sajak-sajak asmara letizia

Sahabat Karib

Suatu sore, air dan api duduk di sebuah kafe
Seperti biasa mereka minum espresso,
asbak dihadapan mereka penuh puntung Marlboro putih

 “Kudengar kemarin kamu melalap pasar,” ujar air
api hanya tersenyum kecil
“Yah, seperti kamu baca di koran-koran”
“Enakkah?” tanya air lagi
api menghisap rokoknya
“Sama seperti waktu kamu membanjiri kota minggu lalu”
air menjadi bosan, “Ah kupikir lebih enak,” lalu diteguknya espresso

Api tiba-tiba mencolek air
kobarannya padam sedikit
“Kamu pernah terpikir nggak, kenapa diantara kita berdua
kamu selalu dianggap jagoannya?”
Air menatap api, bingung
“Maksudnya?”
“Ya, kalau aku sedang melalap pasar, kamu datang dan aku padam.
Sementara kalau kamu sedang membanjiri kota, aku datang tapi
kamu terus beraksi.  Apa-apaan itu?”
Api menyulut lagi rokoknya, mukanya agak masam.

Air mendesah.  Gundah, dia.
“Aku rasa semuanya terjadi karena manusia terlalu membesar-besarkan
perbedaan kita”
Api tersenyum setuju.

Mereka nongkrong disitu dua jam lamanya
Bicara tentang berbagai hal

Setelah membayar, keduanya meninggalkan kafe

Asmara Letizia
April 2000

 

 

Macan Kecil

Sore itu pulang sekolah, macan kecil bertanya pada ibunya
“Ibu, mengapa belang kita warnanya kuning dan hitam?”
Ibu macan terkekeh,
“Kita macan, anakku.  Macan”
Macan kecil tidak puas, “Mengapa tidak hitam dan putih?”
Jawab ibu macan,
“Sebab, anakku, nanti orang akan mengira kita zebra”

Dan malam itu macan kecil tidur dengan tidak puas

Esoknya ia pergi ke padang
terlihat beberapa ekor zebra
Didekatinya zebra-zebra itu
“Hai!” tegurnya ramah
Zebra zebra meringkik ngeri
lalu lari terbirit-birit.

Macan kecil pulang dengan sedih
“Ibu,”katanya
“Zebra itu takut padaku”
Ibu macan menyeringai
“Mereka diciptakan untuk takut pada kita, nak”
Macan kecil menggeleng, matanya penuh pertanyaan.
“Aku hanya ingin bermain,” ujarnya sedih.
Ibu macan menjilat kuping anaknya,
“Tapi kamu juga harus makan”

Asmara Letizia, 1996

 

 

Dari Tupai Kepada Pohonnya

Sering kuanggap dia pohon yang kuat,
Sehingga tidak sakit saat dahannya kukerat-kerat sampai bergetah
Apalah artinya keratan kecil pada pohon yang tangguh? Begitu pikirku
selalu
Sering pula aku bersandar kepadanya,
Kala lelah datang tiba-tiba
Sering pula aku menangis dibawahnya,
Dan merasakan betapa ujung-ujung dahannya menyatu memelukku
Aku sering pergi meninggalkannya, bermain-main di pohon lain
Tapi ia tetap disana, kukuh berdiri walau daunnya mengering
Dan rontok sehelai demi sehelai
Bila aku kembali, daunnya berubah lagi menjadi hijau
Segar rasanya
Sering aku berpikir dia akan jatuh
Roboh menimpaku dan membuatku mati
Dan segala prasangka itu membuatku ingin pindah ke pohon lain
Ditengah ragu, ia menawarkan sebuah lubang di batangnya untukku
bersarang
Sekarang kala hujan menderas,
Aku tahu dia diciptakan untuk aku
Dan aku diciptakan untuknya

*untukmu yang sering kusakiti,
Maret 2000
Asmara Letizia

 

Mati

Hari mendung, malamnyapun juga
Bulan ngumpet
Senyumnya separo diremang lampu jalan
“Latihan happening yo!” katanya
Padahal malam mendung dingin
Nggak bawa baju hangat dia
Akhirnya pulang sendirian

Pintu merah sambut dia dengan senyum
“Mau tidur disini lagi?”
Padahal malam mendung dingin
Tapi ia senyum lagi
Dan tulang bertemu tanah
Lalu sukmanya terbang jauh

Pagi-pagi dingin hilang
Nggak ada embun, malah!
Tapi kaku dia, beku dia
Kalau saja ayah sudah berkenan
dan Ibu sudah bisa tersenyum,
Pasti ruang tengah penuh candanya
Campur bau kopi

Tapi ruang tengah sepi.
Ada atu dua isak tangis
campur bau bunga busuk

Tahukah ayah ibu, batuknya campur darah?
Ada.
Ada bekasnya dipintu merah
Walau sekarang tinggal sesal

Sesal siapa?

