“Filsafat Sejarah dan Sejarah Filsafat: Dinamika Ruang, Waktu, dan Aku”, bab 2 Hampiran Hampiran

Oleh: Nurrudin Asyhadie

———————————-

Sejarah adalah nostalgia. Ia adalah pembukaan masa lalu dan penyajiannya pada masa kini. Sebuah penghadiran kembali; representasi dari sebuah rumah, posisi, dan eksistensi yang oleh berbagai sebab, terutama oleh kefanaan waktu menjadi uap di kaca jendela.

Virginia Woolf, sastrawati Inggris yang merupakan salah satu tonggak kesusastraan modern oleh karena pembocoran realitas luar dengan realitas dalam pada karya-karyanya—gaya yang nantinya di Perancis dikenal sebagai glass dan menjadi genre tersendiri—pada tahun 1941, menulis sebuah sketsa berjudul A Sketch of The Past. Sketsa ini diperuntukkan bagi Memoir Club, sebuah perkumpulan teman-teman akrab dan para cendikiawan kelompok Bloomsbury, seperti: John Maynard Keynes, Clive, dan Vanessa Bell.

Karangan itu ditulis sebagai selingan tatkala Virginia sibuk menggarap biografi Roger Fry. Memoar itu dibuka dengan narasi “Dua hari yang lalu, tepatnya pada hari minggu 16 April 1939.” Hari itu ia bertemu dengan Nessa, kawannya, yang mengatakan kepadanya jika ia tidak mulai menulis memoar, ia akan terlalu tua. Ia akan berusia delapan puluh lima tahun dan melupakan semua.[1]

Karena kebetulan ia merasa muak menulis kehidupan Roger, Ia menggunakan dua—tiga harinya untuk menulis sketsa tersebut.

Seperti yang ia rekam dalam tulisan itu sendiri, Virginia memahami satu hal dari proses penulisan yang jatuh bangun itu, yaitu betapa sulitnya menulis kembali masa lalu. Ia telah membaca begitu banyak memoar, yang baik maupun yang buruk, juga mengapa begitu banyak memoar itu gagal.

Di sana, orang yang mengalami kejadian tersebut tidak diturutsertakan. Alasannya adalah karena sulit sekali menggambarkan sosok manusia manapun. Jadi mereka mengatakan: “Inilah yang terjadi.” Tetapi mereka tidak mengatakan seperti apa sebenarnya kejadian itu. Dan kejadian itu tidak mempunyai arti kecuali kalau kita mengetahui siapa yang menghadapinya. Jadi siapa saya sebenarnya? [2]

Pertanyaan eksistensial itu mendorongnya merekonstruksi kembali seluruh predikatnya. Bahwa ia bernama Adeline Virginia Stephen, putri kedua Leslie dan Julia Binsep Stephen, yang lahir 25 Januari 1882, diturunkan dari sejumlah orang besar, ada yang terkenal dan tidak. Dilahirkan dalam kedua keluarga snob pada abad 19, sebuah dunia yang sangat komunikatif, terpelajar, penuh korespondensi, perjamuan, dan terlatih menyampaikan pikiran, sehingga kalau mau bersusah payah ia dapat menulis banyak dalam sketsa tersebut. Bukan saja mengenai ibunya, tetapi juga mengenai sejumlah paman, bibi, saudara,dan teman-teman.[3]

Tetapi saya tidak tahu berapa atau bagian mana dari semua ini yang menyebabkan saya merasakan apa yang saya rasakan di kamar anak-anak di St. Ives. Saya tidak tahu seberapa jauh saya berbeda dari orang lain. [4]

Virginiapun lalu melompat dari ingatan satu ingatan ke ingatan lain: Markisa yang menjulur ke dinding, kaok Gagak di tingkah ombak membantun, buah-buah apel yang sejajar dengan kepala orang, cermin kecil di ruang depan di Tulland House, akan tetapi betapa semua itu membuatnya terjaga dan melihat tiap hari terdiri lebih banyak ketidakberadaan daripada keberadaan.[5]

Dewasa ini pertanyaan-pertanyaan mengenai penyajian kembali ini tak tertangguhkan lagi. Di awal paragraph pembukaan “The Past in A Changing Present”, bab dua dari Deconstructing History, Alun Munslow melaporkan:

Tidak pernah sebelumnya sebuah gaya begitu banyak digunakan oleh berbagai metode untuk memperlajari masa lalu, sebuah tengah-tengah antara subyek permasalahan dan berbagai audiens dan semua itu dipahami dalam ironi yang tampak memenuhi kebudayaan Barat hari ini.[6]

Laporan tersebut merujuk pada keterangan Christopher Lloyd:

Penulisan sejarah ekonomi dan sosial kini urusan yang beragam, sangat besar dan hiruk pikuk.[7]

Dalam pada itu, ia—kecemasan tersebut—dibarengi oleh pengakuan bahwa penulisan sejarah menyebarkan sebuah sistem bahasa yang merupakan bagian dari realitas yang tergambarkan, sebuah representasi yang dirinya sendiri adalah sebuah komplek kebudayaan sebagaimana juga produk linguistik.[8] Segala pertanyaan itu bersemayam dalam kesadaran ironis, yang dikembangkan lewat serakan dan hamburan strukturalis, poststrukturalis, model-model simbolis, antropologis, serta relasi eksplanasi dengan teori. Bahkan pendukung utama paradigma empiris tradisional terkadang juga mempertanyakan bagaimana realitas masa lalu bisa diketahui? Secara lebih persis? Seberapa akurat representasinya dapat dinarasikan?

Pertanyaan ini menaikan harkat historiografi, tidak saja dalam ilmu sejarah tetapi juga filsafat sejarah.

Dasar dari kenaikan historiografi, dari tantangan terhadap empirisisme ini, khususnya kepercayaan empirisisme kepada kekuatan bahasa menerangkan melalui teori korespondensi, dimulai pada permulaan abad 20, yang dalam kalangan intelektual pada waktu itu dikenal sebagai strukturalisme. Strukturalisme ortodoks, yang berpandangan bahwa mempersepsi dan menginterpretasi dunia nyata melalui kisi-kisi mental a priori. Jaringan-jaringan yang beroperasi pada level dalam kesadaran manusia dan tersajikan di dunia nyata dengan berbagai cara, seperti struktur tata bahasa, hubungan kekeluargaan dan mitos, bahkan aturan-aturan pengkonsumsian makanan. Tubuh informasi seperti juga data sejarah dapat dipahami hanya melalui struktur–struktur mental generic yang ada di dalam kepala subjek. Memahami tak menjadi tercela dengan data dan data tidak secara inheren menempatkan serta menunjukan kebenaran empiris. Artinya, strukturalisme menekankan kualitas-kualitas formal system internal mental pemahaman yang a priori dari pada kekuatan takdir yang independen dan berasal dari luar.

Terhadap gaya ini Raymond William, kritikus Marxian Inggris berkomentar bahwa walau ada banyak variasi dalam penggunaan term strukturalisme, tekanan utama adalah pada struktur-struktur dalam yang permanen berbagai bahasa dan kebudayaan yang tampak yang merupakan bentuknya. Semenjak itu terjadi pengapkiran sejarah dan asumsi-asumsi evolusi mengenai bagaimana pengetahuan humaniora dan sosial didapatkan.[9] Apa yang dinyatakan Raymod, kelak kemudian hari menjadi batu lompatan konsep-konsep Foucault dan White.

Strukturalisme telah memiliki efek yang profan pada masa lalu sebagai sejarah, seperti pada masa kini, dan untuk persoalan tersebut, masa depan sebagai teori bagaimana mendapatkan pengetahuan, strukturalisme secepat kilat menempatkan gagasan mengenai objektivitas ilmu dalam gelombang tekanan sebagai basis relativisme, yang membidani posstrukturalisme dan historisisme baru dewasa ini. Percabangannya kini mereksmi dalam berbagai lapangan pengetahuan.

Antara 1907 dan 1911, Ferdinand de Sausure menghantarkan trilogi perkuliahannya. Setelah kematiannya yang relatif muda, umur 56, pada tahun 1913, beberapa teman dan koleganya mempublikasikan kuliah-kuliah dan catatannya sebagai sebuah buku, berjudul Cours de linguistique generale. Di dalamnya ada diterangkan ide-ide tentang relasi tanda dan makna sosialnya. Untuk itu ia membuat argumentasi yang telah menjadi titik pusat linguistik dan pemahaman akan peran bahasa dalam penciptaan seluruh pengetahuan.

Yang pertama mengenai operasi bahasa mengacu pada mistarnya dan tak berhubungan sama sekali dengan dunia nyata, dulu atau sekarang. Saussure menerangkan ide ganjil ini melalu formulasi langue dan parole. Langue merupakan struktur yang dimiliki oleh bahasa dan parole adalah contoh-contoh aktual sistem tersebut, ucapan atau pengekspresiannya.

Saussure tak memandang bahasa sebagai koleksi gambar-gambar yang merefleksikan realitas benda-benda. Di pelupuknya, koneksitas referensial kata bukannya tanpa masalah. Tidak ada relasi alamiah antara kata dan dunia. Hubungan tersebut lebih bersifat arbitrer. Koneksitas referensial yang diasumsikan dalam bahasa adalah hasil dari pembenaran konvensi sosial.

Pendapat Saussure yang kedua melanjutkan kekurangmemadaian hubungan kata dengan dunia. Kata hanyalah menandakan sesuatu, ia terdefinisikan oleh perbedaannya dengan kata lainnya dalam sebuah kalimat. Tanda terbentuk dari dua elemen: signifier (penanda) dan signified (petanda). Signifier adalah kata itu sendiri dan signified adalah konsep yang direpresentasikan oleh kata tersebut. Pandangan strukturalis mengenai bahasa sendiri hanya tertuju pada struktur koneksi arbitrer signifier-signifier, dan meninggalkan signified di pojok kamar. Poin penting dari kearbitreran signifier—signified ini diproduksi secara sosial. Apa yang dimaksud di dalamnya adalah meskipun kata-kata itu tereferensi secara tegas, ia tetap saja bersandar pada konvensi sosial pemahaman, nilai-nilai sosial yang diakui secara umum.

Kearbitreran tersebut menggiring bahasa sebagai ekspresi kompleks yang menentukan pengalaman hidup dan keberadaan manusia. Selanjutnya manusia hidup dalam sebuah dunia sosial bahasa dan bahasa selalu dimuati makna sosial dan homolog dengan relasi kuasa penciptaan struktur sosial. Bahasa, dalam pendeskripsian pengalaman merupakan ideologi tak terelakan. Ideologi dalam kawasan ini diartikan sebagai sebuah model pemikiran yang ada pada lintasan tertentu atau yang berhubungan dengan tingkat-tingkat masyarakat dan dispensasi kekuasaan di dalamnya. Oleh sebab itu bahasa tak pernah berwajah bayi. Definisi dan makna kata atau konsep selalu terhubung dengan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat.

Gagasan strukturalisme mengenai teks sebagai sistem tertutup yang mencukupi dirinya sendiri nampak pada kritik sastranya yang tidak masuk ke dalam konteks penciptaan dan kehidupan nyata, wilayah-wilayah luaran teks. Kritik sastra strukturalis mencoba untuk memahami teks dengan mengisolasi tekas dari konteks. Berusaha agar figur-figur hanya mengacu pada struktur-struktur sintaksis dan tata bahasa. Strukturalisme murni bersikeras orang harus terlepas dari kekusutan hubungannya dengan realitas nyata

Secara lebih spesifik, pengaruh pandangan tersebut pada penelitian sejarah tampak pada perhatian baru dalam aspek susastra dan estetika sejarah, tetapi tidak sebagaimana sebelumnya yang sekedar gaya representasi, kini ia dihadapi sebagai model eksplanasi, yang tak bergantung pada kemapanan paradigma empirisis. Peter Gray, pembela empirisisme bahkan pernah menuliskan:

Gaya dipakai kedalam tekstur sejarah. Sebagai suatu bagian dari beberapa trik-trik mekanik retorika, gaya terhubung secara indissolub (tak terpisahkan) dengan bahan: gaya membentuk dan sebaliknya dibentuk oleh substansi.[10]

Subversi ini bagaimanapun tak seharusnya dipandang melulu subversif, tetapi lebih dari itu pembebasan penulisan masa lalu. Sekaratnya standar universal lama di atas modernitas sebagai sebuah fase sejarah, yang terutama dibangun oleh ilmu pengetahuan, liberalisme, dan Marxisme, membuat sejarah, terlebih penulisan sejarah tak dapat lagi mempertahankan gagasan-gagasan kebenaran, objektivitas, dan faktualitas yang diperjualbelikan.

Kesejarahan linguistic turn, seperti juga kesadaran kebebasan masyarakat postmodern dan kebebasan representasi nature referential, adalah kesadaran bahwa penulisan kesejarahan naratif adalah representasi formal isi kesejarahan. Pikiran ini muncul pada perempat terakhir abad 20, mendorong seluruh sejarahwan untuk menyadari bagaimana bahasa digunakan, memahami sifat figurative narasi sebagai media yang menghubungkan masa lalu dan penulisan sejarah. Ini berarti eksplorasi lebih lanjut keburaman bahasa tinimbang membentuk dan menyajikan kejelasan dan transparasi hubungannya dengan realitas. Tidak ada pengetahuan historis yang paling absah. Pengetahuan manusia mengenai masa lalu bersifat sosial dan perspektikal, dan penulisan sejarah eksis dalam struktur-struktur determinan kekuatan kebudayaan.

Teks kesejarahan lebih bersifat terbuka dalam pemaknaan. Ketika sejarah imperialisme dicatat dari perspektif non Eropa, oleh Barat ia tidak diakui sebagai sebuah perspektif hingga pertengahan ke dua abad 20, bersamaan dengan lahirnya dekolonialisasi. Episteme pada masa itu menjadi lebih tertutup kepada apa yang postmodern maksud sebagai pengakuan terhadap relativitas makna. Bagaimana makna dideterminasikan oleh halte tempat seseorang berdiri dan terputus riwayatnya dalam representasi historis. Kebanyakan orang yang berkerumun sekitar rekonstruksionisme dan konstruksionisme masih bersikeras pada pencarian masa silam, berpikir bahwa asal muasal, jika diperlajari secara tepat dalam konteksnya dan atau aplikasi model-model eksplanasi akan menampakkan realitas dibelakang. Strukturalisme di dataran yang lain menyodorkan bahwa bukti-bukti hanyalah papan penunjuk arah dari realitas dan interpretasi yang dimungkinkan, sebab selama konteks ditekstualisasikan atau dinarasikan, seluruh konteks tersebut tak lebih teks di dalam teks. Ketika seseorang menginterpretasikan masa lalu, menulis teks-teks untuk menyusun ide-ide, menyaring dan memilah bukti-bukti, dengan begitu memaksakan diri sebagai narasi atau bentuk-bentuk tekstual masa silam.

Subversi ini bukanlah sebuah penolakan terhadap sejarah obyektif, tetapi terutama lebih kepada bagaimana pikiran itu sendiri dapat dipahami dan dianggap real atau dunia yang benar di luar sana lewat sebuah pengakuan terhadap varietas kenyataan-kenyataan atau bahkan mengakui ketidakbermaknaan sejarah dan oleh karenanya menjadi terbuka.

[1] M.A. Brouwer dan Myra Sidharta, Kegelisahan Seorang Feminis; Sosok Virginia Woolf (Jakarta: Graffiti Press, 1989), hal. 153

[2] M.A Brouwer dan Myra Sidharta, loc.cit.

[3] M.A. Brouwer dan Myra Sidharta, loc.cit.

[4] Ibid., hal. 155—156

[5] Ibid., hal. 157—160

[6] Alun Muslow, Deconstructing History (London dan New York: Routledge, 1997), hal. 17

[7] Christopher Lloyd, The Structures of History (Oxford: Basic Blackwell, 1993), hal. 66

[8] Alun Muslow, op.cit., hal. 7

[9] Raymond William, Keywords (Oxford: Oxford Unversity Press, 1983), hal. 304-306

[10] Peter Gray, Style in History: Gibbon, Ranke, Macaulay, Buckhardt (New York: Basic Book, 1974), hal. 3

Related posts

Leave a Comment