sajak-sajak cunong suraja

DINDING MAYA

di kaca buram lintas huruf-huruf berakrobat 
buntung kaki patah tangan tersapu larikan nafas zaman
 
terurai baris-baris ritmis gerimis ditingkap musim
 
genggam langkah dadu di meja judi
 
terjungkal balok angka nol-nol
 
bebek liar di kolam tanpa bulu berenang mencucuki serangga air
 
riuh paruh burung jalak uren berebut belalang di rumputan
 
di pucuk pepohon ever green bertengger blue-jay
 
berceloteh tentang robin berdada coklat menyusun sarang
 
sepasang cardinal merah melantunkan lagu Amerika-Amerika
 
di sangkar-sangkar burung perkutut mengumamkan mocopat wulangreh tanpa paham
 
burung balam dan tekukur bertegur-tegur di kawat listrik menunggu senja
 
matahari jatuh di laut memerahkan air asin
 
huruf-huruf berjalan di cakrawala membentuk web-web
 
aku terperangkap dalam sulur jaring maya antar planet
 
makin dalam makin tenggelam
 
makin dingin
 
dari ingin
 
!
 

DINDING HUJAN

dibuatnya garis miring di cakrawala 
dalam warna abu-abu muda
 
jika ditatap mentari wajahnya berpendar
 
dalam tujuh warna yang bergaris tipis
 
hanya senja yang menilap jejaknya
 
pada buih-buih dan pasir-pasir di pantai
 

 

 

LANGIT

birumu yang menebar dalam 
mengungkung anganku yang letih
 

 RUANG

 berbatas angan dan kayal 
berisikan segala harap
 
yang cuma kosong di pojoknya
 

 SAJAK BIRU

 ah kenapa mesti bertanya 
singgahnya kapal-kapal pesiar
 
yang tak kenal waktu dan dermaga?
 
(biarkan jejak itu hilang dalam ombak dan buih pantai!)
 

 SAJAK ABU-ABU

 pintu yang terpentang lebar 
dalam kamar pengap dan gelap
 
lengkaplah jaringmu luruh menjebakku
 
dalam pesona, dalam birahi

 

 Sajak-sajak 1979

 SELAMAT PAGI ISTRIKU

 langit masih buram tanpa sinar mentari 
tapi kau telah sibuk memotong roti
 
dan membuat kopi
 
ketika aku menggeliat yang kesekian kalinya
 
kau bisikkan kata-kata lirih:  sudah
 
berdoakah pagi ini?
 
aku telah siap dengan roti dan kopi
 

 SAJAK PAGI BUAT ISTRIKU

 aku merajuk minta cium sebelum gosok gigi 
ketika bangun pagi-pagi
 
istriku berbisik lirih:
 
kenapa tak kau cium dulu Tuhan?
 

 PERISTIWA MALAM HARI

 hujan jatuh perlahan di atas bumi 
dan peluhku berlelehan menimpa tubuhnya yang basah
 
ah, kenapa tangismu tak kunjung tiba?
 

 SAJAK MALAM BUAT ETIN

 telah kita habiskan hari-hari dengan sepi dan roti 
juga jalan kaki sepanjang kali
 
kadang menaiki bukit-bukit kecil
 
hingga kita lelah dan capai
 
tapi kenapa kita belum juga berhenti
 
sekedar berdoa buat keselamatan dunia
 
dan bagi sesama?
 

 SAJAK MALAM BUAT SAYUTI

 begitu dingin cuaca, begitu beku lidahku 
kita sudah berbeda sekarang
 
kau mendekap kehangatan malam yang panjang
 
aku di sini masih setia menghitung bintang
 
tak selesai-selesai
 

 SAJAK KECIL TENTANG MALAM

 barangkali istriku belum tidur 
menunggu hadirku memburu asap
 
yang kemarin selalu menggoda
 
ketika saat itu kucium pipinya di beranda
 
dan angin mempermainkan gaunnya
 

SAJAK SELESAI

 terkatup bibir dan desah panjang 
memburu ruang yang putih dan bercahaya
 
barangkali itu juga tangan dan kaki
 
serta mulut yang senantiasa mengawani
 
perjalanan yang panjang dan gelap
 
tapi selalu dia setia
 

 SAJAK ALIT BUAT ARWAN TA

 gelombang pantai yang kita saksikan dulu 
telah reda dan menampar tebing sebelah sana
 
kini kau telah menyusur gisik sebelah kiri
 
dan aku masih termangu menunggu ombak yang dulu
 
yang selalu kita permainkan dan mempermainkan kita
 

 PERCAKAPAN SORE

 tak ada lagi angin yang singah di beranda 
mengetuk pintu dan jendela
 
tak ada gerimis luruh di luar
 
tak ada sapa manis membuka cakrawala
 
cuma kabut dan siul lelawa memburu kelam
 

 LAGU PAGI HARI
 
terdengar sayup bisikmu jauh
 
dan jatuh bersama embun pagi di atas daun
 
menyapa pejalan pagi yang berkeringat
 
menahan beban, menyeret langkah
 
adakah kau sempat bersiul?
 
