GELOMBANG CYBERSASTRA RUJAK KATA PUISI GRAFITI CHAIRIL ANWAR[1]

Oleh: Cunong Nunuk Suraja

Bulan April memang identik dengan bulan sastra dengan titik tolak pemikiran Chairil Anwar yang ditengarai sajak-sajaknya oleh Sutan Takdir Alisjahbana(STA) sebagai rujak: “Makanan ini asam, pedas, asin, dan banyak terasinya, berguna untuk mengeluarkan keringat, tapi tak dapat dijadikan sari kehidupan manusia.” (Dalam Goenawan Mohamad. 2011.“Takdir: Puisi dan Antipuisi” Puisi dan Antipuisi. Jakarta: Tempo dan PT Grafiti Pers. pada halaman 74 dan 171). Sajak-sajak semangat Chairil Anwar walaupun juga diketahui sebagai karya saduran memang menyodorkan pemilihan kata baru yang meruyak dan memporak-porandakan kosa kata Bahasa Indonesia yang saat itu masih dianggapbaru mulai merdeka. Sajak Aku, Diponegoro, Krawang- Bekasi untuk menyebutkan beberapa sajak yang mewakili zaman perjuangan kemerdekaan dengan semboyan 45. Keberpihakan penyair pada perjuangan kemerdekaan dengan sajak Persetujuan dengan Bung Karno juga makin menokohkan sajak rujak itu cukup pedas walau diingkari tak bergizi oleh STA.

Menengok ke belakang saat tahun 2000 yang menggegerkan dunia teknologi atas titi mangsa pada komputer yang dikawatirkan akancrash karena angka tahun kembali pada ujung angka 00 yang ternyata hanya polah kapitalis untuk menjual dagangan programnya sesuai dengan kecurigaan yang menurut Baker (2003) yang dikutip Ignatius Haryanto dalam artikel tentang Cultural Studies “Menimbang Kembali Imperialisme Kultural dalam Konteks Globalisasi Kebudayaan Awal Abad ke -21” imperialisme kultural berasal dari homogenisasi budaya dalam proses globalisasi dari kapitalisme konsumtif yang menghilangkan keragaman budaya. … imperialisime kultural merupakan hasil kesatuan proses ekonomi dan budaya yang juga termasuk dalam kapitalisme global. (Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto.Editor.tanpa tahun. Cultural Studies: Tantangan bagi Teori-teori Besar Kebudayaan. Depok: Penerbit Koekoesan, halaman 55) Tesis  homogenisasi budaya ini juga digarisbawahi Seno Gumira Ajidarma (2008) dalam catatan esai Kentut Kosmopolitan bahwahomogenitas bukanlah satu-satunya penyebab yang membedakan kebudayaan urban misalnya dengan kebudayaan tradisional, yang seolah-olah menjadi mudah disiasati karena masyarakatnya yang homogen. … justru dalam kebudayaan urban, iklim industri memberlangsungkan homogenisasi. (halaman 188).

 

Dalam tahun itulah merebak fasilitas internet di Indonesia yang mengumpulkan sejumlah sastrawan membentuk wadah Yayasan Multimedia Sastra yang melahirkan gerakan cybersastra yang akhirnya terjebak pada internet sebagai media kebebasan tanpa editor yang menghilangkan peran sebagai pernanda kekuasaan redaksional pada media cetak yang diharapkan akan menjadi pintu gerbang lahirnya sastrawan atau penyair setingkat Chairil Anwar yang berlanjut hingga pada Sutardji Colzum Bachri kemudian Afrizal Malna dan Joko Pinurbo yang dapat dianggap sebagai loncatan estetika dengan kredonya masing-masing.

 

Ruang terbuka internet dengan fasilitas Group dari Yahoo yang kemudian bergulir pada fasilitas yang lebih terbuka dengan segala rasa dan ungkapan boleh diunggah mengalahkan fasilitas blog sebagai ajang unjuk karsa dan karya maka Facebook menggelontorkan para penulis yang tidak lagi mengejar label sastrawan maupun penyair walau yang mereka hadirkan adalah karya tulis tentang rasa dan karsa yang melingkupi bidang sastra.Nama-nama pengguna akun internet semisal Saut Situmorang, Nuruddin Asyhadie dan Hudan Hidayat muncul menjadi semacam mentor dan pejuang cyberpunk yang gigih menjawab tantangan media cetak yang sangat terbatasi oleh lembar kertas yang berdesakan dengan iklan, apalagi dikenal taring editor media cetak lebih meracuni gaya dan mind setter untuk karya-karya yang dianggap layak tampang menyuarakan zamannya. Tentu saja Facebook maupun fasilitas internet yanglain lalu dianggap sebagai keranjang sampah pikiran menyastra (baca Saut Situmorang. Editor.Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk. Yogyakarta: Jendela bersama YMS) walaupun pada ujung-ujungnya mereka yang menghujat sebagaimana para sastrawan papan atas tahun 70-an yang alergi dengan gaya 23761 dengan puisi mbeling yang lugas, jujur dan apa adanya serta bermain tetapi serius menghasilkan karya parodi maupun pemunculan estetika kata juga diamini dan diekori oleh para penyair yang pada waktu itu dianggap mapan. Pelawanan antar generasi media penyampaian gagasan karya sastra ini selalu berakhir dengan senyap selesai dengan beberapa buku cetakan yang biasanya tidak tercetak ulang sehingga gaung pertikaian itu hanya menyisakan catatan buram para pelaku dan menjadi mitos penciptaan yang tak lagi dapat disusuri ujung mula perhelatan tikai itu mendasari.

