candi suci
dimana para pemujanya siap membela hidup atau mati

hak asasi selalu bersembunyi diatas dogma
mengalahkan takut, pura-pura dan agama
namun haruskah hak asasi itu harus begitu lantang
sampai sebuah ajaran agama sempurna pun dirasa kurang

dengan hak asasi kalian perkosa kehidupan
dengan hak asasi pula kalian mencari makan
tak maukah engkau terbang pulang
ke tanah air yang tlah kau anggap hilang

kehidupan adalah bola nisbi yang berputar
hak asasi pula yang bicara ketika agama dihina
merasa diri yang paling benar dan pintar
tak terasa akhirat menunggu dalam pose neraka

sesungguhnya hidup adalah untuk dinikmati, katanya
tetapi mengapa hak asasi kau jadikan tuhan kembarannya
di ujung ajal baru terasa siksanya
maka hiduplah damai dalam Islam senantiasa

salam,
togog

Menantang hujan (atawa peradilan daripada Soeharto)

Palu, taplak hijau dan kursi pesakitan
yang bergoyang-goyang di tiup kekesalan jutaan nurani
penutup mata dewi keadilan telah hilang
dicuri puluhan orang yang menantang hujan
hujan bukan sembarang hujan
tapi hujan yang telah memporandakan keadilan
keadilan hati, keadilan rakyat banyak.
Palu, taplak hijau dan kursi pesakitan
yang di basahi kencing jutaan anak di pengungsian
tak terduduki oleh sang buruan,
sebab sang buruan sedang bergelimang dengan kepikunan,
“Apakah saya pernah membunuh, nduk?”
“Ndak pernah romo, romo adalah sang purnabakti, penggenap
jiwa karsa, penderap jagad pembangunan.”
“Apakah saya diktator, nduk ?”
“Bukan romo, tak terlintas dibenak rakyat banyak, bahwa
romo adalah diktator, romo adalah sang negosiator, sang
pengumpul dana agung, sang pengutang suci bagi api keabadian
keturunan..”
“Nduk, apakah bendera kita masih merah putih”
“Masih romo, dan mungkin selamanya merah putih….”
“Lha itu !, yang kliwir-kliwir dimana-mana disetiap desa di tipi ko
warnanya biru, terus ada bacaan UNHCR itu benderanya sapa nduk..?”
“Ohh…itu romo, itu adalah bendera penghormatan kepada romo, sang
demokrator sejati tanpa tanding, bendera kenangan tentang konsep
romo menghidupi orang banyak dengan lahan sejuta hektar…”
“Lalu Nd…”
“Sudahlah romo….hari sudah larut malam, romo tidur dulu yah, nanti
besok kita ngobrol lagi sambil makan nasi kebuli dan tahu
isi…cupp..romo tidurlang romooo…”

Jl. Cendana baru pukul lima
hujan ditantang mahasiswa
hujan ditantang penjaga
hujan ditantang manusia
manusia menyisakan sejarah
sejarah tak terlewat
ketika sang penghutang agung itu pun terlelap dalam mimpi sekejap
tentang pembangunan bendungan, lalu jebol
peresmian pabrik kimia lalu bocor,
berbau busuk
menebar di seluruh ruangan
Palu, taplak hijau dan kursi pesakitan
yang bergoyang-goyang diterpa hujan kesorean…..

 Dursasana ( season in the high libido)

“Kesini budak ….ha…hah.ha…bertelanjanglah…..layani aku…
puaskan aku budak!..bertelanjanglah!”

sang angkara itu terengah-engah penuh birahi seperti sang babi,
menarik helai demi helai kain yang mengayomi tubuh putri sang Drupadi.

“Hah..budak….siapa suruh kau mengenakan kemben yang berlapis…
toh kini kau sudah jadi milikku..milikkuuuu…hahhhhaaaa…!”

Langit menangis, para pandawa meringis, taruhan ini begitu tidak
adilnya, taruhan antara harga diri dan kesucian menjadi bias dan
pudar sampai ketitik nadir penghabisan.

“Hah..budak…layannniii akuuu!”

Sang durjana Dursasa menggembor dalam kubangan libidonya, dalam
puncak kehausan birahinya, namun adakah lebih dari itu kenistaan bisa
dipersembahkan dari sel-sel syaraf sadar, bahwa kita lahir pun
terlahir dari birahi, menghirup udara jagad dari nafas birahi.
Birahi suci.

“Drupadiiii…bertelanjanglah…..layani akuuu keparattt…!”

Garis takdir dan garis kodrat begitu tipisnya, sehingga kadang kita
sebagai manusia terlalu sering menggadaikannya, tidak terkecuali
waragad sang sucipun telah ditumbalkan hanya untuk keegoan dalam
perjudian yang menyayat hati.
Birahi dan kasih sayang punya perbedaan yang begitu signifikan, kasih
sayang bisa menghasilkan sang anak dambaan, sedang libido kusam yang
dibungkus birahi buram, bisa kita hambur-hamburkan di kolong jembatan
atau pun emperan toko sepanjang malam, sepanjang jalan…
Ah..perempuan…sang kesucian,
terimalah birahi dari rasa kasih sayang, pupuk dan sirami tunas
keabadian itu, kita lihat begitu indahnya tumbuh dan
berkembang,menjadi putera hidup, anak keturunan,
tidak seperti kita melihat sang durjana Dursasana, menuhankan
adrenalin kotor dan hormon comberan, membungkusnya atas nama
kebebasan dan memamahnya seperti binatang

Drupadi (hablurisasi birahi)

ah anakku Drupadi,
sang rupawan,
maha dewi impian para dewa dan sanghyang
gelak tawa Duryudana dan rintihan Dasarata
adalah tangisan sesungguhnya
dari hidup dan kehidupan.
Ketika judi dan undian harga diri berhablur jadi satu,
engkau terperangkap diantara birahi iblis
dan asmara sang angkara.
Namun Drupadi,
yang lebih penting adalah
kesucian jalan hidupmu itu sendiri.
sebab disanalah engkau harus meniti
tanpa lima suami yang hanya termangu
memandangimu ketika sang murka ingin melihat dan mengunyah kesucianmu.
berlapis kain dan berpuluh tirai tubuh itu adalah anak-anakmu,
dari sang bunda keabadian yang tak pernah tahu apa arti dusta,
sombong dan kepicikan berpikir.
Drupadi anakku,
manakala manusia dengan amarah dan nafsu yang sebesar bukit kurusetra
ingin mematikan agni kerinduan akan dogma
ataupun agama suatu cipta sang Ilahi,
sesunguhnya ia teramat keliru, sebab hasta dan karya itu harus
terus menemui sang pembuatnya.
Selalu dan selalu begitu.
maka jika engkau rindu akan Khalikmu, temuilah ia dengan wadag lembut
semampu yang engkau bisa hantarkan, ajaklah Dia bicara,
kenapa manusia lahir berbeda,
kenapa manusia lahir dengan birahi
dan angkara.

salam sayang dari buyutmu,
Togog, padepokan tedjasomantri desa lemahwungkuk kecamatan Indihiang

Yamadipati

o Yamadipati, adikku
kehidupan bumi, langit dan sembarang kutub
apakah cukup panjang jika waktu itu kau juga jaga
dari rasa bosan dan keinginan untuk triwikrama
manakala melihat manusia banyak yang begitu tidak membumi,
menepuk dada
padahal kaki dan bayangannya menginjak anak yang tanpa bapa
padahal kaki dan bayangannya menyetubuhi lapar sang janda

o Yamadipati, adikku
telanjangilah diri dibawah matahari
sebab dia dengan sukarela akan menunjukan
dimana segala nista kita.
pun kita sebagai dewa
atau hanya kura-kura
yang mengejawantah dan ingin dipuja serta disembah

hidup,
mati dan air adalah buku suci
tiap kaca dan kata-kata nya adalah masa depan
jika kau salah membalik apalagi membaca
penyesalan dan ratapan adalah senantiasa-
o Yamadipati, adikku
jangan kau pedulikan ajaran tentang cinta
jika masih ada manusia yang didera dahaga
jangan kau pelajari arti tentang jiwa
jika masih ada manusia yang saling menghamba sesama
jangan kau sentuh sebuahpun dari berpuluh macam surga
jika hatimu masih tak percaya adanya Sang Maha Kuasa

salam kangen dari jauh, Togog , kakakmu.