(aku selalu ragu di mana kita pernah bersua)
 

 LAGU PETANG HARI

 hanya suir belalang dan derik jengkerik 
yang masih sempat menembus riwis gerimis
 
ada langkah terbata dan hilang dalam jejak
 
tapi tak pernah selesai
 
kucoba untuk mengeja
 
sebuah nama yang selalu menggoda
 

 SAJAK GERHANA

 tiba-tiba langit memudar dan hilang tak ada cahaya 
kau hilang dari sisiku kembali ketika fajar
 
tapi kita telah jauh berada sekarang
 
kau semakin tua dan pikun, sedang aku makin birahi
 
dan tanpa basa-basi lagi
 

 KIDUNG KECIL KETIKA SENJA

 ketika kapal itu jauh menjangkau gelombang 
kau lepas dalam genggaman tanganku yang gemetar
 
ketika kapal itu tenggelam dalam batas pandang
 
kau menggeliat lewat celah gelombang dan hilang dalam angan
 

 BERITA LANGIT TENTANG CUACA DI JAUH SANA

 berarak mega putih menyilang langit biru 
berarak angan memenuhi kepala dan merembes lewat dada
 
menumbuhkan sangsi dan mengacau airmata untuk duka
 
menanam dendam kemarin yang hijau lumutan
 
dan menjawabkan pertanyaan nasib yang senantiasa
 
menyarungkan pukulan yang tajam dan tepat
 

 KABAR SENJA DARI NELAYAN PANTAI SELATAN

 ah, duka yang menoreh langit di kutub 
begitu dingin dan membeku di bibir nelayan tua
 
tangan kirinya gemetar menggulung jala
 
tangan kanannya melengkung berat menahan buruan
 
begitu beku senyumnya melintasi pertokoan yang sepi
 
dan tak menyambut hangat ketika kusapa dan tanya
 
perlahan dia berbisik:  hidup bukan untuk bertanya
 
tapi menjawab teka-teki sang nasib
 

 KIDUNG KECIL BAGI SEMARANG

 kau bagai boneka mainan anak-anak dalam genggam 
yang senantiasa menatap tanpa bosan dan selalu bertanya
 
kau tiba-tiba membias dalam dada telanjang perempuan malam
 
yang bebenah sebelum malam melengkapkan perjanjian
 
dalam pergumulan dan desah nafas yang lega
 

 BURUNG-BURUNG CAMAR DI PUNCAK KOTA SEMARANG

 sayapnya yang basah kerna keringat setelah melintas cakrawla 
matanya menatap layu memohon belas setelah mengukur langit
 
begitu panjangnya hidup yang telah lampau, tapi kapan sampai?
 
dia bertanya dengan bahasa isyarat yang sederhana dan selesai
 
tapi apa yang dapat kupersembahkan nanti setelah semuanya selesai?
 
aku jadi ikut bertanya tentang suara dalam samar-samar
 

 SAJAK ALIT TENTANG SEMARANG

 tiba-tiba bis meluncur membelah jalan 
menyimpang angin dan berjumpa laut
 
begitu wangi angin menyambut, begitu akrab
 
tapi aku jadi malu ketika kutoleh ke kanan
 
tersipu perempuan bebenah di balik semak
 

 SELAMAT MALAM SEMARANG

 matamu yang hijau dalam kabut 
menggapai sayu meraih pundakku yang luka
 
ah, kau bagai istriku yang telanjang dalam kamar
 
memohon birahi dan roti yang tiada beda
 
tapi senantiasa aku aman dalam dekapnya
 
begitu juga kau
 

 SEMARANG DALAM HUJAN

 wajahmu jadi lebih bersih katimbang kemarin 
dan langit yang muram menaburkan gincu bagimu
 
kau begitu genit dan merayu
 
ah, matamu yang lelah senantiasa ingin tetirah
 
dalam dekap dan cakap perlahan di atas ranjang
 
 
 
 KABAR BUAT YULIE WIED DI SEMARANG

  yulie, 
aku telah lelah memasukkan gambaran dirimu
 
dalam anganku yang terus kangen
 
kau begitu jahat menutup masa silamku
 
dengan gerimis, angin senja dan surat-surat buta
 
tapi aku jadi benci ketika kubaca cerita panjang
 
tentang dirimu, pacarmu dan langgananmu
 
aku jadi muak pada koran semarangmu yang penuh iklan
 
memamerkan pahamu yang mulus dan dadamu yang penuh
 
aku jadi sakit jiwa ketika tajuk rencana koran semarang
 
mengucap salam sebagai kenangan bagimu
 
aku begitu kecewa terlambat menemuimu
 
dan kau telah pergi ke negara matahari terbit
 
tak kembali-kembali

Related posts

Leave a Comment