Sajak-Sajak Anna Haris

Di mana kamu?

gemercik suara air yang mengalir di ujung-ujung jemariku
menyentuh dingin, menambah suara sepi dalam kalbu
di mana kamu?

lentiknya jemari peri-peri kecil yang meniupkan angin di telinga
menusuk dingin, alirkan getar rindu yang meraja
di mana kamu?

sungguh aku bosan menanti
sungguh aku jemu menunggu
duduk termenung menghitung jalannya waktu
tanpa harap
tanpa kemungkinan
dan tiada seekorpun burung terbang menuju cakrawala

(di mana kamu?)

Biarkan…..

Jangan kau panggil aku sekarang, Bulanku
aku sedang termenung
mengurai mimpi-mimpi di atas air
di antara riuhnya suara murai
serta cantiknya kelip si Bintang malam

Jangan usik lamunku sekarang, Bulanku
aku sedang menari
kadang basah terpercik beningnya air
dengan gurat senyum kecil menghias pipi
mengingat indahnya cerita hari ini

Tolong kau bangunkan dia, Bulanku
biarkan dia menemani aku di sini
bersama ungkapkan cerita hati
berdua
walau tanpa bicara
walau hanya tatap mata
walau cuma sebaris kata

Jangan kau ganggu kami, Bulanku
biarkan kami bermandikan bilah-bilah cahayamu
biarkan kami berdua
sebentar saja…

1 April 1999
to : Cincinnati

RINDU (1)

Jangan jauh nanti aku layu
Jangan dekat nanti aku kuyu
Biarkan aku bermain dengan rinduku
Delapan bulan lagi kita bertemu

‘Duh indahnya rindu..

to: Cincinnati
7’4’99

RINDU (2)

Menanti, menantilah aku di sini
Merangkai kelopak bunga merahmu satu persatu
Menghitung, aku menghitung hari
Dengan sejuta asa aku menyemai rindu

Rindu untuk kamu….

to: Cincinnati
7-4-99

Aku masih punya

Aku masih punya hati
yang dapat membuatku bernyanyi
diiringi lembutnya suara sang murai pagi
dan tetesan embun yang membasahi hari

Aku masih punya jiwa
yang mampu membuatku tertawa
walau hari-hari masih terasa hampa
dan mata orang sekitar menatap duka

Aku masih punya cinta
Yang menggurat merah di buah delima
Yang biru mendayu-dayu di langit biru
Yang hijau terlukis di daun pisang

Dan semuanya kusimpan cuma untukmu
Sampai pagi menjelang kebersamaan kita…

to: Cincinnati, Ohio

Kamu ada ..

kamu ada
di antara detak jantungku
yang semakin kuat berpacu
waktu namamu terlintas di benakku

kamu ada
di sela hela nafasku
yang semakin cepat menggebu
waktu bayangmu menari di pelupuk mataku

kamu ada
di dalam hatiku
riuh mengiringi denyut nadiku
waktu suaramu terdengar di telinga kananku

kamu ada
di ujung-ujung kukuku
lincah menari mengikuti iramaku
waktu jari-jariku menuliskan puisi ini untukmu

kamu ada
di semua sudut-sudut hidupku

dan untuk seluruh hidupku nanti
aku ingin
kamu tetap ada….

12 April 1999
to: Cincinnati – thank you for calling me to nite….

Rinduku

aku adalah jarum waktumu
yang menari-nari lincah berputar tidak kenal lelah
yang bergelayut mesra di lingkar tanganmu
yang menemani detik-detik menuju bahagia,
dan malu-malu saat sudut matamu melirik ke arahku

aku adalah jarum waktumu
yang kau bawa ke dalam alam rindu
ikut menari seperti seorang penari
terhanyut dalam irama kehidupan yang bersemu merah-ungu
habiskan waktu sambil terus menunggu

kutahu……
ada sosok manja di benakmu saat ini
yang sanggup membuat degup keras di dadamu setiap kali bayangnya melintas di pelupuk mata
adakah rindu begitu riuh berteriak-teriak di hatimu
ataukah rasa yang teramat dalam
tergurat indah di setiap katamu
hingga tak sabar kau hitung sisa hari

satu…
dua…
tiga bulan pasti kan datang,
bisik manjanya pasti kau jelang……

to: Cincinnati, Ohio
April 20th 99
 

Cuit..cuit…

Cuit..cuit…
Murai pagi membangunkanku dari buaian mimpi indah
Mendendangkan kicau bahagia menyambut pagi yang cerah
Membiarkanku menghirup damai dunia, rasakan damai di hati

Cuit..cuit…
Ah, tidak ingin kubiarkan kau berhenti menemani hari-hariku
Bersama denting-dentingmu dan menari di antara nada-nadamu
Ingin kukatakan pada dunia, bahwa hari ini aku bahagia

Cuit..cuit…

April 21st 1999

Aku tak bisa berpaling

getar itu masih terasa
saat jemari kita saling menyentuh
bisa kurasakan adanya rindu yang megah
yang kau kirim lewat hangatnya aliran darahmu

ingin aku berlama-lama dalam kehangatanmu
ingin aku habiskan sisa malam ini dalam nada-nadamu
ingin aku peluk sinar rindu yang terpancar di setiap kedip matamu
ingin ……. semuanya kusimpan di dadaku

suaramu mengantarkanku ke alam lalu
senyumanmu membawaku ke mimpi dulu
tatapanmu menghanyutkanku dalam ilusiku sendiri

ah
seandainya masih mungkin….

tapi…….
aku tak bisa berpaling …..

1 Mei 99
*kamu cuma bagian dari cerita masa laluku*

Aku punya cinta

dulu aku punya cinta
yang sedianya ingin kuberi padamu
bersama seluruh rindu yang sanggup membuat angin berhenti berhembus
bersama seluruh sayang yang mampu membuat ombak kehilangan buih-buih putihnya
bersama seluruh kata yang terukir dalam bilah-bilah hati merahku

(tapi kamu hanya diam)

dulu aku punya cinta
yang sanggup mendentingkan lagu-lagu indah pada setiap tetes embun di pagi yang berkabut
yang mampu menggetarkan ujung-ujung jemari setiap kali gelombangmu mengusik sisi diamku
yang menyusun kata-kata biru yang terpancar tegas dari sudut-sudut kerling matamu

(tapi kamu cuma diam)

dan kini
aku masih punya cinta

walau bukan kamu pemiliknya

Jakarta, 10 Mei 99
“seandainya aku bisa berhenti menulis tentang kamu” 

Sebentar lagi

tidurlah manis
lelaplah dalam dinginnya malam
yang menguak langit dalam gelap
selimuti mimpi dalam buaian lembut doaku….

pejamkan matamu manis
biarkan rindumu menyatu dalam darahku
mengisi seluruh rongga dalam hatiku
sementara pagi berkemas menyambut hari baru

tidurlah manis
sebentar lagi kita bertemu…

 

RINDU (3)

dan kini,
rindu-rindu yang ada
telah membentuk sebuah cerita indah
sejak kehadiranmu

terimakasih Kasih,
kau membuat mimpiku menjadi lebih indah…..

 -12 Juli 99- 

Seharusnya

seharusnya bisa aku nikmati
saat-saat bahagia bersamamu kini
ditemani awan yang semakin putih di atas sana
dan birunya langit yang tersenyum menaungi kita

seharusnya dapat kuhadirkan mimpi
yang tak lagi hanya sebentuk ilusi
serpihan itu sudah mulai berwujud
seiring waktu yang melintas di depan kita

seharusnya semua itu bisa menyelimuti seluruh sudut hatiku
tapi mengapa….

resah itu masih ada?

*mengapa…..? 

Seharusnya (2)

seharusnya aku tahu
dari kata-kata rindumu
terungkap semua ketulusanmu

seharusnya kumengerti
bahwa memang aku satu dalam hidupmu
sampai hari ini

dan
seharusnya kamu tahu
ingin ku bisikkan pada dunia tentang kebahagiaanku
waktu kau lingkarkan sebentuk cinta di jari manisku

terimakasih, rindu…..
maafkan daku pernah meragukanmu

14 Juli 1999 

Perahu kecil itu 

Perahu kecil itu berlayar
tanpa dayung
tanpa kendali

ke kanan…. ke kiri
berlayar ikuti hembus angin
dengan satu tujuan
yang ntah kapan bisa digenggam

Saat lelah menyebar rasa
tercipta satu asa
ingin menepi di satu dermaga
yang mulai terlihat di sudut mata

berlayar
ia berlayar, perlahan, mendekat

seiring senyum selamat datang
dan sekuntum bunga indah
di antara bilah-bilah kayu si dermaga

merapat
ia merapat, terpikat, terikat

sudah sampaikah aku di tujuan?