 

Pertemanan Facebook juga melahirkan banyak penulis yang mengumpul mewujudkan mimpinya dalam buku cetak terbatas model penerbit indie dari gang-gang becek sebuah kota yang menjamur di Yogyakarta, Bandung maupun kota-kota yang berpotensi mempunyai sastrawan yang ingin menantang hegemoni pusat dan pedalaman, maupun pusat dan daerah, juga yang baru muncul dan yang sudah mapan. Jadilah sarana Facebook menjadi hingar-bingar penerbitan buku karya bersama dengan ditandai oleh kelompok Swawedar 69 Bandung, Raja dan Ratu Alit yang digawangi sepasang penulis cyber yang aktif menerbitkan buku kumpulan tulisan cyberpunk, Susy Ayu dan Kurniawan Junaedhi dan yang selain Hudan Hidayat dengan gaya tulisan khasnya dalam Jurnal Sastratuhan Hudan serta Heru Emka dari Semarang  dengan Kelompok Studi Sastra Bianglala yang telah meluncurkan kumpulan haiku Danau Angsa  dan rencananya bulan Mei 2012 akan meluncurkan antologi puisi mbeling 2012 Suara-suara yang Dipinggirkan di Bentara Budaya Yogyakarta.

 

Gejala kebebabasan tanpa editing karya kecuali penulis dan temannya lewat kotak komentar menjadikan wahana internet bukan lagi keranjang sampah karya sastra yang tertolak editor media cetak, tapi justru persemaian karya tanpa intrik yang mencuat seperti apa yang dilakukan STA pada Chairil Anwar hingga terbit kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir. Pertemanan Facebook lebih menjadikan ajang musyawarah, silih asah silih asuh serta tanpa rasa risi yang muda baru muncul menyusu ilmu pada yang tua mapan berpengalaman maupun sebaliknya kalau bicara tentang teknologi.Tak ada lagi percaturan aliran Rawamangun dan kelompok Pasar Senen atau kelompok Bulaksumur dan Malioboro yang dianggap mewakili akademisi dan khalayak seniman dalam berkarya kritik.

 

Gelombang Cybersastra dengan fasilitas pertemanan Facebook tidak lagi memerlukan lapangan terbuka dengan ditemani pedagang angkringan untuk saling menukar pemikiran seperti zaman sebelum teknologi komunikasi menghilangkan jarak geografis dan waktu. Zaman baca puisi kelilingpun dari kota ke kota maupun desa ke desa serta kantong budaya satu ke kantong budaya yang lain sudah surut tinggal menyisakan ideologi dan kelompok yang mempunyai tempat yang berpendingin dengan tata lampu megah pagung teater semacam milik TUK dan Salihara di Jakarta yang tentunya tak akan sebesar kekuatan Facebook dalam menampung remah-remah budaya hasil teknologi komunilasi internet dengan fasilitaspertemanan Facebook.

 

Bagaimanakah Chairil Anwar dan STA akan menyiasati fasilitas modern yang menggenggam hasrat pembukaan wilayah penciptaan ideologi maupun indentitas bangsa ini? Apakah mereka akanmengidap sindrom gegarbudaya? Ataukah mereka akanterserang stroke kebudayaan yang membukam percakapan lantang atas “yang bukan penyair silakan minggir”? Inilah tantangan hegemoni globalisasi yang dikawatirkan akan menghilangkan jarak, ideologi, indentitas, geografis, dan budaya menjadikan manusia sebagai kerumunan komoditi ekonomi para kapitalis dan imperialis.

Bogor, 28 April 2012

Daftar Pustaka:

Goenawan Mohamad. 2011. Puisi dan Antipuisi. Jakarta: Tempo dan PT Grafiti Pers.

 

Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto.Editor.tanpa tahun. Cultural Studies: Tantangan bagi Teori-teori Besar Kebudayaan. Depok: Penerbit Koekoesan

 

Seno Gumira Ajidarma. 2008. Kentut Kosmopolitan. Depok: Penerbit Koekoesan

 

Saut Situmorang. Editor.Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk. Yogyakarta: Jendela bersama YMS

 

 

[1] Disampaikan dalam diskusi sastra Dewan Kesenian Kota Bogor, Sabtu, 28 April 2012

Related posts

Leave a Comment