Dia Terbang, Aku Terpaku *

Tristesse, Cetakan Pertama September 2004: A Tribute to Oktarano Sazano

Minggu, 05 Februari 2012, pukul 20.00 WITA saya membuka internet. Niat awalnya adalah mengirim beberapa puisi grafiti untuk grup Puisi Grafiti di jejaring sosial Facebook (FB), dan mengirim cerpen ke sebuah koran melalui surat elektronik (surel). Naskah sudah saya siapkan sebelumnya namun belum juga terkirim karena keasyikan berpuisi grafiti sekaligus ngobrol dengan rekan pantun.

Udara dingin di luar tertahan oleh daun pintu. Sedangkan waktu melaju tanpa mampu saya tahan. Minggu malam pun berganti Senin dini hari. 05 telah menjadi 06 Februari. Sekitar pukul 02.30 WITA, saya mulai diserang lelah. Tapi belum juga sempat mengirimkan cerpen untuk media massa. Pemuisi Bandung Wida “Sireum Hiedeung” Waridah (WW) menghubungi saya via fasilitas ngobrol di FB, menyoal sudah siap buku antologi cerpen suaminya yang juga saya pesan lima (5) buku. Dari harga, kapan kirim, transfer, alamat, dan lain-lain. Lantas kami berhenti berkomunikasi.

Lebih setengah jam WW menghubungi saya lagi. WW mengabarkan berita duka tentang kepergian kawan pemuisi muda, Oktarano Sazano (OS), ke alam yang selalu hanya menjadi ramalan orang-orang hidup. Tentu saja ini berita yang sungguh mengejutkan bagi saya! Tapi kenapa baru saat ini, dini hari, sementara kemarin-kemarin atau malah tadi saya dan WW berbincang-bincang melalui fasilitas chatting FB?

Masih saya tidak percaya tetapi begitulah kabarnya! Jadi teringatlah saya kepada dua sahabat yang sebelumnya pergi. Pertama, setelah saya membuatkan sepucuk puisi untuknya. Kedua, ketika saya meminta seseorang membuatkan kata pengantar untuk calon buku kumpulan cerita pendek saya. Saya seperti mengalami suasana yang asing pada waktu kedua sahabat pergi dibawa kanker yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Kini, seolah menyeret saya kembali ke suasana itu, adalah kabar dini hari dari WW.

***

Oktarano Sazano (OS)

Pada halaman terkahir di buku kumpulan puisi tunggal “Tristesse” karyanya, tertulis,

“Oktarano Sazano dilahirkan di Bengkulu, 12 Oktober 1979. Tulisan-tulisan penulis (puisi dan cerpen) telah dimuat di media lokal dan beberapa situs komunitas sastra di Indonesia dan luar negeri (cybersastra.net, Bumi Manusia, Panggung, Masyarakat Puisi, Khazanah Melayu, dan Pen Publisher Publications).

Penulis adalah pendiri Poetry Society yang berkedudukan di Malang (sebuah komunitas pemerhati teks-teks puisi yang didirikan oleh sejumlah anak muda). Selain itu penulis juga aktif sebagai moderator World Wide Frienship Cafe, sebuah milis yang menghususkan pada persahabatan antar bangsa yang berfokus pada anak-anak muda di Asia. Antologi Puisi Penulis “Tristesse” (2004) diterbitkan sebagai kumpulan pribadi selain muncul di buku antologi Puisi Dian Sastra For President! #2 – Reloaded (Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2003), dan sejumlah media lokal.”

Selebihnya, ada yang tersimpan dalam arsipnya mbah Google.

***

Antara Gus Noy dan OS

Saya mengenal OS karena keaktifan kami berkomunikasi di cybersastra (CS) dan yahoo messenger (YM). Kebetulan tahun 2001 sampai 2004 saya cukup aktif bersastra cyber di www.cybersastra.net, yang kini telah menjadi prasasti digital. Seingat saya, ia masih berstatus mahasiswa Fakultas Ekonomi ketika itu. Ia masih dalam proses menjadi seorang pemuisi.

