Urat-Urat Nadi

Puisi

URAT-URAT NADI
:kata yang bergulir

kita secuil raga, pengarung waktu
digamit bait bait sempit
kian lekang, ditelan awan
hitam menakutkan

kabut mata jaman menangkup tangan
dalam renung merundung luka
suka, duka, terlempar dengan kata
menguak tabir rahasia terukir
dalam diamya sajak yang berkehendak

diam adalah puncak pembakaran
bagi gelagatgelagat menggeliat
dipelototi hidup yang mengantuk
sepanjang jalan tinggalkan untaian
pada selembar kertas
usang berkerut dikerubut debu
mati dalam barisan tanpa peperangan

lantas, untuk apa ada puja
jika darah mengalir tak sepadan

tersedak getar nadi hambar
lidah terbekuk dalam lipatan kertas
disobek kekerdilan; ego-yang menjadi iblis
mengangkang kongkang senapan hujat
dalam sajak bertajuk pemberontakan

lihatlah kawan-kawan penyairku
lihat, ketika merakmerak hijau menabuh puja
cendrawasih menyuguhkan warna
kepakan sayap, senantiasa berdetak
mengusir gelisah di langit-langit sunyi
selalu sunyi–di dalam jiwanya yang mengombak

adakah yang diharapkan burung ketika terbang?
pun kita tak mengerti
mengapa burungburung terbang
sedang ayam dengan setia mengais-ngais tanah
dan kita tak pernah mengerti
apa yang harapkan seorang penyair
di dalam hidupnya yang sepi

*Sang Bayang*
Ngrambe-Ngawi, 22 Maret 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *