sajak-sajak ani sekarningsih

Selongsong peluru

oleh AS

Seorang ibu tua membopong anaknya 
yang merengek selongsong peluru
 
yang baru saja ditembakkan
 
ke dada bapaknya
 
di pinggir hutan sagu
 

YANG TERPISAH

oleh AS

Kedua suami istri setengah telanjang 
Terbirit-birit lari dikejar pedang
 
Diburu peluru
 
mengenakan sarung merundung malang
 
rumahnya punah disergap api mortir
 
Lupa anak-anaknya masih asyik
 
diselimuti asap mesiu
 
bermain dibawah lindung pohon pala
 
Meninabobo sehelai daun yang menjadi boneka
 
Lugu terasing dari bahana kerusuhandan
 
dendam demi kebenaran yang tiada hakiki

hasut fitnah berkobar menjulang angkasa 
ulah segelintir penguasa yang serakah

Sebulan mereka terpisah 
Kedua suami istri putus asa menyeberang
 
Dari Ternate ke Menado
 
Memikul beban duka rindu dan rasa bersalah
 
Entah di mana anak-anak cintanya
 
berlindung dan makan
 
Yang mengais-ngais jenazah neneknya
 
kelaparan dan kedinginan
 

                                            Juli 2000 

HIDUP ADALAH DRAMA
oleh; AS

Tuhan ada dalam gemetar pedih 
membalut kesengsaraan dan kesukaan
 
menkmati borok-borok menganga
 
lalat berpesta pora mayat bergelimpangan
 
di setiap sudut dusun dan kota
 
nun jauh…

sementara gelegar ketawa 
merasuk kantor-kantor ber-ac
 
lagu-lagu merdu bertemparasan
 
hingar bingar mesin penghitung duit
 
meninabobo jenuh dan depresi
 
para eksekutif
 
di pusat pemerintahan

Tuhan membasuh dengan nestapa 
degup jantung yang berlomba
 
membujuk takut dan rasa nyeri

dengarkan hening 
menggaungkan jerit tangis putus asa
 
gemertak peluru mortir
 
yang memisah ibu bapak
 
dan bayi balita
 
 
mereka dibelai api

hidup adalah drama 
merangkul suka dan duka
 
karena tuhan adalah  jiwa ruhmu
 

TERATAI
(buat CM yang mengalami pencerahan)
 
oleh: Ani S.

bila Dia bersabda 
sumber mata air
 
terhidang bagi pengembara
 
menawari dahaga

bila Dia bersabda 
Kun Fayakun
 
cahayaNya melumatmu dalam
 
ketiadaan
 
tanpa seremoni

masihkah penting upacara 
dibingkai kata dan fana?

Teratai bahkan semringah 
tumbuh dalam lumpur
 
tanpa kata

Rabu, 26 Juli 2000 

KEPADA JAGAT RAYA

Jagat raya, aku bertanya

Disini 
Mengalirdarah bagai air bah
 
Potongan potongan tubuh isi kepala
 
Dan perut terburai
 
Berserak di setiap penjuru
 
Kekuasaan
 
Tiada henti ledakan mortir memporak peranda
 
Rumah-rumah kampung sederhana
 
Yang tak memiliki telpon faksimili
 
Menghindar semua nestapa

Magma bumi menggeliat gerah 
Memuntahkan isi menggulung
 
Tandas pangan dan ternak
 
Pijakanku merekah nganga
 
Mengiris pedih silaturahmi
 
Seorang anak memeluk erat
 
Tanah kubur ibunya, namun
 
Banjir bandang pun menerjang
 
Mengupas pertanda- kehidupan
 
Tak bersisa

Bosankah kamu mengasuh bumi?

 27 Juli 2000 
AS
 

Raungan Maut

Gegap gempita raungan maut 
Mencakar nasib menjaring dendam

Gegap gempita raungan maut 
Membakar takdir
 
yang menelikung bongkahan serakah
 
entah siapa

Gegap gempita raungan maut 
Darah dan airmata membasuh karma dosa
 
entah buat apa

Gegap gempita raungan maut 
Sehingga dzikir doa tiada daya menembus langit
 
yang hingar bingar oleh angkara murka
 
gemuruh mesin pembunuh
 
sangkur yang masih teracung kejang berlumur darah segar

Duh 
keheningan itu cuma
 
potongan ruh yang terjerembab penasaran

Kemana 
Kemana
 
Kemana

Konon Tuhan Sarat Kasih Sayang

Kemana jejak kaki telanjang menuju 

RODA WAKTU

Wujud debu yang menggelinding 
dalam jari-jari waktu
 
menerawang pandang ke luar sana

Siapa engkau, Roda Waktu? 
Yang memenjaraku
 
dalam rambu-rambu yang menyiksa?
 

INTI

inti yang terkurung 
lintasan elektron
 
yang bergerak menyusun atom
 
membentuk sel
 
molekul-molekul yang
 
mewujud

penasaran pun mengais-ngais inti 
di antara rumus dan dalil rumit
 
namun berujung
 
pada yang maha

tiadakah kau sadari 
bahwa engkau cuma
 
kekosongan jagad raya?
 

SEBUAH LORONG

saat terlempar dalam relung lorong ini 
kukenali warnanya
 
panorama yang membuatku limbung memilih
 
:aku menoleh mencari
 
namun hampa yang kuakrabi

kujalani lorong ini 
yang tak kukenali muaranya

entah berakhir di mana 

ZIARAH

Dia yang lebur menjadi wujud 
kodrat kehendakNya

Di sini 
aku luluh tiada daya
 
menghablur
 
dalam rengkuhan Cahaya

(Oleh: Ani Sekarningsih)

Related posts

Leave a Comment