Undangan: Selametan Bunyi Artmoschestra

Undangan:
SOFTLOUNCHING ALBUM” Selametan Bunyi Artmoschestra”
Tanggal: sabtu 18 februari 2012
tempat: ARTROCK CAFE Jalan Keramik Dinoyo Malang
Jam : 19.00 s/d selesai

Acara:
– Diskusi (bedah komposisi Album Artmoschestra ” Nagara Kretagama United ”
– Pemutaran Film Dokumenter ” Perjalanan ARtmoschestra”
– Mini Perform ARTMOSCHESTRA
– Lelang CD ALBUM

CP: Redy Eko Prastyo
085855186610
email: etnicholic@yahoo.com
FB ( Halaman ) : New Artmoschestra
GRATISTentang Artmoschestra:
http://www.gerbangnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=337%3Aredy-a-artmoschestra&catid=40%3Apanggungnesia&Itemid=50

http://gatutsuryo.ning.com/profiles/blogs/my-perform-with-artmoschestra

http://www.antaranews.com/berita/1317467471/artmoschestra-suguhkan-instrumen-digital-etnik

http://experialabel.wordpress.com/tag/artmoschestra/

Komposisi Artmoschestra:
http://www.youtube.com/watch?v=6KpHk7F5RuE
http://www.youtube.com/watch?v=h7m308H-YkY
http://soundcloud.com/redyekoprastyo/ura-uri-tengger-artmoschestra

MADAKARIPURA
Artmoschestra Malang

Pada dasarnya, komposisi Madakaripura adalah komposisi Artmoschestra Malang yang menyajikan guratan kesedihan dibalik kegagahan. Kesedihan dari seorang tokoh hebat dan sangat terkenal seantero Nusantara, yakni Gajah Mada. Sang Mahapatih Kerajaan Majapahit ini meletakkan jabatannya karena merasa bersalah atas Peristiwa Bubat yang menewaskan Dyah Pitaloka, calon istri Prabu Hayam Wuruk beserta pengawal sang putri jelita dari Kerajaan Pajajaran itu. Anehnya, Gajah Mada tiba-tiba menghilang. Konon tokoh sakti mandraguna ini menyepi di suatu jajaran air terjun tak jauh dari Gunung Bromo. Di tempat itu, Gajah Mada menghabiskan waktu bertapa dan mengalami kamuksan di balik salah satu air terjun yang sangat indah itu. Muksa didefinisikan sebagai lenyapnya jiwa dan raga sekaligus. Masyarakat lantas menyebut tempat itu sebagai Madakaripura.
Secara musikalitas, komposisi Madakaripura menyiratkan kegundahan dan kemisteriusan. Kegundahan yang terpatri di relung hati seorang anak bangsa Jawa yang mampu mengintegrasikan berbagai kerajaan di wilayah Nusantara dalam pelukan Kerajaan Majapahit. Sepak terjang Gajah Mada terkuak jelas dalam hentakan kendang yang menyentak-nyentak. Adapun kemisteriusan yang dipaparkan oleh komposisi ini adalah pemilihan Madakaripura sebagai tempat muksa oleh Sang Mahapatih Gajah Mada. Sebuah kawasan sejuk yang dipilari oleh beberapa air terjun indah. Sesekali terdengar nuansa gemerincing melambangkan suara gemericik dan aliran air terjun di Madakaripura. Komposisi ini seolah sedang menyiarkan gegap gempita kegagahan pasukan Gajah Mada dan kematiannya di belakang hari di sebuah tempat terpencil.
Dalam perspektif kekinian, komposisi ini secara simbolik mengusung suatu pesan bahwa dibutuhkan kearifan dan atensi dari para generasi muda agar melestarikan cagar budaya bangsa dan keasrian lingkungan hayati di sekitarnya. Salah satunya adalah air terjun Madakaripura. Rentannya pengaruh dari berbagai faktor dapat mengancam eksistensi Madakaripura. Di antaranya faktor konstelasi bisnis, apatisme sejarah, labilnya konstruksi kepedulian, dan sebagainya.

SPIRIT OF PETRASALIRA
Artmoschestra Malang

Tengger adalah sebuah etnis yang bermukim di sekitar lereng Gunung Bromo. Sebuah suku yang terbukti konsisten memelihara tradisi leluhurnya, yakni Roro Anteng dan Joko Seger. Ketahanan resistensi budaya yang dibangun suku ini didorong oleh adanya geliat spirit yang luar biasa dan telah teruji hingga detik ini. Salah satu budaya suku Tengger yang masih dipertahankan adalah tradisi upacara kematian yang disebut Petrasalira. Berbeda dengan upacara pembakaran mayat (ngaben) yang dilakukan oleh umat Hindu di Pulau Dewata Bali. Petrasalira tidak membakar mayat orang yang telah meninggal, namun justru mempersembahkan seperangkat bunga kepada jiwa yang telah meninggal dan salah satunya adalah bunga eidelweis. Bunga yang hanya ada dan tumbuh di lereng Gunung Bromo. Bunga yang di-plot sebagai simbol keabadian.
Secara musikalitas, komposisi Spirit of Petrasalira menyuguhkan nuansa sakral dalam alunan satir tentang ruh yang sedang berangkat ke alam kematian. Dominasi irama ritmis gamelan dan suara kendang yang merasuk liar seakan menjadi kendaraan gaib yang menuntun ruh dari mayapada ke labirin semesta raya. Paduan koor tembang yang menderu, liukan erhu (rebab China) yang mendayu, dan sentuhan string yang mistis semakin mempercantik pentas spirit yang mengendap di ruang auditif telinga. Spirit of Petrasalira menyiratkan semangat yang masif dari masyarakat Tengger dalam mengantar kepergian sukma menuju nirwana. Komposisi ini adalah representasi dari pengejawantahan tradisi Petrasalira yang dimotori oleh spirit primordial etnik Tengger sebagai partisi dari kemajemukan budaya adiluhung yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.
Menariknya, komposisi ini secara implisit mengusung pesan bahwa dibalik spirit dan kekhidmatan seremoni Petrasalira, suku Tengger mengajak seluruh komponen masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam dan kelestarian hayati. Petrasalira adalah wahana adat suku Tengger dalam upaya konservasi lingkungan dan kekayaan hayati. Bunga eidelweis semestinya bukanlah dijadikan komoditas souvenir, melainkan aset nasional sebagai cagar hayati yang patut dilindungi.

