Di Tangga Persimpangan Jiwa

Di Tangga Persimpangan Jiwa.
Puisi : Sang Bayang.

Mengangkang d iatas tanah merah,
semerah matahari
kala menggores kanvas di payung langit.
Di antara penjaja dan pengemis,
barisan-barisan manusia
selaksa bala tentara semut merayap
di atas tangga bantalan cor semen berdebu.

Memaku pandang berbasuh kabut
pada wajah lusuh
kumal bercampur lesu,
lelah beradu desah memburu berkah.
Aku murung.., diam
di persimpangan faham dan keyakinan,
menjadi saksi pertikaian batin,
perjalanan pintas yang terlepas
dari bibir, hitam dan pecah-pecah,
sepecah cuilan hidupmu,
ketika malang kau kecap
nasib tercampak,
terbengkalai diperbatasan masa,
seperti ganyong basi di sudut tangga,
tersampar-sampar dikerubut lalat.
Kau kunyah waktu seasam parijata,
menembus detak-gemretak fana,
terseok memanggul asa
kala renta dihadang nestapa.

Sepasang bibirku beku
tanpa jawab
selain iba, menyembul dari permukaan welas-asih,
jiwaku mengambang
seperti awan tanpa gantungan.

Ambarawa, 30 July 2012

Related posts

Leave a Comment