Sokrasana (plus minus jasmani)

“Kaniaya kakang Sumantri…..kaniaya….!”
lalu roh sang adikpun menari-nari menembus batas kaki langit menuju
keabadian sang cerita.
Begitu dalam rasa malu akan makna jasmani, tali raga keluarga pun
dipentang seperti busur tanpa arah, jauh dan tanpa bisa diikuti.
Rasa malu akan kekurangan sifat jasmani itulah sifat yang sangat
berbahaya. Dan Sokrasana adalah tamsil tumbal yang indah akan rasa
ego dan gengsi yang mengalahkan kamanungsaan jiwa perjiwa yang
bernama manusia.
“Sumantri, kenapa kau bunuh adik yang begitu sangat mencintaimu?”
“Karena dia denawa yang buruk rupa baginda”
“Buruk dan rusak rupa tidak menandakan dan menggeneralisir sifat
bathinnya anakku”.
“Tapi saya malu punya adik sang raksasa kuntet paduka, sedang saya
ksatria emas yang berhamburan wibawa serta kasta tertinggi dalam
tahta punggawa ”
“Ah, kau masih saja membawa wibawa dan tahta jika bicara tentang
cinta anakku, cinta seorang saudara adalah bening seperti tetesan
air di batang bambu, menyejukan dan itu bukan kepura-puraan seperti
cintanya para pelacur di Alengka sana”
“Tapi saya menyesal baginda”
“Penyesalan adalah penundaan akan perbuatan yang berikutnya, persis
sama namun dengan kadar yang berbeda”
“Lalu saya harus bagimana paduka”
“Duduklah engkau dengan tu’maninah diantara batas khayal dan
atra tentang rasa ego,wibawa, cinta dan mati. Turutilah apa kata
hatimu, jika perlu bertanyalah kepada manusia yang sok berwibawa dan
egonya melebihi ego sang pencipta ruang dan jarak, bahwa manusia
tercipta dengan sendirinya itu benarkah?”
“Evolusi maksudnya paduka”
“Ah…teramat sederhana dan betapa kasihannya manusia yang berpola
pikir seperti cicak merindukan gozilla itu anakku”.

Sumantri pun termenung ingat akan roh Sokrasana adik yang telah
dibunuhnya…..
apakah roh itu juga berevolusi, menjadi kupu-kupu atau menjadi sang
penanya picik…..aku berpikir maka aku ada!

jakarta, sept 2000
togog tedjasomantri

Bima ( polarisasi sumpah )

 Alam raya meringis, langit pun menangis, ketika sang satria agung
bersumpah membelah jagat, ketika kata-kata mengalahkan ketakutan,
ketika amarah menunggang dendam.”Aku bersumpah atas nama yang menguasai
hidup!,

“Aku bersumpah atas nama yang memberikan nama!
kan kuminum darah sang durjana Dursasana, tanpa sisa,
jika kelak ada yudha, ataupun itu ada bencana!”

Ah Bima, anakku, mengapa harus seperti itu, ketahuilah bahwa segala
macam
sumpah adalah sampah, sumpah adalah untuk yang tak berkemauan hidup, tak
sadarkah kau banyak manusia yang telah bersumpah dan semua itu palsu.
Sumpah pemuda, itu palsu, mana bukti sampai sekarang semua pemuda dari
semua suku mau bersatu.
Sumpah pegawai negeri, itu juga dusta, mana ada pegawai negeri yang
untuk makan, pagi ada tapi tidak buat sore, berderma bakti terus menerus.
Sumpah si kate Lenin itu juga silly, sumpah si goblok Mao, atau sumpah
si tolol Nguyen Ngoc Loan*) pun adalah dusta semua!
“Tapi,”
“Tidak ada tapi-tapian!, engkau hidup, dan menjalaninya itu adalah suatu
sumpah dari sang pemilik Maha Purba dan keabadian..”
“Tapi, ”
“Tidak ada tapi-tapian!, sumpah tuhan tidak perlu pembuktian, ataupun
debatan, dengan menikmati hujan engkau bisa rasakan, dengan memandangi
langit engkau bisa lakukan””Tapi,”
“Tidak!, sekali lagi tidak ada tapi-tapian, hidup itu mengalir ke arah
muara kematian, tapi mata airnya tentulah ada yang menciptakan, dengan
sumpah tentunya, yang kadar dan tujuannya jauh berbeda dengan sumpah
kita sebagi manusia”

Sang Bima pun termenung, dan kelak terbukti dia  menuruti sumpah hawa
nafsunya nya dengan membelah dada Dursasana, meminum darah dan memakan
jantungnya, di perang yang berhawa nafsu pula, Bharatayudha.

*) Nguyen Ngoc Loan : kepala pasukan keamanan republik Vietnam Selatan
bersumpah bahwa dia tidak akan membunuh seorangpun musuh² perangnya,
tapi disuatu siang yang pucat dia melanggar sumpahnya dengan menembak
kepala seorang serdadu vietcong dari jarak 25 cm dengan Smith & Weston
pada senin, 21 September 1968, 32 tahun dari sekarang.
(associated press )

jakarta, sept. 2000
togog tedjasomantri

Kepada N,
Hari ini genap 29 Tahun, segalanya masih sama
kaki-kaki kecil yang dulu merangkak
dan tangan menggapai mencari pegangan,
kinipun begitu,
namun pegangan nurani yang dicari,
sebakul nasi yang diburu
seperti dulu memburu air susu ibu.

Hari ini genap 29 tahun, wisata hidup ini baru separuh dilakoni,
entah akan sampai ditujuan
atau hanya berhenti di padang gersang kehidupan,
cobaan, godaan, dan pengharapan
adalah aroma perjalanan yang begitu dekat menghibur
kala tubuh wadag ini mencari puluhan jawaban,
“mengapa aku hidup, jika hanya sekedar untuk mati.

Ah N,
bukan tepuk tangan ria riang pesta selamat ulang tahun yang akan digemakan
apalagi sukan yang banyak menelan biaya,
hanya akan kepersembahkan nyanyian buluh kerinduan
rindu akan masa kanak-kanak kita
rindu akan kampung halaman kita
rindu akan gunung,
lembah,
terminal,
Tuhan,
dan mati………

Tapi sesungguhnya dimanakah kamu N,
adakah kamu torehkan khabar
di saku-saku jembatan yang pernah kita lewati…
ah,
atau di tiap sambungan kereta
ketika ransel biru kita satu warna,
ataukah kamu masih tetirah dibukit kesendirian sana
menunggu hujan dan senja menunjukan keindahannya
datanglah kesini N,
kita menari sama-sama lagi dibawah kemuning sang bulan
kita berteriak sama-sama dikesepian lembah ketakutan

N,
kita tertawa berdua melihat duka kita yang persis sama,
seakan terlahirnya engkau adalah untuk melengkapi sukaku
dalam pengembaraan kemarin begitu jelas lukamu terlihat
bukan luka yang penuh darahbukan luka yang dipeluki nanah
namun luka itu adalah luka kerinduan akan pertanyaan,
Ya…Rabbi dimanakah Engkau mesti kutuju….

N,
Selamat ulang tahun, dan renungi keberadaanmu pada dini hari
ketika yang lain tertidur, cobalah sekejab kamu menghadap kebarat
titikan sesal dengan matamu jika itu perlu,tak perlu kau sesali
kelahiranmu,
jika bertemu aku
berkemaslah untuk pengembaraan berikutnya
bersama-sama………….

Majalengka – Jakarta, akhir kemarau 2000

Kepada Bapa’
pekuburan cibarunai, sukajadi bandung april 1997

Sejahtera ya Bapa’.
anak yang sering engkau tidak kenali lagi ini hanya bisa
menggapai nisan dengan tulisan..”Disini Dikuburkan….”
padahal sering banyak waktu kau sisakan untuk aku,
salah satu anakmu.
Beratus-ratus tumpuk kepingan harap telah kau susun
putih, biru, putih, biru
warna-warna surga dari do’a-do’a ikhlasmu
tidak bisa mempertemukan kita di kubah sempit
dan berdebu ini.

Sejahtera ya Bapa’
sekarang aku sedang bertamu di kuburmu,
tak usah kau suguhkan kembali
cerita tentang pengorbanan dari detik ke tahun milikmu
ketika rasa kasih sayang seorang bapa’
tidak bisa dinikmati lagi
adalah semesta luka
dan puluhan karma
yang mendera tanpa-habis-habisnya
lumpuh, lunglai dan layu
…aku rindu engkau ya bapa’

Sejahtera ya Bapa’
kemboja, rumput dan awan-awan teman penantianmu,
telah mewartakan, kau selalu tersenyum disini
menunggu hari pengumpulan semua benda bergerak bernyawa
ataupun semua yang melata,
tanah merah ini
kan kubawa
kubuat arca
bukan wajahmu
tapi
kerinduanku.

Sajak-sajak Tomita Prakoso

DENGAN MANNEQUIN
(sebuah fragmen telenovela)

–> DN

Aku tak tahu mengapa mesti jadi saksi
bagi kebebasanmu sedang dalam diriku sebuah ilusi
telah kusiapkan untuk mengikatmu, dengan janji
kau akan lebih bebas nanti

Aku pun tak tahu apa kita telah sama jadi penyaru
(yang penuh dengan gincu !)
Tak tahu pula mengapa kita bisa terlupa pada
nama-nama yang tertera di tugu jarak kita

Tapi aku tahu
tak ada jiwa penyendiri itu
dengan sajak dan lagu
berkejaran dalam tubuhmu
Tak juga kau berjaga
; di mercu yang terpancang pada
sisi yang rindu dalam hati,
; di tempat kudirikan tugu dan
lemparkan wajah
ke tengadah tinggi

Bukankah kau benci kesendirianmu ?
Meski kau membayangkan masquerade
ketika di balik spotlight tuju mata-mata jalang itu
ingin mencuri sekerat tulang rusukmu ?

Kamarmu yang sendu adalah tempat segalanya pasti kembali
Kau adalah legenda dan kultus bagi sekoleksi boneka Teddy
Hari-hari yang berlari, air mata, … perasaan bluesy,
segalanya tercatatkan pada dinding sebagai diary.

Time is warping, ketika tiba-tiba
telpon berdering dan kaukabarkan bahwa
Kau ingin aku memanggilmu dengan nama warna
Tapi, aduuuuh … sungguh !
Ketika itu adalah malam
Dan segalanya terlanjur jadi hitam

Tubuhku luruh dalam pejam pejam mata
Bisakah kulukis wajahmu dengan kata-kata
pada kanvas ranum hati ?
ketika masih ada senyummu membawaku terjun bebas dari
gunung tempat kumendaki ?

Dengan mannequin, dengan mannequin !
Dalam cermin, pada yang mungkin
Kelebat bayang orang-orang di jalan
Sekejap pandang yang lalu lalang

Barangkali kau akan berkata dengan yakin :
surga adalah orang lain

1999 – 2000
A MOMENTARY FRAGMENT
untuk P.

Di sebuah art gallery
Kau mengajakku untuk segera pergi
ketika tak kau temukan rupa kepastian
yang dengannya selaksa kenangan lama
bisa kau jadikan hiasan rumah kita.
Rumah kita, nanti.
Di awan.

“Itu hanya improvisasi,” katamu.

Tapi selalu kubayangkan
betapa ‘kan lebih abadi kalau semua dekorasi
kita bingkai dengan impian sendiri

Dan di sepanjang jalan sama kita lihat
semua pilihan rawan
Lanskap art-deco yang bertingkah dengan zaman
Kain lukisan pemandangan berlatar warna hitam
Jajaran boneka kesepian di jendela pajang

Hari keburu jadi muram
Aku tak tahu kalau kau sudah tentukan pilihan
Diam-diam

Di restoran tua
Aku tahu kau tak pernah ragu
untuk segala hidangan hidup pada menu
meskipun aku tahu benar
kau tak pernah sungguh lapar

Kau bilang, “Hanya pengisi hambar.”
Tapi jadi aku yang selalu kangen

Lalu aku berjalan seperti dalam slow motion
ketika kusadari bahwa akhirnya
kita hanya foto lama hitam-putih
dengan sentuhan warna sepia

1999
INGIN SEPERTI MALAM

Chill, is it something real ?
Or the magic I am feeding off your fingers
                  (Come Undone – Duran Duran)

Cepat bisikkan padaku cerita lain
seperti yang nampaknya selalu kau jujurkan
pada yang membawamu :
Angin.

Meski selinap itu terus mencegahmu
untuk berterusterang
ketika kau isyaratkan bahwa
kabut gunung telah turun bersama hujan

Kukira itu cerita sedih
ketika kau tak juga menyahut

Kalau begitu cepat katakan
mengapa kau terlalu dekat bersarang
di peraduan di mana kupikirkan letaknya maut
Jangan melawan … !

………………….

Aku ingin seperti malam
Yang tak pernah bertanya
atau memaksa

22 Januari 1999
A LOVE AFFAIR WITH AN ALIEN

Mencintaimu berarti membakar diri
ke dalam tungku yang kubuat dari
runtuhan rindu. Abunya kutorehkan
ke dinding waktu

Untuk pertama dan selamanya
ingin kualamatkan ciuman panjang
sebelum desir-yang-tak-luput
menjemputku di akhir,
dari celah dingin pagi yang
menusuk di gigir

Percayalah, penerimaanku akan sedamai seperti
bumi seusai dihempas dikoyak badai

Bukankah kau sendiri tak bisa memilih
Terus berharap atau menjangkauku lagi
dengan isyarat yang paling apatis
Apalagi menangis ?

Karena barangkali aku adalah kupu-kupu bagimu,
yang kautangkap dan kaulepas lagi di dalam hati
Atau seorang protagon tragedi
dari drama tentang Lazarus dan dunia Sufi

Tapi tak juga kusudahi.
Tubuhku yang terus memekikkan namamu, atau
cembung hati … karena jejak dan bayangan berlalu

Kurenggut saja “Kita Yang Surgawi” itu
Lalu kuhirup kunikmati kefanaannya kini
hingga tak ‘kan lagi … kumenagih-nagih janji !
Mei 1999

 

ANOMALI SIKLUS
(dari sebuah mimpi)

Adakah,
Nuh telah melabuhkan jiwa-jiwa resah
pada daratan tak tercatat di peta sejarah ?
Sejak lupa ninabobok dan pelukan bunda,
kami begitu telanjang … begitu tak berdaya.
Lalu rindu menyerbu kami seperti air bah biru
mewarnai apa saja yang kami jamah
dengan rabaan rasa yang paling haru

Aku ingat mencintainya
seperti tanah gurun pasir
yang menyerap dan menguapkan air.
Ke mana saja.

Sedang kukira Ia sandarkan
kengerian, kesayangan, dan kenikmatan
pada seorang asing
dari negeri ‘simsalabim’.

Kabar apakah yang kausiarkan
pada Sang Maha Syahbandar ?
Bahwa kau adalah Adam kedua yang
akan memulai lagi segalanya ?

Kami telah banyak belajar bahwa
Di tiap kegamangan pada jarak yang merentang
dengan sebuah keinginan yang paling dalam
kami hanya bisa berdiang pada udara dan jeda itu :
Ada dan tiada, cinta atau luka

………………

(dari lelap, aku terjaga.
Ketika seluruh tubuhku suntuk
dengan doa)

Barangkali nanti aku harus menguap,
dan melayang dengannya seperti asap
Atau berarak bersama, seperti mega.
Membiarkan biru, seperti apa adanya
Maret – Mei 1999

Sajak-sajak Tulus Wijanarko

ADZAN PUN LALU

mihrab membisu diremas waktu
menunggu sang imam tak kunjung berwudhlu.

oktober, 2000

tuluswidjanarko
LELAKI DI GERBANG KOTA

Kemanakah gema suara lelaki, yang
pernah menyeru di gerbang kota,
zaman demi zaman, jazirah-jazirah, tepi-tepi benua
ingin kujaring satu patah saja
diantara desau angin,
membentur-bentur dingin pencakar langit,

lelaki di gerbang kota
muara rindu kegelisahan,
kukembarai stasiun demi stasiun
pada setiap kereta yang berangkat
jubelan penumpang disergap sepi
wajah-wajah dingin dan kosong.

masihkah engkau menunggu di sana
setelah terompet itu dibunyikan?

oktober, 2000
tuluswidjanarko
KEBERANGKATAN
: laila

1
sekali lagi kerata api telah beranjak
dari stasiun yang kehilangan rasul
di atas rel berkarat

2
kembali terpiuh perahu berlayar
gagap mencari angin buritan
menggapai-gapai mercusuar

3
di tepi gurun kafilah mengukur bintang
merasakan debu melekat di jiwa
satusatu memilih langkah

4
sebelumnya, sekalipun.

september-oktober2000
tuluswidjanarko

YA, AL DURA

bolehkah aku bergabung dalam barisan itu usai pulang sekolah
seperti seluruh bab pelajaran sejarah: masa depan tersisa di dua

arena,
bangku sekolah atau jalanan kota, pensil atau batubatu,
(tapi kami tahu pasti, mereka tak akan pernah memberikan pilihan)
dalam debu panas dari gurun, jiwa kami menyelinap diantara ranting

zaitun

sudut kota, lengan bapak, serdadu, peluru…
dalam tafakur seekor merpati melepas sayapnya

oktober 2000
tuluswidjanarko

AZAN AL-AQSA

tak sepatah aksara tereja
untuk nyanyikan wangi darah
dari lambung mohammed al-dura

azan al-aqsa, jiwajiwa merekat

seperti selalu sudah terjadi
setelah itu kita titipkan harapan pada batubatu
demi sejengkal tanah tertawan

oktober,2000

tuluswidjanarko
DARI JENDELA AL-CAZAR

dari jendela al-cazar puisi ini begitu dekat
lewat mata nanar pelayan hotel ke kotak kaca
tragedi yang datang dari sebuah pasar

sahabat datang dari jauh, hanya membawa latu
tergagap-gagap menjawab Nashren
apakah kalian membenci para lanun tanpa perahu itu, matamu bertanya
angin berhembus dari Jabal Johar
memandang Hebron, memandang intifada

oktober, 2000

 

P R O L O G

kau tagih masa lalu yang terculik
dengan keliaran serangga
lolos beterbangan dari mulutmu

kau tagih kepedihan tanpa jeda itu
dan berharap keluasan langit
akan menghiburmu

apakah yang kau cari, tanyaku

sebab gerendel pun tak lagi dijual
para politisi atau tukang besi.
lihat, seribu topeng seribu kalimat
juga seribu kesia-siaan…
——————–
(3 menit lalu, 2K)

ANGIN MERINGKUS ANGANMU

kau eja huruf seperti si buyung mainkan lelayangan
ingin kau daki kerajaan awan
tapi angin meringkus segala angan
tanpa tegur sapa

di jarimu si upik selipkan rumput alang-alang
aku tak ingin meremasnya di sela gigiku, katamu
lalu kau rangkai sosok ekalaya
agar bisa memindai layang-layangmu
menjemput aksara
di lipatan awan

-bekasi, april 2000

 

NURUL IZZAH, SERIBU KUNANG-KUNANG

malam mengirimu ke persimpangan
setelah badai, yang lindap
di helai kerudung merah
orang-orang berarak di jalanan
membawa seribu kunang-kunang

tapi ini bukan kemarahan, bisikmu

aspal jalanan
langkah membadai
kepal tangan
serupa sungai tak hendak menuju hulu

secercah senyum itu,
namun malam masih berjelaga

-mei 2000
tulus widjanarko

 

ADA YANG DATANG SENJA INI

ada  yang datang senja ini
setelah kesunyian berabad-abad
dari bumi yang kehilangan musim
ini senja terakhir untuk sebuah kesaksian

mari buka album tua dari laci terdalam
barangkali remah-remah kebenaran
masih terselip di bingkai kusam

(kata-kata menjadi senjata, jiwa terjaga aksara,
dan makna membebaskan duka)

ini senja terakhir untuk sebuah kesaksian
sebelum telepon berdering menunda kecemasan

-bekasi—jakarta, mei 2000
tulus widjanarko

………….
kembalikan malam kepada keheningan
kembalikan kata kepada makna
…………..

TIDAK, UNTUK SEBIJI PUISI
(dengan kenangan kepada Moh. Khoiri)

barangkali kau tengah berbicang dengan Hok Gie, kini
atau bertukar debat dengan Ahmad Wahid

senyampang kau sampaikan salam kami
kabarkan kisah sejuta duka negeri
mengurung bagai mambang tengah malam

dan, tangis ibu pertiwi
entah kapan terusap
selendangnya kian terkoyakkoyak

setelah dua puluh purnama
alamanak seperti tak ditanggalkan.
republik masih –dan kian—membosankan
seperti katamu waktu itu

letih kita menonton karnaval hari ini
dari para para durjana yang tenteram,
meringkuk pada senyum politisi
kemeja safari punggawa negeri
atau gerombolan marsose sakit hati

nasib terbaik adalah mati muda, pintamu

tapi ibu pertiwi tengah merintih
mustahil reda oleh sebiji puisi

“kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
airmatanya berlinang
merintih dan berdoa….”

Agustus2000

BANGKU TAMAN IZRAIL

apakah makna kepergian, jika masa lalu
merebut bayang-bayang kita hari ini,
sedang harapan hanya berarti melepas alamanak
pada hari yang berganti

:selembar demi selembar.

kita selalu cemas mencabut rambut yang
berubah keperakan, (hari itu kita menghitung neraca)
lalu membayangkan bangku taman
bakal menjadi teman setia

seraya termangu menunggu izrail
tunaikan undangan

agustus2k
tulus wwidjanarko

SIANG YANG MENGELUH

Siang yang mengeluh,
menengok jejak sepanjang hikayat
meranggas di gigir bebukitan,

lepas dari pendakian ini
jalanan belum lagi menurun

seperti cakrawala, yang selalu
lebih panjang dari harapan
dan kalimat entah kapan selesai,

(kita pun meniti siang, meski
terik mendaulat rapat bukit,
menyimpan kata-kata kita)

bilakan hujan segera turun?

*Juli, 2000
tulus widjanarko

RELIKWI YOGYAKARTA

masih tersimpan di udara derit pagar mengantarmu pergi
sebelum kita bergegas merinci kenangan,
meminta masa lalu menggantikan sebuah kehilangan

selamat malam yogya
biarkan kelenengan andong dan siter wong mbarang
menjaga seluruh siang

siapakah yang pergi?

juli2000
tulus widjanarko

SAJAK BELUM SAMPAI (2)

kuketuk pintuMU
tanganku ragu

kupanggil namaMU
suaraku bau

kutakar dukaku
doaku gagu

sangsi langkahku
KAU  tak cemburu

KAU menunggu di segala arah
jejakku terpiuh di setiap kelokan

agustus,2000
tulus widjanarko

 

SAJAK PAKELIRAN

dan, bagai wisanggeni takon bopo
kita tak akan pernah melewati tengah malam

sebab kesejatian telah dicuri krisna
ketika mencegat asal muasal
sebelum menguncinya ke dalam peti ki dalang

sebelum tengah malam,
kita tersingkir dari pakeliran

juli2000
tulus widjanarko

 

 

JAKARTA

Kau tikam sudah
koloni mimpi ungu
yang tak terdaftar di buku tamu

gerombolan kunang-kunang, melepas pagi yang penat
usai hujan semalaman,
menggumpal dan menggeliat
di lubang-lubang kunci

–Tapi kau pilih, memburu
kesia-siaan, dan gigil
kecemasan, rapat kau simpan,
dalam mimpi pedih seharian.

tulus widjanarko
mei-juni, 2000

 

(GENGAM BELATI INI)

Genggam belati ini, anakku
hanya perlu belajar pada televisi
agar mahir engkau membuat sebuah tikaman
persis di ulu hati
……………………….

 

PELAYARAN BISMA
untuk nir

terimalah memar  jari-jariku
karena bersama kelunya, kutitipkan
kisah gugur bisma dari padang kuru

tersenyumlah untuk setiap luka, yang
netes bersama keringat poriporiku,
pada pedihnya berlayar perahu,
membawa gema doa-doa rabi’ah

september’2000
(mengenang ali dan zahra)

 

PERCAKAPAN DENGAN F, DUA

Inilah aku, tunai menjumpaimu
sebelum matahari tenggelam kelu,
seperti janjiku waktu itu.

di saku kusimpan serpihan cakrawala
yang kupungut dari debu jalanan,
terimalah apa adanya, kelak
mungkin bakal menjadi kawan perjalanan.

Atau simpan saja,
sekadar untuk mematri kenangan

september 2000

 

TITIK NADIR
(dengan permintaan maaf pada khaw)

hanya seutas benang, sebelum
senda gurau bernilai justa,
benakku mengapung
pada tebingtebing kesangsian.

agustus2k
tulus widjanarko

 

MAKLUMAT SEBIJI SAJAK

cukuplah aku sebagai ranting kayu
tergeletak sepi di rimba kalam
menyapih tanda-tanda

ingin mengantarmu ke penjuru mukadimah
pada pintu-pintu memuara ke percabangan

hening o hening
ingin kupasangkan sepasang sayap
agar kegelisahan mengembara di hutan makna

september 2000
tuluswidjanarko

 

DI CILIWUNG

di ciliwung,
seperti batubatu yang tercuri jiwanya
kita penat menata mimpi masa silam
tentang relikwi sisi kiri sungai seine
bahwa hutan percakapan bukan perawat kesia-siaan.

berdiri di ciliwung,
jalan bersimpangan di depan mata
menangisi kemiskinan, atau
menggantung perasaan pada kekusaman.

:ini ciliwung, jauh dari seine
percakapan harus tumbuh dari bumi

ciliwung adalah bunda bagi perihpilu kaum urban
koloni yang tersingkir dari pusaran neon
datang tanpa mengisi buku tamu
sebab desa mereka dicuri benda-benda.

dari ciliwung, mereka
menagih gerimis yang menetes, sisa hujan yang
mengguyur pencakar langit,

:amarah ciliwung, melahar dari pencakar langit, dan
bukan karena liliput-liliput di bibirmu

ciliwung, adalah jendela bagi angin
selundupkan sekerat mimpi
bahwa hidup masih layak diperjuangkan
juni-juli2000
tulus widjanarko

 

SIANG YANG MENGELUH

Siang yang mengeluh,
menengok jejak sepanjang hikayat
meranggas di gigir bebukitan,

lepas dari pendakian ini
jalanan belum lagi menurun

seperti cakrawala, yang selalu
lebih panjang dari harapan
dan kalimat entah kapan selesai,

(kita pun meniti siang, meski
terik mendaulat rapat bukit,
menyimpan kata-kata kita)

bilakan hujan segera turun?

*Juli, 2000
tulus widjanarko

Sajak-Sajak Viddy Almahfoud Daery

SEPANJANG PACIFIK HIGHWAY 

pro: Sally Blackfellow

lihatlah jalan panjang Pacifik Highway
membawaku dari Brisbane ke rumahmu
melewati hutan-hutan yang luas
dan sungai-sungai yang sunyi

kenapa kau matikan televisimu?
padahal dari negeriku yang riuh
telah lama kukirim gambar kupu-kupu
yang kau minta untuk Taman Koolangata

janganlah mengurung diri
di rumahmu yang indah
karena dari Toowomba sampai Woolongabba
sejarah tumbuh dari rerumputan
dan di putik-putik bunga biru Jacaranda

Brisbane, November 1994
BUNGA WATTLE DI RUMAH ALLISON

bunga Wattle di rumahmu, Allison
dijaga oleh cinta dan senjata
dari sejarah yang muram
lalu dibersihkan oleh peradaban
menjelma matahari jam sembilan pagi
di halaman luas, indah dan sunyi

aku melukis bunga Wattle
di halaman rumah yang indah
sepertti halaman rumahmu, Allison
di negeri yang indah dan rapi
tetapi penuh kebun tomat dan cabai

jika musim hujan dan dingin datang
aku akan menyiapkan buku-buku
kelak, beri aku lima hari Sabtu
setiap buku telah kusampul rapi
dengan gambar bunga Wattle
dikurung buah tomat dan cabai
dengan latar belakang negerimu
yang indah dan sunyi

Brisbane, November 1996
SOUTH BANK & AIR MATA

kapal Kookabura Queen berangkat dari South Bank
mengangkut rombongan penyair
menyusr kota Brisbane
sampai jauh di balik Victoria Bridge

dan ketika kapal berbelok kembali
airmatapun berjatuhan
dihalau angin dingin Australia

tisu-tisu diremas dan dilarutkan
di lumpur sungai Brisbane
yang mengendapkan sejarah hitam
sampai bekasnya tak lagi kelihatan

lalu puisi-puisipun ditulis
tapi lantas diremas dan dibuang
di kotak sampah yang rapi
karena sejarah dan peradaban
tumbuh dewasa dan bijaksana
bersama senyum dan airmata

para penyair minum air ponten
di City Botanical Garden
lalu menyusut air matanya
sambi meremas roti kering
dan disebarkan di rerumputan

burung-burung gereja, gagak, merpati,
pecuk, gelatik dan Kookabura (alangkah ramainya)
dengan damai berebut mematuk remah-remahnya.

Brisbane, november 1994
ABROR DAN WAGGA WAGGA

Abror menelpon dari Wagga Wagga
lima tahun sudah kami tak jumpa
“Jangan hanya di Brisbane, datanglah
Ke Wagga Wagga
di sini banyak kebun, sungai dan lembah
udara bersih dana harum bagai sajak-sajakmu
rumah-rumah di sini mungil,
berandanya dirambati markisa
anggur dan bougenvil
rumah-rumah dipisahkan jarak
yang diisi rumput, bunga Wattle dan jeruk Jacaranda”

“Aku kerasan di sini, Viddy
tiap pagi bekerja bagai upacara
menghitung pohon-pohon lemon,
biri-biri merumput
dan jalan-jalan yang rapi
bagai kartupos-kartupos Eropa.
Ini memang negeri fotokopi
tetapi lebih cantik dari yang asli.”

“Ini negeri muda di tanah yang tua
ketika negerimu sudah makmur
dipayungi kerajaan Mojopahit yang jaya
negeri ini masih tanah kosong
dengan Aborigin di gua-gua.
Kini negeri ini begitu cantik jelita
apakah negeri kita juga semakin perkasa?”

Abror, tunggulah aku di Wagga Wagga
kami juga sudah banyak membangun
kami terus berjuang dan berkarya
hanya orang jahat yang merusak negeri kami
menggunduli hutan, merusak udara,
mencemari sungai, menindas rakyat
dan menodai kesucian arti kemerdekaan.
Tapi memang, orang jahat di negeri kami
jumlahnya banyak sekali.

Tapi kami terus membangun
bekerja keras dan berkarya
di tengah-tengah kepengapan, kemiskinan dan kebodohan
dan jalan-jalan yang persis kubangan.
Ngeri kami tengah merayakan
50 tahun usia kemerdekaan

Brisbane-Jakarta 1994-1995

Sajak-Sajak Wahyu Prasetya

ANAKKU MENULIS MERDEKA ATAU MATI

Dengan cat semprot anakku menulis di dinding-dinding rumah
kalimat yang ia pilih dari buku tulis sejarah sekolah dasarnya
warna merah yang melukiskan masa lampau pekikan
ada luka parah, da khianat, ada timbunan tentara, petani…
peperangan akan selalu direncanakan dari pikiran sebuah rumah
maka ia mengecatnya,
“merdeka atau mati”
lalu teman-temannya pun menambahkan beberapa kata-kata,
“viva iwan fals!”

dari sebuah dinding rumah, sejuta senjata dan calon korban dicatat
bahkan ada pula yang berani menyemprotnya dengan cat merah, jari-jari anak-anakku
apakah beda kemerdekaan ini dengan ketulusan tentang mati
apalah arti letusan di benua dengan 350 tahun yang menggilas kita
Indonesia adalah sebuah peta yang pernah diperdaya oleh ranjau intrik, bom dan kasak kusuk,
“merdeka atau mati”
Lalu aku pun menyisipkan kata-kata juga
“hidup ibu hidup bapak hidup dada hidup dedy”
malampun menyisakan bauan tinner dan huruf melotot
biarlah
Kemerdekaan yang kami syukuri dalam rumah sederhana ini
hanya huruf, kalimat dan bahasa cata semprot
dan jari jari anak anakku yang mengutip ingatan buku tulis sejarahnya
esok ia akan membacanya keras-keras, hallo indonesia?
hallo Kemerdekaan siapa?

malang, 1.5.1995
MENATAP BENDERA DALAM GERIMIS

kelembutan waktu yang melahirkan seribu musim dan sejarah
dalam masa lalu yang dicucuri airmata dari segala orang.
saat teror, darah yang mudah dilupakan, bahkan kematian,
lalu tiba kami memndang pembangunan gedung, hotel, golf…
sejarah ternyata tak cengeng,
walau dikelilingi nasib sial dan pegkhianatan
kami menatap langit luas dengan lambaian bendera,
bersama gerimis
yang dijelmakan oleh celoteh 180 juta anak anak

tempatku ngomong kadang di tengah malam yuang ngantuk
tanpa kalimat panjang apalagi bahasa yang benar.
orang orang merdeka,
menelponku lewat telpon genggam dan faximile:
surat jkabar dicetak dengan huruf huruf: laba
maka seratus gedung sekolah dasar di pelosok IDT
roboh
diruntuhkan oleh kenyataan dan tipudaya kebenaran siapa

menatap bendera dalam gerimis kedua mata anak istri
dan orang orang yang hidup sebagai diriku.
sebagai korek api yang seakan akan diyakini
segera menjelma kebakaran di kampung halaman Jakarta
merdeka!
aku ternakar dalam ketakpahaman pikiran sendiri
ada yang sia sia harus dituliskan oleh sebatang besi!

1995

Sajak-Sajak Wina Juliet Vennin

IJINKAN

Ijinkan aku tumpahkan semua beban dipundakku
Bukan karena aku tidak mensyukuri RahmadNya
Aku hanya ingin berbagi

Ijinkan aku rebahkan diriku didadamu
Sembari kukatakan semua luapan isi didadaku
Untuk sekedar meringankan luka ini

Ijinkan aku menangis
Walau itu membuatmu terluka
Tapi kupercaya kau tetap membasuh luka dan tangisku

winna’
19  01  2000
PERJALANAN MENUJU PURI DI UJUNG PELANGI

Melintasi nuansa warna
Mengapai puri diujung pelangi
Setapak demi setapak
Kulintasi nuansa warna pelangi
Semburat merah
Serasa jiwa bergolak
Nyala api tak kunjung padam
Tanpa sada ujung rambtku terbakar
Dengan gerakan secepat kilat
Kuguyurkan air dan kupotong rambutku
Entah potongan rambut model apa yang kini kumiliki
Aku tersenyum sendiri
Kulanjutkan perjalananku dengan membawa sepercik kebahagiaan
Kubilang pada hatiku takkan lagi kuberbuat ceroboh
Sketsa jingga mulai kujalani
Dengan penuh semangat dan tekad membaja kutelusuri
Disekelilingiku dipenuhi kemilau intan
Segera kuambil intan-intan yang sanggup kubawa
Namun ditengah perjalanan ….
Tiba-tiba intan-intan itu raib entah kemana
Ternyata karung tempat intan itu berlubang
Karena terlalu banyak isinya
Kembali kulanjutkan perjalananku dengan kebahagiaan tersendiri
Dan kutinggalkan karung yang telah kosong itu
Rona kuningpun terlihat
Kuberlari-lari kegirangan
Menari-nari penuh suka
Semakin kupercepat langkahku
Aduh…. Tiba-tiba aku terjatuh
Begitu cepat kakiku melangkah….
Segera kupijat dengan balsem pemberian ibu
Sambil terseok-seok kukembali berjalan
Asaku tak jua padam tuk gapai puri di ujung pelangi
Kurasakan bahagia dalam rona kuning
Penuh semerbak harum bunga matahari
Takkan kubiarkan kegembiraan terlalu dalam
Hingga lupakan semua hal
Hamparan hijau dedaunan kurasakan
Sejukkan jiwa yang galau
Dedaunan serasa dicumbu embun
Kupu-kupu bermain merayu-rayu
Karena aku sangat jail
Kuambil sebuah kupu-kupu
Namun……
Entah darimana datangnya lebah
Sejurus kemudian menyengat tanganku
“Padahal aku nggak menganggu sarang lebah itu….
Tapi….. darimana lebah itu muncul……
Apa…. Lebah itu sahabatnya kupu-kupu ya ?”
Tanyaku pada aku sendiri
Kuambil daun melati
Kuusap-usapkan pada tanganku yang bengkak
Kurasakan harum semerbak wanginya
Diriku dipeluk oleh alam nan syahdu
Begitu tenang….
Rasakan kebahagiaan mencumbuku
Takkan pernah kujahat pada alam yang telah memanjakanku
Takkan pernah kuberbuat salah meskipun itu cuma kesalahan kecil
Karna kuyakin semua salah pasti ada hukumannya
Sayup terdengar merdu bunyi seruling
Kuterbuai oleh negeri pink
Romansanya memanjakanku
Buat mimpiku melambung jauh
Hingga tercipta ribuan syair-syair asmara
Takkan tertandingi oleh pujangga manapun
Saat inipun kulihat wajahku dalam bening aliran sungai
Begitu cantik tak terduakan
Sayup terdengar puisi-puisi cinta yang lebih indah dari puisi-puisiku
Dan terlihat gambar gadis-gadis cantik yang lebih dari wajahku
“Ah sudahlah…. Toh semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing”
Kutersenyum dan kulanjutkan perjalananku dengan rasa syukur
Atas semua kelebihan dan rasa ingin memperbaiki kekurangan-kekuranganku
Kutermenung dikelilingi sutra unguKembali kumenghayal tentang puri indah di ujung pelangi
Seperti yang selalu nenekku kisahkan menjelang tidur
Kuhanyut oleh kesedihan di masa silam
Hingga tak mampu lagi kusadar tentang keindahan sutra ungu ini
Tanpa sadar pak tua menghapus air mataku
Masih terbuai oleh kesedihan
……
aku membungkam
“Gadis manis bangun lihat sutra-sutra ungu ini begitu indah
terproses dari tangan-tangan yang lembut tapi perkasa”
Aku bangkit….
Sungguh indah sutra-sutra ungu ini
Tapi…. Kemana pak tua tadi..
Kurasakan kebahagiaan dalam kelembutan sutra ungu
Kutakkan pernah hanyut dalam kesedihan lagi
Kuingin gapai semua cita dan cintaku
Kata nenek kalau sudah sampai di negeri biru….
Berarti hampir sampai di puri ujung pelangi
Kebebasan dan kedamaian begitu terpancar
Sungguh ini cobaan yang berat
Tapi kubisa atasinya
Langkahku kian cepat hingga sampai pada deretan bunga-bunga
Semburat warna
Merah…., jingga….., kuning…., hijau…, merah muda…..
Hijau…., dan biru
Bagai seorang putri tiba-tiba bajuku berubah laksana
Cinderella Milenium
Baju yang sangat besar namun pas dibadanku yang mungil
Berwana pink dengan hiasan-hiasan perak
Rasanya bajuku bisa bergoyang-goyang
Kepalakupun berhias mahkota
Seorang pangeran tampan menyambutku
Dan mengajakku kesebuah puri
Tapi…..
Apa yang kulihat…
Sebuah gubug ditengah air terjun yang terdapat bias-bias warna
Dikelilingi bunga-bunga
Gemericik airnya mendekapku dalam kedamaian
Angsa-angsa putih asyik bercumbu
Burung-burung riang beryanyi asmara
Pangeran itu berkata
“Perjalananmulah purimu, dan ini hanya sebagian dari purimu
yang akan kita tempuh berdua
dan mungkin tidak seindah yang kamu bayangkan tapi
kuingin beri yang terindah buat mu”
Kebahagiaan melewati negeri warnapun terlintas di pelupuk mataku
Kini kebahagiaan yang aku rasakanpun bertambah
semakin bertambahnya pengetahuanku
Tentang nuansa warna
Kan kujalani semua hal di puri ujung pelangi
bersama seorang pangeran tampan yang bijaksana

10042000

Sarang Burung

Kutebar senyum pada laut biru di Ujung sana
Kudapati ombak-ombak mungil berlarian
Kuberkicau menyambut mentari pagi
Kuterbang dengan kekasihku
Saling mengusap-usap penuh kasih
……ach….kicauku tertahan
Angin menyebar berita perlahan-lahan
Kadang suaranya terdengar diantara pepohonan
Kadang begitu sunyi……
Musim kemarau masih panjang
“Kapankah kita membuat sarang?
Kapankah kita temukan pohon tempat berteduh?
Yang kudapati hanya gedung-gedung bertingkat
Akankah kita mendiaminya ?
Tidakkah mereka mengusir kita ?
Seribu tanya tanpa jawab?”
Seolah nafas kota menghimpit semua pertanyaan
Kami kembali memadu kasih
Perlahan kami terbang dari satu ranting ke ranting
lain
atau…. bermain-main dari satu awan ke awan lain
meskipun awan-awan itu berusaha mencegat kami
Kami kembali memadu kasih
Suara kepakan kami tertahan…..
………………..
Hilang diterpa angin dan gelombang pantai
Kicauan kami kalah oleh suara gergaji besi
Kembali kami terbang rendah
Ombak-ombak seolah mempermainkan kami
Mencoba kembali terbang tinggi
Kali ini gedung pencakar langit yang menghalangi jalan
kami
Kami tetap berusaha terbang
mengepakkan sayap-sayap kecil kami
Mencari arah mentari
“Kapan kita akan membuat sarang?”
Ombak dengan garang menyergap pertanyaan kami
Kami tetap berusaha terbang
mengepakkan sayap-sayap kecil kami
ditengah musim kemarau yang selalu membuat kami
mengeliat
Mencari arah mentari
dimana menerbitkan kenyataan pada akhirnya Kami
akan bisa menjawab dengan pasti
Kapan Kami akan membuat sarang?
Okt ’99
JuVe

Lantai Dansa Cinderella

Kucoba rebahkan diriku bersama turunnya peri-peri malam
Kucoba hilangkan semua kekesalan dan kelelahanku
Tak jua kunjung bisa
Kuingin malam ini dewa mimpi meniupkan sulingnya ditelingaku hingga memerah
Kucoba terhanyut dalam dekapan sang rembulan

Sesaat datang seorang wanita setengah baya mengajak kupergi
Tanpa kutahu siapa dia
Kuikuti kemana dia membawaku
Tanpa kusadar aku telah berada di sebuah pintu gerbang yang ditutupi sejuta bunga liar
Kubuka perlahan, deritan pintunya membuat nyeri daun telingaku

Mulai kususuri halaman yang nampak begitu tua dan usang
Sebuah pintu lagi berdiri didepanku sekali lagi daun telingaku terasa nyeri

Wouw….
Seperti berada di sebuah negeri dongeng atau rumah
seorang bintang Hollywood
Tapi sayang…. puri yang indah itu nampak tak terawat
Dengan ragu dan rasa takut kucoba beranikan diri memasukinya
Cat-cat merah muda yang menghiasi dinding-dinding
masih memancarkan sinarnya
walaupun sepertinya puri itu sudah ditinggalkan
puluhan tahun
Namun bangunannya begitu mewah dan megah

Tampak sebuah tempat tidur mungil yang indah dihiasi
lampu merah muda
dengan kelambu merah muda
aku dikejutkan oleh sebuah gaun malam yang begitu
indah
Tapi sayang gaun itu terlalu besar untuk kupakai
ditubuhku yang mungil
Tapi entah nurani dari mana yang memaksaku untuk
memakai gaun itu
Terkejut aku ….
Gaun itu begitu pas dan cocok kucapai
bak seorang putri dari kerajaan inggris aku mengaca
pada sebuah kaca yang berukuran
sebesar tubuhku yang dihiasi oleh ukiran yang mahal
yang sepertinya gajiku satu bulan
belum cukup untuk membelinya
Seolah dewi Aphrodite tersenyum padaku
Aku menari-nari kuikuti lantunan musik dansa yang
terdengar di telingaku tanpa pernah kutahu siapa yang
memutarnya
Serasa terlempar ke negeri lain dimana tubuh-tubuh
mungil dengan membawa tongkat bintang dan diatas
kepala dihiasi lingkaran putih mengelilingiku
Aku kembali menari-nari tanpa perduli akan
sekelilingku
Terdengar suara merdu nan sopan
Kulihat pakainnya bak seorang pangeran
pedangnyapun masih berada diballik punggungnya yang
bidang
bajunya yang serba merah muda itu mampu membuatku
tertawa dalam hati
namun kutahan tawaku karena
Tangannya mulai diayunkannya kebawah lalu kesamping
seolah mengajakku memulai berdansa
Seolah dipanah oleh dewa amor aku pun mulai
memberanikan diri berada lebih dekat dengannnya dengan
seseorang yang tak kukenal dan
Dengan sedikit canggung kumulai berdansa padahal
sebelumnya aku tak pernah berdansa
Kuikuti saja alunan musik itu

Tanpa kusadar aku dibangunkan oleh lautan yang
melahirkan surya di ufuk tidur
Aku cuma bermimpi……

winna’


ASA BARU

Kubangun hari ini dengan membawa asa baru
Kutembus langit ketujuh
Kulintasi pelangi

Aku menari-nari dengan bajuku yang kebesaran karena
tubuhku yang memang kecil
Aku berlari-lari kecil seraya mendendangkan lagu cinta
Aku menatap awan dan langsung terbang ke arahnya
Aku menatap langit dan aku langsung menembusnya sampai
langit ketujuh

Kususuri langit dimana aku bisa bermain dengan
awan-awan
Kujelajahi bumi dimana aku bisa berceloteh dengan
burung-burung

Kembali aku turun kebumi
Kutanya angin ada kabar apa hari ini
Terlihat sebuah mata air mengalir begitu jernihnya
memberi kehidupan bagi sawah-sawah nan hijau
Tercium semerbak wangi bunga-bunga di taman

Kurebahkan tubuhku di hijaunya rerumputan
Kupejamkan mataku sambil tersenyum

Kuayunkan kembali langkah kecilku
Aku kembali menari-nari di taman itu
Kurasakan hembusan angin sejuk memainkan rambutku
Kuhirup udara segar itu lalu kukeluarkan kembali

Terima kasih Ya Allah
Nikmat dan karunia-Mu sedemikian besar hingga tak
mampu lagi
kugoreskan dalam puisi kecilku
Rapuh

Perlahan aku bangkit dari seribu batu yang menimpa
tubuh kecilku
Perlahan aku bangkit dari tidur panjangku
Tertatih kuberjalan tanpa tau arah
Tertatih kucari sebuah tongkat bantu aku berjalan
Tertatih aku…

 

CERITA YANG TERPURUK

Disini…
Rintik air hujan jatuh seperti jarum2
Burung hantupun mengigil kedinginan
Dulu…
Ketika dalam dekapan dewi asmara
Aku ingin agar waktu berhenti saat itu
Namun…
Aku tak mungkin terus bersandar pada angin
Mentari menerbitkan satu kenyataan
Bahwa waktu akan terus berjalan
Saat ini…
Kutulis surat buatmu lalu kubakar dalam tungku panas
Gemuruh petir dimalam hari terdengar
Adakah cinta polosku kau simpan?
Tak ada yang menyahut
Hanya gerimis gaib terdengar, dan…
Menyimpan sebuah rahasia kepolosan cinta

Juliet Vennin 1996
[Mepiksa ’96]

Kisah Lara

Kusapu wajah langit perlahan
Kuhitung bintang entah sudah jadi berapa buah

Tertidurnya rembulan dalam belaian angin surga
Seiring menari penaku
Detak jam di kamarku terdengar jelas

Pujanggapun mulai membacakan syair-syairnya
Lama kutertegun tanpa kata
Hanya desah atau sesekali anggukan tanda mengerti

Kugerak-gerakkan jemariku diatas kepala
Menari sayup terdengar gamelan
Layar tlah dibuka
Dimulainya kisah lara dari sudut layar yang terkubur
Nurani diam bagai cacing kepanasan
Dipojok dduk manis beberapa sinden suara merdu
nyanyikan lagu nestapa
Lama terdiam hayati cerita lara digaris tanganku

Cucuran air mata bermuara dikolam nestapa
Terlena dalam timangan duka
Dalam dekapan mesra kabut lara

Lama kumerenung….
Makin kusulut api panas dalam luka yang entah sembuh
entah tidak
Lama kutertegun…..
Masih kusadar lukaku masih meneteskan nanah
Apa bisa ramuan sesedikit itu menyembuhkan luka yang
masih bernanah
Jijik kumelihat luka in

Lama kuhayati arti dari suara merdu sinden
Sesekali kulihat lukaku yang masih bernanah
Seorang ibu tua sodorkan ramuan yang tlah dihaluskan
dengan cobek
Coba minum beberapa pil ini,
Coba tetesi dengan obat tetes ini….
Ah…. Bercak nanah itu tak mungkin mengering…. Tak
mungkin

Apa aku yang buat nanah ini makin menderas
Segera kusingkirkan lalat-lalat yang mengerubungi diri
Obati luka ini….Kuyakin nanah ini dengan ramuan dari
ibu tua itu
Atau dengan beberapa buah pil…. Atau justru dengan
obat tetes itu….
Pasti sembuh ya….. pasti sembuh…. Kuyakin

Kuingin sinden itu mengubah tembang-tembang laranya
Jadi tembang suka dan merindu kasih
Bersama mengeringnya nanah di lukaku
Meski bekas luka tak pernah hilang
Kuingin usir kisah lara ini
Ingin tutup semua layar duka
Akhiri kisah lara….
Sudahi saja

210300

MALAM MENDESAH PANJANG

Aku mengadu kala malam mendesah panjang
Dalam tembang suling kutiupkan sebuah kisah
Aku menangis tanpa perdulikan burung hantu lantunkan lara
Dalam terkaman guntur malam aku mengigil ketakutan

Dalam desahan panjang sang malam aku mengadu
….
Desahannya panjang menyayat pilu
Tubuh mungil malam semakin kurus diterkam siang lusuh
Butiran-butiran bening mengalir di kedua pipi mulus
Badanku makin gemetar, tak henti bicara jiwaku
Hanya bibir yang terdiam karan kata tlah terbutuh

Malam kembali mendesah dalam kantuknya yang panjang
Mata anginpun mulai membuka menutup kelopaknya
Tubuhku makin kaku dan mengigil ketakutan

Aku bersujud
Aku bersimpuh
Deraian air mata bagai aliran terjun
Bibirku kaku
Hatiku beku

Apa jiwaku mati
Sepi….
Malam mendesah panjang dan lirih
…..

30042000
SIAPA

Siapa menyapa kala fajar menyingsing
Siapa menari diatas panggung bayang-bayang
Siapa bertanya dalam pekat kabut pagi
Siapa berbisik pada angin diujung senja
Siapa biarkan kuntum bunga terpetik
Siapa biarkan dirinya kehujanan dalam derasnya siang
Siapa berkaca pada deras aliran air sungai
Siapa pastikan bisa jawab siapa
……

30042000
KARCIS 2 JURUSAN

Siang itu distasiun kereta api sangat panas
Deras menetes keringatku berbau kecut
Lalu lalang orang buat aku pusing
Karcis 2 jurusan ada ditanganku
Tanpa tau mana yang terbaik

Tangisan anak kecil buat telingaku meronta-ronta
Ramai pedagang asongan tawarkan sana-sini
Karcis 2 jurusan tetap ditanganku
Sambil berdiri kebinggungan
Karna kuhanya orang asing tak tau arah dan tujuan

30042000
Aku Sayang Kamu

Aku sayang kamu
Bersama kualirkan tiap-tiap do’aku didekapan rembulan
Aku sayang kamu
Seperti persetubuhan antara pekatnya malam dan jelitanya pagi
Aku Sayang kamu
Bersama larutnya ciuman dan rebahnya kepalaku didadamu
Aku Sayang kamu
Saat mimpi-mimpi keabadian cinta membumbung dari asap pengharapan
Aku sayang kamu
Bersama lewati lorong-lorong nafsu dan cinta
Aku sayang kamu
Kubelai lembut hati yang tercipta merayu
Aku Sayang kamu
Terbisikkan tiga kata entah terhayati entah tidak “Aku Sayang Kamu”

29042000
Syair Sang Kekasih

Mungkin aku hanya bisa buat syair
Lantunkan liris-liris romantis dalam gerimis
Terdengar angin tertawakan syair-syair
Tapi kuhanya tersenyum sembari melirik

Lihat wajahmu disemua dinding hati
Kembali kutarikkan pena emas mungil
Ungkapkan rahasia panah-panah asmara dengan lirih
Cinta mengalir…..
Dari gejolaknya dan berputar-putar diantara lembah dan bukit

Kekasih….
Dengarlah perlahan-lahan nafas cinta sang angin
Kemarilah biarku dinginkan hati
Dengan dekapan sayang dan kasih

Kemari
Hampiriku, buat mataku jadi telinga maknakan cinta diantara duri
Kubiarkan dirimu mandi dikolam air mata diri
Gerimis tetap melawan sepi
Bicarakan cerita-cerita batin dan kisah kasih
Dua sisi kan tetap tertaut dalam runcing hati
Wajahmu kembali tersenyum manis
Mengecup kening dan kubiarkan penaku berhenti menari

29042000

juliet vennin/winna’
Sebuah Cerita Pagi

Saat itu surya bersinar terang
Kukayuh sepeda dengan hari riang

Pelan namun pasti aku coba seimbang dengan jalan yang tidak rata
Ban sepeda yang mungil melengak lengkok di tengah kerikil-kerikil

tajam
Kutoleh kanan kiri agar aku tak disalahkan karena memakai jalan

seenaknya
tapi…….
prattttttttt……….
tiba-tiba bajuku terciprat air hujan dipinggir jalan dan tubuh serta
sepedaku agak doyong ke kanan
sekilat kulihat sepeda motor sudah berada 100 m dari hadapanku
“hu-uh orang nggak tau apa kalo disini ada orang”
“kenapa bu ?, makanya hati-hati mending ibu bawa mobil aja
he he he”, kata seorang pemuda di yang lewat didekatku

naik mobil…… tanyaku dalam hati
la wong pak umar bakrie aja masih juga bawa sepeda kumbang
iya-ya….. mungkin aku juga bisa pakai handphone seperti
orang-orang itu……
andai….. kapan yach…….. nanti deh aku pasti bisa nabung
Kembali kukayuh sepedaku meniti jalan berkelok dipinggiran desa

sesampai di sebuah bangunan yang agak rapi namun sudah kuno
aku berjalan sambil menjawab salam yang selalu dilontarkan
murid-muridku
setelah bel masuk berbunyi mereka berdiri rapi didepan pintu sambil

sesekali
terlihat mereka saling mencubit atau menyentuh badan temannya
lalu mereka masuk ruang kelas setelah mencium tanganku
melihat kepolosan mereka……
rasanya hilang semua amarah yang akibat ulah si pengemudi motor tadi

winna’

Menyusuri Lorong Dusta

Pekat…..
Gelap….
Tanpa lentara ….
Hilang secercah cahaya

Kotor, gelap
Penuh sarang laba-laba
Jijik kumelihatnya
Kudekap tubuhku dengan selimut tebal

Bisakah kuteruskan langkah
Bisakah pasti kuberjalan
Akankah ada secercah kejujuran jiwa

Pengap
Sesak rasa diri mengantung dusta
Menipu dinding nurani, semua

Mengeliat dalam gelap
Menari diatas kegetiran
Semakin sesak batin, rongga

Aku ingin titik kejujuran
Tak kuasa ungkap seribu makna
Tertipu tertipu, dan
Tipu semua jiwa
Kutetap susuri lorong dusta
Biarkan sesak terus memenuhi rongga
Karna kata orang
“Tidak jadi masalah apabila kita menipu untuk kebaikan”
meski diri terus dihimpit sesak di dada
teruskan menipu jiwa
tanpa sadar tipu juga diri sendiri, segenap

10042000
winna’

 

 

Wajah itu menatap

Dalam perputaran waktu di ujung langit
Dalam pekatnya malam dan ganasnya siang

Aku, gadis kecil menatap pada langit-langit debu
Aku, seorang bocah mengusap keringat
entah keringat duka entah suka
Aku hanya tersenyum sambil sesekali mengusap-usap rambutku
yang penuhi debu dan asap jalanan

Aku bernyanyi dalam derasnya asap motor
Aku berharap cinta kan hampiriku
bukan tatapan ngeri
bukan tatapan takut

Wajah itu menatap
Sinis padaku
Wajah itu menatap
melirik, hanya
Wajah itu menatap
kasian padaku
Wajah itu menatap
beberapa uang receh dikeluarkannya
Wajah itu menatap
sambil diawasi semua sekitarnya, takut
Wajah itu menatap
biasa, sebatas menatap
Wajah itu menatap
o’, ohhhh, bukan aku yang ditatapnya
tapi….. seorang gadis cantik di bemo
upssssss…… aku salah nih

winna’
buat adek-adekku di SMP [Sekolah Malam Pengamen]ALANG-ALANG

 

 

Rindu Dekapanmu

Bunda aku rindu Dekapanmu
Belaian tangan-tangan keriputmu mengusap lembut rambutku yang hitam

Bunda…..
Aku rindu pelukan hangat cintamu
hantarkan tidurku

Bunda aku rindu…..
Bunda putrimu rindu akan cerita-cerita dongeng
Kau bacakan sembari aku terlelap tidur

Bunda aku rindu nasehat-nasehatmu
Buat Kumarah karna tak pernah hayati makna

Bunda dekaplah aku…..
Timanglah putrimu yang lusuh ini
Bantu aku tuk berjalan Bunda….
Bimbinglah putrimu yang beranjak dewasa ini

Bunda…..
Biarkan kuceritakan semua luka
Meski tak pernah ingin ku kau mendengarnya

Bunda……
Ingin kuungkap semua asa yang ingin kugapai
Ingin kubersabar menanti Ayah pulang

Bunda…..
Sungguh ingin aku membantumu
tapi….. rasanya aku terlalu egois dengan waktu yang bukan milikku

Bunda……
Seandainya…….
Andai aku bisa hayati makna kasih sayangmu……
Seandainya……
Bunda ….. Seandainya aku bisa hayati makna kasih sayangmu

Bunda ……
Sadar aku bahwa waktumu bukan hanya milikku
tapi bunda……
Dekap hangat tubuhku saat ini
Agar dingin yang aku rasakan tidak sampai menusuk tulangku

Bunda……
Bunda hangatkan aku dengan cintamu
Bunda I love U bunda

for my mother

Sajak-Sajak Wowok Hesti Prabowo | Puisi Protes Sosial Politik Reformasi

Sajak-Sajak Wowok Hesti Prabowo 

 

SAMPAI KAPAN
: Soeharto

sampai kapan kau biarkan aku. menangisi keangkuhanmu hingga pohon-pohon kurus, sawah-sawah pecah. ternak-
ternak melahirkan wabah. dan kau masih dengan langkah salah

sampai kapan kupahami batumu
suara-suara kau tangkap dengan diam. gemericik air kembali kau lemparkan. bahkan angin kau curigai mengalirkan
dendam

sampai kapan kau buka pintu besi. debu kau tangkapi matahari yang mengeringkan tanah itu kau puji

sampai kapan kau duduki terus kursi
sementara sepatu-sepatu iru tlah letih berdiri gelisahnya mengganggu tidurku

sampai kapan, ya sampai kapan roda itu kau hentikan putar

Tangerang, 1997
TRAGEDI

tak jelas siapa lelaki marah sore itu, ibu
ketika anak-anakmu telah kembali ke rumah. setelah sesiang berbagi derita dengan rumput trotoar bicaralah
tentang darah, ibu. yang menggenangi halaman rumah kita dan tangisan yang sengaja dilahirkan

o, terlalu mahal harga yang harus kita pertaruhkan sungguhpun aku prela. tetapi lelaki marah yang tak kita ketahui
entah siapa. mungkin kelak justru membalik sejarah dan tiba-tiba menutupi pengkhianatanyya dengan jaket
pahlawan oi, lambaian tangannya kulihat masih berlumuran darh bicaralah ibu. ya, bicaralah

biarkan. biarkan genangan darah itu
mengering di perutmu, ibu aku dan entah siapa yang sungguh mencintaimu tak kan lupa tragedi sore itu: saat
peluru dimuntahkan tangisan membelah Jakarta

“Senapan itu entah siapa kini menyimpannya”

Mei, 1999
DI DALAM BOTOL SULFAT

Marsinah,
kau hidup di dalam botol asam sulfat
entah siapa telah menuang separo isinya
hingga rintihmu terapung di tengahnya
kau selalu tergelincir ketika hendak mencapai lehernya
saat aku mencoba membuka tutupnya
kudengar rintihmu: pecahkan, pecahkan botol itu

Marsinah,
lukamu telah menyatu asam sulfat itu
aku selalu mencoba menumpahkannya
tapi orang-orang gagah dengan mulut seragam
tak ingin pecahannya melukainya
tak ingin asam sulfat melumatkannya

Marsinah,
di dalam botol asam sulfat itu
dukamu abadi

(Wowok Hesti Prabowo)

Sajak-Sajak Rendra

Rumpun Alang-alang

Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal

Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada

 
Surat Cinta

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ……
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !

Sajak Yanusa Nugroho

Penari

apa yang bisa dimengerti oleh
sepasang mataku, ketika
kusaksikan penari dengan
rantai di pergelangan kakinya

oh, tamborin di tangan berjari lentik
sanggupkah kau berteriak
lantang menundukkan rantai gelang?

oh, pinggul indah yang mengundangku
itu tak sanggup melenturkan untaian baja
yang menggantung di mataku

matamu, benarkah kau meminta cinta
atau meludahi pandanganku?

duhai penari,
rantai di kakimu mengikat erat
nafas kehidupanku…