18 Juli 1999 

Puisi hujan dan kamu.

tik!tik!tik!
air hujan belum juga berhenti menjatuhi tubuhku dengan jarum-jarumnya yang bening. basah. dingin.
dan bulir-bulirnya mengalir di seluruh sudut mukaku.
tiba-tiba aku jadi ingat kamu. yang tak pernah berhenti menghujaniku dengan ciuman kecilmu. hangat. indah.

ciplak!ciplak!
sepasang kaki kecil berlari di depanku. tanpa disengaja air percikannya mengotori separuh gaunku.
gaun putihku. sama putihnya dengan rasa rindu yang ada di hatiku saat ini.
ah, aku jadi ingat kamu lagi. yang tak pernah puas memercikkan rindu-rindu di dalam jiwaku. manis. megah.

hening.
kutelusuri hari-hari ini sendirian. menguak kerumunan tawa di depan mata.membelah kumpulan bahagia sekelompok anak-anak kecil yang berlarian di tengah hujan. seakan tak ingat pesan ibunda yang melarang dirinya bermain di bawah siraman air hujan. yang ada cuma tawa riang penuh kemenangan. ada luka di kaki dan tangan. tapi mereka tak acuh, tak pedulikan apa-apa.
ah, aku jadi ingat bekas lukamu di kaki dan tangan. yang bisa membawa cerita untuk dikenang. nanti. suatu saat nanti.

ada tempat berteduh di ujung sana. setengah berlari aku mendekat.
duduk beralaskan plastik setengah kering. kuambil kertas dan pena dari saku yang mulai terasa basah.
ah, lagi-lagi aku ingat kamu. dan ingin menulis tentang kamu.
semuanya tentang kamu.

……….karena memang cuma kamu yang ada dalam otakku.

Jakarta, 23 juli 1999

Malamku tanpamu

Tanpamu..
malam ini terasa sepi sekali.
hanya sesekali suara jangkrik memecah kebisuan.
Kadang nyaring. menyentak lamunanku.
Kadang pilu. menggugah sudut hatiku.
Mengusik segala diamku. Kembalikan kenangan waktu itu.
Saat-saat kau ada bersamaku.

Krik! Krik!
Suara-suara itu semakin lama makin membahana. berirama di telingaku.
mengikuti detak-detak jantungku. terasa semakin bernada.
seakan mengajakku melangkah untuk berdansa.
satu… dua… satu.. dua…
aku berdansa. berputar. menari.
dalam irama ilusi. aku semakin asyik bermimpi.

Aku terus menari. terbang. melayang.
sampai menembus gumpalan awan. halus. lembut.
tersentuh oleh ujung-ujung jariku.
putih. biaskan cahaya indah di pelupuk mataku.

Aku terus menari. menghibur diri. mengisi sepi.
mengukir rasa pada hari-hari ini. tanpamu.
aku tenggelam dalam nadaku. terlarut dalam rangkaian kata-kataku.

aku terus menari. dan akan tetap menari.
sampai kau datang mengganti.
sampai kau kembali mengusir malam yang sepi.

Jakarta, 25 Juli 1999
*dalam kerinduanku yang terdalam 

Salahkah aku karena merindukanmu

salahkah aku karena merindukanmu
aku di sini.
sendiri.
sepi.
bahkan angin malam pun enggan mendekati.
kucari-cari bayangmu dalam gelap.
tak ada.
desah nafasmu pun tiada.
aku semakin sendiri.
sementara rindu kian menggores di hati.
salahkah aku karena merasakan ini.
aku sadar telah terlelap dalam mimpi.
dan aku tetap sendiri.
kuharapkan kembali mendengar senandungmu di malam hari.
menggelitik telingaku. mengayunkan imajinasi.
indah.
syahdu.
sampai aku tersentak.
itu semua cuma ilusi.
salahkah aku karena menikmati ini.
tapi aku yakin diri.
satu hari kamu pasti kembali menemani.

Jakarta, 29799

Elegi Rindu

Matahari mulai beranjak dari kursinya.
Duduk berlutut di kaki langit.
Katupkan jari-jari sinarnya satu persatu.

Saat itu aku ingat kamu.
Yang berdiri jauh berbatas rindu.

Kugapai-gapai tapi tak mampu.
Coba kuraih tapi tak ada.

Aku cuma bisa tersenyum kelu.
Lalu membisu.

Sesaat aku berpikir,….
di mana harus kusimpan rindu?

aku terdiam dalam kelam
ditemani air mata

Jakarta, 2 September 1999

Malam dan Kamu

Malam belum cukup tua
Kau raih lembut tanganku
Melangkah perlahan
Mengikuti alunan air sepanjang Riverside

Tak peduli pada keramaian
Teriak burung camar dan debur riak yang pecah 

di sudut-sudut rivercab biru itu
membentuk sebuah instrumen indah yang syahdu
Mengiringi langkah kita perlahan

Gemuruh air menggelitik seluruh dinding cintaku
Angin pun mulai menusuk-nusuk sendi
Kubersandar di sisi lenganmu
“Dingin….”
Kamu tersenyum
Mengecup keningku lembut
Dan hangatmu membias ke dalam tubuhku

Malam belum terlalu tua
dan kamu…
tak pernah usai memberiku cinta…

–Riverside Point, May 19th 2000–

http://www.inongharis.com

Related posts

Leave a Comment