Jika tidak keliru, sekitar Agustus – September 2004, melalui YM OS meminta saya buatkan ilustrasi untuk sampul depan calon buku kumpulan puisinya “Tristesse”. Yang paling saya ingat ketika ia minta ilustrasi tersebut memperlihatkan suasana kesuraman, kedukaan, dan dalam dominasi kelabu kelam mencekam sebab tema buku itu adalah duka dan kematian. Saya penuhi permintaannya.

Setelah menerima surat dan bukunya pada 01 November 2004, saya masih berkomunikasi dengan OS hingga tahun 2007. Setelah itu, kami tidak pernah lagi berkomunikasi hingga WW menyampaikan kabar “kepergian” OS!

***

Mulai Membuat Tulisan Mbeling ini

Senin, 06 Februari 2012,pukul 03.30 WITA, saya membuka koleksi buku saya yang tersimpan dalam dus, untuk mencari buku kumpulan puisi “Tristesse” karya OS. Setelah mendapatkannya, saya pun mencari ilustrasi (yang pernah saya buatkan itu) di tempat penyimpanan arsip karya. Masih ada! Lengkap dengan laminatingnya (saya sendiri yang melaminatingnya agar tidak rusak akibat lembab atau tangan yang tidak bersih. Barulah saya mulai membuat tulisan mbeling ini.

Sengaja saya hanya berbekal referensi buku OS, suratnya, dan Kamus Bausastra Jawa-Indonesia.  Saya ingin menulis dengan kesukaan saya sendiri, tanpa perlu susah-payah mencari puisi bandingan karya pemuisi-pemuisi hebat-termasyur seantero jagad, yang seakan memperlihatkan bahwa penulis memiliki koleksi buku berbukit-bukit, bergunung-gunung, berlaut-laut, dan lain sebagainya.

Pukul 04.00 WITA, saya berhenti menulis paragraf pembuka. Saya bergegas ke luar rumah untuk membeli roti; untuk sarapan nanti. Di luar gang pasukan kabut menyergap saya! Selama tiga tahun berada di balikpapan, baru kali ini saya menyaksikan pasukan kabut begitu banyak menyumpali setiap sela-sela ruang dan benda-benda.

Saya merasa benar-benar suasana semakin “aneh”. Mistis! Atau memang justru saya sendiri yang terlalu lebay alay-alay ahay!  Di sisi lain saya semakin bergairah untuk menuliskannya. Memang “aneh”, muncul kegairahan menuliskan ini. Dan, saya ingatkan, tulisan ini murni ungkapan kesan tersendiri bagi “kepergian” OS. Tiada maksud-tujuan untuk menjadikannya “sensasi” semacam gosip-gosip “mistis” di televisi selama ini.

***

Apakah Isyarat-isyarat Kepergian sudah Tertulis?

Barangkali sebagian pembaca menganggap sesuatu yang tertulis dan kemudian dialami oleh penulis merupakan suatu kebetulan belaka. Tidaklah perlu dipaksahubungkan antara tulisan dan penulisnya, terlebih jika tulisan hanya terinspirasi dari suatu peristiwa atau cerita orang lain lalu diterjemahkan penulis melalui tulisan versi penulis. Maksudnya, tidak usah susah-susah lebay alay-alay ahay.

Namun, kepergian OS, yang dulunya pernah meminta saya membuatkan ilustrasi untuk sampul depan bukunya dengan suasana yang muram-suram-kelam, bisa jadi “berbeda” dengan anggapan sebagian pembaca tadi. Hal ini, mau-tidak mau, menarik perhatian saya untuk membuka kembali buku kumpulan puisi “Tristesse” (cet. Pertama, Penerbit Masyarakat Puisi, September 2004) karya OS.

Dan, buku yang dicetak pertama pada September 2004 cukup mencengangkan saya. Jika disandingkan dengan bulan “kepergiannya”, yakni September 2011, berarti sama bulannya dengan buku cetakan pertamanya! Ah, mungkin suatu kebetulan.

Udara dini hari di perumahan Balikpapan Regency begitu dingin, menerobos jendela ruang menulis saya. Ada suasana begitu “aneh”. Kembali saya buka buku yang berisi empat puluh lima (45) pucuk puisi, yang secara keseluruhan tidak ada petunjuk “di mana dan kapan” dibuat pada akhir puisi-puisinya. Mengapa banyak “tema” seputar “mati”, “kematian”, “kehidupan”, “keabadian”, “kubur”, “kuburan”, kepergian”, “perpisahan”, dan sekitarnya? Mengapa kepergian begitu cepat? Mengapa “kuratapi penyair yang mati prematur “ seperti kalimat dalam sebuah puisinya? Apakah puisi-puisinya ternyata sebagian merupakan “deja vu”?

Maka di bawah ini saya tampilkan cuplikan-cuplikan puisi OS itu.

O, mengapa Kau nyalakan api kuil pemujaan
sedangkan musim dingin selalu mengetuk pintuku
Di saat kebencian cinta terbang
kenapa aku merindu?
Harum kayu manis menandakan kematian,
lebur dalam abu dan tangis keabadian
(cuplikan dalam puisi “Tristesse”)

Tanpa kata dipeluknya diriku
Bercinta di antara bayangan bayangan hitam
Lidah musim gugur dan jilatan api musim dingin

Kau tidak akan menemukan cinta antara laki laki,
perempuan dan banci
Tapi kau akan menemukan Tuhan
(cuplikan puisi “Banci”)

Saat pagi datang
Tuan putriku terbangun dari tidur panjang
Sedang lelaki kecil telah hilang,
Bersembunyi di ranjang penyair yang telah mati
(cuplikan puisi “Tuan Putri”)

Aku adalah Cinta, Dunia dan Diriku
Karma, Moksa dan Nirwana menjadi hijau untuk itu
(cuplikan puisi “Elegi untuk Ruchi Puneta”)

Dari jendela jendela tertutup, kudengar suaramu
Bermain dengan malaikat yang mati tadi malam di pelukanku
(cuplikan puisi “Rendez Vous”)

Kita adalah anak anak karma
Dalam perjumpaan dan perpisahan
Dalam kenangan dan masa depan
Adalah seperti kekasih keabadian
(cuplikan puisi “Mon Cher”)

Terakhir kali dia datang kepadaku, dan berteriak,
aku Ana, laki laki
Putra penggembala domba
Mucikari para pelacur
Membunuh kekasihnya : hidup sesudah mati
(cuplikan puisi “Ada Ana Tiada”)

Perempuan itu adalah kubur
Bersenggama dengan Zoroaster dalam keranda kematian
Berharap benih menaklukkan sabit yang mencengkeram
(cuplikan puisi “Teranchik”)

Sulur sulur cinta telah mengikatku dalam nyanyian Calypso,
tapi cinta adalah kematian untuk matahari sebelum
kau datang dan pergi, seperti saat kau hadir
di sungai sungai, pepohonan dan pegunungan
dan kutorehkan meteor di antara Cetus,
Cassiopea dan Perseus
(cuplikan puisi “Serenada Kematian”)

Di sela sela rintik hujan hijau
dia berlari menuju kota kota tiga abad
Berharap cahaya akan membawa cinta pergi
Sebelum musim dingin yang menghebat tahun ini
Namun sang pemuda tak kunjung datang menemui
(cuplikan puisi “Ghulam”)

Di ujung jalan itu kau berdiri
Menjatuhkan sapu tangan putih, helai demi helai
Angin dingin, gadis gadis berdada besar
berceloteh tentang kematian,
(cuplikan puisi “Kemarau”)

Raganya terasa lelah dan inderanya terasa mati
Namun dia tersenyum dan meletakkan tangannya di dada
“Kaulah messiah itu, James”
Dan pemuda itupun tertidur seribu tahun
(cuplikan puisi “Moksa”)

Mereka menguburku di perut tambo
Bersama perempuanku yang dikubur di atasnya
(cuplikan puisi “Janji”)

Kami adalah prajurit prajurit kebenaran
Bertempur di atas kematian
Kubur kami tidak di tanah ini
(cuplikan puisi “Tiga Per Empat”)

Malang baginya, angin dingin datang dari utara
Bulir bulir benih jatuh dari mega, musim baru telah tiba
Berpagut menuju kematian,
menguburnya di dasar lautan tanpa nisan
(cuplikan puisi “Delima”)

Aku masih di sini, menari di atas kematian
Menyapa sedih senyum yang luka, tubuh tubuh terbakar,
tulang tulang menembus kulit, jeritan pilu,
dan kebencian merajalela. Dimanakah dirimu?
(cuplikan puisi “Atas Nama”)

Zikir zikir cahaya menutup mataku
sebelum kauhembuskan nafas keraguan
Namun senja telah datang dan menghadirkan lelaki malam
Memisahkan diriku dan dirimu dalam keabadian
(cuplikan puisi “Moksa : Terpecah”)

Pergilah!
Pergilah dari sini,
Sebelum tulang kami meresap di kulit tubuhmu
Meragukan langkah langkah kecilmu
Membawa mawar itu dari kubur kami
(cuplikan puisi “Mawar Layu”)

Lihatlah dirimu dalam perubahan horizontal
Kematian dan kehidupan
(cuplikan puisi “Moksa : Percakapan Messiah”)

1
Pygmalion merasuk ke tubuhku,
Membawanya ke kota kota berwarna
Labirin labirin gelap di setiap sudutnya, tanpa batas

6
Pygmalion telah mati, sang kekasih hidup dalam takdir abadi
Bermetamorfosis disetiap waktu
(cuplikan puisi “Chthonic Galatea”)

Yakinlah
Beribu ribu makhluk akan sama sepertimu
Menjadikan mereka sebagai satu dari lokusku
Tanpa kematian dan kehidupan
Tak berujung, tak berpangkal
(cuplikan puisi “Moksa : Simulacra”)

Ingin kumengejar
Tapi gravitasiku mati, terpaku
Hanya zombie yang mampu membebaskanku
(cuplikan puisi “Arica”)

Perempuan itu memanggil manggil anaknya
Mereka datang walau mereka tuli
Berbicara dengan bahasa bahasa aneh
Hingga waktu membunuh mereka perlahan
(cuplikan puisi “Aruai”)

Kapankah ini berakhir,
sebelum jiwa membeku oleh belenggu rekayasa
tangan gurita kekuasaan mengikat kaki kaki kebebasan
kitab kitab menjadi lapuk, hanya janji janji kemunafikan
dan kematian menjelma serupa labirin menakutkan
(cuplikan puisi “Menuju Titik Nol”)

Para sahabat datang di upacara pemakaman
Menabuh gendang dan menari melingkar
Memasukkan lembaran kitab suci bersama sang mayat
(cuplikan puisi “Romantisme”)

Inilah suatu permulaan di atas permulaan
kembang api harapan di atas kota yang akan mati
(cuplikan puisi “Nyanyian Angsa”)

Terakhir kali
Aku pergi untuk mencari rahasia terbesar
Sedangkan kau tinggal untuk melengkapkan
Usah pikir terbaik di antara keduanya
Cukuplah percaya
(cuplikan puisi “Pancasona”)

1
Kematian adalah kebahagiaan
Seperti kau yang bergembira menjemput kekasihmu
Sedang dia menunggu di atas bukit teduh cemara
Tangan tangan terbuka dan senyum pengharapan

2
Kematian adalah kebahagiaan
Seperti Hod dan Balder yang melengkapkan
Takdir Ragnarok dalam keabadian
Kasih sayang dan pengkhianatan

3
Kematian adalah cinta
Seperti ibu yang membuka jalan untuk anaknya
Rasa sakit dan penderitaan
Kematian adalah kehidupan
(Puisi “Bukankah”)

Walau pertemuan adalah perpisahan
Aku tahu, Kau menungguku
(cuplikan puisi “Kaca Kaca Bening”)

Aku melihat bayanganku di wajah tua
Yang berdiri di tepian sungai Sussex
Menatap bidadari bersayap semu yang terbayang di airnya
(cuplikan puisi “Puzzle”)

kuratapi
penyair dan pelukis yang mati prematur, darinya menyisakan
secarik kertas kosong yang terslip di antara kekuatan peradaban,

Sungguh, deritakulah yang membunuh malaikat malaikat kelaparan
yang kulitnya kutenun baju untuk seorang ibu yang melahirkan gadis di ambang
ajal, membakar jasad jasad penyair pelukis dengan janji janji pedagang,
kutemukan kebahagiaan di sana
(cuplikan puisi “Paranoid”)

Rerinduan bergetar, aku merawan dalam kelam purnama,
Merasi bintang tanpa nama
Menduga duga dari balik pintu yang tak pernah
terbuka untuk kenangan atas muhibah tiada rasa
(cuplikan puisi “Paralogi”)

Kemudian kesunyian memenjarakan diriku dan dirimu
dalam penjara ruang dan waktu yang membeku
(cuplikan puisi “La Syadid”)

Dia menaburkan separuh abu lelaki yang mencintai perempuan api di
atas tulang para penyair yang mati di tiang gantungan dan
separuhnya lagi di atas tanah yang menumbuhkan sekuntum mawar
putih,
(cuplikan puisi “Malam Terakhir”)

Dia memandangku seolah tak percaya dan kemudian berlari ke dua
kubur lelaki tak dikenal olehku,
(cuplikan puisi “Solitaire”)

dia katakan tiada kewajiban dirinya atas orang
orang yang bergelimpangan tanpa nyawa di jalan jalan kota ini

Dia ceritakan padaku bahwa mimpi itu telah datang kepadanya,
dan demi matahari yang telah menjadi hitam,
(cuplikan puisi “Bamazy”)

Aku terjebak dalam kolase pecah yang berserak seperti
puzzle, di malam Rapunzel memotong rambutnya atas
kematian burung bulbul yang tertusuk duri mawar tepat di
jantungnya, sedangkan bunganya kupetik dari atas kubur
(cuplikan puisi “105”)

maka kamilah
yang akan menjadi saksi setelah angin datang untuk menjemput
semua kehidupan yang tertinggal
(cuplikan puisi “Dorma”)

Aku kembali pada malam yang setia menghapuskan cahaya
di wajah orang orang itu, coretan coretan yang kulempar keluar dari bingkai kayu [entah akan muncul di suatu musim atau tidak], mencampur semua warna agar
ungu menjadi sebuah realita, yang dengan kehidupan
maka kematian akan menjadi lebih pahit [atau manis] dan akan
tersimpan rapi dalam akte akte yang menyembunyikan
sebuah keterasingan dalam kalimat kalimat
(cuplikan puisi “Pengasingan”)

di taman itu kutunggu dirimu
sedang ketakutan ketakutan telah menjadi rantai di kakiku
aku menangis, berharap burung burung surga memberikan sehelai
bulunya
(cuplikan puisi “Moksa : Kesatuan (Profil Sang Messiah)”)

***

Komentar  Orang-orang Terhadap Buku Kumpulan Puisi “Tristesse”

“Puisi Sazano eksotik. Diksi-diksinya cerdas,” komentar Kuswinarto, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang.

“Memukau!” seru Titon Rahmawan, arsitek sekaligus penulis, yang saat itu tinggal di Jakarta (Kini, 2012? Wira-wiri seputaran kota-kota di Jawa).

“Asyik membaca puisi-puisinya… berbagai kata unik di dalamnya,” komentar Nanang Suryadi, penyair besoar sekaligus dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Brawijaya Malang.

Sedangkan saya berpendapat bahwa puisi-puisi OS sarat suasana “mistis” dan goib; sepertinya ada sesuatu yang benar-benar “mempengaruhi” dan “membungkus” jiwanya sehingga sebagian besar (alias 91,111% dari hitungan 41 puisi dari 45 puisi dalam buku tersebut) terungkap melalui puisi-puisinya. Itu yang saya “tangkap” dari puisi-puisinya, dan dari pesanan ilustrasi untuk sampulnya, sampai saya menemukan kata “MOKSA” yang menjadi judul pada beberapa puisinya.

Yang cukup membuat saya tergidik adalah puisi “Bukankah”.