URA-URI TENGGER
Artmoscestra Malang

Suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Penduduk Tengger selama ini dikenal sebagai masyarakat yang rajin bekerja, dan selalu bergembira. Mereka tidak mengenal judi, candu, perzinahan, perselingkuhan, pencurian dan kejahatan-kejahatan yang lain. Banyak yang mengira bahwa secara budaya masih terselamatkan, bahwa orang Tengger masih bertahan sebagai masyarakat agraris. Kini, generasi muda Tengger mulai asyik dengan dunianya sendiri, dunia yang terkontaminasi ke-modern-nan. Mereka tidak kenal dan tidak mau tahu tentang adat, tradisi serta budaya tengger, dan yang paling fatal mereka tidak merasa mempunyai tanggung jawab moral.mereka tidak mau belajar serta mempelajari hal itu. Belum lagi adanya pemaksaan budaya lain (Bali) dalam budaya Tengger. Saat ini, masyarakat Tengger yang nota bene agraris, sudah terinveksi virus konsumeristik, materialistik dan hedonistik. Tengger saat ini mengalami degradasi akibat dari peradaban dunia yang global yang semakin maju. degradasi adat, budaya serta perilaku dari pewaris Tengger sangat memprihatinkan. Alam bumi Tengger juga mengalami kerusakan-kerusakan yang diakibatkan dari alam itu sendiri maupun akibat dari keterlibatan tangan manusia, sehingga kawasan Tengger secara fisik oleh pecinta alam disebut sebagai kawasan yang rusak (devastated area).
Secara musikalitas, komposisi ura-uri Tengger menyuguhkan harmoni etnik bernuansa jazzy. Alunan tembang Jawa yang mengalun indah, nada dari tuts piano yang mengembara kesana-kemari bersama kendang, sesekali nada kesedihan terpancar dari suara seruling dan erhu.
Komposisi ini mengangkat pesan moral bahwa masyarakat Tengger akan terus berusaha untuk survive dalam berbagai hegemoni kepentingan. Tak peduli ada tidaknya atensi dari government, Tengger dan ura-urinya harus tetap eksis. Tengger adalah bukti keberadaan entitas budaya yang nyaris terbuang namun tetap dipuja sebagai salah satu aset nasional bangsa ini.

MADURASA
Artmoschestra Malang

Madura adalah sebuah suku yang berasal dari Pulau Madura di Jawa Timur yang suka merantau ke berbagai daerah. Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Penggunaan istilah khas menunjuk pada pengertian bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lainnya. Kekhususan kultural tersebut tampak pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka secara hierarkis kepada empat figur utama dalam berkehidupan, lebih-lebih dalam praksis keberagamaan. Keempat figur itu adalah ayah, ibu, guru, dan pemimpin pemerintahan. Kepada figur-figur utama itulah kepatuhan hirarkis orang Madura menampakkan wujudnya dalam kehidupan sosial budaya mereka. Identitas budaya Madura dianggap sebagai deskripsi dari generalisasi jati diri individual maupun komunal etnik Madura dalam berperilaku dan berkehidupan.
Dari sisi musikalitas, komposisi madurasa menyuguhkan entitas etnik Madura dalam frame eksperimental. Karakteristik vokal dengan bahasa blak-blakan yang bermaksud mengajak siapa saja agar datang ke Pulau Madura dan mengenal budayanya. Kekuatan komposisi ini selain dari kentalnya alunan irama Madura, juga dari adanya harmonisasi dari tabrakan-tabrakan bunyi yang mencerminkan keberanian dan kelincahan orang-orang Madura dalam kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya. Komposisi ini menggambarkan ajakan dari orang-orang Madura untuk menjalin persahabatan, membuka ruang bicara, dan berbagi simpati budaya. Gambaran ini terkuak dari antuasiasme orang-orang Madura dalam menyambut kedatangan para nelayan dari berbagai daerah saat berkunjung ke daerah mereka.
Komposisi Madurasa mengandung ajakan tulus dari orang Madura kepada siapapun untuk datang ke daerah mereka guna menjalin persahabatan, membuka ruang bicara, dan berbagi simpati budaya. Artinya dalam hal entitas seni dan budaya, orang Madura juga memiliki nilai tawar yang potensial sebagai bagian dari warisan leluhur yang patut dikenal secara luas dan dilestarikan. — with Nanang Suryadi and 46 others.

One thought on “Undangan: Selametan Bunyi Artmoschestra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *