Sajak-sajak acel k iskandar

Kataku

Mayang rambutmu datang mengundang. Bimbang 
pun meregang. Waktu
 
kembali berjalan mengukur diri di antara lambang
 
dan rindu
 
Banyak sekali minggu yang lepas dari bulannya
 
dan bulan ditelan tahun dalam gerai rambutmu
 
Senyum pun mampir di antara hari, jam, menit dan detikku
 
Aku ingin menangkap bayang di antara kata-kata
 
yang meluncur dari lidahmu. Sedang waktu
 
selalu mencumbu rindu
 
dan aku datang menyambang gelombang mayang
 
dari rambutmu. Sedang bimbang kuregang
 
dari batas rindu yang tak pernah sudah. Barangkali seribu kisah
 
akan tiba. Kau begitu pasrah
 
Dalam senyum mampir sebaris mayang rambutmu
 
yang menyisakan ragu. Padahal aku ingin menjaga tahun
 
dalam jiwamu dan menikmati minggu-minggu membeku
 
dari bulan-bulan yang gugur. Dan kata pun
 
semakin cair pada detik-detikmu
 
Betul, aku lepaskan dari ranjang sepi ini, kepergianmu…
 
Mei 2000
 

Apa Yang Kau Cari?

Apa yang kau cari? 
ke sana ke mari
 
sementara waktu berjalan dan impian tak pernah sudah. Kita pun
 
semakin tak berharga di sini, di antara rimba beton

Apa yang kau cari? 
waktu semakin dekat juga
 
sedang kau belum apa-apa. Bagaimana dengan hari
 
perhitungan itu? Apakah rindu ke sisiNya
 
tak pernah kembali lagi?

Apa yang kau cari lagi?

Jakarta 22 Januari 2000 

Di Atas Kereta

Berapa lagi harus kuberi, setelah malam tiba 
di luar gelap, dan kau masih menyimpan mimpi?
 
Malam ini bulan datang dan aku tak pernah bisa mengerti
 
mengapa waktu berjalan dan kita harus menunggu. Lama
 
Tak pernah selesai bayangan berlari di luar kaca jendela
 
dan kita tak pernah mau tahu kapan waktu akan berhenti

Berapa lama lagi aku harus merasakan malam 
dan kau masih diam. Kopi sudah dingin dan rokok pun padam
 
Aku ingin sekali bercerita tentang bintang
 
tentang kata-kata yang semakin tak bisa kukekang
 
melaju kencang di atas rel sambil melantunkan irama tualang
 
di antara waktu yang hilang. Hasrat semakin kuredam

Berapa kali kurasakan malam tanpamu 
dan waktu membeku
 
dalam perjalanan panjang. Terbentang kisah
 
seribu rindu di setiap kilometer yang terdedah
 
Barangkali malam akan merekam kalimat demi kalimat
 
dari hasrat yang melekat.

Januari-Mei 2000 

Kekasih

1 
Kekasih
 
Aku kabarkan berita. Kalah
 
Setelah waktu menjadi candu
 
dan satu-satu jatuh. Pasrah
 
Sungguh. Langkah kaki tak pernah letih
 
sedang detik mendesak menit mendorong jam menyibak hari menembus

minggu melewati bulan mencapai tahun menggapai abad.

Menggelepar-gelepar ditelan warna yang tak pernah kumengerti. Dalam

makna kukejar-kejar rindu yang datang dan senantiasa pergi lagi. 
Kekasih
 
adalah jerat mengikat hasrat
 
dan aku tak bisa mengejar waktu yang melesat. Mataku menatap kedalam

malam pekat: Penuh 
sayatan demi sayatan. Semua mendekat. Mendekat. Mendekat.
 
Ya, aku duduk membaca kata-kata yang berjalan di trotoir lengang.

Hanya kata-kata menggaung di antara tembok-tembok resah. Hanya

kata-kata yang meramu kalimat, menjebak alinea dan menyodok gagasan ke

dalam pusaran-pusaran pikiran – Sungguh, Kekasih! 
Aku kalah dalam setiap kisah

2 
Kekasih,
 
rindu itu semakin memburu – tak ada kata-kata yang dapat mengisahkan

rasa ini – Pikiran pun tersumbat dalam aliran waktu – Sungguh! 
Kalau pun malam kuhabiskan untuk menangkap sisa-sisa kenangan, tak ada

lagi suasana ramah itu – Aku ingin lagi, malam ini, menguntai waktu

melewati dini hari menuju pagi – duduk bersamamu – melupakan kelam

bersemak dalam kamar sempitku! 
Kekasih,
 
rindu itu semakin memburu – Tak ada rasa yang dapat memisahkan kita –

dalam waktu, pikiran melangkah entah ke mana. Dalam pikiran engkau

melangkah ke jantung hati. Ya, aku semakin mendekat. Entah rinru ini

mengikat. Hatiku semakin melangkah kepadamu! 
Lupakan bayang-bayang. Lupakan sebarang kisah. Lupakan kegelapan. Aku

ingin tetap bersamamu. Sungguh! 
Kekasih,
 
tidak ada lagi kata-kata selain untukmu!

3

Kekasih, 
hasrat benar membuka pintu. Ramah
 
aku selalu melangkah ke rumah. Salah
 
tidak ada lagi dinding
 
tidak ada lagi jendela tempat memandang. Semua menjadi waktu dan

tonggak merinding. Kaki tak pernah singgah ke suara tembang. Dan

berbaris menuju kata-kata. Dan tembok perlahan-lahan terkuak. Duka 
mengayuh rindu untuk kembali
 
mencari. Tidak ada lagi rumah. Sepi

Jakarta, Mei-Juni 2000 

Related posts

Leave a Comment