BUKANKAH

1
Kematian adalah kebahagiaan
seperti kau yang bergembira menjemput kekasihmu
Sedang dia menunggu di atas bukit teduh cemara
Tangan tangan terbuka dan senyum pengharapan

2
Kematian adalah kebahagiaan
seperti Hod dan Balder yang melengkapkan
Takdir Ragnarok dalam keabadian
Kasih sayang dan pengkhianatan

3
Kematian adalah cinta
seperti ibu yang membuka jalan untuk anaknya
Rasa sakit dan penderitaan
Kematian adalah kehidupan

***

MOKSA Dalam Puisi-puisi OS

Dalam buku kumpulan puisi itu terdapat empat judul yang menggunakan kata “Moksa”. Pertama, puisi “Moksa”. Kedua, “Moksa : Percakapan Messiah”. Ketiga, “Moksa Simulacra”. Dan, keempat, “Moksa : Kesatuan (Profil Sang Messiah)”.

Penggunaan kata “moksa” tentu saja bukanlah sekadar “memaksa” kata untuk sebuah judul puisi. OS yang saat itu berkuliah di Malang, Jawa Timur, tentu saja tidak sedang “latah” menggunakan kata tersebut.

MOKSA, menurut S. Prawiroatmojo dalam Kamus Bausastra Jawa-Indonesia (cet.XI, 1980), merupakan kata dari bahasa Sansekerta, Kawi, dan Jawa Kuno, yang artinya hilang, mati/ meninggal hilang dengan badannya.

Dalam sejarah Indonesia sebagian orang Jawa percaya bahwa setelah berhasil mempersatukan Nusantara Mahapatih Gajah Mada mengalami MOKSA; meninggal secara misterius, hilang bersama badannya. Hanya orang yang sungguh sakti yang bisa mengalami MOKSA. Sebagian orang Jawa itu hingga kini tidak mengetahui bagaimana Gajahmada meninggal, dan di mana makamnya secara resmi dan ilmiah. Kata “MOKSA” pun dipakai berdasarkan kepercayaan mereka.  Tentu saja berbeda dengan “hilangnya” Pemuisi Widji Tukul, yang disebabkan oleh kebiadaban rezim ORBA – Soeharto.

***

Salah satu puisi OS berjudul “MOKSA” adalah sebagai berikut.

MOKSA
Teruntuk Rodant Oi

1
Dari kota kota tenggara antara Erie dan Michigan
lahirlah : pemuda gila
Berkubang darah Aria yang patah
Sampah sampah yang membusuk di perutnya
Hantu hantu yang membawa bara api
Hingga laki laki malam itu datang mengetuk pintu
Membawakan anggur, roti dan air suci
Di atas altar hijau dan bilik bilik pengampunan

2
Mereka duduk berhadap hadapan dalam tabung cahaya
tanpa wajah, mata, dan suara
Hanya angin selatan membawa pesan laki laki malam itu,
“Diriku dan dirimu adalah Satu,
selayak Miacis yang melahirkan Anubis dan Baster”
Pemuda gila menangis,
memecahkan cermin cermin berkarat di kamarnya
Mengucap mantra mantra iblis,
mengelilingi kristal hitam yang lapuk

3
Tembok kamar pemuda gila meratap
Memanggil manggil masa lalu
Darinya keluar tangan tangan yang yang berusaha mencengkeram
Dia berlari keluar membawa pigura kosong
Menunjukkan pada setiap orang yang lewat
“Adakah kau kenal orang di dalam pigura ini?”
Mereka tertawa dan melemparkan batu pada sang pemuda
dan berteriak, “Pergilah ke neraka !!”
Dia terus berlari,
hingga ke ujung Sungai Besar dan terisak di pinggirnya
Ketika bulan muncul di atas air
sang pemuda melihat laki laki malam itu
Menangis seperti dirinya dengan bayangan seribu warna
Langit menarik nafas dalam dalam

