sajak-sajak asa jatmiko

DO’A SEEKOR PRENJAK

 

Ya Tuhan, Yayangku. 
sebagai seekor prenjak yang binal
 
aku tak ingin bertengger di tangan
 
juga tak mau hanya berpeluk di dada

aku mesti terrangsang dan birahi 
aku mesti kian gila jatuh cinta
 
maka pintaku cuma satu
 
biarkan aku bersarang di jembut-Mu

milik-Mu paling rahasia 
milik-Mu paling rahasia
 
disitu Kau punya acara pribadi
 
disitu Kau punya privacy

karena apabila semua itu tak terjadi 
apalah guna aku Kau cintai
 
akulah prenjak yang sendiri
 
maka di jembut-Mu aku berseru;
 
perkosalah aku, Yayangku!
 
atau kupotong kontholku?!!
 

(Bukit Jati, ’99) 

PERSETUJUAN DENGAN MAUT

Karena kita telah bersetuju dengan maut. 
Menjadikannya sahabat dalam setiap puisi.
 
Menjadi kesadaran setiap langkah nurani.

Kelelawar malam mengabarkan bau bangkai. 
Tetapi gagak hitam terbang ke tanah landai.
 
Sebab kehidupanlah meniscayakan transaksi.
 
Dan maut telah kita rengkuh di dada kiri.
 
Menjadi kekasih yang setia melayani.
 
Maut sendiri adalah sepi yang butuh ditemani.
 

(Bukit Jati, ’99) 

MESKI SERIBU GELOMBANG

“Meski seribu gelombang!” ia berteriak kepada 
tebing gelombang yang pernah menggagalkan pendakiannya.
 
Seekor bayi penyu merangkak menjauhi jutaan telur
 
yang telah lama tersimpan dalam eraman pasir pantai
 
dengan sisa tenaganya ia kembali bergelayut pada ombak
 
yang menjadikannya titik air untuk dilautkan kemana saja.

Angin telah membawa pasir kering menyisir semenanjung 
menjatuhkan ke tengah perkampungan asing,
 
namun sebagaimana kemauannya ia serahkan semuanya
 
meski gerak matahari begitu jelas memindahkan
 
bayang bayang rumputan dan burung camar berlompatan
 
di antara ranting ombak, juga di pantai ini puluhan flamingo
 
masih mencerecap hamparan rejeki yang tersisa.
 

(Bukit Jati, ’99) 

SAJAK TIGA PEREMPAT

Di 3/4 perjalanan kereta 
Dari jendela yang selalu terbuka
 
Kubuang nama dan alamat rumahmu.

Telah hancur embun pada kaca 
Angin pun telah menampar kerinduan
 
Dan mengingatmu kali ini
 
Tak lain cemas kehilangan yang kurasa

Di 3/4 perjalanan kereta 
Dari jendela yang selalu terbuka
 
Kubuang nama dan alamat rumahmu
 
Aku tak mungkin akan menemuimu
 
Sebab mengingatmu seperti dihunus sembilu
 
Apalagi mendekatimu; menghamiri ajalku.

Di 3/4 perjalanan kereta 
Dari jendela yang selalu terbuka
 
Kubuang nama dan alamat rumahmu
 
Biarkan engkau menjadi angin
 
Yang tak mungkin aku kenali lagi
 
Kecuali engkau menjadi angan
 
Biarlah aku kembali seperti sedia.
 

(Tasikmalaya-Yogyakarta, ’99) 

PUISI ADALAH OBAT GILA

Tersapu angin laut. 
Beberapa butiran pasir.
 
Menyergap mata dan mulut.

Tersapu angin kembara. 
Beberapa butiran pasir.
 
Menyergap ke dada dan jiwa.

Terlempar butiran pasir. 
Mati dan mulut.
 
Dada dan jiwa.
 
Dipatah angin laut dan kembara.

Mata dan mulut. 
Dada dan jiwa.
 
Menuju padamu, Ibunda.
 
Inilah puisiku.
 
Tanda tanda kegilaanku.
 

(Bukit Jati, ’99) 

KEKASIH YANG TERTEMBAK

Teringat bahwa kau masih muda belia. 
Pisau pisau risau yang kau bawa serta.
 
Kini menghunjam ke dadaku semua.
 
Lihatlah, aku yang terduduk di sini.
 
Pada tebing tapal batas teritori.
 
Tak kau lihatkah tanganku melambai.
 
Menyerahkan jasadmu di telan senyap.

Teringat bahwa kamu muda perkasa. 
Bersahabat batu batu dan rumputan.
 
Kau sering mengeluh, “betapa bengal!”
 
Mereka tak mengerti bengal, sayang.
 
Hujan tropis mengirimkan dukacita.
 
Melenyapkan jejak jejak sidik jari.
 
Tetapi akan kemanakah mereka berjalan.
 
Percayalah kau, mereka akan kemari.

Teringat bahwa kau memiliki cita cita. 
Kau menggapai gapai bintang di siang.
 
Tapi aku percaya kaulah yang melakukannya.
 
Untuk kemudian membiarkannya kembali.
 
Dan di senja, mulai terlihat gugusan.
 
Bergeser dan menata kembali pada orbitnya.
 
Memantulkan cahayanya kepada bumi.
 
Dan di bumi, bunga bunga telah bersiap diri.
 
Mekar di keesokan hari.
 

(Bukit Jati, ’99) 

JAKARTA-YOGYA SUATU SIANG

singgah ke rumah dahulu pernah 
tiada sanggup dada merengkuh penuh
 
kangen menjadi luka aroma limbah kota
 
dan jalanan menusuki langkah senantiasa
 
sepertinya tiada pilihan lagi
 
aku mesti kembali
 
ke rumah sendiri
 
yang sejati
 
meski di rumah
 
ada yang tengah mengasah belati
 
di depan tungku api.
 

(Stasiun Senen, ’99) 

YOGYA-JAKARTA SUATU SENJA

dan seandainya aku adalah waktu 
akan kutusukkan detik detik ke jantungku
 
biarlah kekininan bersamaku selalu
 
seperti yang kutahu
 
di tempat inilah
 
segala cinta
 
tertumpah
 
sempurna.
 

(Stasiun Lempuyangan, ’99) 

MAWAR MALIOBORO

Ia tumbuh di belukar kakilima. 
Duri durinya runcing seperti kuku kuku kucing.
 
Adalah tanda cinta sekaligus tanda bahaya.
 
Seperti malam ini, dadaku dirobeknya.
 
“Aku yang akan menanam tangkai mawar ini
 
kepada siapapun yang pernah menyinggahi hati,”
 
katanya sembari menunjuk dadanya sendiri.

Ia tumbuh seiring musim penghujan datang. 
Di atas trotoar ia menari, seperti tak ada sunyi.
 
Menggerakkan hasratku mengiringi liuk tangkainya.
 
Begitu seterusnya, ia selalu menggarahkanku.
 
“Bagaimana kalau kita berdansa bersama?” ajakku.
 
Akhirnya seperti malam lalu, dadaku kembali dirobeknya.

“Kamu adalah pecundang berwajah cinta,” katamu. 
Membuat Malioboro hinggar tanpa bunga bunga.
 
Maka akulah mawar yang akan membuatmu selalu luka.
 

(Malioboro, ’99) 

Related posts

Leave a Comment