sajak-sajak ari setya ardhi

Mempersiapkan waktu 

        (:anakku yang belum terlahir)

Membangun rumah pelaminan 
dalam kepala, aku menampung
 
tantangan waktu sepenuh kesetiaan.
 
mempersiapkan nafas matahari,
 
mengusung desah rembulan
 
sembari menyajikan perkampungan embun
 
ke atas rahim dunia. hingga
 
benih-benih kuburku mampu
 
menembus keangkuhan cuaca
 
menimbang-timbang belantara badai,
 
memelihara tantangan tsunami.
 
membiarkan sungai air mata
 
menghanyutkan pertempuran darah
 
yang mendirikan mihrab kemerdekaan
 
menyambut ratap kelaparan
 
yang mengalir deras, menepi kesenyapan
 
bilik keteduhan istriku, lalu
 
bayang-bayang ilalang bermain,
 
mendendangkan kelembutan sarah lambung.
 
aroma tanah berkeliaran,
 
besermerbakan kesejukan zikir berdah
 
berkelana lepas, menyempurnakan
 
prosesi kelahiran yang menuntun
 
gemertap talenta, membahana
 
diantara keriuhan sike rebana
 
bertalu-talu memanggili kesucian
 
tangis malaikat yang dititipkan-NYA

mempersiapkan waktu, 
kita mulai meruntuhkan ambisi
 
tembok kerja, membuka silsilah tahun lewat
 
kehalusan tawanya, menorehkan
 
biografi persalinan dalam buku
 
masa depan. menuliskan kecanggungan
 
ruhmu mengeja bahasa masa yang tertatih-tatih
 
kemudian membaca jejak-jejak mungil
 
berpetakumpet dalam dada,
 
sampai ia mampu melepaskan pertikaian nasib
 
membangun penjara kebersahajaan
 
di setiap gerbang, menyematkan
 
kolase mimpi yang pernah tertunda
 
lalu memandang ketegaran yang
 
meledakkan aliran benih keabadian kita

        Bohemian Jambi 26 Februari 2000 

Melintasi abad terakhir

detak jam telah menggugurkan 
angka-angka tanggalan, derap
 
hari menjadi rangka kenangan,
 
bergayut diantara berbagai gemuruh
 
peradaban. hingga almanak terakhir pun
 
berlepasan dalam catatan-catatan
 
keriuhan, mengalirkan suara-suara
 
parau lewat kabel-kabel, dan
 
guman kekalahan menggemuruh
 
mengisi pertikaian abad yang tersisa.

kita sudah melintasi abad terakhir, 
mencari-cari nama-nama alamat
 
yang berpecahan, namun peta-peta
 
nasib terus saja berpacu
 
menuju ketersesatan terminal
 
sementara arah yang tertera
 
hanya menjadi denah penunjuk jalan
 
yang tak lagi menentukan tujuan.
 
ah, persoalan waktu bagai kubah-kubah
 
keterasingan penunda kematian zaman

melintasi abad terakhir, 
rekamlah luka-luka yang mengalir
 
sepanjang selokan di kelangkangan
 
kondominium, membaca kembali
 
masa lalu sebagai sejarah
 
yang berlari. kemudian beribu-ribu
 
disket membakar diri, komputer-komputer
 
membangun komunitas sendiri.
 
masa depan hanya tercatat diantara
 
komunikasi virus-virus, yang
 
kembali menghancurkan impian
 
anak-anak ke dalam layar video game.
 
o, kita adalah peradaban
 
yang selalu melahirkan kebarbaran!

Bohemian Jambi, 31 Desember 1999

Menuju Kemabukan
(: rieke diah pitaloka)

tiba-tiba saja aku ingin mengenang 
dunia candu, memabukkan nadi.
 
membangkitkan syahwat kekalahan
 
manusia, sembari memanggili nama
 
asmara yang pernah kau titipkan
 
pada keraguan angin. hanya deru
 
pilu menampar jendela, pintu
 
terketuk desis angan
 
yang bebas berdesir bersama
 
rintih alang-alang. melepas janji
 
sabana diantara dosa-dosa udara
 
yang hanya mampu mencatat
 
keperihan angkasa dalam kefanaan
 
tanpa berbatas. duka tak terperi
 
mengalunkan perih tiada bertepi
 
menyimpan dendam bersunyi
 
mendera perjalanan nasib.

aku seperti terus saja 
meneguk arak memabukkan
 
menghujam-hujam gelas meradang
 
tenggorokan. sementara botol-botol
 
yang pernah kau sodorkan menjadi
 
mata air yang bergelinjang
 
menderit, hingga pecah biografi kita
 
mengalirkan beling yang sama-sama
 
menciptakan luka
 
pada keterhamburan sejarah.
 