Asmara Letizia
1997

 


sajak cinta seperti biasa

bergelung aku dipusaran
hitam kadang merah tak berujung
hanya bisa bisikkan sesuatu pada waktu
yang berputar dan berputar
“kapan lagi?”
cengkeram berubah menjadi genggam
benci menjadi sayang
dan aku masih ada disana,
kadang hitam kadang merah
dan mampu hanya berbisik pada waktu
“sampai kapan?”
keras melunak lunak mengeras
dan kau tetap disana
bersamaku tergelung dalam pusaran
kadang hitam kadang merah bisa jadi jingga
“kapanpun cinta kau”
lalu dalam raguku aku mencoba
meraih, menyentuh, mencium dan merengkuh
“sedang begini masih berbohong?”
dan kau kurengkuh terus kurengkuh tak mau lepas

aku tidak pernah bohong
“tidak. aku tidak bohong”

Asmara Letizia
May 2000
*buat kamu


SEDIH

lihat bentol di punggung tangan saya!
merah, bukan warnanya?
seperti sesuatu akan meledak dari baliknya..
lihat.. lihat!!
tadi pagi saya bangun dan tau-tau ada temannya!
di sebelah bentol pertama, ada bentol lain yang lebih kecil
ih, gataaaaalllll…..
saya garuk-garuk sampai lecet,
eh malah berbekas dua-duanya!
tapi setelah ditengok lagi kok bekasnya lucu
seperti angka delapan.
wah, kenapa ya lebih bagus dari gelang baja putih
yang sering saya kenakan selama ini?
rasanya saya tidak ingin bekas lecet itu hilang..
lihat.. lihat!!!
kok pagi ini tidak ada lagi bekas angka delapan disana?
saya bolak-balik telapak tangan saya
lho.. kok tidak ada??

tiba-tiba saya merasa kosong..

*baba’s moving day,
3rd May 2000

Asmara Letizia

***********

 

Segala sakit,
Kata gadis itu diderita
Untuk kekasihnya

Segala tawa,
Kata gadis itu dipersembahkan
Untuk kekasihnya

Segala dera,
Kata gadis itu ditanggung
Untuk bukti cintanya

Segala bohong,
Hanya milik gadis itu
Karena cinta bukan hanya memberi

Asmara Letizia

***********


Dia bagian hidupku
Dia sajak terindah didalamnya
Dialah aku dan akulah dia

Dia langit biru
dan aku awan berarak didalamnya
Dia kesukaanku
dan aku kesenangannya

Jika ada yang ganggunya
Ada pula yang gangguku

Dia teratai dikolamku
dan aku capung yang terbang disekitarnya

Asmara Letizia

 

twew syuut sreet..

lubang kecil itu mengembang,
keluar sesuatu dari dalamnya
twew…
bening, bersih.. bulat..
sepintas mirip cermin cembung..
balon barangkali?

menggeliat perlahan, melirik ke kanan
lalu ke kiri.. (padahal mata saja tak punya)
entah pertimbangan apa mendorongnya
turun meluncur ke kanan
syuuuutttt!!!!
berhenti tepat diatas ujung kumis

hmm…
beberapa kawan lainnya meluncur
“hai!!!! asyik main seluncuran?”
ia menyapa akrab
“iya nih, kapan lagi hari panas?”
sahut si teman
lalu mereka bersepakat lagi
untuk turun meluncur ke belahan dagu
idola wanita duapuluh tahunan

AAAAARRRGGHHHH!!!
selembar putih tipis menyapu,
sreett!!
jadilah satu lebur mereka
disertai secubit bau asem
kenikmatan sesaat terhapus
demikian cepatnya!

Asmara Letizia

***********

 

semburat senja ada di
langit pagi hari,
padahal belum lagi jam tujuh.
Matahari timbul di utara
dunia utuh tetap dengan pencariannya
Apakah gila?

06.30

***********

 

segala tetek bengek kehidupan
dijual di pasar
harusnya dengan resep dokter
supaya manusia hidup teratur!!

08.00

Related posts

One Thought to “sajak-sajak asmara letizia”

  1. […] biar afdol, saya lempar kumpulan sajak saya yang ternyata masih disimpen entah oleh siapa di dunia maya ini. Silakan, dan katain aja gombal dan […]

Leave a Comment