4
Laki laki itu telah berdiri di depannya kini
tanpa wajah, mata, dan suara
Tapi dia begitu mengenalnya,
seperti saudara kembar yang tak pernah terlahirkan
Pemuda gila memberikan pigura osong pada lelaki malam
Bercerita seperti kesetanan
tentang penduduk kota yang melaknatnya
Didekapnya sang pemuda, diberikannya selembar foto usang
Menuliskan sesuatu di pasir dengan lumut lumut merah,

“JAMES”

5
Sang pemuda menatap kosong lelaki malam
Yang perlahan meredup seiring cahaya matahari terbt
Raganya terasa lelah dan inderanya terasa mati
Namun dia tersenyum dan meletakkan tangannya di dada
“Kaulah messiah itu, James”
Dan pemuda itupun tertidur seribu tahun

***

Mengenai puisi “Moksa” ini, Titon mengatakan dalam tulisan Lentik-lentik Api Sebuah Sajak, “berdasar apresiasi pribadi saya adalah sebuah sajak yang berhasil. Saya selalu percaya bahwa sajak yang baik adalah sajak sebagai hasil perenungan dan bukanlah sajak yang kosong. Sajak yang baik lahir dari ungkapan terdalam diri penyairnya dan dalam proses kreatif itu saja kita dapat menilai bahwa sajak “Moksa” lahir dari rasa prihatin yang mendalam atas nasib seorang sahabat, ekspresi puitis muncul dari pemahaman atas penderitaan dan nasib sahabat penyair yang menjadi gila karena pergolakan batin yang dalam.”

Pada akhir tulisan yang sebenarnya cukup panjang (lebih dari 1.000 karakter) tersebut Titon mempersembahkannya kepada OS sebagai “kado ulang tahun buat Sazano, 15 Oktober 2003”.

***

Tulisan ini Diselesaikan

Senin malam, 06 Februari 2012, pukul 18.00 WITA, hujan dan petir memadamkan listrik di perumahan Balikpapan Regency. Saya belum merampungkan tulisan ini.  Mungkin saya harus meneliti ulang tulisan saya sebelum terlanjur memostingkannya. Berikutnya saya menambahkan tulisan “A Tribute to Oktarano Sazano”.

Dari Oktober 2004 hingga Februari 2012 (berita duka sampai di meja redaksi saya, ceile!), terhitung sekitar hampir tujuh setengah (7,5) tahun. Dari 2007 hingga 2012 (September 2011), nyaris lima (5) tahun saya tidak terlibat komunikasi apa-apa dengan OS, sampai berita duka pun menyambangi perumahan Balikpapan Regency pada dini hari.

Terakhir, untuk WW, sebagaimana saya telah menjanjikan akan memosting ilustrasi yang pernah saya buat, melalui tulisan mbeling ini sudah saya penuhi. Kita sama-sama kehilangan sahabat yang unik dan cerdas. Semoga tulisan mbeling ini bisa dipahami sebagai sebuah A Tribute to Oktarano Sazano khas Gus Noy, yang seharusnya muncul di akhir September 2011 silam.

*******
Balikpapan Regency, 06 Februari 2012

*) secuplik kalimat-baris puisi “Rossignol” karya Oktarano Sazano (2004)

Related posts

4 Thoughts to “Dia Terbang, Aku Terpaku *”

  1. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga almarhum mendapatkan tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah swt.

    Bertemu langsung sih tidak, tetapi melalui fasilitas yahoo mesanger dan FB beberapa berdialog mengenai sastra, puisi terutama.

    Oktarano Sazano boleh dibilang pejuang puisi yang gigih. Paling tidak, melalui situs http://puitika.net , ia menunjukkan komitmennya mengembangkan dunia perpuisian.

    Selamat jalan sahabat.

  2. cunong nunuk suraja

    Semoga almarhum diterima di sisi Allah Swt.

  3. fanani ahmad

    lho msak c??
    kapan bliau nya meninggal?
    maaf,saya bru tau kabar ini
    dan saya adalah yang membaca puisi mas OS=kemarau,mon cher dan rendez vous pada cd tristesse

    mhon ptnjuk kapan beliau telah brpulang
    dn dmakamkan dmana
    blas d email saya
    trimakash

Leave a Comment