”aku titipkan benih-benih
 
simalakama kepadamu,”
 
kembali jerit abadimu menyeret
 
gerimis memasuki benak mendungku
 
kesia-siaan itu menjelma hujan

Bohemian Jambi, Juli 1999 

Mengemudikan Laut

mendiami dunia laut, aku bersiap 
menyambut segala tantangan badai.
 
membangun kehidupan sampan dengan
 
sauh kepala sembari mengembangkan
 
layar di dada. merapat, berlabuhlah
 
riak-riak kedamaian, menyusun
 
kebersahajaan panorama dalam rumah
 
dermaga yang kita bangun bersama.
 
membiarkan pulau kenangan menjadi
 
lambai nyiur yang bergegas kita tinggalkan

aku telah mengemudikan laut, 
menampias buih-buih ombak
 
sebagai deru penepis gelisah
 
lalu mendirikan benak pantai
 
agar anak-anak bebas berkejaran,
 
memburu keterbatasan tradisi,
 
bermain impian pasir di bawah
 
rumah yang terbakar, atau
 
menangisi kematian ikan yang terkapar
 
mengisi setiap desah samodra masa depan
 
yang memang tak mampu kuperdagangkan!

mengemudikan laut, 
aku harus menjadi nahkoda
 
yang selalu menyimak perputaran
 
hari. mepedulikan keraguan tuju,
 
belajar membaca kompas nasib dengan
 
kepasrahan yang telah kita terjemahkan
 
merapatkan jarak pecahan mercusuar
 
maka, lihat kekukuhan jangkarku
 
menancap sampai dasar-dasar dahaga
 
menebus berbagai kekalahan pelayaran

Bohemian Thehok, 21.10.99 

Memelihara lautan matahari
 
matahari perkawinan telah membakar jasad
 
cinta, melunaskan pertengkaran
 
masa lalu, melebur nurani kita dalam
 
kekekalan laut kebersamaan, berdebur
 
melepas sampan kelangenan. berlayar
 
menembus kaki-kaki cahaya, berjagalah
 
dengan siluet kesederhanaan
 
disini telah kau berikan langit
 
dan aku serahkan cakrawala
 
menjelma keteduhan yang harus terpelihara

kita sudah memelihara lautan matahari 
mempertukarkan benih-benih raga
 
sepanjang alur sungai rembulan
 
yang menanam jangkar kesetiaan
 
biarkan kilau pagi menyelinap
 
diantara tetes embun, kemudian
 
menyibak keremangan malam. suara-suara
 
ombak menjelajahi pantai-pantai kepasrahan
 
namun, kita terus menjaring istirah, tanpa
 
perlu membaca tanda-tanda kekalahan!
 
dekap, dekaplah kemudi yang terlanjur
 
meradang, membebaskan luka-luka kemarau

memelihara lautan matahari, 
kita telah menjadi waktu nelly,
 
bersama menatah tanggal almanak
 
yang terus berderu, mengukur
 
angin dan sinar, menghitung pasir
 
maupun ilalang. hingga buih kangen
 
berdebur dalam getaran hadrah rampak melayu,
 
mega berarak melambaikan bayang-bayang sarendro
 
kita tak perlu lagi mempertimbangkan kemenangan
 
yang memang menjadi milik kita.

                Bohemian Jambi, 7 Desember 1999 

Menantang kelahiran
(:nelly akbar)

tak ada lagi gerai hujan yang 
akan tercurah dalam keheningan
 
melepas kelahiran laut hanya sebagai kenangan,
 
membiarkan gelombang menghantam
 
dalam keganasan buih-buih kesementaraan.
 
kehidupan sekedar menunda kematian
 
atau kepergian yang sama-sama seperti kemustahilan,
 
mengukur hakekat dunia pada setiap deburan misteri
 
membentangkan kemelut samudera nasib yang berpecahan.
 
sementara, kegaduhan pantai hanya menjadi
 
bisik angin yang berarak lenyap dilalap mega,
 
berkarang pada kepuasan persetubuhan
 
yang sarat dengan keliaran imaji tanpa kendali
 
dan berkas yang tersisa itu bukan milik siapa-siapa!
 
namun, lihat. lihatlah kesetiaan senja menjaga
 
rembulan, tiada ingkar dalam berbagai batasan.
 
ah, disana matahari senantiasa mengusirku
 
dari berbagai perseteruan usia
 
tanpa ada yang terbeban menakarnya,
 
menimbang perbedaan tangis maupun
 
persamaan tawa yang memang
 
memang menjelma mengisi kewajaran semata,
 
yang tiada perlu diperdebatan
 
kendati aku persiapkan kudeta ini, melarutkan perih

maka, seperti dosa yang terjaga, 
sesal yang selalu tertidur pulas
 
aku tentang kelahiran sebagaimana
 
kegelisahan nadiku menampung kederasan arak
 
memabukkan, geliat benak
 
menyimpan candu yang disodorkan.
 
hingga kegelapan cuaca menguburku
 
menuntun kedukaan panorama bersama
 
lipatan kusucian kain kafan itu
 
membebaskan kita memasuki kepengapan keranda
 
segegap ketegaran reranting patah.
 
tiada jejak. tak ada yang berkenan menyirami
 
benih asmara yang kita taburkan, tiada lagi
 
yang terusik menebar pupuk
 
di atas tanah kerinduan
 
yang memang bagian dari pilar
 
pelaminan milik kita yang tersisa
 
diantara debur darah yang
 
seharusnya menghidupkan jantung impianku
 
dik nelly, biarkan ari tidak
 
pernah perlu terlahir kembali

menantang kelahiran, 
aku membangun rumah air mata untukmu
 
menata reruntuhan dari bulir kekecewaan
 
sembari mengusung atap-atap kedamaian
 
sebagai kebersahajaan, menembus keriuhan
 
orang-orang yang melupakan kekejaman sendiri.
 
”bunda,
 
aku anakmu. siap mempertaruhkan pilihan darah
 
sebagai warisan yang belum dikehendaki!”

        Bohemian Jambi, 1 Mei 1999

Related posts

Leave a Comment