sajak-sajak candra malik

jatuh cinta pada jatuh

adam meranum membusungkan dada kejantanannya pada hawa 
hawa merangsum, membusungkan dada kejelitaannya pada mata
 
ini bukan mesum, sebab sejarah baru boleh mencatatnya
 
ini bukan senyum, sebab setelah itu mereka jatuh
 
bukannya sekadar jatuh cinta dan beranakpinak
 
adam hawa jadi goresan pertama pada nuktoh mimbar jiwa
 
dijatuhkan di kasur bumi yang dahsyat kerasnya
 
toh mereka masih bisa mencinta dan bercinta
 
cinta, memang dicipta abadi seabadi gusti
 
siapa bilang tuhan hendak mencipta manusia
 
tuhan hanya mencipta cinta agar melihat cintanya sendiri
 
egois, karena memang dialah yang Maha Egois
 
segalanya dia yang ciptakan dan segalanya harus bahkan pasti kembali
 
kepadanya

lantas, bagaimana dengan yang kembali ke surga? 
bagaimana pula yang terlempar ke neraka … kafirkah?
 
pun bagaimana yang bermimpi dan berhitung dalam salat-salatnya
 
tentang di mana hotel surgaku?
 
aku tak ingin ribut soal surga neraka
 
seperti rabitah yang hanya merindu tuhannya …
 
akupun tak ingin merindu tuhanku
 
sebab aku hanya rindu diriku
 
aku pun tak mimpi kembali ke tuhanku
 
toh aku harus kembali kepada diriku
 
aku takkan jatuh cinta pada tuhanku

sebab, aku memang harus jatuh cinta pada diriku 
mengapa sedemikian sombong … sebab bukankah tuhan Maha Sombong?
 
bukankah tuhan mencipta manusia sebagai citra RahmanNya?
 
bukankah yang serba tuhan itu mustahil,
 
dan yang serba manusia itu wajib?
 
bukankah man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu?
 
bagiku, cukup jatuh cinta pada jatuh …
 
agar aku pulang lagi ke dewi ruci

yogyakarta, 12 juli 2000, semburat matahari mulai memikat kulitku 

merindu

duhai kekasih hatiku, 
sungguh daku merindumu … entah di mana beranjak, ku tak kuasa berpijak
 
atas namamu
 
hanya namakulah yang kukubur di ujung sanubari puritan yang niscaya ini,
 
kupendam hingga akhir hayat memadu kasih
 
namamu sekadar bunga tidurku, namun jiwamu lubuk ruhku bersemayam

kekasihku, salahkah aku mencintaimu? 
kelirukah aku butuh perempuan, kendati tersimpan rapih ruh perempuan di
 
tubuhku
 
kelirukah perempuan butuh lelaki, kendati terselubung erat nuktoh lelaki di
 
rahim mulianya …

kekasihku, aku ingin membunuh tuhan 
tapi ternyata tuhan sudah berkali-kali dihunjam. dia dimatikan kendati tak
 
pernah mati.
 
itulah mengapa aku masih menghunus pisau, yang bisa saja justru akan ku
 
hunjam ke uluku sendiri, biar aku mati bersama para suri, biar aku mati
 
bersanding yang Maha Mati

kekasihku, aku mencinta cintamu …

yogyakarta, 8 juli 2000 lewat tengah malam 

pasangan hidup

di bibir kali sukosari, dingin lenyep terusik gemericik air 
kami masih tercenung di pancuran, aku telanjang, dia memandikan
 
sampai subuh kami mati kedinginan, beku dalam bisu
 
lelaki renta ini, semalaman mengatakan:
 
tuhan selalu menciptakan segalanya berpasangan
 
ada siang ada malam
 
ada dingin ada panas
 
ada kanan ada kiri
 
ada perempuan ada lelaki
 
ada sperma ada ovum
 
nah, tentu ada khaliq ada makhluq

aku masih saja menganga, ah … itu tak perlu kudapat dengan dingin 
semalaman, gumamku membatin

tapi, wuih … bukankah berarti makhluq pasangan khaliq? 
nah, berarti aku pasangan tuhan …
 
wuih, betapa … ah, muskil!

dia lantas melanjutkan, satu kalimat yang mengejutkan: tak mungkin tanpa 
pasangan
 
mustahil jika berdiri sendiri
 
tak ada siang tak ada malam
 
tak ada dingin tak ada panas
 
tak ada kanan tak ada kiri
 
tak ada perempuan tak ada lelaki
 
tak ada sperma tak ada ovum
 
nah, tentu tak ada khaliq tak ada makhluq

ah, yang benar? soal ini aku mau berdebat dengan guruku. 
begini,
 
tak ada malam tak ada siang
 
tak ada panas tak ada dingin
 
tak ada kiri tak ada kanan
 
tak ada lelaki tak ada perempuan
 
tak ada ovum tak ada sperma
 
nah, berarti tak ada makhluq … tak ada khaliq?!
 
tak adakah tuhan?

lelaki sepuh itu diam, 
ketika itu, nabi juga diam
 
jika cemas membenarkan
 
atau khawatir menyalahkan

aku tak lagi hirau, hanya gemercik pancuran itu mengganggu zikirku 
dia berkata: bukan dengan tasbih, tapi dengan buih, harusnya kau
 
menenggelamkan diri

yogyakarta, juli 2000, entah kapan aku lupa

Related posts

One Thought to “sajak-sajak candra malik”

  1. widdi umari

    apakah masih aktif? apakah saya boleh minta kontak si penulis? buat menimba sedikit dari luasnya ilmu yang eliau punya

Leave a Comment